Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 74 Curhat


__ADS_3

“Terimakasih, sekarang Ibu boleh pulang.”


“Baiklah, saya permisi dulu.”


“Ya, silahkan.”


Setelah melaporkan kejadian itu pada polisi, Siska langsung menuju rumah sakit tempat dia bertugas.diperjalanan Siska bertemu dengan Dr. Yuda yang saat itu sedang berjalan kaki.


“Bukankah itu, Yuda ?” tanya Siska pada dirinya sendiri.


Lalu Siska memperlambat laju kendaraannya, untuk memastikan apakan benar penglihatannya saat itu, atau tidak, setelah benar-benar yakin dengan penglihatannya, langsung saja Siska memanggil Yuda.


Benar saja saat Namanya dipanggil seseorang, Yuda pun langsung saja menoleh kearah datangnya suara itu.


“Hei, kenapa jalan ?”


“Mobilku pecah ban, di sana !”


“Kenapa nggak panggil tukang derek aja ?”


“Udah, saat ini mobil ku udah mereka bawa ke bengkel.”


“Mau numpang !”


“Boleh, kalau diizinkan.” Jawab Yuda.


“Tentu, silahkan !” jawab Siska seraya membukakan pintu mobilnya untuk Yuda.


“Terimakasih.” Jawab Yuda sembari masuk kedalam mobil milik Siska.


Setelah Yuda masuk kedalam, Siska langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


“Gimana keadaan istrimu, Yud.”


“Entahlah Sis, aku semakin mengkuatirkan keadaannya saat ini.”


“Kenapa ?” tanya Siska ingin tau.


“Nayla udah tiga kali menjalani operasi !”


“Apa ? udah tiga kali operasi ?”


“Ya, aku nggak tega melihatnya saat ini Sis, tubuhnya semakin hari semakin bertambah kurus.”


“Gimana itu, Rangga ! katanya dia seorang ahli bedah profesional, tapi nyatanya tak seperti yang disebut orang.”


“Aku saat ini udah pasrah, dengan penyakit yang diderita Nayla, apa lagi saat wanita yang disebelah tempat tidurnya meninggal dunia, Nayla tampak begitu terpukul sekali.”


“Maksud mu.”


“Nayla sering kali berhalusinasi, dia mengira, Asih sering datang mengunjunginya dan mengajaknya pergi, sehingga, aku membawanya pindah kerumah sakit Yos, tempat aku bertugas.”


“Lalu gimana keadaannya selama di sana ?”


“Alhamdulillah ! jika dirumah sakit Yos, Nayla tampak tenang dan biasa-biasa saja.”


“Syukurlah kalau dia merasa cocok selama disana.”


“Ya, syukurlah, dia merasa senang disana, lagian ada perawat yang selalu mengurus kebutuhannya disaat aku nggak berada disana.”


“O iya, yud ! ada yang ingin Siska katakan pada mu.”

__ADS_1


“Apa itu Sis ?” tanya Yuda ingin tau.


“Tadi malam ada orang yang ingin mencelakai Siska.”


“Mencelakai gimana maksud mu ?” tanya Yuda seraya mengernyitkan keningnya.


“Setelah Rangga, keluar dari rumah malam tadi, lalu tiba-tiba saja empat orang pria datang mengetuk pintu, Siska kira itu adalah Rangga yang kembali lagi, namun ternyata yang datang saat itu adalah orang yang akan menculik Siska.”


“Astagfirullah ! benarkah itu, Sis.”


“Iya Yud, untuk apa Siska bohong, tapi saat Siska dibawa kesebuah desa dan disekap disana, lalu seorang wanita muncul untuk menyiksa Siska,


“Seorang wanita ?”


“Ya, dan wanita itu, berkata jangan pernah mendekati rangga lagi, tapi kamu tetap saja mendekatinya.”


“Menurut pendengaran mu saat itu, apakah suara itu seperti suara orang tua atau suara anak muda ?”


“Siska ragu, karena saat itu mereka melakban mata dan telinga Siska, jadi Siska ragu untuk mengenal suara siapa saat itu.”


“Aneh, tiba-tiba saja ada orang yang menculik mu ?”


“Tapi setelah Siska menyebutkan nama Siska, lalu perempuan itu langsung berhenti menyiksa Siska dan diapun pergi seraya memukuli keempat orang bayarannya itu.”


“Kalau dari cerita mu tadi, kita bisa menyimpulkan, kalau mereka pasti salah culik orang saat itu.”


“Tadinya Siska merasa begitu.”


“Apa Siska, nggak punya barang bukti untuk dilaporkan ke polisi ?”


“Nggak, Siska nggak punya barang bukti apa pun, Yud.”


“Kalau untuk membuktikan Siska benar-benar diculik, Siska harus memiliki barang bukti yang akurat, kalau nggak ada, polisi akan menunda-nunda terus pemeriksaannya.”


“Sebenarnya itu hanya sebagai pelengkap berkas mereka dalam penyelidikan aja, biar gampang untuk menyelidikinya.”


Siska pun manggut-manggut, saat Yuda menerangkan sesuatu padanya, disaat itu otaknya pun terus berputar ke penculikan malam itu, Siska mengingat satu persatu, kejadian malam itu secara detail.


Lalu Siska pun ingat sesuatu, saat perempuan itu memukul kepala keempat orang suruhannya, Siska mendengar ada balok kayu yang dibuang saat itu.


“Ya, Siska ingat sesuatu !”


“Apa itu ?


“Balok kayu, yang dipakai perempuan itu untuk memukul keempat pria bayarannya, kelihatannya, perempuan itu benar-benar marah, sehingga dia memukuli orang bayarannya.”


“Berarti, kalau Siska adalah korban salah culik, berarti perempuan itu masih mencari korbannya dong.”


“Ya,”


“Apa kamu masih ingat tempat penyekapan itu Sis ?”


“Siska udah lupa, Yud !”


“Coba Siska ingat-ingat dulu, karena kalau laporan Siska ditanggapi polisi, maka mereka pasti minta tempat kejadian perkara untuk penyelidikan.”


“Aduuh ! kayaknya tambah merepotkan Siska ya ?”


“jangan bicara seperti itu Sis, jika kasus ini nggak ditangani secepatnya, bisa jadi akan ada lagi korban berikutnya yang akan menyusul.”


“Iya, Yud !” jawab Siska, yang sangat mengerti dengan maksud Yuda saat itu.

__ADS_1


“Eh ! Kayaknya kita udah nyampe ini, Sis.”


“Iya, Yud ! apa perlu Siska anterin masuk, sekalian mau nengok in Nayla.”


“Benar mau nengok in Nayla.” ledek Yuda seraya tersenyum.


“Ih, kamu ! mulai !”


“Nggak, ayo ! kalau mau nengok in Nayla.” Kata Yuda yang duluan turun dari dalam mobil.


Lalu mereka berdua langsung saja masuk kedalam, untuk menemui Nayla yang terbaring lemas diruangan rawatnya.


Disaat Siska muncul didepan pintu, jantung Nayla mulai terasa bergetar kuat, apa lagi dibelakangnya ada Yuda yang mengiringi nya. Tapi Nayla mencoba untuk tenang.


“Hai, Nay ! gimana keadaan mu, saat ini.”


“Nay, udah mulai baikan kok.”


“Gimana bekas jahitannya, apa udah mulai mengering ?”


“Udah Sis, hanya saja terkadang masih terasa mendenyut.”


“Nay harus rajin meminum obatnya, agar rasa sakitnya cepat mereda.”


“Iya, Sis.” Jawab Nayla pelan


Setelah Siska, memberikan simpatiknya pada Nayla, lalu diapun menghampiri Yuda yang saat itu sedang duduk di sofa, Siska langsung saja duduk disisi Yuda, dan mereka saling bercengkrama berdua.


Hati Nayla terasa sakit sekali melihat hal itu, ingin rasanya dia, menjerit sekuat-kuatnya, hingga Siska segera meninggalkan suaminya.


Pandangan matanya yang tajam kepada Yuda membuat Yuda mengerti kalau Nayla tak suka melihat kehadiran Siska di kamarnya.


“O iya, Sis, aku mau keruangan ku dulu, ada berkas yang harus ku selesaikan pagi ini.”


“Ooo, baiklah ! kalau begitu Siska mohon pamit, karena Siska juga hendak kerumah sakit.”


“Ya, silahkan.” jawab Yuda.


“Cepat sembuh Nay, jangan lupa makan obatnya !”


“Iya, terimakasih, Sis !”


“Sama-sama.” Kata Siska yang langsung meninggalkan ruangan Nayla.


Setelah Siska pergi, Yuda menatap Nayla dengan penuh tanda tanya, perasaan marahnya ingin sekali diluapkannya saat itu. tapi sebelum rasa amarah itu terucapkan, Nayla udah berkomentar duluan.


“Nay nggak suka perempuan itu ada bersama mu Bang ?”


“Kenapa ? apa salah, kalau Siska datang untuk membesuk mu.”


“Itu hanya alasannya saja, agar selalu bisa bersama mu.”


“Nggak, Nay ! tadi Abang !”


“Tadi apa, Bang ?”


Tak ingin mencari bahan pertengkaran dengan istrinya, Yuda pun mengurungkan niatnya untuk menjelaskan apa yang telah dialaminya sebelum datang kerumah sakit.


“Nggak jadi.” Jawab Yuda seraya meninggalkan Nayla sendirian.


“Abang mau kemana ?” tanya Nayla ingin tau.

__ADS_1


Bersambung...


.


__ADS_2