
Disaat Yoga bersenang-senang dengan murid dan kekasihnya, waktunya pun habis untuk kesibukan itu, tampa sedikitpun terpikirkan olehnya Nayla.
Padahal Nayla tak pernah melupakan dirinya, sesibuk apapun pekerjaan dalam mengurus butik dan keluarga. Nayla masih selalu berharap Yoga akan datang dan memeluk tubuhnya dengan penuh mesra.
Disaat-saat sepi Nayla selalu menangis, memikirkan pria yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Nayla selalu berharap Yoga akan memperhatikannya walaupun hanya mengirimkan sepucuk surat cinta padanya.
“Bang Yoga, kenapa kau begitu kejam padaku, huhuhuk!”
Kata-kata Nayla yang menyebut nama Yoga di sana, sempat di dengar oleh pak Darman, orang kepercayaannya.
Pak Darman merasa sedikit heran, ditambah lagi Nayla sempat meneteskan air mata saat menyebut nama Yoga, kecurigaan pak Darman mendapat keyakinan yang pasti. Kalau Nayla telah berselingkuh dengan saudara kembar suaminya itu.
Karena merasa yakin, pak Darman mencoba bertanya pada Nayla.
“Ada apa Bu? Ibu baik-baik saja?”
“Oh, pak Darman. Apa bapak sedari tadi disini?”
Pak Darman yang tak ingin ikut campur urusan majikannya, terpaksa harus berbohong, agar majikannya tak merasa malu atau takut atas perbuatannya.
‘Ooo, nggak! kebetulan tadi Bapak lewat, lalu Bapak melihat Ibu menangis jadi Bapak bertanya, tapi Ibu baik-baik saja kan?”
“Iya, saya baik-baik saja kok Pak, ayo kita pulang!”
“Baik, Bu,” jawab pak Darman seraya berlari, menuju mobilnya.
Seakan terasa begitu mengganjal didalam hati, tentang apa yang barusan didengar oleh pak Darman, soal pria yang dirindukan oleh Nayla. Tapi dia tak bisa melangkah terlalu jauh tentang urusan itu.
Mungkin saja itu suatu rahasia di hati Nayla yang orang lain tak boleh tau.
Sebulan kemudian Nayla pergi lagi ke butiknya, yang diantar oleh pak Darman, tapi setelah masuk kedalam butiknya, Nayla tak muncul-muncul lagi.
Sudah hampir satu jam sopir setia itu menunggunya, disebuah warung nasi yang ada diseberang jalan. Namun Nayla tak datang juga menemuinya.
Padahal selama ini, bila ke butik, Nayla hanya berbincang-bincang sebentar lalu pergi dan lanjut ke butik yang lain. Karena sudah lama tak muncul, Darman pun masuk kedalam butik itu dan bertanya pada salah seorang karyawannya.
“Ooo, Ibu sudah keluar dari tadi Pak!”
“Kapan Ibu keluar?” tanya Darman heran.
“Sekitar lima jam yang lalu.”
“Apa Ibu ada berpesan pada kalian, kemana dia pergi?”
“Nggak Pak, tapi Ibu kelihatan murung sekali hari ini,” jelas karyawannya.
“Nayla, Nayla. Kemana sebenarnya kamu Nay, kenapa pergi diam-diam?” kata Darman pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Lama Darman menunggu dan merenung, hingga diputuskannya untuk menunggu sampai Nayla kembali.
Sementara itu, Nayla yang hendak mencari keberadaan Yoga, sudah berkeliling puluhan kali, namun tak ada petunjuk tentang keberadaan pria pujaannya itu.
Karena saat itu Nayla tak punya alamat Yoga untuk dicari, jadi dia hanya mengira-ngira saja. Hingga saat sore, Nayla memutuskan untuk kembali ke butiknya.
“Pak Darman udah makan?” tanya Nayla yang mengagetkan sopirnya itu.
“Oh, eh! Ibu udah datang? belum Bu!”
“Kenapa Bapak nggak makan duluan? nanti sakit lho.”
“Tapi Bapak nggak bawa uang Bu.”
“Tapi Bapak kan bisa pesan duluan.”
“Bapak nggak berani Bu.”
“Bapak itu kan bukan orang baru dalam kehidupan Nay, jadi nggak usah sungkan, jika bapak butuh atau perlu katakana saja, Nay pasti mengabulkannya.”
“Baik Bu,” jawab Darma lembut. "Tadi Ibu kemana sih?”
“Nay tadi ada urusan sebentar, Pak.”
“Sebentar? Wah, Ibu kayaknya udah mulai ngawur deh, masa perginya satu hari dibilang sebentar.”
“Tapi, Nay kan udah kembali.”
“Udah-udah! ini uang, Bapak pergi cari makanan dulu, biar Nay tunggu di mobil,” kata Nayla dengan suara lembut.
“Baik Bu,” jawab Darman seraya bergegas meninggalkan Nayla di mobil.
Semenjak hari itu, Nayla sering kali pergi diam-diam tampa sepengetahuan Darman sopir kepercayaannya. Tapi karena rasa setianya pada majikannya, Darman tak pernah buka mulut.
Dia memendam sendiri apa yang selama ini dirasakan dan dialaminya. Dalam hatinya Darman selalu ingin tau kenapa Nayla selalu pergi diam-diam. Ingin sekali Darman mengikuti Nayla secara, tapi dia tak berani.
Sementara itu Nayla yang selalu nekad, untuk mencari keberadaan Yoga, akhirnya dia menemui rumah dinasnya.
Tampa disadari Yoga sama sekali, tau-tau Nayla sudah berada didalam rumahnya.
“Astagfirullah, Nay?” kata Yoga heran, saat didapatinya Nayla sudah duduk di atas ranjang kamarnya.
“Kenapa, kau kaget Bang?”
“Nggak, aku nggak kaget. Tapi kapan Nay nyampe disini?”
“apa perlu kau tau?”
__ADS_1
“Nggak sih!”
“Lalu kenapa kau bertanya?”
Yoga diam saja, dia hanya mencoba merangkul tubuh Nayla kedalam pelukannya, tapi Nayla merasakan pelukan itu sangat dingin, dan secepat itu pula Nayla mendorong tubuh Yoga yang berada dihadapannya.
“Ada apa Nay? kenapa kau mendorong Abang?” tanya Yoga heran.
Namun Nayla diam saja,kepalanya hanya ditekuk dan tak sepatah kata pun yang dia ucapkan saat itu.
Melihat hal itu, dengan tenang Yoga pun duduk disisi Nayla, kebisuan diantara mereka seakan-akan menjawab apa yang sedang terjadi, dengan cepat Yoga pun menanggapinya, dan segera meminta maaf pada Nayla.
“Maafkan Abang Nay, bukan maksud Abang mengecewakanmu, tapi karena kesibukan, sehingga Abang tak punya waktu untuk mengabari mu."
“Termasuk Mama?”
“Iya, Mama juga belum Abang kabari.”
“Keterlaluan kau Bang, bukan Nay sendiri yang Abang kecewakan, tapi orang yang melahirkan dan memberi kehidupan padamu pun kau kecewakan.”
“Liburan ini, Abang berencana akan menemui Mama dan Yuda.”
“Terserah mu!” kata Nayla seraya berdiri dan pergi menjauhi Yoga. ” Maaf, Nay harus pulang, nanti Bang Yuda kuatir.”
Tentu saja dia kuatir, karena Nay adalah istri yang paling dicintai dan disayanginya.”
“Nay nggak mengerti maksud Abang apa?"
“Kau mengabaikan Abang kali ini Nay.”
“Bukankah Abang, yang selama ini mengabaikan Nay?”
“Abang nggak mengabaikan mu, Nay.”
“Lalu apa? Abang pergi, dan tak pernah memberi kabar sama sekali, seperti hilang ditelan hantu, Abang tau, Nay udah capek mencari keberadaan Abang setiap hari. Nay capek!” kata Nayla begitu kesal sekali.
“Tapi Abang udah minta maaf bukan.”
Nayla diam saja dia tak menanggapinya sama sekali, dengan lembut, Yoga pun mendekatinya dan mengecup bibir Nayla dengan mesranya.
Nayla tak menolaknya tapi diapun tak bereaksi sama sekali. Rasa sakit karena kelakuan Yoga belum terobati sama sekali.
Lalu Yoga pergi ke dapur dan membuatkan segelas teh hangat untuk Nayla.
“Minumlah Nay, kau pasti haus,” kata Yoga seraya menyuguhkan teh hangat itu ke tangan Nayla.
Walau dalam keadaan kesal, Nayla tetap mengambil teh hangat itu dari tangan Yoga.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*