Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 104 Kehamilan yang berbahaya


__ADS_3

“Oh!” rintih Nayla, menikmati apa yang dilakukan Yoga pada dirinya. Namun mesti demikian, Nayla tak mau membuang kesempatan itu, tangannya yang nakal terus menyelusup ketubuh Yoga.


Yoga yang terus terangsang, tiba-tiba mendorong tubuh Nayla, dan diapun berlari menuju kamar mandi.


Malam itu juga, Yoga keluar dari rumah Yuda dan meninggalkan Nayla yang terkapar diatas ranjang.


“Kau selalu saja berbuat begini pada Nay, Bang,” ucap Nayla dengan suara yang dipendam.


Di saat Nayla menangis, Yoga pun menyalakan sepeda motornya dan pergi meninggalkan Nayla. Dan semenjak saat itu, Yoga tidak pernah lagi muncul dihadapan Nayla.


Di sekolah, Yoga beraktifitas seperti biasa, Mutia yang selalu setia mendampingi dirinya, tampak duduk disisi Yoga dengan tersenyum.


Tak berapa lama kemudian, ponselnya berdering, Yoga pun membukanya,


“Hei Yud, apa kabar?”


“Alhamdulillah sehat Yog, tumben udah lama nggak mampir kerumah, kemana saja kau.”


“Ada, lagi disekolah bersama Mutia.”


“Yog, laporan penculikan Nayla waktu itu, udah membuahkan hasilnya.”


“Ooo, benarkah?”


“Iya Yog.”


“Lalu siapa pelakunya Yud?”


“Mama, dr.Rangga.”


“Ya Allah, benarkah itu Yud?”


“Iya, Yog! ternyata Rangga adalah mantan kekasih Nayla semasa di SMA, tapi karena kedua orang tua Rangga, nggak menyetujui hubungan mereka, akhirnya mereka berpisah. Tapi karena masih takut dianggap akan mengganggu keluarganya, Mama Rangga mencoba untuk melakukan penculikan itu.”


“Berarti, dia juga dong yang melakukan penculikan terhadap Siska?”


“Benar Yog, Siska korban salah tangkap.”


Mendengar informasi dari Yuda, Yoga begitu geram sekali, tampa dia sadari sama sekali, kepalan tinjunya langsung menghantam meja yang ada dihadapannya.


Mutia yang menyaksikan hal itu langsung terjungkal balik kebelakang dan menangis menahan rasa sakit.


“Oh maafkan Abang sayang, Abang nggak sengaja.”


“Kenapa Abang begitu marah?”


“Orang yang melakukan penculikan terhadap Nayla udah tertangkap.”


“Lalu apa urusannya dengan Abang?”


“orang yang telah mereka culik itu saudara Abang Tia, ya tentu ada urusannya degan Abang!”


“Nayla itu kan udah punya suami Bang, suaminya pasti mampu kok, untuk menyelesaikan masalah ini sendirian.”

__ADS_1


“Nggak Tia, Abang begitu mencintai Nayla!”


Tampa sadar, Yoga keceplosan bicara, Mutia yang saat itu berada disampingnya langsung menyiramkan air jeruk kewajah Yoga.


“Dasar bajingan kau Bang! ternyata benar kecurigaan ku selama ini, kau menjalin hubungan dengan Nayla, pantasan kau mati-matian membela Nayla dan mengambil cuti untuk menjaga kekasih gelap mu itu!” ucap Mutia dengan deraian air mata.


“Mutia, bukan itu maksud Abang, kau pasti salah dengar tadi?”


“Salah dengar! iya, salah dengar ! mulai sekarang kita putus, dan tak punya hubungan apa-apa lagi, silahkan kau bercinta dengan kekasih gelap mu itu,” kata Mutia sembari berlari meninggalkan Yoga.


Yoga diam saja disaat Mutia melepaskan rasa sakit hatinya, tak ada yang dapat diperbuat Yoga saat itu, sedikit pun Yoga tidak punya kesempatan untuk membela diri. Semua sudah berakhir.


Setelah mendapatkan amarah dari Mutia, Yoga langsung pulang kerumah Yuda, melihat kehadiran Yoga hati Yuda merasa senang.


“Hai udah lama kau nggak mampir kesini Yog.”


Iya, Yud! aku sibuk.”


Disaat itu, Yoga melihat Nayla keluar, dari kamarnya dengan perut yang tampak membesar. Yoga diam saja sembari terus menatap kearah perut Nayla.


“Udah berapa bulan kandungan istrimu Yud?”


“Udah empat bulan Yog, tapi dia sering mengalami rasa sakit, rencananya kandungan Nayla di sesar aja.”


“Kenapa harus di sesar Yud?”


“Karena dokter melarang Nayla untuk hamil lagi.”


“Ooo, begitu?”


“Semoga, dia baik-baik aja Yud.”


“Ya, mudah-mudahan begitu. O iya, gimana kabarnya hubungan kalian Yog? kapan Mutia tamat?"


“Tamat sih di tahun ini, tapi untuk menikah aku belum tau Yud.”


“Kenapa?”


“Pasti Papa dan Mamanya nggak mengizinkan putrinya cepat-cepat berumah tangga, apa lagi mereka itu pejabat.”


“Yeah ! itukan tergantung kitanya Yog, kalau kita bisa bertanggung jawab, orang tua mana yang anak gadisnya tak ingin bahagia.”


“Iya ! kau benar Yud.”


Saat mereka berbincang-bincang, Nayla pun keluar, dengan membawa dua gelas teh hangat dan sepiring kue buatannya. Yoga menatap tajam kearah Nayla saat Nayla menaruh nampan diatas meja.


“Gimana kabarmu Nay?”


“Yeah ! Gitulah bang, kadang sehat dan kadang terasa sakit,” jawab Nayla pelan.


“O iya Yog! kamu nginap kan?”


“Rencana sih iya, kalau orang rumah nggak keberatan!”

__ADS_1


“Ah! kamu ini Yog, kayak orang asing aja ku tengok.”


“Canda kalii!” jawab Yoga seraya melirik kearah Nayla.


Mesti sudah lama tak bertemu, perasaan mereka berdua sepertinya masih saja membara. Jika saja Yuda saat itu sedang tak dirumah, pasti semua rasa itu akan mereka curahkan, dan memadu kasih bersama.


Begitulah cinta terkadang dia hadir ditempat dan waktu yang salah. Namun jika kita sanggup mengendalikannya, maka cinta itu akan menjadi yang terbaik dalam sejarah hidup manusia. Karena cinta, selalu membuat kita terlena.


Malam itu cuaca agak sedikit mendung, hawa dingin mulai terasa menusuk kedalam tulang, sambil menyulut sebatang rokok, Yoga pun duduk santai didepan rumah.


Walau cuaca dingin Yoga tak merasakan dingin sama sekali. Dengan segelas kopi hangat didepannya Yoga terus saja memainkan melodi gitarnya yang begitu indah. Suara Yoga yang mendayu membuat mata Nayla sangat sulit untuk di pejamkan.


Setelah dipastikan suaminya tertidur, Nayla pun keluar dari kamarnya dan datang menghampiri Yoga.


“Mata Nay begitu sulit untuk di pejamkan Bang, Nay sangat merindukan Bang Yoga,” kata Nayla polos.


“Abang juga Nay!” jawab Yoga seraya memeluk tubuh Nayla.


Tapi kali ini dekapan Yoga tak seperti dulu lagi, karena ada jabang bayi diantara mereka berdua.


“Nay kira Abang udah lupa dengan kisah kita berdua. Dan pergi menjauh dari kehidupan Nay.”


“Entahlah Nay, walau Abang berulang kali mencobanya, namun Abang tetap saja nggak bisa menjauh dari mu,” jawab Yoga sambil mengecup bibir Nayla.


“Hati-hati, perut Nay nanti sakit.”


“Oh, maaf. Nggak sengaja!”


“Sebenarnya kau mencintai Nay, apa nggak sih Bang?”


“Itulah yang nggak bisa Abang jawab Nay."


“Ayolah katakan aja kalau kau memang mencintai Nay!”


“Nay, Nay! kenapa sih ngotot banget untuk dijawab pertanyaan mu?” kata Yoga seraya mencubit hidung Nayla.


“Apa salah?”


“Nggak sih, tapi kalau Nay terus memaksa, Abang janji kalau Abang nggak bakalan datang lagi kesini.”


“Hmm! ngancam!” kata Nayla manja.


“Kalau gitu, kita nikmati aja pertemuan demi pertemuan kita tampa ada pertanyaan. Ok!”


“Baiklah!” jawab Nayla dengan suara lembut.


Semenjak kesepakatan itu mereka buat, merekapun lebih sering bertemu tampa sepengetahuan Yuda.


Hingga di hari-hari terakhir Nayla hendak melahirkan, Nayla mengalami rasa sakit yang teramat sangat di bagian perutnya.


Hingga Nayla tak sadarkan diri dan terjatuh diruang tengah. Andika yang melihat Mamanya tergeletak tak sadarkan diri, dia pun menangis dan menjerit ketakutan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2