
"kan Siska, jadi malu sama dr. Yuda."
"Kenapa mesti malu Sis, dr.Yuda itu orangnya sangat profesional, dia nggak akan membuat masalah serumit yang kamu bayangkan, seperti yang ada di dalam pikiranmu."
"Lalu Siska mesti bilang apa padanya, Rangga?"
" Katakan saja seperti yang telah aku katakan."
" Baiklah," jawab dr.Siska dengan suara lembut.
" Jangan marah dong, sayang! nanti pertunangan kita gagal lhoo!"
" Ih, mulai deh!"
" Ya udah, aku lagi banyak tugas saat ini, jadi kamu jangan marah ya?"
" Iya, Aku nggak marah kok. Sebenarnya sesibuk apa sih, pekerjaanmu selama di sana?" tanya Siska ingin tau.
" Sedikit lebih sibuk bila dibandingkan di Indonesia."
" Kok bisa gitu?"tanya Siska penasaran.
" pokoknya sibuk deh!"
“Maksudmu apa?”
“Tiap hari, kau hanya melihat darah dimana-mana, setiap saat kau juga akan melihat korban bergelimpangan.”
“Oh, kalau seandainya Siska bisa ke sana, Siska pasti akan melakukan hal yang sama dengan mu Rangga.”
“Iya Sis, aku yakin, kamu pasti begitu penasaran sekali.”
“Benar itu, saat mendengarnya aja, tanganku udah nggak tahan untuk bisa menolong mereka.”
“Iya begitulah kalau kita, telah dilatih untuk menolong orang, kita pun nggak akan tahan jika terjadi bencana yang merenggut banyak korban jiwa.”
“Ya udah, Rangga! selamat bertugas dan jangan lupa jaga kesehatan selama disana.”
“Iya sayang, Assalamu’alaikum.”
“Wa’laikum salam."
Bersama dengan juru Bahasa, yang berada di daerah konflik, dr. Rangga terus bekerja, keringat yang bercucuran tak dirasakannya sama sekali.
Rintihan dan tangisan banyak korban membuat semangatnya terus semakin maju, untuk dapat menolong lebih banyak lagi.
“Rangga, kamu nggak istirahat?” tanya Brema sembari menepuk pundaknya.”
“Belum Brem! lihat aku masih harus menjahit, kaki anak ini, kalau nggak segera dilakukan, akan infeksi.”
“Ooo begitu, baiklah! biar aku bantu,” kata Brema seraya membersihkan luka sobekan akibat terkena benda tajam saat hendak lari.
“Kenapa kamu nggak istirahat dulu, Brem?”
__ADS_1
“Ntar aja, kalau kaki anak ini udah kita jahit,” jawab Brema dengan suara datar.
“Baiklah.”
Maka mereka berduapun bekerja saling bahu membahu, membantu para korban perang.
Belum selesai Rangga menjahit kaki anak itu, dari arah gerbang datang beberapa orang pria seraya menggotong seorang prajurit yang terkena serpihan benda tajam akibat Bom yang meledak.
“Dia perlu bantuan!” teriak seorang juru Bahasa pada Rangga dan Brema.
“Baik, kami akan segera membantu,” jawab Rangga sembari meninggalkan anak tadi dan menyerahkan penanganannya pada Brema.
“Brema aku serahkan anak ini padamu,” kata Rangga pada sahabatnya itu.
“Baik Rangga, urusan anak ini serahkan aja pada ku,” jawab Brema dengan suara lembut.
Masih dalam penanganan dr. rangga, belum selesai merawat satu prajurit, dia udah kedatangan ambulance, dengan menurunkan tiga orang korban lagi.
Semuanya datang dengan keluhan masing-masing. dr. Rangga memeriksa dan merawat mereka semua dengan sabar dan penuh ketabahan.
Satu persatu pasiennya ditangani dengan baik. dr.Rangga tak pernah mengeluh apalagi marah saat korban itu merintih dan menjerit ketika diobati.
Kini siang telah mulai beranjak petang, Rangga melihat mentari condong ke sebelah barat, angin laut datang membelai hati setiap umat yang sedang konflik.
Ratusan manusia kehilangan nyawa, ribuan orang kehilangan tempat tinggal mereka dan puluhan anak kehilangan orang tua yang mereka sayangi.
Mesti demikian perang masih saja berdentum, membuat nyali menjadi ciut, membuat hati bergetar menahan rasa takut.
“Oh, ya Allah, kapankah perang ini akan berakhir?” rintih Rangga dalam kesendiriannya.
Rangga yang biasanya tidur melepas pakaian dinas, sepatu dan dan jaket kulit kesayangannya, ditempat konflik, hal itu tidak dilakukannya.
Karena mengingat tenaganya dibutuhkan setiap saat, jadi Rangga harus standby selama dua puluh empat jam penuh, kadang Rangga harus mandi sekali dalam dua hari.
Itu pun kalau Rangga punya kesempatan untuk mandi. Kalau tidak Rangga terpaksa tidur dengan pakaian yang penuh bercak darah.
“Apa ada korban?” teriak Rangga dari dalam tenda.
“Tidak ada korban, tapi kita semua harus mengungsi, karena daerah ini sudah dikuasai militer Rusia.”
“Lalu bagai mana dengan mereka yang masih terbaring lemah.”
“Coba kau hitung Rangga, berapa orang yang bisa kita selamatkan.”
“Maksud kalian apa?” tanya dr. Rangga tak mengerti.
“Kita hanya bisa membawa mereka yang masih bisa untuk diselamatkan.”
“Lalu, gimana dengan yang lainnya.”
“Terpaksa kita tinggal.”
“Kalian serius?” tanya dr. Rangga tak percaya.
__ADS_1
“Cepat Rangga! kamu hitung mana yang bisa kita selamatkan.”
“Oh,Ya Allah! bagai mana ini? haruskah aku meninggalkan mereka disini dalam keadaan sekarat,” rintih Rangga dengan suara lirih.
“Rangga, cepat!” perintah pimpinannya.
“Aku nggak bisa meninggalkan mereka semua,” tegas Rangga pada pimpinannya.
“Apa kau ingin mati konyol!”
“Aku lebih baik mati disini, dari pada harus meninggalkan mereka.”
“Ingat Rangga, tugasmu masih Panjang, ditempat lain kau harus membantu mereka yang menjadi korban.”
“Lalu apa bedanya dengan yang disini ? mereka juga korban bukan? teriak Rangga dengan cucuran air mata.”
“Tapi tempat ini, sudah dikuasai, oleh Rusia Rangga. Kamu harus berfikir dong!” bentak pimpinannya pada Rangga sembari memukul-mukul kepalanya dengan tangan.
“Terserah Bapak, kalau Bapak ingin selamat, pergilah! dan biarkan aku tinggal disini bersama mereka.”
“Jangan tinggalkan kami nak Rangga! kata seorang pasien yang bisa berbahasa Indonesia, pasien itu sudah tua, dia hanya jadi korban perang.
“Bapak bisa berbahasa Indonesia ?” tanya Rangga, pada bapak tua itu.
“Iya, Bapak bisa berbahasa Indonesia.” Katanya dengan jelas.
“Lalu, Gimana Rangga ?” tanya pimpinan Dr. Rangga.
“Aku nggak akan meninggalkan mereka semua. Dan keputusanku sudah bulat, kalau Bapak ingin meninggalkan kami, silahkan pergi !” kata Rangga dengan tegas.
“Baiklah, kalau itu udah menjadi keputusanmu, berarti kau ingin mati konyol.”
Setelah pimpinan Rangga itu pergi, dengan membawa lima orang prajurit yang terluka, maka tinggallah Rangga, bersama dua puluh orang yang terluka lainnya.
Rangga menangis diantara para korban yang masih tinggal, rasa pilu bergelayut di lubuk hatinya yang paling dalam, untuk apa membantu, jika harus mencelakainya.
“Nak Rangga!” sapa pak tua yang berbaring di samping dirinya.
“Begitulah perang, Nak. Kadang kita harus menahan rasa sakit, karena kehilangan orang yang kita cintai, dan pimpinan mu itu, dia terpaksa harus melakukan semua ini.”
“Tapi mengapa harus sebagian saja yang mesti mereka bawa, kenapa nggak semuanya?”
“Begitulah, kalau daerah yang kita tempati telah dikuasai musuh, apa pun harus kita lakukan demi menyelamatkan diri kita masing-masing.”
“Kalau Nak Rangga mau, Bapak punya tempat persembunyian yang nggak dapat diketahui musuh.”
“Apa! tempat persembunyian?” tanya dr. Rangga tak percaya.
“Iya, tempat persembunyian untuk kita.”
“Dimana tempatnya, Pak? apa jauh dari sini?”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*