Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 37 Gagal melakukan operasi


__ADS_3

Lalu Yuda pun menemui dokter yang saat itu sedang bertugas, di rumah sakit Ibnu Sina. Setibanya didepan ruangan dokter itu, pintupun diketuk oleh Yuda.


“ Tok, tok, tok! Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab dokter itu dari dalam.


“Boleh saya masuk dok?”


“Silahkan,” jawab dokter itu seraya menyediakan bangku tempat duduk untuk Yuda.


“Terimakasih,” jawab Yuda seraya membenahi kursi yang ada didepannya.


“Dengan siapa ya?” tanya dokter itu.


“Saya dr. Yuda. Suami dari pasien, yang mengidap penyakit kangker Rahim itu.”


“O, iya, ya! jadi Bapak seorang dokter juga ya?”


“Iya, dok. Saya seorang dokter juga."


Karena merasa satu profesi, dr. Renaldi langsung mengulurkan tangannya, hal itupun langsung disambut Yuda dengan berjabat tangan.


“Senang bertemu dengan dr. Yuda.”


“Sama-sama, dok saya juga.”


“Ngomong-ngomong, ada keperluan apa Dokter datang keruangan saya?”


“Begini dok, hari ini juga saya akan bawa istri saya pulang, kami sepakat akan melakukan operasi pengangkatan kangker itu secepatnya.”


“O, begitu ya! bagus itu, saya sangat mendukung penuh, jika dr. Yuda melaksanakan operasi itu secepatnya.


“Iya, dok,” jawab Yuda singkat.


“Kalau begitu, bawalah istri dokter pulang, nanti biar perawat saya yang membantu pemindahannya.”


“Baik dok, terimakasih,” kata dr. Yuda sembari menyalami dr. Rinaldi


“O iya, dok. Soal biaya, biar rumah sakit yang menanggungnya.”


“Ooo begitu, baiklah! sekali lagi saya ucapkan terimakasih.”


“Sama-sama,” jawab dokter itu singkat.


Seiring berjalannya waktu, dua hari kemudian Tibalah Nayla dirumah sakit tempat Yuda bertugas.


Dirumah sakit ini, semua perlengkapan medis tersedia disana. Lalu bersama para rekan seprofesi, Operasi pun akan segera dilakukan.


Yang bertugas sebagai dokter bedah saat itu adalah dokter David.


Diluar tampak Yuda bersama Andika duduk dengan resah diruang tunggu, jantung Yuda berdebar tak menentu saat itu. Tiba-tiba saja Yuda teringat dengan Mamanya, dan Yuda langsung menghubunginya.


“Assalamu’alaikum, Ma ! ini aku Yuda.”


“wa’alaikum salam, kamu Yud, ada apa? kenapa malam- malam begini menelfon Mama?” tanya Kartini heran.


“Aku sedang di rumah sakit saat ini, Ma.”

__ADS_1


“Di rumah sakit? Siapa yang sakit sayang?” tanya Kartini penasaran.


“Nayla, Ma! Nayla menderita kangker Rahim.”


“Apa, kangker rahim? astagfirullah, lalu gimana perkembangannya saat ini, Yud?”


“Dia baru saja masuk kedalam Ma, dokter saat ini sedang bekerja.”


“Oh, semoga saja istrimu cepat sembuh ya, nak.”


“Iya, Ma! terimakasih do’anya."


“Iya, sama-sama sayang.”


“Ma, saat ini Yoga ada bersama Mama nggak?”


“Nggak tuh, Yoga kan sedang mengajar.”


“Handphone nya setiap aku hubungi, tak pernah diangkat, nanti kalau dia kembali, tolong Mama kabari dia.”


" Ya baiklah, nanti biar Mama coba menghubunginya."


Sesaat kemudian, setelah Yuda selesai bicara dengan Mamanya, lalu tiba-tiba saja David keluar dari ruang operasi.


Yuda pun berlarian menyongsongnya dan mengira operasi telah selesai dilaksanakan.


“Yuda!” kata David, seraya menggenggam tangan Yuda dengan erat.


“Ada apa, Vid?” tanya Yuda heran.


“Istrimu tidak jadi dioperasi!”


“Iya, kondisi tubuhnya, tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi. Fisiknya terlalu lemah, detak jantungnya pun tidak lagi stabil, jadi kami memutuskan untuk membatalkan operasinya.”


“Pada hal tadi saat kita periksa, semuanya normal kan, Vid? jadi kok bisa berubah?”


“Iya, semuanya mungkin saja terjadi. Biar Nayla istirahat dulu, kita lanjutkan operasinya nanti saja, kalau kondisi tubuhnya sudah stabil.”


“Iya, baiklah. Terimakasih atas informasinya."


Setelah mendapat informasi dari dr. David bahwa operasi Nayla gagal, dr Yuda langsung masuk kedalam kamar perawatan Nayla.


Andika yang melihat Mamanya terbaring tak bergerak, hatinya menjadi begitu cemas.


“Pa, apa Mama udah nggak ada?”


“Kata siapa sayang? Mama Andika masih ada kok,” jawab Yuda dengan pelan


“Tapi kenapa Mama nggak bergerak?”


“Siapa bilang Mama nggak bergerak! tuh tengok, perut Mama aja masih bergerak."


Mendengar keterangan dari Yuda, hati Andika menjadi tenang, rasa takut akan kehilangan Mamanya pun tak lagi ada, dengan senyum manis di bibirnya, Andika pun berlarian keluar.


“Sayang! jangan jauh-jauh ya, Nak!”


“Baik, Pa!” jawab Andika seraya berlari kian kemari.

__ADS_1


“Hai ganteng!” sapa seorang perawat pada Andika.


“Tante, Tante!”


“Apa sayang?”


“Kata Papa, Mama aku masih hidup, Tante.”


“Tentu sayang, Mama Dika kan kuat, pasti dia bisa melewatkan banyak hal.”


“Ooo, gitu ya!”


“Kalau Dika tau Mama masih hidup, kenapa masih bonyok gitu? senyum dong!"


“Tante, aku takut, Mama sakitnya lama.”


“Dika jangan berfikiran seperti itu, do’a kan Mama cepat sembuh, kan do’a anak yang sholeh itu dikabulkan Allah.”


“Iya, Tante,” kata Andika sembari mengangkat kedua tangannya.


” Ya Allah, sembuhkan Mama aku ya Allah. Amin!”


“Aamiin! Ternyata Dika hebat juga ya, bisa mendo’akan Mamanya yang lagi sakit.”


“Kata Papa, kita harus banyak berdo’a, agar orang yang kita sayangi nggak pergi meninggalkan kita.”


“Oooh ! Sayang, Tante jadi terharu,” kata perawat itu seraya memeluk tubuh Andika dengan penuh kelembutan.


Tak terasa sudah dua hari terlewatkan, Yuda dengan penuh kelembutan merawat istrinya sambil bekerja, sementara Andika diantarkan ke penitipan anak. Disana Andika merasa senang, karena banyak anak-anak yang sebaya dengannya yang dititipkan orang tua mereka, karena bekerja.


Sementara itu, Yoga yang hampir setiap hari pulang dan pergi ke restoran untuk mencari Mutia, hingga saat itu masih belum ketemu.ingin sekali dia melaporkan kejadian itu pada keluarga Mutia, tapi Yoga tak punya nyali untuk itu.


“Aneh? udah sekian hari Mutia menghilang, tapi kenapa orang tua Mutia tenang-tenang aja ya? apa Mutianya udah kembali atau belum.” Kata Yoga pada diri sendiri.


Tak ingin membuang-buang waktu, Yoga memberanikan diri datang kerumah Mutia, tapi rumah itu tampak begitu sepi, saat bel rumah dibunyikan, tak seorangpun yang muncul untuk membukakan pintu.


“Pada kemana ya mereka semua? atau mereka semua sedang mencari keberadaan Mutia? aduuuh! aku jadi pusing deh,” gerutunya dalam hati.


Karena merasa penasaran, Yoga mencoba untuk menunggu, hingga dua jam lebih didepan rumah Mutia, namun tak seorangpun yang datang kerumah itu.


Merasa jengkel, Yoga pun kembali kerumah dinasnya, seperti yang dia lihat, sudah tiga hari Mutia tidak sekolah, bangku tempat duduknya dibiarkan kosong begitu saja.


Bu Meri yang kebetulan mengajar waktu itu, didatangi oleh Yoga, untuk diminta keterangannya, soal Mutia.


“Mutia nggak masuk hari ini, Pak. Kami juga tak mendapat informasi dari keluarganya.”


“Kemaren dia juga alfa!” timpal Bu Surya.


“Aneh, biasanya, kalau Mutia absen pasti ada laporan dari keluarganya,” sambung Pak Cipto.


“Kemana dia ya? kenapa tak ada kabar berita sama sekali. Mana ponsel ku dibawa lagi,” tanya Yoga pada dirinya sendiri.


Sembari berfikir, Yoga terus saja berjalan, hingga kakinya kesandung di teras sekolah.


“Hei kenapa kamu Yog? tanya Dion, saat melihat Yoga hampir terjatuh.


“Eh, kamu Yon,” jawab Yoga sedikit malu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2