Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 89 Terbaring kritis


__ADS_3

“Coba Bapak katakan siapa nama orang yang melakukan penculikan itu, Pak.”


“Itu masalahnya Pak Yuda, saya nggak ingat lagi nama orangnya, tapi yang jelas orang yang menyuruh melakukan penculikan itu adalah seorang perempuan."


“Seorang perempuan? Bapak nggak salah dengarkan?”


“Nggak Pak Yuda, saya dengar dia bilang! Aduuuh! dia bilang siapa ya?”


“Ya udah, kalau bapak udah ingat, tolong Bapak kasih tau saya secepatnya."


“Baik, Pak Yuda.”


“Apa kau udah melaporkan kejadian ini ke polisi, Yud,” tanya Yoga ingin tau.


“Belum yog, laporannya nanti saja, kalau Nayla udah siuman.”


“Begitu ya, tapi tadi aku melihat begitu banyak polisi di TKP."


“O iya, Yog! terimakasih sekali lagi, atas semua pertolongan yang kau lakukan pada keluarga ku.”


“Nggak usah berterimakasih Yud, sebagai saudara mu, aku juga wajib menjaga kalian berdua, jadi jika sesuatu terjadi pada kalian, nggak mungkin Kan aku akan berdiam diri saja.”


Mendengar ketulusan hati Yoga, Yuda jadi terhenyuh, kepiluan tampak jelas tergambar dari raut wajahnya.


“Sabar ya Yud, anggap saja semua ini sebagai cobaan yang tersulit dalam hidup mu. Tapi walau demikian kau jangan berputus asa. Selalulah berdo’a, semoga kita akan menemukan siapa dalang dibalik semua kejadian ini.”


“Iya Yog, semoga saja begitu.”


Ketika mereka berdua sedang berbincang-bincang, lalu beberapa orang polisi datang menghampiri ruang rawat Nayla.


“Hallo pak, selamat sore.”


“Selamat sore.”


“Bisa saya bicara dengan keluarganya Bu Nayla?”


“Kami semua, Pak.”


“Baiklah, kami dari kepolisian ingin memastikan apa yang telah terjadi pada Bu Nayla siang ini.


“Seseorang berniat untuk menculiknya, pak.”


“Apa Bapak melihat ada tanda-tanda mencurigai, dari penculikan ini?"


“Nggak, Pak! kami nggak tau kalau hal ini terjadi begitu cepat sekali,” jawab Yuda.


“Tapi apakah Bapak ke TKP, sore ini?” tanya Yoga memastikan.


“Ya, kami sudah memeriksa semuanya, hanya kami belum memeriksa mobil yang membawa korban, yaitu saudari Nayla.”


“Mobilnya ada diparkiran, Pak,” jawab Pak Darman.


“Boleh kami memeriksanya?”

__ADS_1


"Tentu,” kata Yuda memberi izin pada petugas itu.


Lalu petugas itu langsung bergerak menuju mobil milik Nayla. Tiga orang petugas kepolisian itu memeriksa dengan teliti, mobil itu luar dan dalam.


Disaat pemeriksaan itu dilakukan, petugas itu menemukan ponsel milik Nayla yang masih aktif. Ternyata saat Nayla menelfon Yoga, ponsel itu belum sempat dimatikan.


Barang bukti itupun dikantongi polisi, serta serpihan kaca lainnya. Setelah pemeriksaan selesai, petugas itu langsung menghadap Yuda.


“Kami menemukan ponsel milik Bu Nayla yang masih aktif, Pak.”


“Benarkah?”


Petugas itupun menyerahkan ponsel itu pada Yuda, dan Yuda mengakui kalau itu memang ponsel milik istrinya. Akan tetapi Yoga yang melihat ponsel itu, jantungnya langsung berdegup begitu kuat. Yoga takut kalau kata-kata yang dia ucapkan pada Nayla mengandung unsur kemesraan.


“Aduh, kacau. Kalau percakapanku dengan Nayla didengar oleh Yuda, pasti dia akan memarahi ku, dan membenci ku untuk selamanya. Gumam Yoga dengan pelan.


“Kalau mau Bapak membukanya, bukalah! siapa tau ada percakapan mereka yang terekam dan bisa dijadikan barang bukti.”


“Baik, Pak,” jawab Yuda seraya membuka ponsel milik Nayla.


Benar saja, mulai dari Nayla menelfon Yoga untuk meminta tolong sampai percakapan Bu Salamah dan juga saat orang suruhannya menyebut nama salamah. Barulah Pak Darman teringat, kalau perempuan yang dimaksudnya bernama Salamah.


Setelah percakapan di ponsel itu mereka perdengarkan, lalu ponsel itu langsung diserahkan Yuda pada pihak berwajib, untuk dijadikan barang bukti.


" Oh, Syukurlah kalau Yuda tidak mempertanyakan hal itu."


Karena penyelidikan para petugas itu telah selesai, maka mereka pun pergi meninggalkan Yuda dan yang lainnya dirumah sakit.


Sekitar jam delapan malam, datanglah dr. Rangga bersama dr. Siska untuk membesuk Nayla.


“Gimana keadaan Nayla Yud?” tanya dr. Rangga ingin tau.


“Dia kritis, Rangga.”


“Lalu gimana dengan bayi yang sedang dikandungnya, Yud?"


“Dia pergi menghadap penciptanya, Sis,” jawab Yuda dengan deraian air mata.


“Semoga kau tabah ya, Yud."


“Terimakasih, kalian telah membesuk.”


“Jangan begitu Yud, apapun yang terjadi pada keluarga mu, pasti kami juga ikut merasakannya.”


“Terimakasih, atas perhatian kalian."


“Boleh kami masuk, Yud?”


“Silahkan Sis, tapi Nayla nya belum sadarkan diri.”


“Nggak apa,” jawab Siska sembari masuk keruang rawat Nayla bersama Rangga.


“Jangan-jangan, orang yang menculik Siska malam itu sama dengan orang yang menculik Nayla,” kata Siska pada Rangga.

__ADS_1


“Ah, nggak usah mengarang-ngarang cerita dulu Sis, kan didunia ini orang yang ingin berbuat jahat itu nggak seorang.”


Iya juga sih, tapi Siska yakin kalau orang yang melakukan penculikan pada Nayla sama dengan orang yang menculik Siska malam itu.”


Rangga yang melihat Nayla terbaring tak berdaya, hatinya sangat hancur sekali, ingin rasanya dia memeluk tubuh Nayla, dan membisikan kata-kata semangat untuk hidup nya. Namun bagi Rangga, hal itu sudah mustahil untuk di lakukan, karena Nayla sudah menjadi istri dari sahabatnya sendiri.


Selesainya mereka berdua membesuk Nayla, Siska langsung menghampiri Yuda dan duduk diruang tunggu.


“Siska yakin kalau orang yang menculik Nayla sama dengan orang yang melakukan penculikan pada Siska malam itu Yud.”


“Hah! benarkah itu Sis?”


“Iya, Yud.”


“Kok kamu begitu yakin, kalau orang yang menculik istriku sama dengan orang yang menculik mu?"


“Bukankah hari itu, Siska pernah bilang, kalau mereka salah orang, mungkin saja yang mereka cari itu, Nayla bukan Siska.


“Iya, juga, ya?” kata Yuda menerima masukan dari Siska.


“Maaf, boleh aku bertanya sesuatu, pada Ibu?" tanya Yoga pada Siska.


“Ya, silahkan aja."


“Sewaktu Ibu mereka culik dimalam itu, apa Ibu punya barang bukti?"


“Nggak sih, akan tetapi, sewaktu perempuan itu, menyiksa Siska, dia berkata. “Bukankah sudah saya katakan, jangan mendekati anak saya lagi!"


Lalu tiba-tiba saja Siska berhenti bicara, dia tak ingin membahas masalah itu didepan Rangga, sebelum dia tahu, apakah ada hubungannya dengan Rangga atau tidak.


“Ya, Sis! kenapa nggak dilanjutkan?”


“Oh, kapan-kapan saja kalau Siska punya waktu, nanti akan Siska bahas lagi.”


“Baiklah! tapi saat polisi memeriksa barang bukti, dia menemukan henfon Nayla sedang aktif tergeletak di mobil, jadi semua kejadian itu terekam langsung, termasuk ketika mereka menyebut nama orang yang menyuruh menculik Nayla.”


“Siapa nama orangnya, Yud?”


“Salamah, ya! Bu Salamah.”


Mendengar nama Mamanya disebut, jantung Rangga langsung bergetar begitu kuat sekali. Hatinya terasa begitu sakit.


“Atau jangan-jangan yang melakukan penculikan Nayla itu memang Mama dalangnya,” kata Rangga menduga-duga.


“Ada apa Rangga, apa kau mengenal orang yang bernama Salamah?”


“Nggak! aku nggak mengenalnya, Yud.”


“kalau begitu orang yang melakukannya, pasti orang yang punya dendam pada Nayla.”


“Tapi dendam karena apa?” tanya Yoga heran.


“Ya, mungkin saja karena masa lalu, atau mungkin juga karena kekasihnya direbut oleh orang lain, atau yang lain-lain!"

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2