Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 108 Kesal


__ADS_3

Di saat Siska hendak menghampiri, Yoga langsung menghembus kan asap rokoknya kewajah Siska.


“Ih! Yoga nakal deh!”ucap Siska manja.


“Habis adik mu melarang aku masuk.”


“Maafkan Rena ya Yog, dia itu hanya mengikuti perintah dari Siska.”


“Nggak apa-apa, lagian aku nggak marah kok.”


“Ayo masuk, kebetulan didalam ada Rangga yang lagi bertamu.”


“Ooo, kamu lagi kedatangan tamu ya?”


“Iya, ayo masuk, kita minum bersama didalam,” ajak Siska pada Yoga.


“Kalau kamu kedatangan tamu, biar aku besok aja kesini nya.”


“Kenapa?”


Yoga tak menjawab pertanyaan dari Siska, dia hanya berlalu begitu saja meninggalkan Siska yang lagi menatapnya dengan tanda tanya.


“Permisi!”


“Iya.”


Hati Siska merasa sedikit tersakiti oleh kelakuan Yoga padanya. Tapi akhirnya Siska pun menyadari kalau Yoga tak ingin hubungan Siska dengan Rangga jadi rusak hanya karena kehadiran dirinya.


Secara perlahan Siska pun masuk kedalam rumah, hatinya sedikit bimbang antara Rangga dan Yoga, siapa yang mesti dia pilih.


“Siapa yang datang Sis?” tanya Rangga ingin tau.


“Nggak tau, Rena udah mengusirnya tadi,” jawab Siska berbohong.


“Jadi gimana Sis, kamu terima lamaran ku ini kan?”


“Aduh, gimana ya Rangga, Siska jadi bingung.”


“Bingung kenapa?”


“Rasanya Siska belum kepingin cepat-cepat berumah tangga, Rangga.”


“Belum kepingin gimana maksud mu?”


“Ya belum kepingin aja!”


“Ah, kayak nya udah nggak benar kamu ini Sis, ingatlah umur kita berdua udah sepatutnya untuk berumah tangga, apa kamu harus menunggu kita tua dulu baru menikah?”


“Bukan begitu maksud Siska, Rangga!”


“Lalu apa maksud nya?”


“Siska kepingin mengurus adik-adik dulu.”


“Kan ada aku Sis, aku yang akan bantu nantinya!”


“Tapi Rangga!”


“Ah, udahlah, pokoknya kita secepatnya akan menikah!”


“Lalu gimana dengan Mama mu yang masih dalam penjara?”


“Nanti akan ku beri tau.”


“Berarti Mama mu nggak ikut menyaksikan pernikahan kita dong.”

__ADS_1


“Gimana dia bisa ikut Sis, tapi dia kan dalam penjara!”


“Gimana kalau kita nunggu Mama dulu keluar dari penjara.”


“Alasan apa lagi untuk menolak ku, Sis?”


Siska diam saja, dia hanya bisa menundukkan kepalanya, karena memang tak ada lagi yang bisa dia jawab saat itu.


“kalau kita harus menunggu Mama keluar penjara dulu, berarti kamu benar-benar udah menolak Sis,” ujar Rangga sembari meraih jaket kulitnya dan pergi meninggalkan Siska.


Saat itu Siska memang dalam dilema yang sangat berat, dia begitu bingung harus memilih siapa diantara keduanya. Untuk itu Siska mencoba merenung diri dulu untuk beberapa hari.


Sementara itu Yoga yang udah mengetahui hubungan Siska dan Rangga kembali membaik, pagi itu juga dia kembali kesekolah demi memperbaiki hubungannya dengan Mutia, gadis cantik pujaan hatinya.


Seperti biasa Yoga mengajar dikelas yang sudah di jadwal jam oleh raganya, waktu itu ada seorang anak yang mengalami kejang otot, dan Yoga sebagai guru olah raga cepat melakukan tanggapan.


Anak itu dilarikan keruang UKS, guna mendapatkan pertolongan pertama, biasanya PMR telah siap siaga membantu mereka yang mengalami cidera otot, tapi untuk saat itu, tak ada seorang pun yang bergerak.


“Siapa yang saat ini sedang bertugas sebagai, PMR nya?” teriak Yoga pada semua murid yang saat itu berkumpul didepan kantor.


“Nggak ada Pak!” jawab seorang murid.


“Kenapa nggak ada? kemana Mutia?” tanya Yoga pada semua murid.


“Mutia udah seminggu nggak masuk, Pak!”


“Kemana dia?” tanya Yoga ingin tau.


“Dia sakit, Pak!”


“Sakit, sakit apa?” tanya Yoga seraya menurunkan nada suaranya.


“Nggak tau pak, tapi kata Mira dia lagi diopname di rumah sakit.”


Mendengar perintah Dari Yoga, Tio langsung berlari mencari Sintia untuk menggantikan Mutia merawat para siswa yang mengalami cidera ringan.


Setelah anak didiknya mendapatkan pertolongan, Yoga langsung kembali kelapangan untuk melanjutkan olah raga.


Dua jam telah berlalu, jam pelajaran olah raga pun telah usai, semua murid kelas dua kembali mengikuti pelajaran.


Lesti, melihat Yoga masuk kedalam ruangan majelis guru, dia pun mengikuti langkah Yoga dari belakang. Yoga pun melirik Bu Lesti dengan sudut mata yang penuh amarah.


Lesti langsung duduk, dan tersenyum- senyum sendiri seraya menoleh keluar.


“Ada apa Bu?kenapa mengikuti saya?”


“Nggak ada apa-apa kok,” jawab Lesti berpura-pura.


“Mana Mutia, kenapa dia nggak kelihatan?”


“Dia anu, anu Pak!” jawab Bu Lesti gugup.


“Anu apa?” tanya Yoga seraya menampar meja yang ada dihadapan Bu Lesti.


“Dia sakit!”


“Sakit? sakit apa?”


“Nggak tau,” jawab Lesti ketakutan.


Melihat gelagat Bu Lesti, Yoga merasa sedikit curiga, dia yakin kalau sakitnya Mutia pasti ada hubungannya dengan Lesti. Ketika Lesti gemetaran karena menahan rasa takut, kesempatan itu dimanfaat kan Yoga untuk terus menekannya.


“Kalau Bu Lesti nggak mau bicara, maka saya akan laporkan hal ini ke kepala sekolah.”


“Tapi saya nggak berbuat apa-apa kok, Pak," jawab Bu Lesti membela diri.

__ADS_1


“Itu kan hanya pengakuan Bu Lesti saja, tapi kalau hal ini saya bawa ke hadapan kepala sekolah mungkin hal lain akan muncul nantinya.”


“Maksud Pak Yoga apa?”


“Saya yakin sakitnya Mutia pasti ada hubungannya dengan Bu Lesti.”


Karena merasa tertekan dengan Yoga, Lesti langsung keluar dari ruangan itu. Dion yang melihat Lesti berlari keluar, dia pun sedikit kaget, akan tetapi setelah di lihatnya ada Yoga di dalam, mereka berdua sama-sama mengangkat kedua bahunya.


“Kenapa Dia Yog?” tanya Dion heran.


“Dia mau mancing emosi ku naik, Dion.”


“Lesti selalu seperti itu, suka ngeselin kita.”


“Maksud mu apa Dion?”


“Apa kau nggak tau Yog, kalau Mutia masuk rumah sakit?”


“Nggak,” jawab Yoga seraya menggelengkan kepalanya.


“Dia habis bertengkar dengan Mutia di Perpustakaan, dan Lesti mendorong Mutia hingga kepala Mutia kena paku dinding.”


“Kapan kejadiannya Dion?”


“Sehari di saat kau pergi Yog!”


“Kurang ajar kau Lesti, akan ku balas kan sakit Mutia pada mu.”


“Waktu kejadian itu, Mutia nggak merasa apa-apa, akan tetapi setelah esoknya, Mutia mengalami kejang disekolah, dan kami membawanya kerumah sakit.”


“Berarti Mutia kena tetanus!”


“Iya Yog, hingga hari ini dia masih dirumah sakit.”


“Apa kalian udah laporkan kejadian ini ke kepala sekolah?”


“Belum Yog, nggak ada yang berani.”


“Kenapa?”


“Nggak ada yang mau melaporkannya Yog.”


Setelah mendengarkan cerita dari Dion, emosi Yoga langsung meledak, tampa disadari oleh Dion sama sekali Yoga langsung masuk keruangan Kepsek.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Kepsek seraya Menatap Yoga dengan mata melotot tajam.”


“Boleh saya duduk Pak?”


“Ooo, silahkan ! ada keperluan apa nak Yoga?”


“Mengenai Bu Lesti, Pak.”


“Ha, ada apa pula dengan Bu Lesti?”


“Sepertinya Bu Lesti kembali bikin ulah, dia bertengkar dengan Mutia.”


“Masalah apa lagi yang mereka perebutkan Nak Yoga?”


"Saya nggak tau Pak!”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2