
“Kau melihat apa?”
“Aku melihat kak Nayla sedang menangis?”
“Kau melihat Nayla sedang menangis?”
“Iya, Ma.”
“Dimana nak?”
“Di pemakaman tadi, dan aku menghampirinya.”
“Lalu kau melihat wajahnya?”
“Nggak Ma, dia menyembunyikan wajahnya dari aku.”
“Aneh, tapi kamu nggak kemana-mana saat itu Ningsih, kamu ada bersama kami, didekat Mama nak?”
“Tapi aku tadi pergi Ma!”
Yuda yang mendengarkan perkataan Ningsih jadi penasaran dan mencoba bertanya pada Ningsih apakah ada Nayla berpesan sesuatu atau tidak.
“Iya, kak! kak Nayla bilang kalau dia kedinginan dan dia juga ketakutan.”
“Oh, sayang,” apa yang telah kau lakukan di belakang ku sehingga untuk memakamkan jasad mu saja kami jadi kewalahan.
Ningsih yang melihat Yuda bersedih, hatinya menjadi begitu iba, hanya dia seorang yang tau apa yang selama ini di perbuat Nayla sepeninggal suaminya bila pergi.
Akan tetapi Ningsih telah berniat untuk tetap menyimpan rahasia itu, karena dia tak ingin antara Yuda dan Yoga terjadi perselisihan yang mengakibatkan hancurnya tali persaudaraan mereka berdua.
“Yang sabar ya kak, dibalik ini semua pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya, hanya saja kita belum mengetahui apa yang akan terjadi di hari berikutnya.”
“Ningsih benar Yud, kuatkan hati mu, perbanyak berdo’a, semoga Allah mengampuni dosa istrimu, dan dilapangkan kuburnya serta ditempatkan pada tempat yang layak di sisinya.”
“Iya, Ma,” lirih Yuda pelan.
Sementara itu, Yoga dan Siska tetap berada dirumah sakit, untuk menjaga bayi Yuda yang masih dalam incubator.
“Kasihan sekali Nayla ya, Bang?”
“Iya, sayang! kasihan kita pada bayinya yang baru melihat dunia tapi kehilangan Ibunya.”
“Begitulah hidup, kita sendiri belum tentu, apakah nasib kita beruntung di kemudian kelak atau malang yang akan kita rasakan.”
“Ya, kamu benar Sis.”
“Kalau Abang ingin melihat pemakaman Nayla, pergilah, biar aku yang jaga sikecil disini.”
“Nggak Sis, kita sama-sama menjaga bayi yang lucu ini.”
__ADS_1
Karena suaminya ingin bersama dengan dirinya, Siska merasa senang sekali. Dua hari sudah Nayla pergi meninggalkan mereka semua, Kartini dan Ningsih masih berada dirumah dinas Yuda untuk menjaga Andika yang sakit karena sedih.
Sementara Yuda, dia kembali kerumah sakit, untuk menjaga bayinya yang masih dalam pantauan rumah sakit.
Tak terasa waktu pun terus berjalan, mengiringi hari yang terus berganti. Yoga yang mengambil cuti pernikahan selama dua minggu, kini telah berakhir dan dia harus kembali kesekolah guna melanjutkan karirnya sebagai guru olah raga.
Begitu juga dengan Siska yang saat itu sebagai seorang dokter, dia juga harus mengemban tugas yang telah disandarkan di pundaknya.
Di SMA Pembina Bangsa, rupanya Mutia sudah mengetahui pernikahan yang di lakukan Yoga bersama Siska. Hatinya begitu sakit sekali, ketika melihat Yoga muncul di gerbang sekolah, Mutia langsung berlari untuk menghampiri Yoga.
Tangannya yang lembut mencoba menampar wajah Yoga, dihadapan banyak siswa. Untung saja, Yoga seorang ahli bela diri, sehingga dia bisa menolak tamparan itu, hingga Mutia tersungkur kearah dirinya.
“Ya Allah, Mutia!”
“Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor itu!”
“Apa maksud mu?”
“Kau penghianat Bang, kau jahat!” teriak Mutia di hadapan teman-temannya.
Takut Mutia merasa malu, lalu Yoga mengajak Mutia keluar gerbang sekolah dan duduk di taman kota.
“Kenapa kau memukuli Abang Mutia?”
Mutia diam saja, hatinya masih terasa begitu kesal sekali, ingin sekali rasanya dia mencakar-cakar wajah Yoga hingga berdarah.
“Kenapa diam! apa menurut mu Abang ini udah menjadi penjahat di mata mu?”
“Apa maksud mu Mutia, Abang semakin nggak mengerti?”
Mutia diam saja, di hanya menunjukan Video yang telah di siarkan secara langsung oleh Siska.
“Astagfirullah, habis aku,” gumam Yoga pada dirinya sendiri.
“Masih menyangkal! kau laki-laki munafik, Bang.”
“Tia, sebenarnya Abang bisa jelaskan kenapa semua itu Abang lakukan.”
“Nggak perlu dijelaskan, aku udah tau semua tentang kebusukan Abang.”
“Nggak bisa gitu dong, Tia!”
“Nggak bisa apanya?”
“Semua ini bukan hanya karena kesalahan Abang semata, tapi juga karena Papa dan Mama mu.”
“Kau nggak perlu bawa Papa dan Mama untuk menutupi kebusukan mu itu!”
“Ini bukan masalah menutupi kebusukan siapa Tia? hari itu Papa mu menyetujui pernikahan kita, tapi ternyata itu hanya tipuan mereka saja tia, mereka nggak serius dengan ucapannya.”
__ADS_1
“Dari mana Abang tau kalau Papa dan Mama nggak serius dengan ucapannya?”
“Ketika Abang menyuruh Yuda untuk menanyakan hal serupa, ternyata Papa mu membuat alasan, kalau dia ingin kau melanjutkan kuliah dulu.”
“Jadi benar apa yang dimaksud papa itu? dia ingin aku melanjutkan Kuliah di Jerman, agar kita saling berjauhan.”
“Iya, karena Yuda merasa tersakiti oleh permainan keluarga mu, itulah sebabnya, Yuda menjodohkan Abang dengan Siska, dia seorang dokter.”
“Tapi Abang tak pantas berbuat seperti itu padaku!” teriak Mutia dengan sura keras.
“Abang nggak bisa menolak permintaan Yuda Tia, dia itu saudara Abang satu-satunya.”
“Abang jahat!” teriak Mutia dengan deraian air mata.
Mutia berlari kedalam kelas, Mira yang melihat Mutia menangis tak dapat berbuat apa-apa, karena semua orang di sekolah sudah menyaksikan sendiri acara pernikahan yang dilakukan Yoga dengan Siska.
Hati Mutia begitu hancur sekali, sepulangnya dari sekolah, Mutia langsung menemui Papa dan Mamanya. Sembari memperlihatkan Video pernikahan Yoga.
“Papa dan Mama sudah puas kan? ternyata ini yang kalian inginkan,” ucap Mutia seraya terhenyak di atas sofa.
“Tapi, tujuan kami baik Tia, kami ingin kau melanjutkan cita-cita mu dulu, untuk apa menikah secepat itu, kau masih muda dan cantik."
“Lalu kalau aku kuliah ke Jerman dan dapat jodoh orang kaya dan punya Pendidikan bagus, tapi seminggu menikah dan aku di ceraikan, apa itu yang kalian inginkan?”
“Mutia jaga ucapan mu, ingat kau sedang bicara dengan siapa!”
“Aku tau batasan ku, Ma.”
“Kalau kau tau Batasan mu, lalau kenapa kau bicara seperti itu sama Papa mu.”
“Itu semua karena ulah Papa sendiri, jika saja hari itu Papa memberi penjelasan yang bagus pada Bang Yoga, tentu dia mau menerimanya.Tapi Papa langsung saja menerima tawaran Bang Yoga dan akhirnya dia menolaknya, Bang Yoga jadi marah Ma,” jawab Mutia seraya berlari menuju kamarnya.
Pak Ramon yang mendengar perkataan putrinya, hanya bisa duduk termenung di atas sofa.
“Mutia benar Ma, jika saja waktu itu, Papa langsung bicara terus terang pada Yoga, tentu hal ini nggak bakalan terjadi pada putri kita.”
“Lalu kita mesti gimana, Pa?”
“Kita minta maaf pada Mutia, siapa tau di mau memaafkan kesalahan kita, dan kita beri dia semangat untuk tidak terus bersedih.”
“Baik, Pa.”
Setelah sepakat, lalu mereka mendatangi Mutia di kamarnya, Pak Ramon dan Sukesih pun meminta maaf pada apa yang telah mereka lakukan.
“Papa dan Mama berjanji padamu, untuk yang kesekian kalinya, kami nggak akan membuat kesalahan yang serupa lagi.”
Kata-kata itu di ucapakan serentak oleh Pak Ramon dan Sukesih, sehingga hal itu membuat Mutia tersenyum dan memeluk keduanya dengan senang.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*