Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 64 Perasaan Rehan


__ADS_3

“Kalau Nay harus menjalani operasi sekali lagi, berarti penyakit yang Nay derita sama dengan penyakit yang diderita Asih waktu itu.”


“Penyakitnya memang sama sayang, hanya saja Asih telah mencapai stadium lanjut, sedangkan Nay, masih stadium dua, masih ada harapan untuk sembuh sayang?”


“Apa menurut Abang Nay akan sembuh?”


“Tentu sayang, berdo’a lah pada Allah, karena hanya kepadanya lah kita semua bermohon dan bermunajat.”


“Tapi Nay takut, Bang.”


“Takut apa sayang?”


“Nay takut apa yang terjadi pada Asih, akan menimpa diri Nay nantinya.”


“Allah itu maha berkehendak Nay, Dia bisa berbuat apa saja yang di inginkan, hal yang mustahil terjadi menurut pendapat kita, tapi bisa terjadi menurut kehendaknya.”


“Benarkah itu, Bang?” tanya Nayla yang tak mengerti apa-apa.


“Iya, sayang, selalulah berdo’a, dan yakinlah bahwa do’a mu akan dikabulkannya, suatu saat nanti.”


“Baiklah, Nay akan selalu berusaha untuk itu,” jawab Nayla penuh dengan keyakinannya.


“Jangan cepat putus asa, karena orang yang mudah putus asa itu, tidak disukai Allah,” lanjut Yoga memberikan semangat untuk Nayla.


Mendengar tanggapan dari Yoga, Nayla pun tersenyum dengan manis, pertanda dia juga menyetujui pendapat yang diberikan Yoga pada dirinya.


Setelah Yuda selesai memeriksa kondisi istrinya, dia pun memberikan obat anti nyeri pada istrinya itu. Agar rasa sakit di tubuhnya dapat segera berkurang.


Setelah Nayla selesai meminum obat anti denyut, dia pun kembali berbaring, suasana tampak diam mencekam, tak seorangpun yang angkat bicara saat itu.


Sesekali Yuda berdiri dari tempat duduknya untuk memeriksa keadaan Nayla, yang terus saja meringis kesakitan.


“Gimana sayang, apa nyerinya udah berkurang?”


“Kayaknya belum tuh, Bang.”


“Kalau begitu kita sabar dulu sebentar, mungkin setengah jam lagi, denyutnya akan berhenti.”


“Baik, Bang,“ jawab Nayla pelan.


Disaat semuanya tampak sedikit tenang, Yoga pun menawarkan sesuatu pada mereka berdua.


“Agar suasana malam ini, tidak terlalu sunyi, gimana kalau aku beli makanan ringan dulu sebentar.”


“Ooo, ide yang bagus itu, Yog,” jawab Yuda sembari tersenyum.


“Kalau begitu baiklah, biar kucari dulu keluar.”


“Ya,” jawab Yuda singkat.


Kemudian Yoga keluar untuk mencari makanan ringan,di kedai yang ada disekitar rumah sakit, Yoga membeli berbagai macam makanan ringan untuk mereka makan dimalam itu.


Sambil bersenandung kecil, Yoga pun kembali keruang rawat Nayla. Dan mereka memakan makanan itu bersama-sama, sambil bersenda gurau, tampak Nayla menikmati sekali suasana malam itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, Yoga mohon pamit pada Yuda untuk kembali kesekolah, karena disekolah tempat Yoga bertugas akan mengadakan acara perpisahan murid kelas tiga.


Yoga pun kembali kesekolah untuk melanjutkan tugasnya sebagai seorang guru. Walau kesedihan turut melanda hatinya, tapi Yoga masih punya Mutia, gadis cantik yang selalu menghibur dirinya.


Tetapi bagi Yoga pribadi, walau Mutia terbilang sangat cantik, namun hatinya hanya selalu tertuju pada Nayla. Rasanya dia begitu sulit untuk menjauh dari istri saudaranya itu.


Sementara itu, Mutia selalu saja berharap, agar Yoga datang dihari perpisahan yang akan mereka rayakan bersama.


“Gimana Tia? Apa udah ada tanda-tanda, kalau Pak Yoga akan datang?” tanya Sista padanya.


“Entahlah Sis, aku jadi nggak mut, hari ini.”


“Itu karena, Pak Yoga nya belum datang Tia, tapi kalau nanti udah datang, pasti kamu akan menjadi mut lagi.”


“Menurut mu, apa Pak Yoga akan datang Sis?”


“Kalau menurut insting ku, ya! dia pasti datang.”


“Ah, kamu kayaknya udah jadi tukang ramal aja!” ujar Mutia tersenyum manis.


“Buktinya! yang ku ramal siapa dan yang tersenyum pun siapa?”


“Ah, mulai deh!”


“Nggak, bercanda kali. Heh Tia, segala sesuatu itu kalau kita bawa serius terus, hasilnya pasti nggak ngenain. Jadi kalau menurut ku sekali-kali ya ! kita bawa bercanda kali!”


“Aaah, Sista!”


Disaat mereka berdua sedang asik ngobrol, tiba-tiba Rehan datang menghampiri mereka, dan dia pun duduk disamping Mutia.


“Boleh, apa hak ku melarang siswa lain duduk disini.”


“Baguslah kalau begitu, berarti nggak ada yang sedang marah saat ini.”


Lalu mereka bertiga pun bercanda dan bercerita bersama, Rehan adalah anak tunggal dari seorang pengusaha garmen terkenal. Walau terbilang kaya namun dia terlihat biasa saja, selain memiliki wajah tampan, Rehan agak sedikit arogan.


Disaat mereka sedang asik ngobrol, lalu Sista dipanggil oleh Mira, dan diapun meninggalkan Mutia berduaan dengan Rehan.


Setelah Sinta berlalu, Mutia dan Rehan tampak saling membisu, keduanya terlihat begitu kaku. Sepertinya tak ada persoalan yang akan mereka berdua bahas saat itu.


Dalam situasi seperti itu, Mutia hanya bisa menggenggam jemari tangannya dengan begitu kuat. Sementara rehan tampak celingak-celinguk melihat disekelilingnya.


“Kenapa diam?” ucap keduanya serentak.


“Oops,” Mutia pun menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Silahkan ngomong duluan!” kata Rehan seraya memberi peluang untuk Mutia bicara.


“Nggak, kamu aja yang duluan bicara,” jawab Mutia.


Lalu mereka pun kembali sama-sama diam terpaku. Di saat itu Rehan melihat Mutia meremas jemari tangannya terus menerus. Dan Rehan mulai memperhatikannya tampa berkedip sedikit pun.


Setelah diperhatikan begitu lama, Mutia terus saja melakukan nya. Hati rehan langsung bertanya, ada apa dengan Mutia, apa karena dia gugup atau karena takut.

__ADS_1


Lalu dengan pelan Rehan menggenggam jemari tangan Mutia dengan lembutnya. Merasa Rehan menyentuhnya, Mutia menjadi sedikit gugup, hal itu bukannya membuat dirinya bertambah tenang. Akan tetapi jantungnya malah berdegup semakin kuat.


“Kenapa? kamu mengalami fobia ya, dengan pria?” tanya Rehan yang terus menggenggam tangan Mutia.


“Nggak,” jawab Nayla seraya mengernyitkan kedua alisnya.


“Lalu kenapa gugup! Bukankah kita udah saling kenal selama ini?”


“O..ooo..! anu…Ooo…! ah, susah kali untuk ngomong.”


“Nggak usah ngomong, biar aku aja yang ngomong.”


“Masaalah apa?” tanya Mutia ingin tau.


“Masalah kita.”


“Masalah kita? emangnya ada apa dengan kita?” tanya Mutia semakin heran lagi.


“Aku menyukai mu, Mutia.”


“Kau menyukai ku?”


“Iya, sudah lama perasaan ini ku pendam, tapi aku belum punya kesempatan untuk mengungkapkannya pada mu.”


“Ya ampun! Apa kamu nggak tau Re, kalau aku udah lama menjalin hubungan dengan Pak Yoga, dan bahkan udah satu sekolah ini yang mengetahuinya.”


“Aku tau itu, Tia! Aku bukan pria idiot, yang nggak mengerti masalah percintaan mu dengan Pak Yoga.”


“Lalu kenapa kamu mengungkapkannya pada ku?”


“Aku hanya ingin, kau berbagi cinta dengan ku, Tia!”


“Ya Allah, kenapa kamu bicara seperti itu, Re?”


“Itu semua karena perasaan ini, Tia. Aku serasa nggak sanggup lagi menutupinya dari mu.”


“Tapi, Re!”


Disaat Mutia hendak bicara, tangan Rehan telah menutup bibir mungilnya dengan telunjuk kanannya. Di saat itu, Mutia mencium aroma yang sangat harum dari tubuh Rehan.


“Oh, perasaan ku!” kata Mutia di dalam hatinya.


“Ada apa sayang, jantung mu berdegup kencang bukan?” tanya Rehan seraya menyentuh dada Mutia.


Sungguh berani Rehan saat itu, sehingga Mutia tak berkutik di buatnya, sentuhan-sentuhan yang dilakukan Rehan begitu membuat Mutia tak berdaya.


“Ada apa? kau takut, menduakan Pak Yoga, sayang?”


“Ak, aa, aku tak bisa,” jawab Mutia.


“kenapa? apa kau takut?”


“Iy, iya.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2