Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 109 Masalah baru


__ADS_3

“Pasti masalah kamu lagi.”


“Waktu itu kan saya sedang nggak disini, Pak! jadi mana saya tau tentang pertengkaran mereka berdua.”


“Kamu memang nggak disini, tapi efek kamu disini itulah yang telah memicu pertengkaran mereka.”


“Jadi saya harus gimana pak?”


“Panggil Bu Lesti suruh dia menghadap saya sekarang juga!”


“Saya nggak mau Pak!”


“Kenapa? kamu takut?”


“Bukan itu masalahnya Pak.”


“Kan kamu bisa cari orang lain untuk memanggil nya.”


“Baiklah,” jawab Yoga dengan langkah terpaksa.


Setelah mendapat perintah dari Kepala sekolah, Yoga langsung keluar seraya memanggil seorang murid untuk menjemput Lesti .


“Saya mesti cari dimana Pak?” tanya Wirda.


“Di mana lagi, kalau bukan di kantin, dia pasti sedang mengisi perutnya yang nggak pernah kenyang itu.”


“Baik Pak,” jawab Wirda sembari berlari menuju kantin sekolah.


Sambil menunggu Bu Lesti datang, tampak suasana didalam ruangan kepsek sepi, Yoga dan Kepsek mereka sama-sama diam, tak ada permasalahan yang harus mereka bahas saat itu.


Tiba-tiba saja dari luar pintu diketuk, kepsek pun langsung mempersilahkan untuk masuk kedalam. Lalu dari balik daun pintu, Lesti pun muncul.


“Bapak memanggil saya?” tanya Lesti ingin tau.


“Ya, silahkan duduk.”


Tampa berfikir panjang, Lesti langsung duduk di samping Yoga, walau sama-sama diam tapi Lesti tau kalau Yoga telah melaporkan tentang pertengkarannya dengan Mutia.


“Kamu tau, kenapa Bapak memanggil mu?”


“Tau Pak,” jawab Lesti spontan.


Karena Lesti langsung menjawab, Yoga dan kepsek sama-sama saling beradu pandang.


“Jadi Bu Lesti udah tau ya?”


“Belum Pak.”


“Tadi katanya udah tau?”


“Itu karena saya gugup Pak.”


Jawaban lesti membuat Yoga terpaksa harus menahan ketawanya, Lesti yang melihat Yoga sedikit aneh, hal itu membuatnya kesal dengan menginjak kaki Yoga.


“Aww! kenapa Ibu menginjak kaki saya?”


“Hah, itukan! Ibu selalu saja mencari masalah, yang ini saja belum kita bahas, sekarang Ibu menginjak kaki Pak Yoga, berarti Ibu telah membuat masalah baru lagi.”


“Tapi Pak, Dia itu buat saya kesal.”


“Yang bikin kesal itu, Ibu. Selalu saja buat masalah disekolah ini.


“Saya nggak bikin masalah apa-apa kok, Pak!”

__ADS_1


“Nggak bikin masalah? lalu ada apa dengan Mutia yang hari ini masuk rumah sakit?”


“Itu karena dia cari gara-gara dengan saya,” jawab Bu Lesti dengan nada yang semakin meninggi.


“Ibu sadar nggak, dengan posisi ibu saat ini?”


“Nggak!” jawab Lesti polos.


“Ibu itu seorang guru disini ! seorang tenaga pendidik, untuk itu berikan contoh yang baik kepada semua murid, kalau Ibu itu adalah tauladan bagi mereka, bukan hanya membuat masalah terus!”


“Kalau itu mah, saya udah tau Pak,” jawab Lesti tanpa merasa takut sedikit pun.


“Aduh! kenapa nggak nyambung ya,” ucap kepsek kesal.


“Ibu mau saya keluarkan dari sekolah ini?”


“Jangan dong Pak! kalau saya berhenti lalu gimana saya menafkahi orang tua saya yang udah tua.”


“Berarti Ibu masih butuh kerja disekolah ini kan?”


“Iya, Pak .”


“Kalau begitu bersikap baiklah, tunjukkan pada semua murid, kalau Ibu itu benar-benar seorang guru.”


Mendengar nasehat dari kepala sekolah, Lesti merasa malu, dia pun keluar seraya menundukkan kepala, dari belakang menyusul Yoga yang telah minta izin untuk membesuk Mutia di rumah sakit.


Karena Lesti melihat Yoga keluar langsung menuju parkiran, hati Lesti merasa penasaran, lalu dengan perlahan dia langsung mengikuti Yoga dari belakang.


“Hmm, pasti dia lagi mau nyusul Mutia kerumah sakit!” gerutu Lesti kesal.


Sementara itu, Yoga yang mengetahui kalau Lesti sedang memperhatikan dirinya, dia diam saja. Setelah sepeda motornya menyala, Yoga langsung meninggalkan area parkiran untuk menuju rumah sakit tempat Mutia dirawat.


" Huuuh, dasar pria hidung belang!" gumam Lesti seraya memukul dinding sekolah.


Sebelum tiba dirumah sakit, Yoga menyempatkan diri membeli satu paket bunga yang sangat indah dan harum.


Seraya mematikan mesin kendaraannya, dengan santai Yoga langsung masuk kedalam. Diperjalanan dia berpapasan dengan seorang dokter.


“Oh maaf dok, boleh saya numpang tanya?”


“Ya, silahkan!”


“Di mana ya, ruang rawat Mutia? pasien yang mengalami kejang karena tetanus itu dok?”


“Ooo, dia ada di kamar 26.”


“Terima kasih, dok.


“Ya, sama-sama.”


Sesuai dari petunjuk dokter itu, Yoga langsung datang keruangan Mutia, benar saja didalam ruangan itu ada Pak Ramon dan Bu Sukesih yang sedang berjaga.


“Assalamua’laikum.”


“Wa’alaikum salam, Nak Yoga!”


“Iya Mama.”


“Silahkan duduk,” ucap Pak Ramon seraya memberi izin pada Yoga untuk duduk di sebelahnya.


“Udah berapa hari Mutia masuk rumah sakit, Pa?”


“Lho, lho! emangnya kamu kemana saat itu?”

__ADS_1


“Saya sedang cuti dan pulang kerumah Mama dikampung.”


“Ooo, gitu!”


“Mutia kena tetanus, Nak ! dia mengalami kejang dan sekolah langsung membawanya kerumah sakit ini.”


“Apa kata dokter, Ma?”


“Dokter nggak bilang apa-apa.”


Di saat Yoga bicara dengan Sukesih, Mutia pun langsung terjaga dari tidurnya. Yoga pun berdiri dan menghampiri Mutia yang masih tergeletak lemah.


“Gimana keadaan mu, sayang?”


“Aku baik-baik aja kok Bang.”


“Syukurlah, tapi nggak mendenyut lagi kan?”


“Nggak, kemaren iya, tapi untuk hari ini udah nggak mendenyut lagi.”


“Ini Abang bawakan bunga Untuk gadis yang paling cantik.”


Mutia pun tersenyum manis saat bunga itu diterimanya, matanya yang indah menatap tajam kearah Papa dan Mamanya. Pak Ramon dan Sukesih yang melihat, langsung menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih, Bang,” jawab Mutia tersenyum.


Melihat keduanya sedang duduk berduaan, Pak Ramon dan Sukesih langsung keluar dan membiarkan keduanya saling berbagi cerita.


“Kenapa lama sekali datangnya, Bang?”


“Kemaren sore Abang dari tempat Mama, ada acara disana.”


“Acara apa?”


“Adik angkat Abang masuk islam.”


“Maksudnya?”


“Sewaktu Abang pulang ke kampung, tak sengaja Abang menyerempet seorang Ibu tua, dan saat Ibu itu dirawat dirumah sakit, dia meninggal dunia.”


“Lalu?”


“Untung saja gadis itu nggak menuntut Abang, untuk minta dinikahi, coba kalau dia minta dinikahi kan bisa bahaya.”


“Huh, Abang bikin kesal tau nggak!”


Saat Mutia bermanja-manja dengan dirinya, Yoga sangat senang sekali. Di sana Yoga menilai Mutia sebagai sosok yang lembut dan tak pendendam.


Dengan lembut Yoga memegang tangan Mutia dan menciumnya berulang-ulang kali, dia benar-benar telah mengabaikan cinta tulus Mutia selama ini, yang selalu setia dan sayang pada dirinya.


“Kalau Tia tamat sekolah nanti, maukah Tia menikah dengan Abang?”


“Mau,” jawab Mutia polos.


“Lalu gimana dengan sekolah Tia?”


“Nggak tau.”


“Apa pernah Tia membahas masalah ini dengan Papa dan Mama?”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2