Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 42 Perhatian khusus Yoga pada Mutia


__ADS_3

Melihat kebahagian terpancar dari wajah istrinya, Yuda sangat senang sekali, semangatnya untuk mendukung Nayla terus dia lakukan, agar nanti operasi bisa berjalan dengan lancar tanpa kendala.


Sementara semangat itu terus di ucapkan Yuda demi memberi kekuatan mental pada istrinya, disisi lain Yoga juga selalu memberikan semangat untuk hidup kepada Mutia, lewat lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an, Yoga juga selalu memanggil nama Mutia, lewat telinga kanannya.


Karena menurut Yoga dengan cara seperti itu, orang yang berada di alam bawah sadarnya, dia akan terpantau dengan lantunan ayat Suci Al qur’an tersebut.


Sehingga dia tidak tersesat begitu jauh. Dan dengan panduan itu pula dia bisa kembali dengan selamat.


Benar saja, hingga beberapa hari kemudian, Mutia sadar dari komanya, dia melihat ada Yoga yang sedang sholat di samping kirinya.


“Aku dimana? Aku ada dimana?” tanya Mutia pada dirinya sendiri.


Mendengar kekasihnya bertanya-tanya, Yoga langsung menyudahi sholatnya, dan dia langsung memegang tangan Mutia.


“Assalamu’alaikum, sayang!”


“Wa’alaikum salam,” jawab Mutia dengan pelan.


“Kamu udah sadar sayang?”


“Dimana aku, Bang?”


“Kamu ada dirumah sakit, bersama Abang.”


“Mana Papa dan Mama?”


“Mereka Abang suruh pulang, karena sudah terlalu letih merawat mu, biarkan Abang yang mengurus mu disini.”


“Selama aku tak sadarkan diri, lalu siapa yang memandikannya.”


“Tak ada yang memandikan mu, Abang hanya membersihkan bagian luarnya saja, dan abang ganti pakaianmu setiap hari.”


“Berarti, Abang?”


“Sssst! Abang sengaja melakukan semua itu, agar kamu tak merasa gerah saat sadar, selain itu Abang juga memijat seluruh tubuhmu, agar saat kau bangun tubuhmu terasa rileks."


“Jadi?”


“Kamu nggak usah malu pada Abang, semua itu Abang lakukan demi kesehatanmu sendiri.”


“Kenapa bukan Mama yang membersihkan tubuhku, Bang?”


“Mama, Abang suruh pulang, karena dia kelihatan pucat, dan Abang juga kasihan pada adik-adikmu, yang menangis setiap hari selama berada disini. Biarlah Mama dirumah merawat adik-adikmu. Kan masih ada Abang disini.”


Mendengar penjelasan dari Yoga, Mutia bukannya marah dia malah mengucapkan terima kasih pada Yoga yang telah merawatnya dengan bersungguh-sungguh.


Keesokan harinya, Yoga menelfon keluarga Mutia dan mengabari perkembangan putri tercinta mereka.


“Benarkah itu, nak?”


“Iya Pa, datanglah kerumah sakit sekarang, Mutia sudah sadar dari tadi malam.”


Mendengar berita yang disampaikan Yoga, Pak Ramon sekeluarga sangat senang sekali, berita bahagia itupun langsung disampaikan pada istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


“Benar itu, Pa?” tanya Rika tak percaya.


“Benar sayang, sekarang kalian bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan kerumah sakit, menemui kak Mutia.”


“Hore! Kak Mutia sudah sembuh! Seru Fatimah seraya berlari kian kemari kegirangan.


“Nah, Fatimah udah mandi?”


“Udah Ma, tadi kak Rika yang memandikan.”


“O, kalau begitu, Fatimah kemobil dulu, jaga adek Ara di mobil, biar Mama bersiap dulu.”


“Baik Ma,” jawab Fatimah seraya berlari menuju mobil, sesuai perintah Mamanya.


“Gimana, udah siap semua?”


“Belum, Pa! Mama masih mandi,” jawab Rika. Yang berjalan menuju mobil.


“Cepat sedikit dong Ma! nanti Mutia sedih lagi, karena Papa dan Mamanya nggak berada disana.


"Jangan keburu-buru kenapa sih, Pa! Mama kan jadi serba sulit deh.”


“Ya udah kalau gitu, Papa duluan kemobil.”


“Iya, nanti Mama nyusul.”


Begitu senangnya hati keluarga Pak Ramon saat itu, kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mereka semua pun berangkat menuju rumah sakit, tempat Mutia dirawat.


Didalam ruang rawat Mutia, anak-anak itu langsung melihat wajah Mutia sedang tersenyum manis.


“Kakak, jangan sakit lagi ya!” kata Yuni.


“Iya, sayang, kakak udah sembuh kok, besok kakak juga mau pulang kerumah.”


Lalu dari balik pintu, muncul Pak Ramon beserta Sukesih. Sembari membawa koper pakaian untuk Mutia.


“Mama, Papa!”


“Iya, sayang! Mama dan Papa agak terlambat dikit, tapi nggak masaalah kan?”


“Iya Ma, udah ada Bang Yoga kok yang menjaga Mutia disini.”


“Loh, ini pakaian siapa?” tanya Sukesih heran.


“Nggak tau, Ma. Tapi pakaian ini, udah ada di lemari pakaian itu.”


“Siapa yang memasangnya Mutia?”


“Nggak tau, mungkin Bang Yoga.”


“Yoga nya kemana?”


“Katanya pergi sebentar, mungkin cari makanan.”

__ADS_1


Melihat semuanya berubah, Sukesih menjadi segan dengan Yoga, karena Yoga terlalu banyak membantu dan merawat Mutia dirumah sakit, sementara dia sibuk dengan pekerjaannya.


Sedang duduk termenung, Yoga pun datang dengan membawa makanan ringan untuk sikecil.


“Hai sayang! ternyata kalian udah datang ya, mana Papa dan Mama kalian?”


“Ada tuh didalam,” jawab Rika memberi taukan keberadaan kedua orang tuanya.


Lalu Yoga langsung masuk kedalam, saat mendengarkan perkataan Rika. Benar saja didalam, Pak Ramon dan Sukesih telah duduk menantikan Yoga.


“Assalamu’alaikum,” sapa Yoga pada mereka bertiga.


“Wa’alaikum salam.”


“Heh nak Yoga, kemana saja? Papa dan Mama dari tadi menunggumu.”


“Aku ke kedai Ma, nyari makanan ringan untuk anak-anak, biar dia nggak ribut diluar.”


“Kamu memang anak yang baik Yoga, pengertian dan penuh tanggung jawab. Papa dan Mama menjadi tak enak rasa denganmu.”


“Hmm..! Ma, apa pun yang terjadi pada Mutia, itu merupakan beban yang bersandar dipundak ku, jadi aku akan selalu ada untuk dirinya, mesti apapun yang terjadi. Jadi Mama dan Papa nggak usah merasa tak enak rasa padaku.”


“Kalau Mama boleh bertanya, apakah kamu yang telah mengganti pakaian Mutia, selama kami tak berada disini?”


“Ya, semuanya kulakukan sendiri, karena hal itu harus kulakukan, agar Mutia nggak merasa gerah saat dia sadar nanti.”


“Selain itu, Bang Yoga juga memijat tubuhku, katanya agar seluruh uratku nggak tegang kalau aku sadar.”


“Benar itu, Nak Yoga.”


“Aku melakukan semua itu, hanya demi kesembuhan Mutia, Ma.”


“Mama nggak marah kok, justru Mama dan Papa mengucapkan terimakasih padamu.”


“Kata perawat yang tadi masuk, selama aku nggak sadarkan diri, katanya Bang Yoga selalu membaca ayat suci Al Qur’an di dekat ku.”


“Aku dengar dari seseorang, katanya kalau orang yang lagi koma itu, jika dibacakan ayat suci Al Qur’an di dekatnya, maka arwahnya nggak akan pergi jauh dari tubuhnya, karena ayat itulah yang akan menuntunnya kembali ke tubuhnya."


“Terima kasih Nak Yoga, semua kebaikanmu, semoga mendapatkan balasan yang setimpal disisi Allah Swt."


“Amin,” jawab Yoga.


“Lalu apa kata dokter nak?”


“ kalau Mutia sudah merasa sehat, dalam beberapa hari ini dia sudah diizinkan pulang, karena luka dalam dan luka sobekan di kepalanya sudah mulai mengering.”


“Oh, syukurlah. Anak Mama sudah diizinkan pulang kerumah dalam beberapa hari lagi.”


“Iya, Ma.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2