Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 30 Kecemasan hati Siska


__ADS_3

“Nggak begitu jauh, tapi untuk membawa mereka semua, Nak Rangga butuh waktu berjam-jam lamanya.”


“Nggak masalah, yang paling penting mereka semua bisa kita selamatkan.”


“Baiklah, ayo! ikuti Bapak," kata pak tua itu, seraya berjalan tertatih-tatih karena kakinya terkena serpihan kaca.


“Baiklah,” jawab Rangga dengan senang hati.


Saat hendak keluar dari tenda, Rangga melihat ada dr. Brema yang saat itu sedang berdiri.


“Brema?” sapa Rangga heran.


“Sayangnya hatiku nggak bisa menjadi batu, Rangga! walau nyawaku taruhannya, aku ikut denganmu untuk menyelamatkan mereka.”


“Alhamdulillah, kita masih satu keyakinan Brema, kita harus saling membantu.”


“Iya, Rangga aku setuju denganmu.”


“Ayo angkat salah seorang diantara mereka, untuk kita selamatkan,” perintah Rangga pada rekan seprofesinya itu.


“Baik, Rangga,” jawab Brema bersemangat.


Lalu mereka bertiga berjalan menelusuri, lorong bekas reruntuhan gedung, menyelinap dibalik tiang-tiang yang hampir hancur.


“Ini tempatnya, nak!" kata Pak tua itu seraya membuka, sebuah pintu, yang terbuat dari baja, pintu itu sangat kecil sekali, hanya bisa muat satu orang saja.


Itupun kalau masuknya harus pelan, mirip sebuah terowongan, akan tetapi didalamnya sangat luas, seperti sebuah banker, yang sudah tak dipergunakan lagi.


Tanpa harus banyak bertanya lagi, Rangga dan Brema berlarian secepat mungkin untuk menyelamatkan mereka semua.


Ada yang dipikul, ada yang digendong, ada yang dipapah bagi yang bisa berjalan, dan ada pula yang berjalan sendiri, bagi yang lukanya hanya di bagian kepala.


Hingga dini hari dr. Rangga dan dr. Brema bekerja keras, untuk menyelamatkan mereka semua.


Disaat suara sirene berbunyi, itu menandakan pagi telah menjelang. Tak berapa lama kemudian, Rangga dan yang lainnya mendengar suara panser, berjalan hilir mudik di permukiman.


Semuanya tampak hening tak bergeming, rasa takut akan kematian mulai membayang-bayangi jiwa mereka semua.


Ada yang sedang menangis, akan tetapi dia menjatuhkan air matanya kedalam, ada yang gemetar manahan rasa takut seraya menggigit bibirnya hingga berdarah dan ada yang berdo’a sambil bersujud pada sang kholiq, agar diberi keselamatan.


Anak yang menangis terpaksa harus dibekap mulutnya, agar suaranya tak terdengar keluar sana. Sungguh satu tragedi yang tak ingin untuk kita ingat lagi.


Dalam keadaan seperti itu, Rangga teringat dengan Siska, wanita cantik yang selalu ada diingatannya.


Dan ingatan itupun, telah membuat Siska malam itu begitu sulit untuk memejamkan mata.


Entah kenapa, biasanya, wajah Rangga tak pernah ada didalam lamunannya, tapi untuk malam itu, siska benar-benar telah fokus total pada Rangga.


“Aneh? kenapa pikiranku selalu saja tertuju pada Rangga, apakah dia dalam bahaya kali ini?” tanya Siska pada dirinya sendiri.


Apa yang dirasakan oleh Rangga waktu itu, kecemasan dan rasa takut yang teramat sangat juga dirasakan oleh Siska di Indonesia.


Hingga keesokan harinya, dr. Siska, masih merasakan keanehan pada dirinya, bayangan Rangga terlihat jelas di pelupuk matanya.


Lalu dari luar seseorang mengetuk pintu ruangannya, lamunan Siska pun langsung buyar seketika.


“Siapa?” tanya dr. Siska ingin tau.


“Aku Sis,” jawab Yuda, sembari membuka pintu itu dari luar.

__ADS_1


“Wah, kamu ini Yud. Belum Siska izinin masuk, kamu udah nongol duluan.”


“Kelamaan tau!” jawab Yuda, seraya duduk di depan Siska.


“Mana Nayla, Yud? Kenapa dia nggak ikut?”


“Nggak, kebetulan tadi aku dari rumah sakit, jadi langsung mampir aja.”


“Ooo, gitu!”


“Gimana?” tanya Yuda pada Siska


“Gimana apanya, Yud?"


“Masaalah dokter, yang Siska ceritain.”


“Ooo, dr. Rangga!"


“Siapa nama temanmu itu, Sis?”


“Rangga, Yud!”


“Rangga? Rangga, siapa ya, Sis?” tanya Yuda seraya terus berfikir.


“Itu, Yud! Rangga teman kita semasa kuliah,” jawab Siska, seraya mengingatkan Yuda kemasa lalunya.


“Ooo, iya! sekarang Siska baru ingat."


"Tapi Sis, Rangga itu kan suka banget sama kamu?”


“Aaah, masa siih?”


“Lalu gimana dengan kamu?”


“Maksudnya, apa ya Sis?”


“Oh! aku keceplosan bicara,” kata Siska pada dirinya sendiri.


“Maksudnya apa ya, Sis?” tanya Yuda sekali lagi.


“O, eh! maksud Siska, gimana dengan pendapat kamu tentang Rangga?”


“Oh, gitu! kalau menurut pendapat aku, Rangga itu orangnya baik lhoh!”


“Ya, kalau menurutmu, Rangga itu baik, ok! akan kujadikan dia teman dekat.”


“Tapi, jangan sekedar teman dekat, dong!”


“kenapa? apa itu masaalah?”


“Bukan, tapi?”


“Tapi apa ya?”


“Ah udahlah, nggak penting juga untuk dibahas,” jawab Yuda mengalih pembicaraan


“Ya udah, nggak apa-apa.”


“Gini aja, Sis. Gimana ya? tentang operasi Nayla.”

__ADS_1


“Itu masalahnya Yud, kalau Rangga itu, dia nggak bisa pulang ke Indonesia sekarang ini.”


“Kenapa?”


“Karena dia sedang banyak tugas disana!”


“Banyak tugas?”


“Iya, Yud!”


“Gimana kalau Rangga, kita bayar dua kali lipat, asalkan dia bisa datang secepatnya ke Indonesia.”


Mendengar Yuda akan membayar Rangga dua kali lipat, asalkan bersedia datang ke Indonesia, untuk melakukan operasi istrinya, hati Siska jadi sedikit sedih.


“Oh, Yuda! pria yang sangat Siska cintai, jika saja Siska yang menjadi istrimu, apakah kau akan melakukan semua itu sayang?” gumam Siska pelan.


“Gimana, Sis? apa Rangga mau dia kita bayar dua kali lipat.”


“Itu dia masalahnya Yud, pasalnya, Rangga itu saat ini sedang berada di Ukraina,” jelas Siska pada Yuda.


“Apa, di Ukraina? rupanya Rangga, orang yang terpilih untuk kesana ya?”


“Apa kau mengetahui kepergian Rangga kesana Yud?”


“Aku juga ikut saat itu, mengajukan permohonan untuk relawan kesana, tapi aku tidak diizinkan.”


“kenapa?”


“Aku nggak tau, Sis! mungkin aku masih dibutuhkan di sini.”


“Ya, itu mungkin juga, karena orang yang pergi kesana, pasti orang yang sudah siap mentalnya.”


“Ya, bisa jadi begitu, karena saat itu, istriku Nayla sedang hamil anak pertama kami.”


Mendengar nama Nayla disebut, hati Siska terasa begitu sakit, cinta yang selama ini hanya bertepuk sebelah tangan. Hanya akan menambah rasa sakit yang semakin mendalam.


“Ya udah, Yud. kau mau minum apa?” tanya Siska untuk mengalihkan pembicaraan mereka.


“Nggak usah Sis, lagian Nayla pasti udah menunggu ku dirumah.”


“O ya? memang seorang istri yang sangat sempurna.”


“Biasa aja, Sis! Nayla juga banyak kesalahan, sama dengan ibu-ibu yang lainnya,” jawab Yuda, dengan tidak membela istrinya didepan Siska.


“Dari dulu, kau memang pandai berbicara Yud,” kata Siska memuji.


“Hmm, Siska, Siska! kamu selalu saja mengingat masa lalu kita.”


Mendengar Yuda bicara seperti itu, ingin rasanya, Siska mengutarakan niat hatinya pada Yuda, kalau selama ini, dia benar- benar menyukai Yuda.


“Kenapa tersenyum-senyum gitu? ” tanya Yuda ingin tau, perasaan Siska saat itu.


“Ah, nggak kok Yud, karena kau mengingatkan Siska pada masa lalu, maka Siska juga ingat dengan kenangan kita berdua waktu itu.”


“O ya? kenangan apa? aku nggak ingat sama sekali, kalau kita pernah punya kenangan?”


“Benar, kamu udah nggak ingat sama sekali dengan kenangan kita berdua?”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2