Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 56 Kecemburuan Nayla


__ADS_3

“Nggak Nay, semua itu udah menjadi kewajiban suami untuk membahagiakan istrinya, jadi tak ada beban yang sedang Abang pikul saat ini Nay.”


“O iya Bang, gimana kabar Andika saat ini?”


“Andika aman bersama momongannya, Nay nggak usah kuatirkan dia, yang terpenting saat ini Nay berkonsentrasi aja sama kesembuhan Nay. Tadi Abang juga udah kesana melihatnya, dan dia Abang ajak menemui mu tapi dia menolaknya, mungkin terlalu asik bermain.”


“Ooo biarlah, asalkan jangan menangis karena berpisah dari Nay.”


“Nay, Abang mau ketemu dokter dulu, ada yang ingin Abang tanyakan tentang penyakit Nay.”


“Iya, pergilah Bang,” Jawab Nayla dengan suara lembut.


Lalu Yuda pun pergi menemui Dr. Rangga, untuk menanyakan keadaan penyakit Nayla. Akan tetapi di saat Yuda pergi, Mutia pun datang bersama rombongan anak-anak dari SMA pembina Bangsa. Mereka semua adalah anak didik Yoga.


“Nay, ini murid-murid Abang, mereka anak kelas dua, datang untuk membesuk mu.”


“Oh benarkah itu Bang?”


“Iya Nay,” kata Yoga seraya memperkenalkan mereka satu persatu pada Nayla. Tapi saat tangan Nayla menyentuh tangan Mutia, hati Nayla langsung bergetar. Wajah Nayla langsung berubah pucat, Nayla tampak sedikit kesal.


Apa lagi saat Mutia memandangi wajah Yoga, sorot matanya itu sarat dengan cinta. Didepan Nayla, mutia tak segan-segan menggenggam tangan Yoga. Walau Yoga berulang kali menepisnya, namun Mutia tetap saja merapat kearah Yoga.


Nayla yang menyaksikan hal itu merasa tersakiti, perasaannya yang telah hancur, karena penolakan Yoga, kini tampak semakin hancur. Namun dia mencoba untuk tetap tenang dan menahan diri. Tak berapa lama kemudian Yuda pun datang.


“Hai, ada tamu rupanya, siapa mereka Yog?” tanya Yuda pada Yoga.


“Murid-murid ku Yud.”


"Pantasan terlihat ceria sekali.”


“O iya Yud, ini Mutia dan kawan-kawannya, mereka datang untuk melihat keadaan Nayla.”


“Wah! terimakasih banyak, saat ini Nayla udah agak lebih baik, setelah menjalani operasi seminggu yang lalu. Duduklah biar Pak Yoga mencarikan makanan ringan diluar.”


“Baiklah aku pergi dulu,” kata Yoga minta izin pada semuanya.


“O iya, wajah Om mirip sekali dengan Pak Yoga?” tanya seorang murid pada Yuda.


“Ya jelaslah, karena om ini kan saudara kembarnya pak Yoga.”


“Ooo, gitu ya? pantasan mirip sekali.”


“Kalau pak Yoga, saat ini kan jadi seorang guru tuh. Lalu, kalau om, bekerja sebagai apa?”


“Om seorang dokter.”


“Ooo, seorang dokter!” kata anak-anak itu serentak.


“Kalau boleh om tau, jadi diantara kalian ini, siapa yang bernama Mutia?”


Mendengar pertanyaan dari Yuda, spontan anak-anak itu melirikan matanya kearah Mutia seraya tersenyum.


Karena merasa semua teman meledeknya, Mutia pun menjadi malu, wajahnya tampak memerah.


Tapi lain dengan Nayla saat itu, setelah dia tau kalau Mutia berwajah cantik, rasa cemburunya pun muncul tiba-tiba.


Darahnya berdesir sangat kuat. Jantung nya memompa begitu cepat, denyut nadinya bergetar tak beraturan Sehingga kondisi tubuhnya langsung mengalami drop.


Nayla pun mengalami kejang dan denyut jantungnya tak stabil. Yuda sangat terkejut dan menyuruh semua siswa keluar.lalu diapun berlari memanggil dokter.

__ADS_1


Dengan sigap para dokter bekerja membantu mengembalikan kondisi Nayla agar kembali stabil. Setelah beberapa saat kemudian Nayla mulai tampak tenang, karena dokter menyuntikan obat penenang ketubuh Nayla.


Sementara itu, Yoga yang berjalan tenang dan santai, tiba-tiba saja dia terkejut ketika menyaksikan Yuda dan para muridnya berada didepan pintu. Mereka semua menoleh kedalam, lewat jendela kamar Nayla.


Perasaan Yoga berubah jadi tak tenang, makanan yang dibawanya pun jatuh terlepas dari tangannya. Makanan itu berserakan di teras rumah sakit.


Tampa berfikir Panjang lagi Yoga langsung berlari menghampiri ruang kamar Nayla.


“Ada apa Yud? apa yang terjadi?”


“Nayla Yog, Nayla!”


“Ada apa dengan Nayla?”


“Tiba-tiba saja dia drop.”


“Kenapa bisa jadi drop? apa ada yang sakit dengan tubuhnya?”


“Entahlah Yog, tadi kami hanya bercanda disampingnya, tiba-tiba saja dia mengalami kejang dan tak sadarkan diri.”


“Barang kali kalian ada membahas sesuatu yang menyakitkan perasaannya?”


“Kami semua nggak ada membahas yang aneh-aneh kok, Yog! ya Allah, tolonglah istriku,” kata Yuda seraya menengadahkan kedua tangannya.


Yoga yang merasa aneh dengan kejadian itu, langsung menarik tangan Mutia dan membawanya ketempat yang sepi.


“Awwww, sakit tau! Kenapa sih Bang kau kasar sekali.”


“Maaf-maaf,” kata Yoga panik.


“Ada apa sih, kan nggak perlu pakai narik-narik segala.”


“Kami nggak membahas apa-apa kok!”


“Lalu kenapa Nayla bisa drop, kalau kalian nggak menyinggung perasaanya.”


“Kok Abang bisa tau ya, kalau Nayla itu drop, karena perasaannya tersinggung. Aku jadi curiga nih?”


“Maksudmu apa?”


“Aku justru bertanya, kenapa Abang bisa tau kalau Nayla itu drop, karena perasaannya tersinggung?”


“Nggak mungkin kan, orang yang tadinya baik-baik saja, lalu tiba-tiba jadi drop, tanpa ada sebabnya, Mutia?”


“O jadi Abang menyalahkan kami yang menjadi penyebab semua ini?”


“Mutia, sekarang Abang mau tanya pada mu baik-baik. Tolong kau jawab dengan jujur, sebenarnya kalian sedang membahas apa tadi bersama Bang Yuda didalam?”


“Tadi kami nggak ada membahas apa-apa dengan Bang Yuda di dalam, jadi Bang Yoga nggak perlu kuatir. Bang Yuda hanya nanyain kami, siapa diantara kami yang bernama Mutia , lalu semua anak-anak menatap kearah ku.”


“Apa Nayla melihatnya?”


“Iya, dia menatap kami dengan sorot mata yang tajam.”


“Berarti Nayla sudah tau kalau Abang udah punya kekasih.”


“Kalau dia tau, emangnya kenapa? apa dia marah sehingga langsung drop?”


“O, oh! nggak, nggak!”

__ADS_1


“Kenapa Abang jadi gugup begitu?”


“A..ab…abang! ah udahlah, kenapa harus membahas masaalah itu sih.”


“Aku nggak ada membahasnya, Abang kan yang pertama kali membahasnya?”


“Kayaknya aku mulai curiga deh, jangan-jangan Abang punya hubungan khusus dengan Nayla dibelakang Bang Yuda?”


“Ssst! bisa nggak, kalau bicara itu difikirkan dulu. Jangan asal nyolocos aja, bahaya tau?”


“Ya udah kalau gitu, kami pulang aja deh, percuma! disini pun nggak dihargai.”


“Mutia, Mutia tunggu! maafkan Abang Mutia!” seru Yoga yang telah ditinggal Mutia menjauh.


“Maaf, soal apa?”


“Tadi Abang terlalu kasar padamu.”


“Nggak apa-apa, aku udah maafin kok dan kita nggak usah membahas masaalah itu ditempat ini.”


Setelah selesai bicara, kemudian Mutia pun pulang meninggalkan Nayla dan yang lainnya. Diperjalanan menuju rumah, beribu pertanyaan selalu membayang dibenaknya.


Rasa curiga dan cemburu mulai merangkai dalam fikiran dan khayalannya. Apa lagi saat melihat wajah Nayla yang sangat cantik.


“Siapa yang tak terpikat padanya, hanya laki-laki bodoh yang tak mau bila digoda oleh wanita secantik dia. Hati wanita manapun pasti merasa iri padanya. Sedang sakit aja wajahnya secantik itu apa lagi sedang sehatnya, pasti lebih cantik lagi,” kata Mutia pada dirinya sendiri.


lalu tanpa terasa air mata Mutia menetes membasahi pipinya.


“Aku sangat yakin kalau Bang Yoga pasti punya hubungan dengannya, nggak mungkin dia bisa sepanik itu saat mengetahui kalau Nayla sedang drop.” pikir Mutia


Sementara itu diruangan ICU rumah sakit, Nayla sudah sadar kembali, tapi tubuhnya tampa begitu lemah, Yuda dengan bantuan Yoga merawatnya dengan begitu baik dan berhati-hati.


Pagi itu saat Yuda bertugas, Yoga yang menggantikan dirinya untuk menjaga dan mengurus Nayla.


Kesempatan itu ternyata dimanfaatkan Nayla untuk mendapatan jawaban yang pasti dari Yoga, perihal gadis yang bernama Mutia itu.


“Gadis itukah yang membuatmu menghindar dari Nay, Bang?”


Mendengar penuturan Nayla itu, Yoga jadi terkejut, tidak disangka sama sekali, kalau Nayla secepat itu mempertanyakan hal itu pada dirinya.


“Kenapa kau tanyakan hal itu Nay? bukankah sekarang kau sedang sakit, berkonsentrasi lah dulu dengan kesembuhan mu.”


“Kalau Bang Yoga nggak mau menjawabnya maka bukan kesembuhan yang akan kalian dapatkan, tapi kematianlah yang akan menjadi jawabannya.”


“Astagfirullah Nay? kenapa kau bicara seperti itu? bukankah selama ini kau udah punya suami yang sangat menyayangimu dan juga sangat perduli dengan keluarganya.”


“ Selalu membuat alasan bila Nay bertanya sesuatu pada mu?”


“ Semestinya kau bersyukur, ketahuilah Nay, hubungan kita ini nggak bakalan pernah terwujud sama sekali, dan Abang nggak akan mewujudkannya menjadi satu kenyataan.”


“Kenapa? karena ketahuan berbohong?”


“Kenapa harus Abang yang menjadi penyebabnya?”


“Nay tersiksa Bang, Nay tersiksa! karena kau selalu saja menolak untuk memenuhi keinginan Nay.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2