Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 94 Malam yang romantis


__ADS_3

Karena yoga tak berniat jahat padanya, Siska pun menikmati hal itu, Siska bahkan terasa nyaman berada dalam pelukan Yoga yang begitu hangat dan wangi.


“Ya Allah, jika saja pria yang mendekap dan memeluk tubuh Siska ini bisa dijadikan Suami yang bertanggung jawab, maka izinkanlah kami untuk Bersatu dan menikah,” kata Siska dalam do’anya.


Yoga yang merasa Siska berada dalam pelukannya, dia pun menjadi lega, karena Siska menjadi aman dan tak masuk angin karena kedinginan.


“Gimana sayang, kamu nyaman?”


Siska tak menjawab, dirinya masih terasa malu untuk menjawab semua pertanyaan yang disasarkan Yoga pada dirinya.


“Kenapa kau lakukan ini semua pada Siska, Yog?” tanya Siska ingin tau apa yang sebenarnya ada didalam hati Yoga.


“Kamu keberatan untuk kupeluk?”


“Ya.”


“Kenapa?”


“Untuk pria dan wanita yang bukan muhrimnya, dilarang saling berduaan karena bisa menimbulkan fitnah.”


“Lalu kalau aku ini kekasih mu, bagai mana?”


Siska masih saja tak menjawab, karena dia masih malu untuk bicara. Walau dalam hati kecilnya dia begitu berharap kejujuran dari Yoga.


“Sebenarnya Siska nggak pernah berbuat seperti ini, bahkan disentuh laki-laki pun Siska nggak pernah bermimpi untuk itu. Akan tetapi, kau melakukan semuanya dengan mudah pada Siska. Sebenarnya ada apa dengan diri ini?” ujar Siska seraya bertanya pada hati nuraninya sendiri.


“Dalam suasana seperti ini, seseorang harus dapat bertindak lebih jauh, apa lagi hal itu menyangkut keselamatan orang yang ada bersama dirinya. Karena aku yang mengajak mu, maka aku harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan diri mu."


“Apakah kau sudah punya kekasih, Yog?” tanya Siska ingin tau.


“Sudah, saat ini dia sedang duduk dikelas tiga SMA dan kami sudah hampir dua tahun menjalin hubungan.


“Dia pasti sangat cantik.”


“Ya, dia sangat cantik sekali, tapi kecantikannya masih bisa dikalahkan oleh bidadari yang ada di hadapanku saat ini.”


Walau hati Siska terasa begitu sakit, akibat kejujuran Yoga yang mengakui dirinya telah punya kekasih, akan tetapi Siska masih bisa berbangga diri, karena Yoga masih memandang kecantikan Siska.


Seandainya saja, Yoga mau mencintai dirinya seperti harapannya pada Yuda dahulu, pasti hati Siska aman bersama mereka berdua. Akan tetapi, nasib Siska benar-benar malang, dia malah kehilangan keduanya. Harapan itu hanya tinggal mimpi belaka yang harus dikuburnya jauh-jauh.

__ADS_1


“Ada apa? sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu?”


“Siska nggak memikirkan apa-apa, Yog.”


“Pasti kau malu untuk mengatakannya.”


“Nggak,” jawab Siska singkat.


“Apakah kau juga udah punya kekasih, Sis?”


“Awalnya belum, akan tetapi karena Rangga terus menginginkan Siska menjadi teman dekat dalam hidupnya. Akhirnya Siska menerima hidupnya untuk Siska, tapi akhir-akhir ini Siska mulai mencium kebusukan keluarganya, Siska agak sedikit memberi jarak padanya.”


“Yang berbuat jahat itu keluarganya, lalu kenapa kau menghukum dirinya juga?”


“Sebenarnya Siska begitu berat untuk melakukan semua itu, tapi Siska nggak berdaya, Siska nggak ingin hidup bersama keluarganya yang kejam.”


“Heh! belum tentu kalau keluarganya pelaku penculikan itu kan?”


“Tapi Siska benar-benar yakin kalau keluarga Rangga adalah dalang dibalik semua ini.”


“Siapa pun orang nya, kebusukan pasti akan terbongkar pada akhirnya sayang.”


Karena Siska merasa tenang dan nyaman bersamanya, Yoga pun mempererat lagi pelukannya, Siska diam saja, walau Yoga memeluknya lebih erat lagi saat itu.


Tak ingin rasanya hujan itu reda, itulah yang ada didalam fikiran Siska saat itu, namun hingga malam semakin larut sepertinya do’a Siska benar-benar terkabulkan. Akan tetapi, kerena dingin nya cuaca telah tergantikan oleh hangatnya tubuh Yoga, Siska pun tertidur dengan pulas.


Bukan hanya Siska yang tertidur saat itu, Yoga yang begadang untuk menunggu redanya hujan yang begitu lebat, membuatnya juga ikut tertidur bersama Siska.


Ditengah malam yang semakin larut, Siska tersentak dari tidurnya, dilihatnya jam telah menunjukan pukul tiga dini hari. Siska begitu terkejut sekali karena disaat itu juga ada Yoga yang sedang tertidur pulas disampingnya.


“Ya Allah! apa Yoga telah melakukan sesuatu pada Siska?” tanya Siska yang berada diambang keraguan.


Lalu dengan memberanikan diri, Siska mencoba untuk membangunkan Yoga yang sedang tertidur pulas.


“Yog, Yoga! bangunlah!” ujar Siska dengan suara lembut.


Akan tetapi suara Siska yang begitu halus disangka Yoga suara Nayla, karena suara mereka berdua sangat mirip, halus dan merdu.


Sehingga tampa sadar sama sekali, Yoga pun menyentuh pipi Siska dengan pelan, awal mulanya Siska sedikit heran. Akan tetapi, karena Yoga menyentuhnya semakin kedalam, Siska pun tak kuasa untuk menolaknya.

__ADS_1


Yoga yang telah hanyut karena ada bayangan Nayla bersamanya, dia pun mencumbu Siska dengan mesranya. Siska bahkan tak menolaknya sama sekali, hingga akhirnya malam itu mereka berdua sulit untuk bangkit dari kemesraannya.


Di saat suara ayam jago di perkampungan terdengar jelas ditelinga mereka berdua, Yoga pun tersentak dari tidurnya. Akan tetapi, betapa terkejutnya dia, saat dilihatnya Siska telah melepaskan seluruh pakaiannya, begitu juga dengan pakaian Yoga sendiri.


“Oh, nggak! itu nggak mungkin terjadi, pasti nggak mungkin!” kata Yoga.


Disaat bersamaan, Siska juga terbangun dari tidurnya, sama halnya dengan Yoga, Siska juga begitu terkejut sekali, tiada dia sangka kalau malam itu mereka telah melepaskan pakaian mereka berdua.


“Apakah aku telah melakukan sesuatu pada mu Sis?” tanya Yoga seraya memasang kancing baju Siska yang telah terlepas dari tubuhnya.


Siska tak menjawab karena sejak dia tau kalau pakaiannya telah terlepas Siska menangis begitu histeris.


“Siska nggak tau Yog, Siska nggak tau!” jawab Siska dengan deraian air mata.


“Maafkan aku sayang, aku nggak tau apakah kita telah melakukan dosa itu atau tidak.”


Meski seribu kali pun yoga meminta maaf padanya, namun Siska sama dengan Yoga, dia juga tak tau apakah dosa besar itu telah mereka lakukan atau belum.


"Berdirilah sayang, berdirilah!” kata Yoga sembari membantu Siska untuk bangkit dari duduknya.


Siska tak menolak sama sekali, karena perasaanya begitu kacau saat itu, dengan pelan Yoga membersihkan pakaiannya yang kotor, serta memasangkannya kembali ketubuh Siska. Sementara itu Siska hanya terpaku diam seperti patung yang bernyawa.


Nampaknya dia begitu trauma dengan kejadian yang telah menimpa dirinya, sehingga Siska merasa tak punya muka saat itu.


“Mari kita pulang sayang,” kata Yoga sembari memegang pergelangan tangan Siska.


Siska tak menjawab, Dia hanya mengikuti saja apa yang dikatakan Yoga, seraya menaiki sepeda motor milik Yoga, siska duduk diam dibelakang.


Rencana untuk menyelidiki kasus Nayla pun, tidak dapat mereka lanjutkan.


“Jangan takut sayang, kalau memang kita udah melakukannya aku akan bertanggung jawab. Kamu nggak usah begitu sedih, kita melakukannya juga tak kita rencanakan sama sekali.”


Hanya air mata yang terus menetes sebagai jawaban betapa kecewanya Siska saat itu, hatinya telah hancur karena saat itu kesuciannya sudah hilang direnggut Yoga.


Setibanya dirumah, Siska langsung masuk kedalam, tampa harus bicara pada Yoga. Seraya memandang dari belakang, Yoga juga merasakan betapa hancurnya perasaan Siska, kesucian yang telah dilindungi nya selama ini, ternyata telah direnggutnya.


Bersambung ...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2