Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 91 Putri angkat yang baik


__ADS_3

Sekembalinya, Rangga dari pemakaman Resti, dia tampak begitu lesu sekali, hatinya begitu hancur melihat kelakuan Mama tercintanya yang selama ini dijadikan sebagai panutan hidup. Disudut kamarnya tampak Rangga duduk sendiri.


“Yang udah pergi nggak usah diingat lagi! dia nggak akan kembali lagi kesini. Jadi mulai hari ini, kita semua harus menata hidup baru tampa ada Santi ditengah-tengah kita,” kata Bu Salamah seperti tak bersalah sedikitpun.


Rangga yang begitu benci melihat kelakuan Mamanya, hanya bisa melihat tajam.Tampa berkedip.


“Kenapa kau memandangi Mama seperti itu, Rangga?”


Rangga diam saja, dia tak menjawab pertanyaan yang diajukan Bu Salamah kepadanya. Jika saja tak ada dosa yang menuntun hidup seluruh manusia, pastilah dia memberontak saat itu.


“Mama perhatikan semenjak kau pulang dari pemakaman Santi, kau seperti memandangi Mama, seolah-olah Mama ini punya kesalahan besar pada mu Rangga.”


Tak ada jawab sedikit pun dari mulut Rangga, akan tetapi untuk menghindarkan dosa dari dalam hatinya, Rangga mencoba pergi keluar rumah.


Di kebun tampak Pak Kardi sedang duduk sendirian, terlihat oleh Rangga kalau pria tua itu sedang meneteskan air matanya.


“Eh, ada Den Rangga!” sapa pak Kardi seraya berdiri.


“Pak, silahkan duduk, nggak perlu sungkan."


“Baik den.”


“Kenapa menangis?”


“Bapak rindu neng Santi Den, biasanya kalau hari mulai malam, Neng Santi selalu bernyanyi didalam kamarnya, tapi malam ini tak ada suara merdu itu terdengar di kamarnya, Den.”


“Iya, Pak,” jawab Rangga sembari menangis.


“Aku nggak nyangka Pak, kalau Santi begitu cepat meninggalkan kita semua.”


“Iya Den, tadi pagi sebelum mereka berangkat, Bapak udah tanya Nyonya, apa perlu di supirin atau nggak, tapi nyonya bilang nggak usah.”


“Sebenarnya Mama pergi kemana sih, Pak?”


“Nyonya nggak bilang apa-apa kok den, dia hanya pergi begitu saja, ternyata hari ini adalah hari terakhir Neng Santi pergi bermain bersama Mama dan Widia.


“Selama ini Bapak kan sering mengantar Mama pergi keluar rumah, apa Bapak pernah melihat Mama berkelakuan aneh diluar sana?”


“Setau Bapak nggak pernah, Den!”


“Biasanya Mama pergi kemana aja kalau keluar, Pak?”


“Paling-paling, Nyonya pergi ke mall, atau pergi arisan dan sesekali nyonya ngajak anak-anak makan diluar, Den. Tapi biasanya kalau dia ngajak anak-anak makan diluar nyonya nggak pernah ngajak Bapak Den!”


“Kenapa?”


“Bapak nggak tau.”


“Lama, Mama pulangnya, kalau dia pergi sendiri, Pak?”

__ADS_1


“Kadang sampai sore Den, dan terkadang sampai malam sebelum Aden pulang kerja.”


Karena tak mendapat jawaban yang tepat dari Pak Kardi, Rangga pun tak dapat menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya selama ini pada Mama tercintanya.


Begitu juga dengan Dinda, disaat Rangga mencari jawaban untuk permasalahannya. Dinda juga sedang berharap permasalahannya dapat diselesaikan dengan cepat. Hatinya yang merasa tersakiti oleh Yoga tak bisa berharap banyak pada jawaban yang akan diberikan Yoga padanya.


Sementara itu, Bu Saidah dia tetap saja memaksa Dinda untuk menerima lamaran orang lain. Yang menurutnya sangat cocok dan tepat untuk Dinda.


“Kalau kau masih terus berharap Yoga, maka kau nggak akan menikah Dinda!”


“Aku nggak bakalan menikah, Bu! kalau yang menikahi ku bukan Bang Yoga.”


“Buat apa mengharap orang yang tak bertanggung jawab nak?”


“Siapa bilang Bang Yoga itu nggak bertanggung jawab.”


“Buktinya dia pergi setelah dia berjanji pada Ibu, untuk memberikan jawaban dari permintaan Ibu.”


“Bu ! tentu nggak semudah itukan, beralih ke lain hati, kalau benar Bang Yoga punya kekasih di kota, aku yakin itu semua bukan karena kesalahannya semata, tapi aku juga bersalah dalam hal ini, Bu.”


“Kok kamu bicaranya gitu sih, Din?"


“Aku bicara apa adanya, Bu.”


“Dulu, kami hanya berteman biasa, tak pernah terbersit di hatiku untuk menikah dengan Bang Yoga, tapi akhir-akhir ini aku ingin dia yang menikah dengan ku.”


“Ooo! Jadi kalian nggak pacaran toh?”


“Kalau nggak, lalu kenapa kamu begitu ngotot untuk menikah dengan Yoga."


“Bu, Dinda yakin, Bang Yoga itu adalah seorang pria yang bertanggung jawab, dia tampan, baik dan berbudi lagi.”


“Kenapa kau yakin, kalau Yoga itu bertanggung jawab?”


“Aku kenal Bang Yoga, Bu.”


“Kenal apanya, Din.”


“Ya kenal lah! kan aku berteman dengan Bang Yoga sedari kecil, dia selalu membela ku, jika ada anak-anak lain yang mencoba untuk mengganggu dan menjahili diri ku.”


“Oalah..Din, Din, sekarang ini zaman udah berubah, Nak! orang bisa berbuat apa yang dia suka, tampa sepengetahuan mu, begitu juga dengan Yoga disana.”


“Udahlah Bu, aku nggak ingin berdebat tentang masalah ini, aku mohon pada Ibu, tolong beri aku kesempatan untuk memilih jodoh ku sendiri.


“Terserah mu Din, terserah! Ibu kayaknya udah capek ngasih tau, kebenaran pada mu, tapi kau tetap saja nggak mau dengarkan Ibu!"


Dinda nggak membalas omelan Ibunya, karena menurut dirinya, kesalahan itu memang benar datang dari dirinya.


Pagi itu, Bu Saidah, menemui Bu Kartini lagi, dia masih saja menanyakan Yoga yang telah berjanji padanya untuk menikahi Dinda putri satu-satunya.

__ADS_1


Akan tetapi disaat dia hendak duduk, tiba-tiba saja Ningsih keluar seraya membawa dua gelas minuman dan sepiring roti basah buatannya sendiri.


Sebenarnya Saidah nggak enak diri memakan roti yang ada di hadapannya, sebelum dia tau siapa wanita yang berada dirumah Kartini saat itu.


Akan tetapi, Kartini tau apa yang ada didalam hati Saidah, cara dia memandang Ningsih terlihat jelas kalau Saidah mencurigai Ningsih sebagai penyebab Yoga tak menikahi putrinya Dinda.


“Ada apa ? Kenapa kamu memandang putri ku dengan tatapan begitu, Saidah?”


“Emangnya dia itu, siapa Tini?”


“Dia itu putriku satu-satunya.”


“Putri mu? bukankah selama ini kau hanya memiliki dua orang putra saja, Yuda dan Yoga, tapi kenapa hari ini bertambah satu orang putri?”


“kamu heran, Saidah?”


“Atau jangan-jangan, dia yang menyebabkan Yoga!”


“Ssst! jangan dilanjutkan, Dah!” potong Kartini, sebelum Saidah menuduh Ningsih yang bukan-bukan.


“Kenapa? apa menurut mu bukan dia penyebabnya?”


“Bukan Dah! Dia itu bersih dari sifat kotor yang kau tuduhkan.”


“Lalu siapa dia Tini?”


“Dia putri ku, aku sudah mengadopsinya sebulan yang lalu, dia itu anak yatim piatu, Yoga yang membawanya kesini,” jawab Kartini dengan jelas.


Lalu Saidah yang mendengarkan penjelasan Kartini, dia hanya bisa menarik nafas panjang, dan kembali memakan roti buatan Ningsih.


“Gimana, enak rotinya?”


“Enak sekali, kau beli dimana roti ini, Tini?”


“Putriku yang membuatnya Dah.”


“Wah! Putrimu ternyata pintar juga bikin masakan seenak ini.”


“Iya, dia udah biasa membuat kue bersama Ibunya dulu.”


“Ooo.”


“Kalau memang dia udah sebulan kau angkat menjadi anak, lalu kenapa aku nggak pernah melihatnya selama ini?”


“Dia jarang keluar, dia suka berada dikamar sambil menyulam bunga anggrek kesukaan ku.”


“Pantasan kau udah melupakan Dinda, yang selama ini membantu mu.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2