Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 82 Dilema


__ADS_3

“Apa nggak mustahil, bila seorang perempuan cantik tinggal serumah dengan pria ganteng seperti mu, akan menimbulkan banyak Fitnah kan?”


“Itu sebabnya, Dia Abang titipkan sama Mama, biar Ningsih tetap mendapat kasih sayang seorang Ibu.”


“Nay yakin, kalau Ningsih ada dirumah Mama, Abang pasti lebih sering pulang.”


“Nay cemburu ya?”


“Iiih ! kenapa mesti cemburu,” jawab Nayla, mencoba menutupi nya.


“Benar nggak cemburu?”


“Aaah, mulai deh!”


“Nggak, bercanda aja kok.”


Disaat Ningsih sedang asik bermain dengan Andika, kesempatan itu mereka manfaatkan untuk saling melepas rindu, Yoga mencumbu Nayla dengan lembut dan mesranya, begitu juga dengan Nayla, kesempatan yang berharga itu tak mau dia sia-siakan.


“Oh, rasanya udah bertahun kita nggak bercinta Bang.”


“Iya, tapi Abang harus segera pergi, Nay.”


“Kenapa begitu cepat?”


“Abang harus tiba dirumah Mama sebelum Magrib nanti.”


“Tapi Nay masih kangen, Bang!” rengek Nayla bermanja.


“iya, sayang, Abang juga masih kangen sekali, tapi Abang harus segera pergi.”


“Nggak, Nay masih ingin bermesraan dengan Abang,” jawab Nayla seraya memeluk tubuh Yoga dengan sangat kuat sekali.


“Kau ini, Nay! seperti anak-anak aja!”


“Biarlah, asalkan Nay bisa menyentuh tubuh yang sangat perkasa ini.”


“Lepaskan Nay, nanti Andika melihat kita!”


“Nggak, saat ini andika sedang asik bermain dengan Ningsih, Bang.”


Karena merasa aman, Yoga pun kembali melanjutkan hasrat gilanya, hingga membuat Nayla tak berdaya. Dan ketika dia melihat Nayla sudah pasrah dengan apa yang terjadi saat itu, Yoga pun pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


Nayla pun menangis diatas ranjangnya, hatinya terasa begitu sakit karena ditinggal pergi oleh Yoga tampa ada kejelasan sama sekali.


Dia pergi disaat tubuh Nayla lemah karena nafsunya sendiri, sementara itu, Yoga telah berlalu jauh dari permukiman Nayla.


“kau kejam, Bang! Kau sangat kejam!” jerit Nayla di derasnya air kran yang mengalir. “Nay terlalu bodoh, Nay selalu saja mengharapkan dia, orang yang sudah berkali-kali menyiksa perasaan ini, huhuhuk.” Nayla terus saja menangis tiada henti.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian , barulah Nayla keluar dari kamar mandi, dia terlihat begitu murung, karena rasa sakit yang dideritanya saat itu, membuat batinnya tertekan.


Sementara itu, Yoga bersama Ningsih udah tiba dirumah Mamanya, Kartini begitu terkejut, ketika melihat Yoga pulang bersama seorang wanita cantik.


“Oh, anak Mama yang ganteng, kau udah pulang, nak?” sambut Kartini dengan pelukan manja.


“Iya, Ma. Aku pulang bersama.”


“Bersama menantu Mama?”


Ningsih yang mendengar Bu Kartini bicara seperti itu, jantungnya langsung berdebar kuat. Dia bingung dengan yang dikatakan Mama Kak Yoga pada dirinya.


“Maaf Ma, dia itu Bernama Ningsih, dia ingin Mama mengangkatnya sebagai seorang anak dirumah ini.”


“Apa! benarkah itu, sayang?" tanya Kartini tak percaya.


“Iya, Ma! Panggilah, agar dia mendekati Mama.”


“Kemarilah Nak!” panggil Kartini dengan linangan air mata.


Saat Kartini memanggil dirinya, Ningsih langsung menghampiri Kartini, dia langsung saja bersimpuh dihadapan Kartini. Karena Ningsih bersimpuh dihadapan dirinya, Kartini langsung mengangkat tubuh Ningsih dan memeluk gadis itu dengan erat sekali.


“Benarkah apa yang dikatakan Yoga pada Mama, Nak?”


“Benar, Ma ! Aku nggak punya siapa-siapa lagi didunia ini, aku ingin punya seorang Mama sebagai tempat sandaran dalam hidup ku. Jika Mama nggak mau mengangkat ku menjadi seorang anak, maka aku akan jadi gelandangan di jalanan.”


“Tapi aku seorang, non Muslim, Ma?”


“Benarkah itu?”


“Iya, Ma.”


“Nggak apa, kamu bisa menyesuaikan diri dulu dirumah ini. Nanti kalau fikiran mu udah terbuka, maka kau bisa memilih apa yang lebih baik menurut mu.”


“Baik, Ma,” jawab Ningsih seraya duduk disamping Bu Kartini.


Disaat mereka berdua sedang bercerita, layaknya bagai anak dan Ibu, Yoga memperhatikan mereka dari sudut yang jauh, Yoga melihat wajah berseri dari mimik muka Mamanya.


Apa lagi Ningsih, tampak begitu dekat sekali dengan Mamanya, sehingga Yoga merasa senang jika harus meninggalkan Mamanya sendiri dirumah.


“Ma, aku pergi dulu,” kata Yoga sembari mohon pamit pada Kartini.


“Jadi kau membesuk Dinda, Yog.”


“Iya, Ma! Aku akan pergi sekarang, mudah-mudahan, Dinda nggak kenapa-napa.”


“Jika Dinda udah sadar, sampaikan salam Mama padanya, ya Nak.”

__ADS_1


“Baik, Ma,” jawab Yoga seraya pergi meninggalkan Mamanya dan Ningsih.


Diperjalanan, Yoga tampak begitu tenang dalam mengendarai sepeda motor miliknya. Setengah jam perjalanan tibalah dia didepan Puskesmas, tampa berfikir Panjang Yoga langsung masuk kedalam untuk menemui Dinda.


Tak berapa jauh dari petugas yang sedang berjaga, Yoga melihat Bu Saidah sedang duduk termenung diruang tunggu. Melihat Yoga dari kejauhan, Bu Saidah langsung menyusulnya seraya berlari untuk memeluk Yoga.


Di pangkuan Yoga, Bu Saidah menangis histeris, dia mencurahkan semua kekecewaan perasaannya kepada Yoga.


Yoga memeluk tubuh tua renta itu dengan begitu lembutnya, dihadapan Bu Saidah, Yoga juga menyatakan penyesalan dirinya, yang telah menolak Dinda secara mentah.


“Ibu sangat memahami itu, Nak dan Ibu juga nggak akan menyalahkan dirimu dalam hal ini.”


“Aku sungguh nggak tau kalau selama ini, ternyata Dinda menaruh cinta yang besar pada ku. Itu sebabnya aku hanya sekedar menganggapnya hanya sebatas teman biasa.”


“Ibu juga sudah pernah bertanya padanya, tentang hubungan kalian berdua selama ini, tapi Dinda tak pernah menjawabnya dengan jujur."


" Kenapa begitu Bu?"


" Entahlah nak, setiap pertanyaan yang Ibu ajukan pada dirinya, selalu saja dialihkannya ke yang lain, akan tetapi, setelah beberapa orang yang datang melamarnya ditolak, Ibu jadi bertanya-tanya sendiri.”


“Emangnya udah ada berapa orang yang datang padanya, Bu?”


“Selama ini, sudah ada empat orang yang datang meminang, terakhir Ibu mau menjodohkan Dinda dengan Sabri, tapi dia juga menolaknya. Alasan yang diberikannya singkat saja, karena dia hanya ingin menikah dengan mu, Nak.


Mendengar cerita Bu Saidah, Yoga jadi serba salah dibuatnya, jikapun dia akan menikah dengan Dinda. Lalu bagai mana pula dengan perasaan Mutia, orang yang selama ini diperjuangkan cintanya habis- habisan.


Kegusaran hati Yoga, membuat batinnya terasa tersiksa sekali, rasa bersalah seringkali mewarnai pemikirannya.


Namun bersama Bu Saidah, Yoga turut serta merawat Dinda dirumah sakit, setelah dua hari tak sadarkan diri, pagi itu Dinda baru membuka kedua matanya.


Wajah yang pertama sekali dilihatnya pagi itu adalah wajah Yoga, yang sedang membersihkan tubuhnya dengan kain basah. Akan tetapi, Dinda tak bisa bicara, karena lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan kata-kata.


Selama Yoga dirumah sakit, Bu Saidah tak banyak bergerak, dia lebih banyak duduk dan memandangi Yoga yang selalu telaten mengurus Dinda.


Apa lagi Bu Saidah usianya sudah sebaya dengan Mamanya, tentu dia tak bisa berbuat banyak merawat Dinda. Ketika selesai menunaikan sholat Magrib, Yoga selalu menyempatkan diri membaca ayat-ayat suci Al Qur’an, disamping Dinda.


Hati Dinda terasa begitu tenang mendengarkan lantunan ayat Suci Al Qur’an itu, terasa timbul penyesalan dari dalam dirinya saat itu. Karena dia telah berniat akan mengakhiri hidupnya, hanya demi cinta yang diperjuangkannya, kandas begitu saja.


Setelah Yoga selesai mengaji, Dinda langsung memegang tangan Yoga dengan lembut, seperti biasa Yoga selalu mencium tangan Dinda. Hati Yoga berdebar saat tangan itu diciumnya, padahal selama ini, tak pernah muncul perasaan seperti itu.


“Maaf kan aku, Yog!” kata Dinda terbata-bata.


“Dinda, kau udah sadar sayang?” kata Yoga dengan linangan air mata.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2