Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 55 Perawatan setelah operasi


__ADS_3

Mereka benar-benar keterlaluan!” gerutu Rangga seraya keluar dari ruangan Nayla.


“Gimana keadaan Nayla Rangga?” tanya Yuda ingin tau perkembangan istrinya.


Mendengar pertanyaan dari Yuda langkah Rangga langsung terhenti, amarahnya pun mulai sedikit mereda. Dan Rangga pun mencoba untuk bersikap wajar pada Yuda saat itu, air mukanya yang penuh amarah dirubah menjadi sedingin air yang sedang mengalir.


“Istrimu baik-baik saja kok, Yud! saat ini perkembangan operasinya mulai menampakkan penyembuhan.”


“Ooo, syukurlah. Tapi semenjak perempuan yang disampingnya meninggal, dia tampak sedikit ketakutan.”


“Asih maksud mu?”


“Mungkin juga, tapi semenjak mereka saling berdekatan, istriku terlihat begitu ketakutan.”


“Ya, Asih itu sebenarnya istri dr. Fauzi, dokter ahli dalam bidang penyakit kangker.”


“O, begitu ya?”


“Sebenarnya Asih sudah lama menderita penyakit kangker tulang. Tapi dia nggak pernah memberitahukan hal itu pada suaminya, yang pada akhirnya penyakit itu nggak kuasa untuk ditahannya. Dan setelah kami periksa ternyata sudah mencapai stadium lanjut.”


“Lalu?”


“Kami semua dengan para dokter lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nggak berhasil.”


“Ya Allah. Kasihan sekali dia!”


“Kami telah melakukan operasi sampai tiga kali. Kami juga telah melakukan penyinaran, namun Allah berkehendak lain padanya.”


“Semoga dia meninggal dalam keadaan husnul khotimah.”


“Ya, insya Allah!”


“Amin.”


“Kau jaga terus mental Nayla, agar fisiknya tetap stabil Yud.”


“Baik Rangga, terima kasih semuanya,” ujar Yuda sembari menyalami Rangga.


“Hei, santai Bro! kita sama-sama petugas medis, apapun pasti akan kulakukan demi kesembuhan pasien.”


“Iya, aku mengerti itu, Rangga.”


“Ya udah, aku keruangan dulu!”


“Ya silahkan.”


“O iya, Yud! gimana kalau kita ngopi bareng di kantin.”


“Nggak ada yang menemani Nayla didalam Rangga, lain kali sajalah!”


“Kenapa ditemani, kan tempat ini cukup aman, Yud! lagian banyak perawat dan satpam disini.”


“Aku tau itu, Rangga. Akan tetapi, semenjak perempuan yang disampingnya itu meninggal, Nayla selalu minta dibawa pulang.”


“Ooo gitu.”

__ADS_1


“Iya, Rangga.”


“Baiklah, kau jagalah dia baik-baik, jangan sampai mentalnya terganggu.”


“Iya, baiklah," jawab Yuda singkat.


Setelah Rangga pergi Yuda langsung masuk kedalam kamar Nayla. Akan tetapi, Yuda menjadi heran saat melihat Nayla menangis. Langkah kakinya sedikit pelan, untuk menjawab semua rasa heran yang menyelubungi hatinya itu.


Namun disaat itu, Nayla mendengar suara langkah kaki Yuda yang berjalan seperti mengendap-endap. Mendengar suara langkah kaki suaminya, Nayla mencoba untuk bersikap biasa saja.


“Kenapa menangis Nay?” tanya Yuda heran.”


“Nay mau pulang, Bang! tapi kata dokter, Nay masih butuh dirawat disini.”


“Dr. Rangga benar, Nay! tubuhmu masih lemah, Nay butuh pemulihan dulu disini.”


Mendengar ucapan suaminya, Nayla diam saja. Tapi Nayla masih bersyukur, karena Yuda tak mengetahui sama sekali apa yang menyebabkan dirinya menangis.


Tak terasa sudah lima hari Nayla dirawat dirumah sakit. Yuda begitu setia mendampingi istri tercintanya, begitu juga dengan Yoga, mereka secara bergantian menjaga Nayla dirumah sakit.


Malam itu giliran Yoga yang menjaga Nayla, biasanya Yuda juga hadir disana. Namun karena Andika sakit, Yuda terpaksa harus pulang kerumah.


“Gimana kabarnya Nayla, kata Dokter, Yud?” tanya Yoga yang ingin tau perkembangan penyakit yang sedang diderita Nayla kekasih gelapnya.


“Alhamdulillah Yog, kata Rangga Nayla sudah menunjukan perkembangan yang baik,tapi dia masih lemah.”


“Malam ini, kau terpaksa harus menjaga Nayla sendirian Yog, dirumah aku harus mengurus Andika yang sedang sakit.”


“Pulanglah Yud, hari ini biar aku yang jaga Nayla. Kau pasti lelah dan butuh istirahat, lihat wajahmu terlihat sangat pucat sekali.”


“Aku minta izin cuti seminggu, Yud.”


“O begitu, baiklah aku akan pulang, dua hari lagi aku akan kembali kesini,” kata Yuda dengan suara serak.


“Ya baiklah, biar aku yang menjaga Nayla disini.”


“Terimakasih, Yog.”


“Sama-sama,” jawab Yoga seraya duduk diruang tunggu.


Tapi sebelum Yuda pulang,dia minta izin dulu pada Nayla. karena Yuda takut kalau Nayla mencari dirinya nanti.


”Nay, Abang pulang dulu. Tapi ada Bang Yoga yang akan menemani Nay disini, gimana apa Nay izinkan Abang pulang?”


“Ya Bang, pulanglah, Nay baik-baik aja kok, nanti kalau Nay butuh sesuatu biar Nay panggil perawat aja.”


“Ya Nay, cepat sembuh sayang,” kata Yuda sembari mengecup kening istrinya.


Nayla hanya tersenyum saat suaminya mencium keningnya.


Saat Yuda pergi Yoga langsung menoleh kedalam. Disana tampak Nayla terbaring lemah tak berdaya, wajahnya masih terlihat pucat, mungkin akibat pasca operasi. Tak begitu lama kemudian Yoga pun masuk kedalam dan menghampiri Nayla.


“Gimana kabarmu Nay?”


“Saat ini udah agak mendingan Bang, denyut bekas jahitannya pun udah agak berkurang.”

__ADS_1


“Syukurlah! semoga Nay cepat sembuh.”


“Iya Bang, terimakasih.”


“Tapi wajah Nay kelihatan begitu pucat sekali, apa ada yang terasa masih sakit?”


“Sepertinya, rasa sakit yang Nay alami sebelum operasi, masih terasa menusuk-nusuk didalam perut, apa benar kangkernya udah diangkat, Bang?”


“Kata dokter begitu, tapi kita nggak tau, apa ada yang lain atau udah bersih semuanya. Yang jelasnya Nay makan obatnya dengan rutin, baru kita lihat perkembangannya dalam beberapa hari ini.”


“Iya Bang, Nay mengerti,” jawab Nayla menuruti kata Yoga.


“Sekarang Nay istirahatlah, Abang akan menunggu diluar.”


“Iya Bang.”


Walau demikian adanya, dihati Nayla dia masih saja berharap, kalau Yoga masih tetap mencintainya, karena selama ini dia hanya merasakan kalau cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan.


Sementara itu, Yuda sang suami tercintanya, walau dalam keadaan berduka. Namun dia tetap bekerja untuk membantu para pasien yang membutuhkan tenaganya.


Pagi-pagi sekali, setelah selesai sholat subuh, dia bersiap-siap untuk pergi bekerja, walau sedih namun dia tak ingin dikatakan lemah, semangat dalam mengemban tugas tetap menjadi prioritas untuk tanggung jawab yang bersandar dipundaknya.


Karena Yuda berprinsip menjalankan tugas sebagai seorang dokter itu lebih baik, dari pada duduk dirumah merenungi diri.


Saat tugasnya selesai Yuda selalu datang kerumah sakit tempat Nayla dirawat, dari kejauhan Yoga tersenyum pada Yuda. Hatinya senang karena saudaranya tak larut dalam kesedihan.


“Giman Yog? apa udah ada dokter yang masuk?”


“Udah Yud, tapi Nayla masih terlihat lemah.”


“Kalau begitu kita masuk Yuk!” ajak Yuda pada Yoga.


“Kau sajalah yang masuk, biar aku menunggu disini aja.”


“Baiklah kalau begitu aku masuk dulu.”


“Ya silahkan,” kata Yoga sembari duduk kembali.


Didalam kamar Nayla telah menunggu suaminya dengan senyuman, matanya tak berkedip sedikitpun saat Yuda menghampirinya. Setangkai mawar yang berwarna merah diselipkan di rambut istrinya yang Panjang.


“Apa kabar sayang? kayaknya pagi-pagi begini Nay udah terlihat begitu rapi.”


“Ah Abang, ada-ada saja,” jawab Nayla tersenyum manja.


“Siapa tadi yang menyisir rambutnya, hm, pasti Yoga!” kata Yuda tersenyum manis.


“Kok Abang tau, karena disini yang menemani Nay kan Bang Yoga.”


“Maafkan Nay ya Bang, Nay udah banyak menyusahkan Abang selama ini?”


“Kau nggak bersalah Nay, dimata Abang Nay adalah istri yang paling baik, jadi nggak ada yang perlu disalahkan.”


“Tapi Nay merasa telah membebani Abang selama ini.”


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2