Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 72 Disekap


__ADS_3

“Ikuti Den Rangga itu kemana saja dia pergi !” Perintah Bu Salamah pada Radit.


“Baik Nyah.” Jawab Radit seraya, mengikuti mobil yang dikendarai Rangga dari belakang.


Tak berapa jauh dari rumah sakit tempat Rangga bekerja, mobil itupun berhenti, lalu Rangga turun dari atas mobil itu, dan dia langsung masuk kedalam sebuah rumah mewah.


“Hm ! rumah siapa itu ! apakah disitu Nayla tinggal ?” kata Radit dengan suara pelan.


Tak ingin berlama-lama, Radit langsung pergi meninggalkan tempat itu, sementara itu Rangga yang saat itu sudah berada didepan rumah Siska, dia langsung saja masuk kedalam rumah itu.


“Assalamu’alaikum !” kata Rangga memberi salam pada penghuni rumah itu.


“Wa’alaikum salam.” Jawab seorang wanita muda, seraya membukakan pintu.


“Siska nya, ada ?”


“Ada, dengan siapa ya ?” tanya wanita itu.


“Dengan dr. Rangga.”


“Ooo, dr. Rangga ! silahkan masuk, kak Siska sedang mandi.”


“Baiklah.” jawab Rangga sembari memasuki rumah Siska.


“Silahkan duduk.” Kata wanita itu mempersilahkan Rangga duduk.


“Kamu adiknya Siska ya ?”


“Iya, Bang.”


“Nama mu siapa ?”


“Rena.”


“Nama yang bagus, udah lama tinggal bersama kak Siska ?”


“Udah, semenjak Papa dan Mama meninggal dunia, Kak Siska yang menjaga kami.”


“Ooo ! emangnya kalian ada berapa orang beradik kakak ?”


“Bertiga.”


“Hmmm !”


“Sebentar, biar ku panggilkan kak Siska nya dulu.”


“kalau dia masih mandi biarkan aja dulu, lagian Abang nggak keburu-buru kok.”


“O baiklah, jawab Rena sembari melanjutkan kerjaannya.”


Seraya menunggu Siska yang lagi mandi, Rangga duduk santai sambil memainkan ponselnya.


Tak berapa lama kemudian, Siska pun keluar dari kamarnya dengan memakai gaun yang berwarna kuning muda, Siska begitu terkejut sekali saat dilihatnya ada Rangga yang telah duduk diruang tamu.


“Rangga ?” kata Siska heran.


“Kamu kaget !”

__ADS_1


“kenapa Rena nggak bilang, kalau ada tamu ?”


“Tadi aku sengaja melarangnya, lagian aku nggak keburu kok.”


“Ada urusan apa kamu datang Rangga.”


“Cuma kangen.”


“Bohong ! Siska nggak percaya kalau kamu lagi kangen.”


“Boleh aku nginap disini ?”


“Nginap ! canda kali ya !”


“Nggak aku serius, Sis.”


“itu nggak mungkin Rangga ! karena disini hanya ada kami bertiga, dan Siska nggak mau kalau ada tetangga yang gosipkan kita nantinya.”


“Tapi saat ini aku lagi galau, Sis !”


“Ada masalah apa ?”


“hanya urusan pribadi antara aku dengan Mama.”


“Kalau begitu, Siska nggak bisa ikut campur dong.”


“Gimana, kalau kita keluar aja.”


“Kemana ?”


“Terserah Siska aja, asalkan malam ini, sedikit heppi.”


Mendengar alasan yang diberikan Siska saat itu, Rangga tak marah sama sekali, karena dia tau, kalau Siska tak mungkin meninggalkan kedua adiknya yang masih kecil dimalam hari berduaan.


Lalu dengan santai, Rangga duduk seraya menonton televisi. Siska yang tak biasa dengan kehadiran lelaki dirumahnya, dia pun merasa begitu risih sekali. Hingga larut malam, Rangga belum juga kembali pulang.


“Rangga ! pulanglah, hari udah larut malam.” Kata Siska seraya menggoyang-goyang tubuh Rangga yang tertidur pulas di sopa.


Rangga yang tak ingin mengganggu Siska dan kedua adiknya, dia pun segera keluar dari rumah itu, dengan langkah gontai seperti orang yang tak punya semangat hidup, Rangga berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


Sementara itu tak jauh dari rumah Siska, Bu Salamah dan para anak buahnya telah menanti Rangga untuk keluar dari rumah Siska.


Setelah begitu jauh dari rumah Siska, Bu Salamah langsung menyuruh anak buahnya untuk menyekap Siska yang dianggapnya sebagai Nayla.


Lalu mereka berempat langsung bergerak atas perintah Bu Salamah. Dengan cara mengendap-endap keempat orang bayaran itu, langsung memasuki rumah Siska, saat pintu diketuk, Siska menyangka kalau yang datang itu adalah Rangga, lalu tampa ragu lagi Siska pun membuka pintu itu dengan lebar.


Tak disangka sama sekali ternyata yang datang adalah orang yang ingin mencelakai dirinya. Keempat orang itu langsung membekap mulut Siska, dan memasukan kepalanya kedalam karung.


Merasa dalam bahaya, Siska mencoba meronta-ronta, agar bisa terlepas dari keempat orang itu. Entah kemana Siska mereka bawa, sungguh Siska sendiri tak tau sama sekali.


Setelah kedua tangan dan kaki Siska diikat, lalu keempat orang itu langsung menyeretnya kedalam mobil.


Perlahan Siska mendengar, suara seorang perempuan memerintahkan, keempat orang bayaran itu.


“Apa kalian nggak salah orang ?” tanya perempuan itu.


“Nggak, Bu.”

__ADS_1


“Bagus, kalau begitu bawa dia ketempat yang telah kita sepakati.”


“Baik, Bu.”


Lalu Siska merasa mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan penuh, dalam perjalanan menuju tempat yang telah mereka rencanakan, salah seorang diantara mereka menyebut nama situa bangka.


“Situa bangka, siapakah dia itu sebenarnya ! dan apa pula motif mereka menculik Siska ?” tanya Siska pada dirinya sendiri.


Setelah mobil melaju dengan kecepatan penuh, lalu tiba-tiba saja mobil itu berhenti. Dan salah seorang keluar dari dalam mobil dan melepaskan ikatan karung Siska dan mereka mengikat Siska disebuah kursi dengan mata tertutup lakban.


Walau matanya tertutup namun Siska masih dapat merasakan suasana yang asing di malam itu, lalu tak berapa lama perempuan yang memerintahkan keempat pria bayaran itu, datang menghampiri Siska.


“Bukankah udah saya katakan padamu, jangan pernah mendekati Rangga lagi, tapi kenapa kau tak mengerti !” bentak perempuan itu seraya menarik rambut Siska kebelakang.


“Kalian siapa ?” tanya Siska pada perempuan itu.


“Kau sadar nggak, dr.Rangga itu sudah ada jodohnya, perempuan baik-baik dan dari keluarga terpandang, bukan dari anak yatim piatu seperti diri mu.”


“Siska nggak mengerti apa maksudmu ?”


" Siska ?" kata perempuan itu heran.


Mendengar wanita itu menyebutkan namanya, lalu Bu Salamah terheran-heran, seraya membuka penutup mata wanita itu, disaat itu, barulah dia sadar kalau yang diculik itu bukanlah Nayla, akan tetapi wanita lain.


Setelah Bu Salamah yakin kalau itu bukan Nayla,lalu diapun pergi meninggalkan Siska dan menghajar keempat orang bayarannya dengan balok kayu yang ada ditangannya.


“Kalian sungguh tak berguna, ternyata wanita itu bukan Nayla, tapi Siska.”


“Maafkan kami Bu, itu semua karena Radit yang telah memerintahkan kami untuk memasuki rumah wanita itu.”


“Radit, Radit ! kau selalu tergesa-gesa kalau menyimpulkan sesuatu.” Gerutu Bu Salamah seraya membuang balok kayu yang ada ditangannya.


“lalu gimana dengan wanita itu, Bu.”


“Lempar saja ke sungai !” perintah Bu Salamah pada keempat pria itu.


“Baik, Bu.” Jawab keempat pria itu serentak.


Setelah mendapat perintah dari Bu Salamah, keempat pria itu langsung masuk kedalam, akan tetapi, mereka semua terkejut karena wanita yang mereka sekap sudah tak ada lagi disana.


“Mana wanita itu, cari sampai dapat !” perintah salah seorang pria yang bertubuh sedang, pada kawanannya yang lain.


Lalu mereka mencari Siska ke seluruh ruangan itu, namun setelah sekian lama mencari, Siska belum juga mereka temukan.


“Celaka, tua bangka itu, pasti memarahi kita lagi.”


“Iya, semestinya kita menjaganya tadi.”


“Tapi, untuk apa kita takut, bukankan wanita itu menyuruh kita untuk membuangnya ke sungai.”


“Kalau begitu, baiklah mari kita minta bayaran yang telah disepakati.”


“baiklah.” Jawab yang lainnya


Setelah mereka semua pergi, dan Siska yakin kalau mereka telah jauh, lalu dia pun keluar dari tungku pembakaran. Pakaiannya menghitam karena arang tungku pembakaran.


Siska keluar dengan pelan sekali, karena dia takut kalau-kalau keempat para penjahat itu, masih berada disekitar rumah tempat dia disekap.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2