
“Hai Yud, gimana kabar mu?”
“Alhamdulillah, aku sehat Rob.”
“Aku turut berduka Yud, semoga saja Allah mengangkat penyakit istrimu.”
“Iya Yud, kami berduapun turut berduka, semoga istrimu segera sembuh.”
“Amiiin! terimakasih, Ben, Doni dan kau Zul. Terimakasih atas simpatiknya. Semoga Allah benar-benar mengangkat penyakit istriku.”
“Amiiin!” jawab mereka serentak.
Kemudian Robi pun menghampiri Nayla, dan memberi sedikit semangat untuknya.
“Gimana kondisi mu Nay?
Nayla tidak menjawab, hanya senyum dan air mata yang terlihat mengalir di kedua sudut matanya.
“Gimana, perutnya masih terasa sakit?”
Nayla hanya menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat, kalau dia memang sedang mengalami sakit di bagian perutnya.
“Yang paling penting, Nay tetap semangat untuk sembuh,” kata Robi memberi semangat.
“Terimakasih Rob, semoga Allah mengabulkan do’a kita semua.”
“Amin!”
Setelah berbincang-bincang begitu lama para dokter itupun keluar, meninggalkan ruangan itu, Yuda juga ikut mengantar mereka keluar, setelah pergi begitu jauh, Yuda pun bergegas menemui istrinya.
Di genggamnya tangan Nayla dengan begitu lembut, tapi Nayla tampak tak merespon sedikit pun. Nayla tampak diam saja, wajahnya terlihat begitu pucat dan tak berdarah, berkali-kali Yuda memandang kearah istrinya, Yuda melihat Nayla sedang tertidur.
Yuda pun menyentuh Nadi tangannya, ternyata nadi Nayla masih berdenyut, hati Yuda pun terasa sedikit tenang saat itu.
Kemudian Yuda memandangi wajah Nayla sekali lagi, saat itu hati Yuda merasa janggal dengan apa yang baru dilihatnya dan untuk memastikan hal itu Yuda kembali memeriksa Nadi Nayla apakah masih berdenyut atau tidak.
Akan tetapi alangkah terkejutnya Yuda, ternyata nadi Nayla sudah tak berdenyut lagi. Yuda tak yakin dengan apa yang baru saja dia alaminya, lalu berkali kali Yuda memanggil nama istrinya.
Yuda pun menjerit histeris dan memanggil nama Nayla berulang-ulang kali, bumi yang dipijaknya saat itu terasa bergoyang, detak jantungnya terasa berhenti.
“Bangun Nay, bangun sayang, ingat anak kita Nay! dia belum sempat kau lahirkan. Oh tidak! Begitu teganya kau Nay, meninggalkan kami semua! lalu gimana dengan anak-anak kita Nay? Andika pasti merasa sedih karena ditinggal Mamanya. Katakan Nay, apa yang harus Abang lakukan untuk mu?” rintih Yuda seraya tersandar di sisi ranjang Nayla.
Kemudian dengan bergegas Yuda menemui dokter Robi, yang selama ini merawat Nayla. Tampa berfikir Panjang Yuda langsung masuk keruangan sahabatnya itu.
“Astagfirullah Yud, ada apa?” tanya dr. Robi heran.
“Pergilah keruangan istriku, kau lihat sendiri kesana Rob!” kata Yuda bingung.
__ADS_1
“Ada apa dengan istrimu Yud?”
“Denyut nadi istriku berhenti Rob.”
“Apa?” kata dr. Robi kaget. Seraya berlari kencang Robi langsung memasuki ruangan Nayla.
Setibanya didalam ruangan Nayla, Robi langsung memeriksa nadi Nayla, memang benar nadi Nayla sudah tak berdenyut lagi.
“Gimana Rob? istriku sudah pergi bukan?”
“Yang sabar ya, Yud!”
“Lalu gimana dengan bayinya Rob?”
“Bayinya masih bisa diselamatkan Yud, kita akan lakukan operasi secepatnya.”
“Iya Rob, lakukanlah yang terbaik untuk anakku Rob.”
“Insya Allah Yud,” jawab Robi dengan tenang.
Setelah mendapat persetujuan dari dr. Yuda, dr. Robi langsung melaksanakan operasi sesar, demi menyelamatkan bayi Nayla, yang diprediksi masih bernafas.
Tidak begitu lama, setelah mendapat kabar dari Yuda, Mama dan yang lainnya pun bergegas masuk kedalam ruangan Nayla. Sementara Yoga yang tak mendapat kabar sama sekali, tidak tau tentang kepergian Nayla.
Setelah memastikan kalau bayi itu bisa diselamatkan, barulah tim dokter itu bekerja keras untuk menyelamatkannya.
Bayi itu mirip sekali wajahnya dengan Nayla, tapi bayi itu sangat lemah, sehingga para dokter sepakat memasukannya kedalam inkubator.
“Oh Tuhan, tolong selamatkan bayi ku!” kata Yuda dalam do’anya.
Disaat itu, Yoga pun muncul, dia sangat terkejut ketika melihat Mama, Yuda dan yang lainnya berada diruang tunggu seraya menangis.
“Ada apa Yud? apa yang terjadi?” tanya Yoga heran.
“Nayla Yog!”
“Ada apa dengan Nayla, Yud?”
“Dia sudah pergi meninggalkan kita semua.”
“Apaaa!”
Mendengar berita dari Yuda, Yoga tampak begitu shock, hatinya terasa sakit saat itu, serasa segunung yang mengganjal di dadanya.
Dengan langkah pelan dicobanya menoleh kedalam, banyak dokter dan perawat yang sedang bekerja menangani bayi Nayla.
“Lalu gimana dengan bayinya Yud?
__ADS_1
“Bayinya selamat, tapi kondisinya sedang lemah,” jelas Yuda.
Setelah beberapa menit didalam inkubator, bayi Yuda masih juga tak melihatkan tanda kehidupannya, dr. Robi merasa gelisah, diangkatnya bayi itu keluar, dengan berbagai macam cara dilakukanya, agar bayi itu bisa menangis dan bergerak.
Setelah beberapa kali dicoba, namun tanda-tanda kehidupan itu tak terlihat sama sekali, dr. Robi merasa putus asa.
“Sepertinya bayimu udah nggak ada Yud.” Kata dr. Robi dengan suara lirih.
“Oh, tidaaak! Ternyata bayiku juga ikut pergi!”
“Aku minta maaf Yud, tapi kita semua sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Allah berkehendak lain untuk bayimu,” kata dr. Robi dengan tenang.
“Benar itu Yud,” timpal Toni, kita do’a kan yang terbaik untuk mereka berdua,” sambungnya kemudian.
“Terasa begitu berat sekali ujian ini, Ton.”
“Bersabarlah Yud, pasti ada hikmah dibalik semuanya.”
“Iya, dok ! Allah akan menguji hambanya, bila hambanya itu sanggup menerima ujian darinya,” kata seorang perawat yang mengurus bayi Yuda.
“Ya semoga saja begitu,” jawab Yuda pelan.
Di saat itu kesedihan tak dapat di ucapkan oleh kata-kata, kepergian Nayla bersama bayinya sangat membuat Yuda terpukul sekali. Namun bagi Yuda semua itu akan dijadikan sebagai ujian.
Bukan hanya Yuda yang merasa kehilangan, yang lainnya juga merasakan hal yang sama.
Tiba-tiba saja, keajaiban pun muncul diantara keikhlasan mulai mencuat, bayi mungil Nayla tiba-tiba saja menangis histeris, membuat suasana ruangan itu menjadi bising oleh lengkingan suara tangisnya.
Mata pun saling beradu pandang, senyum kepuasan mulai terkuak dibibir masing-masing.
“Bayi ku! teriak dr. Yuda kesenangan. Dan berlari memeluk sibuah hatinya yang sangat cantik. Digendongnya bayi itu, puluhan kecupan pun menghujami pipinya yang memerah.
“Alhamdulillah! Papa ada disini nak!” kata Yuda dengan uraian air mata.
“Oh Tuhan, mana cucu Mama, Yud?” tanya Bu Kartini tak sabaran.
Lalu Yuda meletakan bayi itu kepangkuan Mamanya, dan secara bergantian mereka semua menggendong bayi itu, walau demikian bayi kecil itu tetap saja menangis tiada henti.
Melihat bayinya terus saja menangis tiada henti, hati Yuda semakin sakit. Disaat itu, Dinda yang berada diluar mencoba untuk menenangkannya.
“Boleh aku gendong bayimu Yud?” tanya Dinda dengan suara pelan.
“O, silahkan Din!” kata Yuda seraya meletakkan bayi itu dipangkuan Dinda.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1