
“Hei! kau ini kalau muncul selalu saja tiba-tiba, persis seperti jelangkung tau nggak!”
“Apa iya aku seperti itu dimata mu?”
“Kalau nggak salah,” Jawab Yoga seraya tersenyum.
“Berarti benar dong!”
“Hahahaha!” mereka berdua kemudian tertawa .
Akhir-akhir ini, begitu banyak masalah yang sedang kau hadapi, apa benar begitu Yog?”
“Nggak juga, aku biasa-biasa aja kok.”
“Tapi aku melihatmu begitu sedih sekali, seakan-akan kau sedang tenggelam dari keterpurukan mu.”
“Sebesar apapun masalah yang sedang aku hadapi, aku masih sanggup menyelesaikannya dengan baik kok!”
“Semua orang pasti berkata seperti itu namun masalah yang dihadapinya semakin lama semakin menumpuk.”
“Terimakasih atas perhatianmu pada ku.”
“Benar, kau nggak mau membahas sedikit masalahmu pada ku.”
Yoga tak menjawabnya namun dia memberi isyarat yang membuat Andi mengerti dengan keputusan yang dimaksud Yoga pada dirinya.
“Ooo, baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu.”
“Ya, silahkan,” jawab Yoga dengan suara pelan.
Karena tak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, Yoga pun pulang kerumah dinasnya dan merenung lebih lama lagi disana.
Tak terasa waktu terus berjalan, mengiringi kegalauan hati Yoga, yang selalu diambang keraguan, kebimbangan dan rasa takut itu membuatnya tak berdaya.
Malam itu disaat semua orang telah tertidur pulas, Yoga mengambil gitarnya, dia mencoba memetik satu persatu tali senar itu. Setiap melodi yang dipetik dari tali senar itu mengalunkan irama yang sangat menyayat hati.
Dion yang rumahnya tepat berada didepan rumah Yoga, terbangun dari tidurnya, dia pun berjalan menghampiri Yoga yang sedang dalam kesendiriannya.
“Ada apa?” tanya Dion ingin tau.
“Hei!” jawab Yoga singkat.
“Kok kamu belum tidur Yog?”
“Aku gerah.”
“Masa cuaca sedingin begini kamu bilang gerah, yang benar aja!”
“Mata ku sulit untuk di pejamkan Yon.”
“Berarti kamu lagi banyak masalah tuh!”
“Barang kali.”
“Lalu kenapa di diamkan sendiri, kan ada aku tempat berbagi kesulitan.”
“Kamu benar Yon, tapi masalah ku nggak akan ada yang mampu menyelesaikannya selain diriku sendiri.”
“Waaah! kalau begitu kamu itu orang hebat dong Yog!”
“Kenapa begitu?”
“Buktinya kau nggak butuh orang lain dalam memecahkan masalah mu yang rumit.”
__ADS_1
Yoga diam saja sewaktu Dion, ingin membantunya dalam memecahkan masalah yang sedang membelenggu dirinya.
Bagi Yoga masalah yang sedang dihadapinya begitu membingungkan, karena begitu banyak yang akan menuntut dirinya untuk bertanggung jawab.
“Gimana Yog, mau nggak ku bantuin!”
“Nggak usah Yon, terimakasih atas perhatianmu,” jawab Yoga sembari masuk kedalam dan meninggalkan Dion yang saat itu hendak kembali kerumahnya.
Karena begitu banyak permasalahannya, Yoga pun sulit memejamkan mata, hingga pagi menjelang Yoga masih terjaga.
Pagi sekali ketika selesai mengerjakan sholat subuh, Yoga langsung menemui kepala sekolah, yang saat sedang melaksanakan olah raga pagi.
“Assalamualaikum, Pak.”
“Wa’alaikum salam, siapa?” tanya Kepsek seraya melepas kaca matanya.
“Saya Pak.”
“Nak Yoga?”
“Benar Pak.”
“Ada apa?”
“Saya mengajukan surat izin cuti pak .”
“cuti, berapa hari?”
“Saya mau habiskan sisa cuti saya yang masih ada, Pak.”
“Baiklah, mana suratnya?”
“Ini Pak,” jawab Yoga seraya menyerahkan surat cuti itu ketangan kepala sekolah.
Ketika kepsek mengambil surat itu dari tangan Yoga, dia melihat ada beban yang sedang dihadapi oleh Yoga, yang membuatnya ingin sekali mengetahuinya.
Tampa banyak komentar, Yoga langsung duduk dihadapan Kepsek, disaat mereka berdua sedang bicara lalu Marni keluar seraya membawa dua gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.
“Silahkan dinikmati dulu, nak Yoga.”
“Baik Pak,” jawab Yoga sembari mencicipi goreng pisang buatan Marni.
“Ada apa? kelihatanya kau sedang punya masalah, coba kau ceritakan pada Bapak, siapa tau Bapak punya jalan keluar untuk masalahmu itu.”
“Saya nggak punya masalah kok Pak,” jawab Yoga mencoba untuk berbohong.
“Nggak perlu malu untuk bicara, karena kamu itu udah Bapak anggap sebagai anak sendiri.”
“Benar pak, saya nggak punya masalah yang perlu saya bahas dengan siapa pun.”
“Baiklah kalau kamu nggak mau membahasnya dengan Bapak, nggak apa-apa tapi kamu harus tau, Bapak mengerti tentang ilmu kejiwaan dan Bapak membaca itu dari pikiranmu.”
Penjelasan Kepsek sangat masuk akal, dan Yoga pun mengakuinya, namun jika dia membahas hal itu pada Kepsek, tentu dapat merusak reputasinya sebagai seorang guru teladan disekolah itu.
“Gimana Pak, apa saya boleh pergi?”
“Tentu ! tapi jika suatu saat nanti kau butuh bantuan dari Bapak, kau nggak usah merasa sungkan untuk bicara.”
“Baik pak, terimakasih?”
Atas izin kepala sekolah, Yoga langsung berangkat menuju rumah Yuda yang saat itu Nayla udah kembali pulang kerumahnya.
“Heh Yog, kapan kamu datang?” tanya Yuda pada saudara kembarnya itu.
__ADS_1
“Barusan Yud.”
“Apa kau nggak mengajar?”
“Aku izin cuti.”
“Ooo, berapa hari?”
“Sebanyak yang aku suka.”
“Lho, lho! kok bisa begitu? tapi kalau ku lihat sepertinya kau sedang banyak masalah?”
“Sebenarnya, masalah ku sangat rumit Yud, rumit sekali.”
“Serumit apapun masalah seseorang, pasti ada jalan keluarnya, bukankah begitu?”
“Iya juga sih, tapi hal ini sangat rumit sekali.”
“Kalau begitu coba kau ceritakan pada ku,” ujar Yuda sembari fokus pada pertanyaan yang sedang diajukannya pada Yoga.
Sebelum Yoga menceritakan masalahnya pada Yuda, diapun melirik kekanan dan kekiri, takut kalau ada yang mendengarnya nanti.
“Kau sedang melihat siapa Yog?” tanya Yuda heran.
“Nayla mana?”
“Ada, dia lagi masak di dapur, emangnya kenapa?”
“Aku malu kalau ada orang lain yang menguping pembicaraan kita ini.”
“Ooo! tapi semuanya aman kok, masalah apapun kalau masuk kedalam rumah ini, maka nggak akan didengar oleh tetangga.”
“Baiklah, sebenarnya aku bingung Yud.”
“Bingung kenapa?”
Dinda, dia memaksa agar aku mau menikahinya, bukan hanya dia yang memaksa akan tetapi Bu Saidah juga seperti itu.”
“Bagus itu, berarti kalau kau menikahi Dinda, Mama akan aman tinggal bersama kalian.”
“Kenapa seperti itu?”
“Kau tau sendiri kan, kalau Mama sangat cocok dengan Dinda, karena Dinda itu anak yang penurut dan sayang pada Mama kita.
“Lalu bagai mana dengan Mutia, Yud?”
“Mutia kan masih remaja, kau belum tentu bisa menikahinya dengan cepat, siapa tau setelah tamat SMA dia pingin kuliah dulu, sementara kau udah semakin berumur.”
“Kau benar juga Yud, tapi aku sedang dibelit masalah yang lain Yud.”
“Masalah apa lagi?”
“Siska!”
“Siska, ada apa dengan Siska?”
“Aku telah menodainya, Yud.”
“Ya ampun, benarkah itu Yog?”
Yoga tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya saja, karena rasa malu atas apa yang diperbuatnya.
“Kenapa kau lakukan itu Yog?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*