Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 102 Acara syukuran


__ADS_3

Karena Yoga tidak ingin Yuda menaruh curiga, itulah sebabnya Yoga selalu menjaga jarak dengan Nayla, walau dalam hatinya Yoga tau kalau selama ini Nayla selalu memperhatikan setiap gerak geriknya.


Hanya beberapa jam diperjalanan, tibalah mereka semua di Payakumbuh, di tanah tempat kelahiran mereka berdua.


Baru saja turun dari mobil, Kartini udah langsung menyusul mereka semua dengan tergopoh-gopoh.


“Oh anak Mama!” ujar Kartini di saat Yuda mencium tangannya.


“Mama,” lirih Yuda seraya memeluk tubuh perempuan paruh baya itu.


“Mama,” ucap Nayla pelan.


“Putri Mama yang cantik, semoga Allah selalu melindungi mu,” kata Kartini sembari memeluk dan mencium Nayla dengan penuh kasih sayang.


Mengiring pula sesudah itu Andika dan Yoga, pertemuan yang mengharukan itu berujung dengan deraian air mata.


“Cucu Nenek tersayang, kenapa Andika begitu lama sekali mengunjungi Nenek sayang?”


“Apakah Nenek nggak tau, kalau Papa dan Mama selalu pergi kerumah sakit?”


“Nggak, Nenek nggak tau! habis Andika nggak ngabarin Nenek sih.”


“Oops! aku jadi lupa Nenek, nanti aja kalau Papa dan Mama pergi kerumah sakit lagi, baru aku kabari.”


“Oh cucu Nenek tersayang, kamu udah pintar ngomong ya.”


Nayla yang memperhatikan Andika bercerita pada Nenek nya, hanya bisa tersenyum karena kepolosan hati putra nya itu.


Kehadiran mereka semua disambut hangat oleh Kartini dan Juga Ningsih, Yuda yang belum melihat wajah Ningsih langsung bertanya pada Mamanya.


“Mana Ningsih Ma?” tanya yuda seraya melirik kan matanya kearah rumah.


“Ada didalam, mungkin dia sedang mempersiapkan makanan untuk kalian semua,” jawab Kartini seraya mengiringi anak-anaknya masuk kedalam rumah.


Setelah didalam Yuda langsung ditemui oleh Ningsih dan dia mencium tangan Yuda dengan sedikit membungkukkan sebagian tubuhnya.


Yuda tampak begitu heran, ketika Ningsih menciumi tangannya, namun Yoga memperkenalkan Ningsih, sebelum sempat dia bicara.


“Dia Ningsih, Yud?”


“Ooo, dia rupanya yang telah menjadi adik ku itu?”


Ningsih tidak menjawab, dia sedikit malu ketika semua mata tertuju padanya. Dengan pelan Ningsih langsung undur diri dari pertemuan itu.


Yoga yang memperhatikan adik angkatnya itu, batinnya sempat berdecak kagum pada kecantikan Ningsih, padahal sewaktu Yoga membawanya, Ningsih kelihatan sedikit kumal dan dekil.


“Ada apa Yog? kenapa kau memandangi Ningsih seperti itu?”

__ADS_1


“Aku kagum padanya, hanya hitungan bulan saja dia udah tampak jauh berubah.”


“Maksud Mu?”


“Ketika pertama sekali aku membawanya kerumah ini, Ningsih kelihatan begitu dekil, walaupun dia berwajah cantik tapi dia nggak secantik saat sekarang ini Yud.


“Berarti, Mama kita benar-benar telah merawatnya dengan baik Yog.”


“Ya, Mama begitu sayang sekali pada Ningsih.”


“Kan, kita sendiri udah lama tau, kalau Mama rindu sekali dengan seorang anak perempuan, itu sebabnya dia menginginkan Dinda selalu dirumah ini bersama kita.


“Iya Yud, aku masih ingat saat pertama kali aku dimarahi Mama, itu semua karena aku mencubit Dinda sampai berbekas.”


“Ya, aku juga pernah dimarahi Mama, karena aku nggak mau nyuapin Dinda makan, padahal Dinda nya udah nangis karena kelaparan.


“Hahahaha!” keduanya sama-sama tertawa geli ketika mereka mengingat masa lalu yang lucu itu.


“Akhirnya do’a Mama terwujud juga, Dia sekarang udah mendapatkan yang dia impikan selama ini.”


“Iya Yog, Mama pasti senang dan dia nggak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk merawat Ningsih dengan baik.


Disaat Yuda dan Yoga sedang membahas masalah Ningsih, tiba-tiba saja Ningsih muncul seraya membawa dua gelas teh hangat dan sepiring kue nastar buatannya sendiri.


“Apa ini dek?” tanya Yoga saat dia memegang kue nastar buatan Ningsih.


" Ini kue nastar kak."


Dengan malu-malu, Ningsih pun duduk di antara Yuda dan Yoga, tampa rasa sungkan sama sekali Yoga dan Yuda menatap wajah Ningsih secara bersamaan.


Ningsih diam saja, hatinya bergetar hebat saat itu karena secara bersamaan dua orang pria gagah telah terkesima dengan kecantikan wajahnya.


Seketika suasana menjadi sunyi, persis seperti sedang berada ditengah kuburan, namun Ningsih tau, suasana tidak akan cair kalau dia juga ikut-ikutan memanfaatkan situasi saat itu.


“Ayo dimakan kak, kue nya!” ujar Ningsih seraya mengambil dua buah nastar dan menaruhnya ditangan Yuda dan Yoga.


“Eh iya, kakak malah jadi bengong.”


Ningsih pun tersipu malu, ketika keduanya mulai sadar dengan khayalannya masing-masing.


“Emangnya kamu nggak kuliah, Dek?” tanya Yuda ingin tau.


“Sewaktu Ayah dan Ibu masih hidup, aku sempat mengenyam Pendidikan sampai bangku kuliah, tapi hanya sementara saja, setelah keduanya meninggal aku nggak mau mengingat nya lagi.


“Kenapa?”


"Jangankan untuk kuliah, untuk makan sehari-hari aja, aku harus bekerja dulu, jadi buruh cucu dirumah tetangga.”

__ADS_1


“Semasa kuliah, kamu mengambil jurusan apa?”


“Akutansi, Kak.”


“Berarti kamu punya cita-cita ingin jadi.”


“Pegawai Bank kak,” potong Ningsih duluan.


“Ehh udah nyosor duluan!” jawab Yuda ketika pembicaraannya langsung dilanjutkan Ningsih.


Ningsih pun tersenyum malu, saat Yuda mengajaknya bercanda, namun mereka berdua terus saja memandangi wajah Ningsih, seperti tidak pernah bosan.


Jangankan Kartini yang merasa senang dengan kehadiran Ningsih dirumah itu, Yuda dan Yoga pun juga merasa bahagia sekali. Tak dapat diucapkan dengan kata-kata, begitulah perasaan mereka berdua saat itu.


“Kalau kakak boleh nanya, saat ini kalau kakak tawarin Ningsih kuliah, apa Ningsih masih mau?” ucap Yoga seraya menggenggam kedua tangan Ningsih.


Jantung Ningsih semakin berdebar kuat, disaat Yoga bertanya tentang keinginannya. Seraya menutup mulut Ningsih pun menganggukkan kepala, pertanda dia begitu ingin menjadi seorang mahasiswi.


“Baiklah, Besok kakak hantarkan Ningsih mendaftar kuliah.”


Tampa disadari oleh Ningsih sama sekali, kalau harapannya untuk duduk di bangku kuliah akan terwujud kembali, setelah sekian lama lenyap dari pikirannya.


Karena merasa begitu senang, Ningsih langsung memeluk tubuh Yoga dan mencium kedua pipinya, hal sama juga dia lakukan pada Yuda.


“Terimakasih Kak, terimakasih, Ningsih udah lama menginginkan hal ini.”


“Ya kakak tau itu,” jawab Yoga sembari tersenyum.”


“Kalau begitu, aku mau kabari Mama dulu ya kak?”


“Iya silahkan!”


Langsung saja Ningsih berlari ke dapur, untuk menyampaikan kabar gembira itu pada Mamanya.


“Benarkah Itu sayang?”


“Iya Ma! kak Yoga sendiri yang bilang tadi.”


“Oh syukurlah, semoga dia dapat mewujudkan keinginan mu, nak.”


“Iya Ma,” jawab Ningsih yang saat itu merasa senang.


Keesokan harinya sesuai dengan rencana yang telah disusun rapi oleh Kartini, mereka langsung melaksanakan syukuran untuk Ningsih. Selain dari keluarga besarnya, Kartini juga mengundang kerabat jauh dan kepala desa.


Disaat itu, hadir Saidah dan Dinda, sepertinya mereka sedang menampakkan itikad tidak baiknya pada keluarga Kartini.


Dinda yang duduk disudut ruangan hanya memandangi Yoga dengan amarah yang dipendamnya.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2