Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 79 Nasib sial


__ADS_3

Bu Zubaidah yang melihat Lesti berjalan menyeruduk seperti orang yang lagi kesurupan, dia pun tak berani untuk menegurnya, takut kalau Lesti mengamuk dan membentak dirinya nanti.


“Ada apa tuh, dengan Lesti?” tanya Andi pada Dion.


“Biasa, masalah percintaan nya dengan Yoga, akhirnya kandas ditangan Rehan.”


“Maksud mu apa, Dion?”


“Bu Lesti kan mengejar-ngejar Yoga tuh, padahal Yoga nya kan udah jadi gebetan Mutia, ya gitulah, cem!”


“Cemburu maksud mu?”


“Hmm, dah dipotong duluan.”


“ya, intinya seperti itu kan?” balas Andi


“Nggak sabaran kali, lu jadi orang.”


“Ya sudah, aku udah tau, nggak perlu dijelaskan lagi,” kata Andi seraya pergi meninggalkan Dion yang sedang terpana kesal melihatnya dari belakang.


Sementara itu, Kepsek yang menunggu Rehan di ruangannya menjadi jenuh, karena orang yang ditunggu tak pernah datang.


Lalu Kepsek memutuskan untuk keluar, menemui Rehan sendirian, setibanya dia dihadapan Rehan, dilihatnya tak ada siapa pun disana selain Rehan sendiri.


“Mana yang lainnya?”


“Yang lain siapa, Pak?”


“Tadi kan saya menyuruh Bu Lesti memanggil mu, kenapa nggak langsung masuk aja?”


“Bu Lesti nggak bilang apa-apa kok, pak.”


“kalau begitu, ayo masuk kedalam.”


“Baik Pak,” jawab Rehan sembari mengiringi kepsek dari belakang.


“Duduk.”


Lalu Rehan langsung duduk dihadapan Kepsek, mata Kepsek yang tajam melotot tajam kearah dirinya.


“Ada apa dengan kalian, kenapa bertengkar hingga main kekerasan segala?”


“Itu karena ulah Bu Lesti yang tiba-tiba saja memukuli Mutia dihadapan saya, Pak.”


“kenapa Bu Lesti menampar Mutia, pasti ada penyebabnya?”


“Itu semua karena Bu Lesti cemburu pada Mutia, kata Bu Lesti, Mutia udah merebut pak Yoga dari dirinya.”


“Benar begitu Rehan, kamu nggak lagi sedang mengada-ngada kan?”


“Nggak, Pak. Buat apa, nggak ada untung nya juga kan?”


“Lalu kenapa kau memukuli Bu Lesti?”


“Saya nggak sengaja pak, hal itu terjadi secara spontan, tampa saya konsep dulu, melihat Mutia pingsan saat ditampar Bu Lesti, emosi saya langsung meluap-luap dan tangan saya langsung bergerak untuk membalasnya.

__ADS_1


“Kalian Ini, ya! selalu saja membuat nama sekolah menjadi hancur, belum lagi kasus mu yang mengeroyok Pak Yoga di pantai itu, semuanya seperti sengaja kau lakukan.”


“Dari mana Bapak tau, kalau saya mengeroyok Pak Yoga di pantai?”


“Pak Yoga yang bicara dengan Bapak, akan tetapi dia sudah memaafkan dirimu, dengan satu catatan agar kamu tak akan mengulanginya lagi.”


“Ya pak.”


“Kamu tau nggak, kalau Mutia itu takut dengan kekerasan. Jadi dia akan gemetar dan ketakutan kalau melihat kekerasan. Kalau ada teman sekolah kita yang seperti itu, tolong kita saling jaga, jangan sampai dia mengalami hal seperti yang saya katakana tadi.”


“Baik, pak.”


“Baiklah untuk kali ini, bapak akan memaafkan kalian semua, tapi ingat sekali lagi kalian berbuat onar disekolah ini, maka Bapak akan menskor kalian."


“Iya, pak.”


Melihat Rehan begitu menurut dengan perkataan Kepala sekolah, lalu dia pun diizinkan keluar dari ruangan itu, tanpa harus menghukumnya.


Hati Rehan sangat senang sekali, karena kali itu dia tak menjadi sasaran amarah Kepsek yang terkenal disiplin dengan peraturannya .


Sementara itu Yoga yang mereka pertengkarkan, telah jauh melalang buana dari hadapan mereka semua. Hatinya tampak begitu tenang saat mengendarai sepeda motornya.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering, lalu Yoga menghentikan sepeda motornya dipinggir trotoar.


“Hallo, assalamu’alaikum,” kata Yoga mengawali pembicaraannya.


“Wa’alaikum salam,” jawab Kepsek.


“Ada apa, Pak?” tanya Yoga ingin tau.


“Ada berita buruk, untuk Pak Yoga hari ini.”


“Mutia, dia pingsan karena bertengkar dengan Bu Lesti.”


“Ya, Allah. Baiklah Pak, kalau begitu saya akan kembali lagi kesekolah saat ini.”


“Ya, lebih baik diselesaikan dulu biar semuanya kelar, dari pada semakin berlarut-larut nantinya.”


“Baik pak,” jawab Yoga sembari memutar balik arah sepeda motornya.


Karena begitu banyak masalah yang timbul oleh karena dirinya, Yoga sedikit sulit untuk berkonsentrasi dalam mengendarai sepeda motornya. Sehingga dia menyerempet seorang perempuan lanjut usia. Hingga perempuan itu mengalami luka serius di bagian kepalanya.


Penduduk marah, mereka semua datang bersama-sama untuk menghakimi Yoga. Yoga pun mereka keroyok beramai-ramai. Namun bagi mereka tak semudah itu untuk menghajar Yoga, satu pukulan pun tak ada yang bersarang ditubuh Yoga.


“Tenang, tenang! kalau kalian nggak tenang, maka aku akan kabur dari sini!” ancam Yoga pada masyarakat yang ada disekitar tempat itu.


“Lalu bagai mana dengan Ibu itu?”


“Dia tanggung jawab saya, biar saya yang membawanya kerumah sakit, tapi kalau kalian tetap ingin main hakim juga, maka jangan kalian salahkan saya kalau kalian sendiri yang akan celaka nantinya.”


“Baiklah, kami percaya pada mu,” jawab salah seorang diantara mereka.


Lalu Yoga mengangkat tubuh perempuan tua itu keatas mobil angkot yang sudah berhenti.


“Siapa yang akan menemani Ibu ini, diatas mobil?” tanya Yoga pada mereka semua.

__ADS_1


“Biar saya saja,” jawab seorang wanita.


“Saya juga ikut,” jawab seorang wanita cantik.


Lalu mobil pun melaju membawa perempuan tua itu kerumah sakit. Yoga langsung mengiringinya dari belakang.


“Sial! Sial, sial, sial!” gerutu Yoga kesal.


Setelah tiba diparkiran rumah sakit, perempuan tua itu langsung dibawa kedalam untuk mendapat penanganan medis.


Kedua perempuan itu tampak begitu resah sekali, hal itu membuat Yoga jadi bertanya-tanya.


“Maaf, sebenarnya Ibu ini siapa?”


“Saya adik korban.”


“Lalu, Adik ini siapa?” Aku putrinya.


Mendengar penjelasan dari kedua wanita itu, jantung Yoga langsung berdebar kencang sekali, dia begitu takut, kalau perempuan tua itu tak selamat, pasti Yoga yang akan mereka salahkan.


Hingga malam menjelang perempuan itu belum juga sadar dari pingsannya. Banyak darah yang keluar dari telinga, mulut dan hidungnya. Sedangkan wanita cantik yang ada disamping Yoga, terus saja memandangi Ibunya dari luar dengan tak henti-hentinya menangis.


“Tenanglah sayang, Ibu mu sebentar lagi pasti sadar kok.”


“Maaf kan aku kak, karena aku nggak bisa menjaga Ibu, hingga akhirnya Ibu mengalami kecelakaan ini.”


“Emangnya Ibu mu itu dari mana tadi, kok tiba-tiba saja Ibumu udah ada didepan sepeda motor kakak.”


"Ibu ku mengalami gangguan jiwa kak. Dia sering kali berlari kerah mana yang dia suka.”


“O gitu, ya?” kata Yoga seraya mengangguk-angguk kan kepalanya.


Saat itu malam udah semakin larut, wanita cantik itu belum bisa tidur, sementara Yoga terus saja menemaninya dimalam itu.


“Mana Bibi mu tadi, sayang?”


“Dia pulang kak, karena dirumah dia punya bayi yang masih kecil.”


“O gitu. baiklah kamu tidur saja dulu, biar Ibu mu kakak yang jaga.”


“Baiklah,” jawab gadis itu seraya merebahkan kepalanya di kursi tunggu.


Melihat gadis itu hanya tidur beralaskan kedua tangannya, tampa berbasa basi Yoga langsung mengangkat kepala gadis itu dan menaruhnya diatas pangkuannya.


Merasa disentuh oleh orang yang tak dikenalnya, gadis itu pun langsung menolak untuk menaruh kepalanya dipangkuan Yoga.


“Kenapa, kamu takut?”


Gadis itu diam saja, dia tak menjawab pertanyaan yang diajukan Yoga pada dirinya.


“Usia mu udah berapa tahun?”


“Udah Sembilan belas tahun, kak,” jawab gadis itu pelan.


“Kamu kuliah?”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2