
Sungguh begitu berat sekali keputusan yang akan diambil, baik Yuda maupun Nayla, mereka sama-sama tak menginginkan kandungan itu dilepas. Tapi mengingat akibat yang akan ditanggungnya nanti, mereka juga tak kuasa untuk itu.
“Gimana sayang, apa Nay tetap bersikeras untuk mempertahankannya?” tanya Yuda ingin tau.
“Iya, Bang! Nay nggak mau menggugurkan anak ini, tolong mengertilah.”
“Sebenarnya abang juga berat untuk melakukan hal ini, Nay.”
“Lalu kenapa Abang terpengaruh dengan ucapan banyak orang?”
“Abang nggak terpengaruh, Nay! Abang ini seorang dokter, Abang tau persis apa akibatnya jika Nay tetap bersikeras untuk mempertahankan bayi ini.
“Sudahlah Bang, Nay nggak mau kita berdebat hanya karena Nay mempertahankan bayi ini. Nay capek! Nay mau istirahat!” kata Nayla sembari pergi meninggalkan Yuda.
Setelah melakukan sedikit perdebatan dengan suaminya, Nayla masuk kedalam kamarnya. Di atas Kasur ditumpahkan semua kesedihan hatinya, sebenarnya Nayla tau kalau dia akan menghadapi resiko yang sangat berat jika masih tetap mempertahankan bayi yang dikandungnya.
Disaat itu, dari balik gorden pintu, Yuda hanya bisa memandangi istrinya dengan hati yang pilu, bukan hanya Nayla yang merasakan kesedihan itu, bahkan dia juga merasakan apa yang dirasakan istrinya.
Setelah beberapa minggu kandungan Nayla tampak semakin jelas muncul kepermukaan. Walau harus nyawa taruhannya, Nayla tetap bersikeras agar anak yang dikandungnya dapat lahir dengan selamat ke dunia ini.
Mendengar keputusan yang dibuat Nayla, Yuda tak dapat berbuat banyak. Walau dr. Tedy sudah berkali-kali menyarankannya pada Yuda, namun semua keputusan itu ada ditangan istrinya.
Berhari-hari trauma berat itu dirasakan Nayla, namun dia tetap sabar, Nayla begitu yakin suatu saat nanti dia akan merasa kuat untuk menahannya.
Siang itu Yuda sedang tak berada dirumah, karena ada tugas diluar kota yang sedang diembannya. Mesti demikian, sebelum pergi dia telah minta izin pada Nayla. Karena merasa tak ada masalah dengan kandungannya, Nayla pun mengizinkan suaminya pergi.
Seperti biasa satu kali dalam seminggu, Nayla selalu melakukan control kandungannya kerumah sakit. Selama ini yang selalu mengantar adalah Yuda, tapi karena dia tak ada, maka Nayla meminta Pak Darman yang mengantarnya kerumah sakit.
Setiba dirumah sakit, dokter yang selalu memeriksa kandungan Nayla, belum datang, jadi Nayla memutuskan diri untuk menunggunya.
Beberapa saat kemudian, dokter itupun datang dan menghampiri Nayla yang sedang duduk diruang tunggu.
“Gimana dengan kandungan mu, Nay? apa pernah mengalami kejang setelah kembali dari sini?”
“Nggak dok, semuanya baik-baik saja kok, Nay nggak ada mengalami kejang dan keram.”
“Bagus kalau begitu, lalu mana Yuda? kenapa dia nggak datang bersama mu?”
“Dia sedang tugas luar saat ini, dok.”
“Ooo, begitu!” ujar dr. Safira seraya berdiri untuk menuju ruangannya. "Ayo nay, ikut saya keruangan,” ajak dr. Safira.
“Baik dok,” jawab Nayla singkat.
Didalam ruangan dr. Safira, Nayla diperiksa dengan baik, dr Safira tak menemukan keganjilan pada kandungan Nayla sama sekali, yang menandakan kandungan Nayla berada dalam batas aman.
“Gimana keadaan bayi Nay dok?” tanya Nayla ingin tau.
“Semuanya berjalan dengan baik, bayi yang Nay kandung pun saat ini sehat.”
“Alhamdulillah,” jawab Nayla dengan senang.
“O iya Nay! karena kandungan mu sehat dan nggak ada masalah, hari ini saya hanya memberimu vitamin aja, dan pil untuk memperkuat Rahim.”
__ADS_1
“Iya dok.”
“Kau makan obat ini dengan teratur, jangan sampai lupa, biar bayimu tetap tumbuh sehat seperti yang kalian inginkan.”
“Baik dok, terimakasih.”
“Ya sama-sama.”
“Kalau begitu Nay permisi dulu.”
“Ya hati-hati dijalan.”
“Baik dok, Nay permisi dulu.
“Ya silahkan.”
Lalu Nayla pun keluar dari rumah sakit itu, diperjalanan, Nayla tampak tersenyum senyum sendiri, Pak Darman yang memperhatikannya, turut merasakan senang.
“Gimana dengan kandungannya, Bu?”
“Alhamdulillah, sehat Pak.”
“Syukurlah, tapi walau kandungannya sehat, Ibu tetap jaga kondisi tubuh Ibu, jangan sampai telat makan, dan jangan lupa istirahat yang cukup.”
“Baik Pak Darman, Nay akan selalu ingat pesan yang Pak Darman katakan."
Di depan sebuah super market, Pak Darman bertanya pada Nayla kalau dia ingin membeli sesuatu untuk dibawahnya pulang.
“Iya, Pak! Nay mau membeli susu, untuk Andika dirumah.”
“Ibu, mau saya antar kedalam?” tanya Pak Darman pada Nayla.
“Nggak usah Pak, Nay bisa sendiri kok.”
“Benar Ibu bisa sendiri?”
“Ya, Nay bisa sendiri.”
“Baiklah, hati-hati.”
“Ya, Pak.”
Nayla pun kemudian masuk kedalam dengan langkah yang sangat berhati-hati sekali. Akan tetapi dari sudut super market, di bagian yang lain, tampak Bu Salamah sedang asik menikmati hidangan yang ada dihadapannya, bersama dua orang putri tercintanya.
Saat asik menikmati makanannya, tiba-tiba saja Bu Salamah melihat Nayla sedang membeli susu. Lalu Bu Salamah mempercepat makannya dan dia membayar makanan yang belum habis dimakannya.
“Ada apa, Ma? kenapa terburu-buru?” tanya Santi pada Mamanya.
“Ada buruan Mama, San!”
“Buruan? Maksud Mama apa sih?”
“Ssst, jangan ribut, ayo kita ikuti dia!” ajak Bu Salamah pada kedua putrinya.
__ADS_1
Nayla yang tak merasa ada yang mengikutinya, dia pun keluar dari super market itu dengan tenang dan santai. Namun Bu Salamah mengikutinya bagaikan seekor burung bangkai yang mengitari mangsanya.
“Udah selesai belanjanya, Bu?”
“Udah, Pak.”
“Apa kita langsung pulang?”
“Iya pak, kita pulang aja.”
“Baiklah Bu,” jawab Pak Darman seraya menyetir mobilnya dengan tenang.
Akan tetapi, diperjalanan Pak Darman melihat sebuah mobil yang terus mengikutinya, arah matanya tak pernah luput dari mobil itu. Nayla yang memperhatikan Pak Darman selalu menoleh kebelakang, menjadi heran dengan apa yang sedang dilakukannya.
“Sedang melihat apa sih, Pak?”
Sepertinya mobil yang ada dibelakang kita itu, dari tadi selalu mengikuti kita, Bu.”
“Mobil yang mana, Pak?”
“Itu, mobil yang berwarna silver."
“Sejak kapan mereka mengikuti kita, Pak?”
“Sepertinya semenjak Ibu keluar dari super market tadi.”
“Tapi Nay nggak melihat siapa-siapa dibelakang, Nay.”
“Mungkin saja karena Ibu nggak memperhatikannya.”
“Apa Bapak mengenal mobil itu?”
“Nggak, Bu! tapi yang jelas mereka pasti memiliki niat yang salah pada kita saat ini.”
“Aduh! Giman ini pak, Nay jadi takut sekali.”
“Kalau begitu, Ibu telfon aja pak Yoga, kan pak Yoga punya ilmu silat yang hebat.”
“Kalau Nay menelfon Bang Yoga, itu nggak mungkin Pak?”
“Kenapa nggak mungkin, karena pak Yoga kan lebih dekat dari kita ketimbang pak Yuda, Bu.”
“Baiklah, Pak.”
Maka disaat itu juga Nayla langsung menelfon Yoga, dan Yoga langsung mengangkat ponsel itu.
“Hallo ada apa, Nay?” tanya Yoga ingin tau.
“Seseorang sedang mengikuti Nay dari tadi, Bang!”
“Saat ini Nay sedang ada dimana?”
Nay sedang berada diperjalanan menuju rumah.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*