Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 9 kehadiran Yuda


__ADS_3

Kemudian televisi itu dinyalakan Yoga kembali, dan diapun mengacak-acak semua siarannya. Nayla hanya memperhatikannya saja, rasa kesal dihatinya belum terobati sama sekali.


Yoga yang tampak acuh dan tenang membuat Nayla hanya menangis pilu. Melihat hal itu Yoga menarik tangan Nayla dan memeluknya, dikecupnya kening Nayla dalam-dalam, yoga pun menghapus air mata Nayla yang terus saja mengalir.


“Kau masih kesal Nay? tak baik memendam rasa kesal berlama-lama, nanti nggak bagus untuk kesehatanmu. Kau belum sarapan kan ? pergilah mandi, lalu sarapan, nanti perutmu sakit.”


Mendengar penjelasan dari Yoga, Nayla diam saja, tak sepatah katapun dijawabnya.


“Apa perlu Abang gendong kekamar mandi Nay?” sambung Yoga kemudian.


Namun Nayla masih saja diam membisu, Yoga menarik nafas Panjang dan berdiri, tampa keraguan sama sekali Yoga langsung menggendong tubuh Nayla menuju kamar mandi.


Sambil menunggu Nayla selesai mandi, Yoga menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Selesai mandi, Nayla langsung menuju ruang makan.


“Ayo dimakan Nay, nanti keburu dingin,” kata Yoga seraya menyantap hidangan yang ada di piringnya. ”Gimana rasanya Nay, apa enak ?”


Nayla diam saja, dia hanya menyantap nasi yang ada di piringnya dengan pelan. Tiba-tiba dari luar terdengar suara deru mobil, persis dihalaman rumahnya.


Yoga dan Nayla sama-sama beradu pandang dan keduanya serentak berkata. ”Yuda" sontak merekapun berlari keluar rumah. Benar saja, dihalaman rumah Yuda telah berdiri, Nayla langsung memeluk suaminya.


Yoga hanya diam menyaksikan hal itu, tapi mata Nayla melirik nakal kearahnya. Dan Yoga hanya bisa menunduk.


“Gimana kabar mu dan bayi kita Nay?”


“Dia sedang tidur Bang,” jawab Nayla dengan suara pelan.


“Bayi mu laki-laki Yud, dia tampan seperti Papanya,” lanjut Yoga.


“Hahaha! kau ini Yog, bisa aja. Gimana kabarmu Yog?”


“Semuanya aman Yud, seperti yang kau inginkan aku telah lakukan selama satu setengah bulan.”


“Gimana kabar Mama dikampung Yog?”


“Aku telah mengurusnya, dengan menyuruh orang lain untuk membantu Mama dirumah.”


“Maaf ya, Yog. Aku telah merepotkan mu.”


“nggak apa-apa Yud, aku nggak keberatan kok, lagian dirumah aku nggak ada kerjaan juga. Hanya saja kau nggak mau ngasih kabar tentang keberadaan mu, aku jadi bingung harus bagai mana.”


“Itulah masalahnya Yog, tempat daerah yang dilanda bencana itu, jauh sekali dari jangkauan, jangankan handphone semua alat komunikasi kami, tak ada yang bisa difungsikan. Bukan aku aja, tapi semua dokter disana merasakan hal yang sama. Mereka juga merindukan keluarganya.


“tapi syukurlah kau udah pulang, jadi aku bisa merasa sedikit lega, besok pagi tentu aku udah bisa pulang ngurusin Mama.”

__ADS_1


“Tapi Yog!”


“Tapi apa Yud?”


“Aku hanya diberi izin selama dua hari, sehabis itu aku harus kembali kesana.”


“Apa? kau harus kembali lagi?”


“Iya Yog, kenapa? kau merasa keberatan berada disini?”


“Tapi Yud! kurasa Nayla udah bisa mandiri mungkin, sebab dirumah, aku agak sangsi meninggalkan mama sendiri disana.”


“Cukupkan aja dua bulan kau menolong Nayla Yog, habis itu kau bisa pulang nemani Mama di kampung, aku lihat Nayla masih kelihatan lemah.”


“Tapi, Yud? banyak hal yang harus di jaga selama disini, aku sangat takut sekali,” jawab Yoga mencoba berkata apa adanya.


“Maksudmu?” tanya Yuda tak mengerti.


“Kau memiliki istri yang sangat cantik Yud, kenapa begitu mudahnya kau menitipkannya padaku serta mempercayaiku untuk menjaganya.”


“Apa menurutmu aku salah? apa menurutmu aku nggak boleh mempercayaimu? ingat Yog, kau itu saudara kembar ku satu-satunya.


" Aku tau itu Yud."


“Dan itu udah kulakukan selama satu setengah bulan ini, apa menurutmu masih kurang yud?”


“Aku mempercayaimu Yog, melebihi siapapun didunia ini.”


“Kenapa kau nggak mencarikan baby sister aja Yud?”


“Kami takut Yog, beberapa bulan yang lalu anak tetangga kami diculik oleh baby sister nya sendiri, dan belum ditemukan hingga saat ini.


Aku nggak ingin hal itu terjadi pula pada keluarga ku.”


“Hmmm! baiklah, akan ku ikuti permainanmu, hanya lima belas hari aja!”


“Baik aku setuju, hanya lima belas hari!”


“Kalau begitu mari kita sarapan.”


“Apa kau bisa bikin sarapan Yog?”


“Yaa, enak tak enak, yang penting bisa dimakan.”

__ADS_1


“Ayolah kalau begitu. ”


“Mari!” ajak Yoga seraya menuju meja makan.


Dimeja makan mereka menyantap hidangan dengan lahapnya, sambil bercengkrama mereka saling tersenyum dan tertawa. Setelah sarapan Yoga melanjutkan obrolannya diruang tamu, Nayla pun datang menghampiri Yuda, dengan menggendong bayinya yang baru bangun.


“Waah anak Papa, Udah bangun Ya? oooh sangat lucu sekali kamu nak, menggemaskan!” kata Yuda seraya mengambil sikecil dari pangkuan Nayla.


“Gimana betulkan, dia mirip sekali denganmu Yud?”


“Apa benar Yog, dia mirip dengan Ku?”


“Kalau bukan denganmu, dengan siapa lagi dia harus mirip, apa dengan tetangga?” ledek Yoga.


Mendengar kata-kata itu, mereka semua tertawa, alangkah bahagianya hari itu dirasakan Yuda sekeluarga.


Malam itu cuaca sangat dingin sekali, banyak bintang bertaburan di langit, rembulan malam pun bersinar dengan terang, cahayanya menembus kegelapan bumi.


Suara hewan malam berbunyi sahut-sahutan, sementara itu di peraduan, Nayla dan Yuda, saling melepas kerinduannya, Nayla menangis dipelukan Yuda, air mata haru menghiasi pertemuan yang sangat dinantikan itu.


Tapi didalam pikiran Nayla saat itu hanya ada Yoga, dia menatap Yuda seolah-olah menatap mata Yoga yang penuh hasrat kepadanya.


“Gimana Nay, kau merasa kesulitan saat melahirkan?”


Pertanyaan Yuda itu membuat khayalan Nayla menjadi buyar seketika, bayangan Yoga yang sedang menari pun, hilang entah kemana. Dan pikirannya pun kembali tertuju pada pertanyaan yang diajukan Yuda padanya.


“Iya Bang, untung Yoga segera datang, tapi saat itu Nay udah kehabisan banyak darah, Bang Yoga juga, menelfon seluruh nama Dokter yang ada di buku panduan Abang, tapi hasilnya Nihil, sebab mereka yang dihubungi tidak ada di tempat.


Bang Yoga merasa Panik dan bingung. Untung aja dia punya ide, untuk mencarikan dukun beranak. Kalau tidak entah apa yang terjadi pada Nay dan bayi kita."


“Alhamdulillah Nay, Allah masih bersama kita.”


“Dan satu hal lagi, Abang tau nggak?”


“Apa itu Nay?”


“Atas perintah dukun beranak itu pula, akhirnya Bang Yoga menggantikan pakaian Nay yang penuh darah, serta memasang infus. Dan dia juga yang telah menggantikan pekerjaanmu dirumah ini untuk merawat Nay dan anak kita!”


“Iya Nay, Abang nggak akan bisa membalas semua kebaikan yang dia lakukan untuk menyelamatkan Nay beserta bayi kita, serta merawat Nay selama ini.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2