Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 77 Merasa tersakiti


__ADS_3

Melihat semua guru menyoraki dirinya, Lesti langsung memperbaiki diri, dan berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa.


“Alah ! segitu aja, kalian langsung mencibir, kayak nggak pernah jatuh cinta aja,” jawab Lesti kesal.


“Lesti, kalau kamu jatuh cinta itu sih, wajar, tapi kalau kamu mencintai orang yang udah punya kekasih itu Namanya kurang ajar,” kata Dion.


“Huuuh ! kalian itu ya, kalau ngomong suka nyakitin tau nggak,” kata Lesti sembari keluar dari ruangannya.


Melihat Lesti keluar, Yoga berencana untuk melarangnya, namun Lesti tidak memperdulikannya sama sekali.


“Yoga sih, selalu ngasih angin pada Lesti, itu sebabnya Lesti selalu berharap dirinya terus,” kata Zubaidah.


“Sebenarnya Pak Yoga itu, nggak ngasih angin pada Lesti, Bu ! tapi sifat Pak Yoga itu kan seperti itu dari dulunya, selalu baik pada semua orang, dan nggak mau menyakiti perasaan orang lain,” jawab Bu Sinta.


“Bu Sinta benar, Pak Yoga memang punya kebiasaan seperti itu, kalau rasanya ucapannya itu menyinggung perasaan orang lain, dia hanya tersenyum saja dari pada bicara,” timpal Dion.


Disaat perselisihan itu sedang mereka perbincangkan diluar, sementara itu Yoga telah masuk kedalam ruangan Kepsek.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Kepsek, sembari melepas kaca matanya, dan memandangi Yoga dengan teliti.


“Boleh saya duduk, Pak.”


“Ooo, silahkan,” jawab Kepsek,


Lalu Yoga pun duduk dihadapan Kepsek yang saat itu sedang memandangi dirinya.


“Ada keperluan apa, Nak Yoga?” tanya Kepsek ingin tau.


“Saya mau mengajukan surat Cuti, Pak.”


“Surat cuti! kamu mau cuti lagi?”


“Benar, Pak.”


“Butuh berapa hari lagi?”


“Satu Minggu.”


“Kamu tau nggak, Nak! saat ini Bapak sedang mempromosikan dirimu ke dinas Pendidikan sebagai guru teladan, tapi kalau kamu sering cuti, nanti reputasimu bisa sekarat lho!”


“Bapak jangan gitu, dong! Saya ada keperluan yang mendesak dikampung, Pak.”


“Keperluan apa?” tanya Kepsek dengan penuh keraguan.


“Adik saya masuk rumah sakit lagi, pak.”


“Ooo! kapan masuknya?”


“kemaren siang, Pak.”


“Sakit apa?”


“Maaf, Pak! sebenarnya saya malu untuk menceritakannya, tapi karena Bapak yang menanyakannya, baiklah akan saya coba untuk menceritakannya, sebenarnya adik saya itu mencoba untuk bunuh diri.”


“Apa! adik mu mau bunuh diri?” saking terkejutnya, Kepsek sampai berdiri mendengarnya.”

__ADS_1


Melihat kepsek terkejut, Yoga juga ikut-ikutan terkejut, jantungnya hampir saja terlepas dari gagangnya, nadinya pun memompa dengan cepat sekali.


“Bapak! Kan saya jadi ikut-ikutan terkejut deh!”


“Oh, maaf, Bapak nggak bermaksud begitu, tapi baiklah, karena kau anak baik makanya, Bapak akan izinkan kau cuti selama seminggu.”


“Terimakasih, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu.”


“Baiklah, hati-hati dijalan." ujar Kepsek seraya menatap Yoga dari belakang.


Setelah mendapat izin cuti, Yoga langsung berjalan menuju sepeda motor miliknya,hatinya begitu senang saat itu, karena Kepsek tak terlalu banyak komentar kalau Yoga minta izin cuti.


Diperjalanan menuju kendaraannya, dari kejauhan, Mutia melihat Yoga keluar dari kantor, tampa menunggu lagi, Mutia langsung berlari menemui kekasih hatinya itu, tapi ditengah perjalanan, Lesti langsung datang menemui Yoga.


“Pak!” kata Lesti seraya bermanja-manja pada Yoga.


“Eh, Bu Lesti! ada apa?”


“Ikut dong, ajak Lesti nemui mertua, pasti dia udah kangen dengan wajah mantunya yang cantik ini,” kata Lesti seraya menggandeng tangan Yoga.


Mutia yang melihat Lesti menggandeng tangan kekasihnya, hatinya bagai teriris sembilu yang sangat tajam, dia langsung meneteskan air mata, perasaannya saat itu sedang melayang entah kemana, secara pelan Mutia langsung undur diri dengan teratur.


“Maaf, Bu Lesti. Sebenarnya Ibu mau ikut kemana?”


“Lesti mau ikut calon suaminya dong.”


“Maaf Bu Lesti, malu ditengok murid-murid, yang lain.”


“Malu ama murid-murid atau nggak mau ditengok Mutia.”


“Maksud Bu Lesti apa ya?”


“Bukan pura-pura dalam perahu Bu Lesti, tapi kura-kura dalam perahu.”


“Iya sayang, Lesti udah tau itu.”


“Bagus itu, kalau begitu saya udah diizinkan pergi kan Sayang.”


“Oh, Pak Yoga, memanggil Lesti dengan kata-kata sayang! hati Lesti jadi berbunga-bunga hari ini.”


Melihat Lesti merasa bahagia sekali, Yoga langsung meninggalkan dirinya, akan tetapi dari kejauhan Yoga melihat Mutia yang sedang memandangi Yoga dengan tatapan pilu.


“Ya Allah, semoga saja Mutia nggak melihat adegan konyol tadi,” kata Yoga pada dirinya sendiri.


Merasa tak enak pergi begitu saja, Yoga langsung menemui Mutia, dan duduk disisi kekasih tercintanya.


Mutia diam saja, dia tau kalau Yoga sengaja melakukan hal itu padanya, karena takut kalau-kalau dirinya akan marah.


“Mutia, Abang pergi dulu,” ucap Yoga seraya menyentuh pergelangan tangan Mutia.


Merasa tangannya disentuh Yoga, Mutia cepat-cepat menariknya dari genggaman Yoga, hal itu membuat Yoga begitu heran sekali.


“Ada apa sayang? kenapa tangannya ditarik?”


Mutia diam saja saat kata-kata itu ditujukan Yoga pada dirinya, hatinya begitu sakit sekali, ingin sekali dia menampar wajah yang begitu naif itu.”


“Kenapa diam, sayang?”

__ADS_1


“Pergilah, kalau memang ingin pergi!” kata Mutia sembari berlari meninggalkan Yoga yang kebingungan.


“Apa maksudnya ini,” ujar Yoga pelan.


Merasa tak tenang, Yoga langsung menyusul Mutia ke kelasnya, akan tetapi, Lesti tiba-tiba saja nongol dihadapan Yoga.


“Huuuh ! Bu Lesti, dia suka sekali membuat suasana jadi kacau,” gerutu Yoga pelan.


“Ada apa Pak Yoga? Mutianya ngambek ya?” kata Lesti sembari memutar ujung rambutnya.


“Kok Bu Lesti tau?”


“Ya tau lah, dua menit yang lalu, Pak Yoga memuji Lesti, satu menit kemudian Pak Yoga langsung memuji Mutia! sebenarnya Pak Yoga itu mencintai siapa sih?” teriak Lesti dihadapan Yoga.


Mendengar teriakan Lesti, semua siswa langsung menoleh kearah mereka berdua. Lesti yang merasa kesal atas perlakuan Yoga, dia langsung saja membentak semua siswa yang menatapnya itu.


“Ada apa? Mau Ibu keluarkan kalian dari sekolah ini!”


Karena bentakan suara Lesti yang memiliki frekwensi dua kali lipat lebih kuat, seluruh siswa itu langsung berlarian menjauh.


“Sebenarnya mau Bu lesti itu apa sih?” tanya Yoga ingin tau.


“Kejujuran.”


“Kejujuran apa?”


“Kejujuran dari Bapak, kalau Bapak menyukai Lesti.”


Yoga yang mendengar Lesti minta kejujuran dari dirinya, Yoga menjadi begitu muak sekali, lalu dengan kesal dia langsung pergi meninggalkan Mutia dan Lesti.


“Pak Yoga, tunggu!” seru Lesti sembari berlari mengejar Yoga.


Sementara itu Mutia yang melihat adegan yang menyakitkan itu, hanya bisa melihat dari balik daun pintu sekolah.


“Kenapa Pak Yoga, nggak mau menemui ku, apa karena ada Bu Lesti yang menghalangi dirinya, atau karena dia muak melihat wajah Bu Lesti? ah ! bikin kesal aja ujar Mutia seraya kembali duduk didalam kelas.


Disaat dia terdiam, tiba-tiba saja Rehan datang menghampiri dirinya, dan mencoba duduk disamping kanannya.


“Ada apa? disakiti Pak Yoga lagi kan?”


“Nggak!” jawab Mutia dengan tegas.


“Bohong! Aku lihat sendiri kok, kalau tadi kalian kucing-kucingan dengan Bu Lesti.”


“Kenapa Ya Re, kamu selalu saja ikut campur urusan ku!”


“kenapa? kalau aku ikut campur urusan mu ! nggak boleh?"


“Aku nggak suka!” jawab Mutia seraya pergi meninggalkan Rehan.


Akan tetapi tak semudah itu pergi dari hadapan Rehan, pria yang sangat mencintai Mutia itu, merasa sudah waktunya untuk mendekati Mutia selagi Pak Yoga pergi cuti selama seminggu.


Dengan cepat Rehan langsung menggenggam pergelangan tangan Mutia, dia menahan Mutia dengan caranya sendiri, setelah digenggamnya, lalu tangan itu ditariknya kearah dirinya,


sehingga Mutia langsung terjatuh ke


pelukan Rehan.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2