Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 22 bertemu teman semasa kecil


__ADS_3

Sementara itu, di dalam kamar yang terasa begitu sepi dan sunyi, tampak Nayla duduk termenung disudut ruangan, seraya mengangkat kedua kakinya, hingga lutut Nayla sejajar dengan dagunya.


Nayla sangat menikmati suasana malam itu. Langit yang cerah, sinar bulan yang bulat penuh, serta ribuan bintang yang bergelayutan di angkasa.Tampak sangat menyejukkan hati bagi setiap orang yang memandanginya.


“Oh, indahnya malam ini!” desah Nayla dalam kesendiriannya.


Disaat itu, tak terasa air mata Nayla, mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa pilu sepertinya mulai menyerang ketenangan jiwanya yang sedang damai.


“Ya Allah, kenapa akhir-akhir ini, jiwaku tak pernah tenang dan batinku tak pernah damai, apakah itu semua karena perselingkuhan ini. Atau mungkin karena azab darimu ya Allah!” rintih Nayla yang terus menatap kearah langit.


“Mana istrimu Yud? kenapa dia nggak kelihatan?” tanya Kartini pada putranya, yang saat itu sedang asik menikmati pertemuan mereka.


“Barang kali udah tidur Ma,” jawab Yuda yang terus menikmati makanan yang disuguhkan Dinda padanya.


“Apa, udah tidur? tapikan belum pukul delapan,” kata Kartini heran.


“Entahlah Ma, barang kali Nayla kecapean. Lagian seharian ini, di terlihat kurang bersemangat.”


“Kau yakin, istrimu itu nggak kenapa-napa?” tanya Kartini heran.


“Maksud Mama?”


“Nggak biasanya kan, istrimu itu bersikap murung selama ini.”


“Apa iyan begitu? aku kira selama ini, dia terlalu kecapean, makanya dia kelihatan sedikit murung.”


“Mama perhatikan beberapa hari ini, dia kelihatan begitu murung, apa kalian ada masaalah?”


“Kami nggak punya masaalah apa-apa kok Ma, hanya belakangan ini, Nayla sering kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu, seperti sedang merasakan kesakitan, tapi jika ditanya dia selalu menutupinya.”


“Apa kau udah periksakan ke Dokter?” tanya Yoga ingin tau.


“Waktu itu, saat dia sedang sakit, aku udah periksa, tapi dia hanya diserang demam biasa, kukira mungkin karena dia terlalu sibuk, jadi kecapaian. Pak Darman juga bilang kalau Nayla sering tidur di mobil saat hendak kebutik.”


“Terus, pak Darman bilang apa lagi padamu?” tanya Yoga penasaran.


“Pak Darman hanya bilang, saat telah tiba, Nayla langsung terbangun, dan turun dari mobil.”


“Tapi apa kau tak curiga, sesuatu terjadi padanya Yud?” tanya Yoga lagi, seakan-akan Nayla akan membahas sesuatu dengan suaminya.”


“Maksud mu apa Yog? aku jadi nggak mengerti?” tanya Yuda semakin heran.


“Aku melihat istrimu itu sedang mengalami sakit, dia sengaja diam agar kau tak kepikiran tentang dirinya,” kata Yoga saat mengemukakan pendapatnya.


“Iya Yud, Mama sependapat dengan Yoga, atau jangan-jangan istrimu itu benar-benar mengalami sakit,” timpal Kartini, menyakinkan perkataan Yoga.


“Awal mulanya aku juga mengira begitu, makanya dia ku bawa ke dokter, tetapi kenyataannya dia hanya sakit biasa.”

__ADS_1


“Tapi jika kau merasa itu penyakit biasa, terserah mu, dan kau harus menyuruh Nayla istirahat yang banyak dirumah,” pesan Kartini pada putra sulungnya itu.


“Aku juga udah berkali-kali melarang dia pergi kebutik, tapi dia selalu saja ingin pergi. Dan pulangnya selalu larut malam, padahal sebelumnya, Nayla nggak pernah pulang selarut itu.”


“Apa kau nggak pernah nanya sama Pak Darman, apa pekerjaannya selama di butik?”


“Kalau soal itu, nggak sih,” jawab Yuda polos.


“Aku melihat, tubuh istrimu semakin kurus dan pucat Yud, karena sewaktu aku disana dia tak sekurus itu.”


“Apa iya Yog?”


“Iya, apa kau nggak memperhatikannya, Yud?”


“Mungkin karena udah sering bersama, jadi aku nggak bisa membedakannya, apakah dia bertambah gemuk, atau juga semakin kurus.”


“Tapi, Mama perhatikan, selama kalian berada disini, Nayla memang sedikit murung, dan nggak seceria waktu dulu.”


“Iya, sepertinya begitu dan istrimu tampak pendiam, padahal waktu itu dia ceria sekali.”


“Biarlah, besok akan kubawa dia ke spesialis penyakit dalam, barang kali ada penyakit yang sedang dia sembunyikannya dariku.”


“Ya, lebih cepat lebih baik Yud!” Sambung Yoga kemudian.


Sementara itu, disaat mereka bertiga membahas masaalah penyakit yang sedang diderita Nayla, Dinda gadis lembut tetangga Yoga, hanya mendengarkan saja dari kejauhan, namun meski demikian, Dinda selalu mengikuti semua perkembangan yang sedang mereka bahas dimalam itu.


Di dalam hatinya, Dinda bertanya-tanya, penyakit apa yang sedang diderita Nayla, sehingga keluarga sederhana itu, membahasnya sedetail mungkin.


“Hai! sedang mikirin apa?”


“Oh..eh…ooo…!”


“Kenapa, nggak nyangka,” kata Yoga, mendahului apa yang ada dipikiran Dinda saat itu.


“Oh, Nggak sih.”


“Jadi kenapa jadi gugup?”


“Aku hanya kaget aja kok. Nggak terlalu penting."


“Benar, nggak terlalu penting?”


“Iya, Yog. Lagian kamu kayaknya terlalu bersemangat kali tadi ku tengok!”


“Kapan?”


“Itu tuh, sewaktu membahas masaalah Nayla!”

__ADS_1


“Ooo, itu!” jawab Yoga seraya mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.


“Kenapa memandangku seperti itu?” tanya Dinda sedikit grogi.


“Aku hanya heran aja, apa dari jarak sejauh itu, kau bisa dengar percakapan kami?”


“Kenapa nggak, mungkin karena terlalu bersemangat, kau jadi lupa, kalau ucapan kalian bertiga, terdengar oleh semua mahkluk yang ada disekitar ini.”


“Maksudmu?” tanya Yoga semakin tak mengerti.


“Aduh Yog, kau semakin lama semakin lelet ya, cara berpikirnya!”


“Dinda sayang, bukan otakku yang saat ini sudah lelet, tapi jaringan di kepalamu itu, yang semakin hari semakin rusak.”


“Huuuh…dasar, pecundang!” teriak Dinda, seraya memukul-mukul Yoga dengan kedua tangannya yang lembut.


Merasa seru dengan teman semasa kecil nya, Yoga langsung menangkap kedua tangan Dinda, dan memeluk tubuh Dinda kuat-kuat.


Merasa sesak dengan pelukan Yoga, Dinda pun menjerit-jerit minta tolong pada Kartini.


“Mama! tolongin Dinda, Ma! lihat Yoga ini, pelukannya sangat menyakitkan sekali!”


“Yoga! udah, udah, nanti Dinda nya nangis baru tau,” kata Kartini seraya tersenyum, melihat tingkah laku anaknya.


Bukan hanya Kartini, Yuda yang melihat tingkah mereka berdua pun ikut tersenyum geli, dan membantu Yoga, untuk menggelitik leher Dinda.


Walau demikian, Dinda tak memberi penolakan sedikitpun, Dinda yang merasa Yuda dan Yoga teman masa kecilnya yang lucu dan menyenangkan, diapun ikut meladeni keduanya dengan penuh semangat.


Dari tempat duduknya, Kartini hanya memandangi mereka bertiga, seraya tersenyum-senyum simpul, Kartini tau mereka tak akan bertengkar, karena saat itu, mereka sudah sama-sama dewasa.


“Pertemuan yang sangat mengasikan,” kata Kartini membatin.


Saat melihat neneknya tersenyum, Andika juga ikut tertawa geli, bahkan sesekali Andika, ikut-ikutan nimbrung diantara mereka bertiga.


“Dika awas! teriak Kartini seraya memperingatkan cucu kesayangannya.


“Kenapa sih, Nek,?”


“Nanti kena, kamu bisa terjatuh.”


“Tapi aku udah besar kok,Nek.”


“Dika, mereka itu mempunyai tulang yang kuat, coba Nenek pegang tangan Dika, apa ada seperti mereka,” kata Kartini seraya memegang pergelangan tangan cucunya.


“Ooo..iya, ternyata cucu Nenek udah kuat, kalau gitu, silahkan aja. Tapi ingat jangan nangis kalau jatuh ya?”


“Ok, Nek!” jawab Dika seraya kembali kepada Yuda dan Yoga.

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2