
“Kami sama-sama khilaf, aku tak pernah berniat akan berbuat sekeji itu, akan tetapi saat kami bangun kami udah tak mengenakan pakaian lagi.
“Aduh Yog, kalau soal itu aku nggak bisa membantu mu selain kau nikahi dia, kau harus tau kalau Siska adalah perempuan baik-baik.”
“Lalu bagai mana dengan Dinda yang minta dinikahi itu, dan bagai mana pula dengan Mutia, gadis yang sangat kucintai Yud.”
“Yoga, jika kau punya seribu masalah maka selesaikan yang paling rumit terlebih dahulu, maka masalah berikutnya akan menyertai mu dari belakang.”
Mendengar penjelasan dari Yuda, hati Yoga sedikit tenang, beban yang sedang bergelayut di pundaknya mulai berangsur kurang.
Dengan tenang Yoga mencoba mengangkat kepalanya dengan pelan, akan tetapi saat kepala itu diangkat ternyata Nayla telah berdiri dihadapannya.
Yoga begitu terkejut sekali, takut kalau Nayla mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Nayla?”
“Kenapa, kau sedang sakit Bang?”
“Nggak Nay, hanya sedikit ada beban.”
“Ooo!”
“Syukurlah dia nggak mendengarkan pembicaraan ku tadi," ujar Yoga didalam hatinya.
Nayla yang tak mengetahui apapun, dia pun enggan berkomentar, seraya menaruh nampan di atas meja dia kemudian hendak pergi meninggalkan mereka berdua.
" Gimana keadaan mu Nay? kau udah kembali sehat kan?”
“Alhamdulillah Bang, Nay udah kembali sehat."
“Syukurlah.”
“Ini Nay buatkan roti kukus untuk kalian makan pagi ini.”
“Pasti rasanya enak sekali,” ujar Yoga memuji.
“Nay belum mencobanya kok.”
“Baiklah, mari duduk, biar kita makan bersama-sama,” ajak Yuda pada istrinya.
Tampa menolak sedikit pun, Nayla langsung saja duduk disamping suaminya, matanya yang indah tampak bergerak liar menatap Yoga yang sedang asik menikmati roti kukus.
Keindahan bola mata itu, tak luput dari lirikan mata Yoga yang tajam, seperti hendak memberi isyarat tertentu pada lawannya.
“O iya, Yog! silahkan kau cicipi makanannya, aku mau kerumah sakit dulu,” kata Yuda seraya meninggalkan Yoga bersama dengan Nayla.
“Baiklah,” jawab Yoga singkat.
Sembari menunggu Yuda keluar, Yoga terus menikmati Roti kukus yang disajikan Nayla pada mereka di pagi itu. Sementara itu, Nayla terus saja menatapnya dengan senyuman.
Tak berapa lama kemudian Yuda pun keluar seraya membawa tas yang biasa dibawanya saat bertugas. Nayla langsung bangkit dari tempat duduknya ketika Yuda berada disampingnya dan Nayla mencoba membenahi pakaian Yuda dan merapikannya.
“Ya udah aku berangkat dulu
Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab Yoga dan Nayla serentak.
Setelah Yuda pergi, Yoga langsung masuk kedalam untuk menemui Andika yang waktu itu masih tertidur pulas. Seraya menghampiri keponakannya itu, Yoga berbaring disisi Andika sembari mencubit hidung Andika yang mancung.
__ADS_1
“Hei jagoan paman, bangun!”
Udah berkali-kali Yoga mencoba untuk membangunkannya, namun Andika masih enggan untuk membuka kedua belah matanya.
“Berat ya, kelopak mata ini dibuka?” ujar Yoga seraya mencoba membukanya dengan jemari tangannya .
“Aaah! siapa ini? gangguin orang lagi tidur aja!” Bentak Andika dengan suara yang mengandung rasa kesal.
Walau dibentak oleh Andika, namun Yoga masih saja mengganggu kesenangan Andika, dan secara spontan Andika langsung melayangkan pukulannya kewajah Yoga. Untung Yoga berhasil menangkisnya, kalau tidak wajah Yoga akan memar dibuatnya.
“Aduh, aduh sakit!” teriak Yoga mengerang kesakitan.
Mendengar suara seseorang yang lagi kesakitan Andika langsung bangun dan menghampiri pamannya itu.
“Heh, paman?” teriak Andika seraya memeluk tubuh pamannya.
“Oh sayang!” sambil membalas pelukan Andika.
“Paman kapan datangnya?”
“Barusan.”
“Kok datang nggak ngasih kabar sih?”
“Ini baru mau ngasih kabar, udah kena tonjok duluan, sakit tau!”
“Aduh, aku minta maaf deh, habis Paman datangnya nggak tepat waktu sih.”
“Tepat waktu gimana maksud mu?”
“Seperti disaat aku sedang bermain gitu.”
Lalu Yoga mengajak Andika keluar untuk bermain, ketika sepeda motornya dinyalakan, Nayla langsung keluar dan menghampiri keduanya.
“Kalian mau kemana?”
“Keluar sebentar, ada apa?”
“Boleh Nay ikut.”
“Ikut?” ulang Yoga seraya menatap kearah Andika.
“Bolehlah, bolehkan paman?”
“Aduh, gimana ya?”
Semua tampak terdiam sejenak disaat Yoga sedang berfikir sesuatu, dan semua tampak kembali ceria disaat Yoga mengizinkan Nayla ikut bersama dengannya.
Disaat Nayla sedang berkemas-kemas, Yoga langsung menelfon Yuda untuk meminta izin membawa Nayla dan Andika bermain diluar.
Mendengar permintaan Yoga, Yuda pun tersenyum dan memberikan izin pada Yoga untuk membawa mereka bermain bersama.
Hati Yoga merasa begitu tenang, karena Yuda mengizinkan mereka berdua pergi bermain bersama.
Setelah selesai menelfon Yuda, Nayla pun keluar dengan dandanan yang sederhana, namun hal itu membuat Yoga berdecak kagum menatapnya. Dimata Yoga Nayla memang sosok wanita idaman semua pria, selain cantik dia juga memiliki kepribadian yang lembut.
Setelah semuanya selesai berkemas-kemas, merekapun langsung berangkat menuju pantai, karena angin pantai terasa begitu sejuk dan nyaman.
Diperjalanan, Yoga selalu memegang tangan Nayla yang melilit dipinggangnya, sementara itu Nayla tak mau membuang-buang kesempatan untuk merapatkan dadanya ke punggung Yoga.
__ADS_1
Semakin Nayla merapatkan dadanya ke punggung Yoga, semakin terasa gairah yang bergelora di dada Yoga. Jantungnya berdebar bagai seorang petinju yang tak pernah berhenti memukul lawannya, terasa sesak dan semakin menyakitkan.
“Kita mainnya ke pantai mana sayang?” tanya Yoga pada Andika.
“Disini aja paman, aku nggak mau main jauh-jauh.”
“Baiklah, tapi ingat ya! kalau main jangan jauh-jauh, ntar Andika bisa hilang.”
“Ok, paman!” jawab Andika seraya berlari menuju arah pantai yang bersih dan menyenangkan.
Setelah andika berlari jauh, Yoga pun mencari tempat duduk yang aman bersama Nayla, dibawah sebatang pohon yang rindang, di sanalah mereka memadu rasa rindu yang udah lama dipendam.
“Kemana aja sih Bang, kayaknya udah lama nggak pernah ke rumah.”
“Abang banyak pekerjaan Nay, yang harus diselesaikan disana.”
“Gimana pekerjaan Abang, aman kan?”
“Alhamdulillah Nay, semuanya aman-aman aja.”
“Syukurlah. O iya, apa jadi Abang nengok Mama?”
“Baru minggu kemaren Abang dari sana.”
“Lalau gimana keadaan Mama, Bang?”
“Mama sehat kok Nay, biasanya ada Dinda disana yang selalu nemani Mama, tapi untuk saat ini mungkin nggak lagi.”
“Kenapa?”
“Kurang tau juga, tapi sekarang ada Ningsih yang gantikan Dinda, untuk nemani Mama.”
“Sebenarnya Ningsih itu siapa sih Bang?”
“Tampa sengaja Abang menabrak Ibunya hingga meninggal dunia. Padahal sebelum itu Ayahnya baru saja meninggal dunia karena ditabrak mobil.Setahun setelah itu adiknya pun meninggal karena ditabrak bersamaan dengan Ayahnya waktu itu.”
“Sedihnya nasib mereka sekeluarga, mereka meninggal karena kecelakaan.”
“Untung saja waktu itu, Ningsih nggak menuntut banyak, dia hanya ingin dipelihara dan diberi kehidupan yang layak.
“Ooo! itu sebabnya dia ada bersama Abang waktu itu?”
“Iya sayang.”
Mendengar penjelasan dari Yoga hati Nayla menjadi tenang, karena Yoga telah menganggapnya sebagai adik sendiri.
“Apa Bang Yuda udah tau tentang hal ini, Bang?”
“Belum Nay, Abang belum sempat bicara padanya.”
Ketika mereka sedang asik bercerita, Andika pun datang menghampiri keduanya, seraya tersenyum senang Yoga menyambutnya dengan baik.
“Ada apa sayang?”
“Aku capek paman!”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1