Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 65 Kebimbangan


__ADS_3

“Pak Yoga itu udah berumur, Tia! kenapa kau mencari pria yang jauh lebih dewasa di bandingkan dengan diri mu?”


“Aku dan keluarga ku, udah merasa cocok dengannya.”


“Apa hanya itu saja, alasan mu memilih dia menjadi kekasihmu?”


“Apa sih maksud mu, Re?"


“Kau cantik Tia, banyak pria tampan dan sebaya dengan mu, yang sangat menyukai dirimu, dan bukan itu saja, mereka juga tergila-gila dengan kecantikan dan kebaikan budimu.”


“Benarkah begitu? lalu bagai mana dengan dirimu?”


“Aku orang yang paling utama dalam topik pembahasan kita hari ini, bukan?”


Mendengar pengakuan Rehan, Mutia jadi malu sekali dan dia pun berniat untuk meninggalkan Rehan. Akan tetapi, Rehan telah menahan tangan Mutia dalam genggamannya.


“Mau kemana?”


“Ke kelas.”


“Ngapain, bukankah kau lagi nungguin Pak Yoga?”


Mendengar penuturan Rehan, Mutia jadi semakin bingung dibuatnya, matanya yang indah langsung menatap tajam kearah Rehan.


“Sebenarnya maksud mu apa sih, Re? aku jadi nggak ngerti?”


“Gimana dengan hubungan kita, Tia! apa kau masih mau berbagi cinta dengan ku!” seru Rehan dengan suara lantang.


Karena suara Rehan yang sangat kuat, dan memantul di setiap sudut ruangan, samar-samar suara itu didengar oleh Yoga yang saat itu sudah berada didepan kantor.


“Suara siapa itu?” tanya Yoga pada salah seorang siswa yang saat itu sedang berdiri didepan kantor.


“Ooo, itu mah suara Rehan, Pak.”


“Rehan? sedang apa dia.”


“Mungkin lagi berakting, Pak.”


“Berakting?”


“Iya, Rehan saat ini sedang berakting dengan Mutia.”


“Apa, dia akan berlakon di acara perpisahan Nanti?”


“Saya kurang tau, Pak.”


“Kalau begitu tolong kamu panggilkan Mutia, suruh dia menghadap Bapak di kebun sekolah.”


“Baik, Pak,” jawab Ramon seraya berlari meninggalkan Yoga sendirian.


Beberapa saat kemudian, Ramon pun kembali bersama Mutia. Seraya tersenyum pada Yoga, dia langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua.


“Ada apa, kenapa Abang memanggil ku?” tanya Mutia heran.


“Apa kau ikut di acara perpisahan nanti, Tia?” tanya Yoga memastikan.


“Nggak, aku hanya sebagai penonton aja.”


“lalu kenapa kau berakting bersama Rehan, dihalaman belakang?”


“Aku nggak berakting, dihalaman belakang.”


“Tadi Abang mendengar Rehan menyebut namamu, untuk sebuah cinta yang harus dibagi.”


“Aku nggak tau,” jawab Mutia ketus.

__ADS_1


“Mustahil kalau kamu nggak tau, sedangkan Rehan ada bersama dengan mu tadi.”


“Sebenarnya Abang sedang bicara apa sih? apa sedang memata-matai ku.”


“Kenapa nada bicara mu agak sedikit kasar Mutia.”


“Aku bicara apa adanya kok.”


“Bicaralah dengan jujur Sayang, Abang nggak suka dengan orang yang suka berbohong.”


“Yang suka berbohong itu bukan aku, tapi Abang sendiri. Didepan ku, Abang selalu bersikap manis dan lembut, tapi jika berdiri dibelakang ku, Abang selalu saja bermain api dengan Kak Nayla.”


“Ssst, jaga ucapan mu kalau bicara Tia.”


“kenapa, Abang malu karena ketahuan berselingkuh.”


“Diam Tia! sekali lagi kau bicara, Abang nggak segan-segan menampar mu.”


“Tampar saja! tampar kalau berani!" teriak Mutia.


“Huuuh!” gerutu Yoga sembari meninggalkan Mutia.


Setelah Yoga pergi Mutia pun menangis histeris, dia langsung berlari menuju kelasnya. Akan tetapi, saat air mata itu terus saja mengalir, seseorang datang menghampirinya dan menawarkan sapu tangan untuk Mutia.


“Hapuslah duka mu dengan ini, sayang! mata indah ini, nggak boleh mengalirkan air mata duka," kata Rehan sembari memberikan sapu tangan itu ke tangan Mutia


Melihat selembar sapu tangan ada disampingnya, Mutia langsung menoleh kearah datangnya suara yang menyebutnya sayang.


“Rehan? sedang apa kau disini?" tanya Mutia heran.


“kenapa? kau malu, kalau aku mendengar pertengkaran kalian berdua?”


“Apa sebenarnya yang kau ingin kan, Re!”


“Cinta dari mu, Tia.”


“Kenapa? bukankah kau sudah mengetahui kalau Pak Rehan itu berselingkuh dengan istri saudara kembarnya sendiri?”


“Apa! kau tau dari mana Re?"


“Dari pertengkaran kalian tadi.”


“Jadi kau mendengarkan pertengkaran kami berdua?"


“Ya, semuanya.”


“Tapi itu nggak benar, Re. Aku hanya menuduh Pak Yoga saja, karena dia sudah mengabaikan aku selama ini.”


“Apa pun itu, tapi aku udah terlanjur mendengarkannya,” jawab Rehan .


“Aku mohon, tolong jangan kau sebarkan berita bohong itu pada orang lain, Re.”


“Nggak akan Tia, asalkan kau mau berjanji padaku untuk membagi sedikit cinta mu pada ku.”


“Kau ini kenapa sih, Re? kenapa begitu nekad?”


“Aku akan melakukan apa saja demi cinta ini, Tia.”


“Konyol! Kamu itu benar-benar konyol, Re.”


“Terserah kamu bilang apa.”


Melihat pendirian Rehan yang begitu gigih dan kuat, Mutia pun jadi bimbang dibuatnya. Ucapan Rehan terkadang ada benarnya juga, kalau masih muda kenapa harus mencari yang lebih tua.


Akan tetapi, jasa Yoga pada dirinya tak dapat dibalas dengan materi. Apa lagi keluarga Mutia sudah cocok dengan Yoga. Seraya duduk terhenyak, Mutia hanya bisa menarik nafas Panjang.

__ADS_1


Disaat itu, Yoga pun muncul diantara mereka berdua, sontak hal itu membuat Rehan dan Mutia kaget dibuatnya.


“Kenapa, kalian kaget?” kata Yoga seraya menepuk pundak Rehan.


“Nggak, Pak!” jawab Rehan pelan.


Sementara itu, Mutia tampak menunduk ketakutan, Yoga hanya memandangi Mutia dengan tatapan tajam.


“Lain kali, kalau ingin melakukan provokasi, jangan disekolah ini.”


“Kami nggak melakukan apa-apa, kok Pak.”


“Kalau nggak melakukan apa-apa, kenapa kalian berduaan ditempat yang sepi ini.”


“Aku hanya memberikan sapu tangan ini pada Mutia, hanya itu saja!”


“Sapu tangan, untuk apa?”


“Tadi aku melihat Mutia menangis, lalu aku memberikan sapu tangan ini padanya.”


“Dan Mutia mengambilnya?”


“Nggak Pak.”


“Kenapa? kenapa dia nggak mengambil sapu tangan itu dari tangan mu? kamu tau kenapa!” bentak Yoga pada Rehan.


Mendengar suara Yoga yang keras, Mutia langsung berlari ke sudut ruangan dan menutup telinganya dengan kedua tangannya.


Sementara itu, Rehan terlihat gemetaran, karena menahan takut, Yoga yang melihat hal itu, tak tega untuk melanjutkan amarahnya. Ditepuknya pundak Rehan dengan pelan.


“Lain kali, kalau ingin mencari seorang kekasih, carilah secara baik-baik, jangan merebut apa yang orang lain miliki.”


“Baik, Pak.”


“Kamu tau sendirikan, kalau Mutia itu, sudah lama menjalin hubungan dengan seorang pria?”


“Iy, iya, Pak.”


“Jadi dia itu sudah menjadi milik orang lain, nggak usah merayunya lagi, dan jangan memprovokasinya.”


“Baik, Pak,” jawab Rehan ketakutan.


“Nah, sekarang kembali ke kelas mu, jangan pernah lagi kamu mendekati Mutia.”


“Ba..bab..baik, Pak,” lanjutnya seraya berlari menjauhi Yoga.


Setelah Rehan pergi, Yoga langsung menarik tangan Mutia dengan rasa kesal yang teramat sangat.


“Udah-udah, kekasih gelap mu itu udah pergi.”


Lalu Mutia pun berdiri secara perlahan, sembari merunduk menahan rasa takut.


“Lain kali, kalau jadi perempuan itu, jangan mau didekati sembarang laki-laki.”


“Kenapa? apa menurut mu aku salah, dekat dengan laki-laki lain?”


“Ya, salah lah!”


“Apa menurut mu, aku tak pantas mencari seorang pria yang baik, dan nggak selingkuh bila berada dibelakang ku?”


“Mutia! kenapa bicara mu selalu mengarah ke perselingkuhan terus, emangnya siapa yang berselingkuh?” bantah Yoga tak terima dengan tuduhan dari Mutia.


“Kamu!” tegas Mutia dengan suara lantang.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2