Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 53 Ketakutan


__ADS_3

Kemudian Yoga langsung keluar dari kamar Nayla, karena Yoga tak ingin melihat Nayla terus saja menangis ketakutan.


Karena bagi Yoga setiap tetes air mata yang keluar dan mengalir, sama artinya telah merobek sebagian tubuhnya. Yoga keluar dari kamar itu, seraya memegang dadanya, yang terasa semakin sesak.


Setelah Nayla tertidur, Yuda baru bisa keluar dari ruang kamar itu, hatinya benar-benar tersakiti melihat kondisi istrinya.


“Kau terlihat begitu menyayangi istrimu,” kata Asih pada Yuda.


Mendengar seseorang bicara, maka langkah kaki Yuda langsung terhenti, dia pun mencoba menoleh kearah suara itu berasal.


“Anda sedang bicara dengan saya?” tanya Yuda pada Asih.


“Ya, Nayla beruntung punya suami seperti diri mu.”


“Kenapa?”


“Karena aku tak seberuntung dia.”


“Maksud mu apa?”


“Aku juga memiliki penyakit yang sama dengan istrimu.”


“Ooo, begitu kah?”


“Iya, tapi saat ini, suamiku sudah mulai enggan untuk datang menemui istrinya, yang tak pernah bangkit dari ranjang ini.”


“Setiap penyakit yang datang, menyerang tubuh, tak seorang pun yang ingin menerimanya. Akan tetapi, dia punya kewajiban untuk mengobatinya. Kapan dan berapa lamanya penyakit itu akan bertahan, semuanya bukan urusan kita lagi.”


“Kau benar, tapi tidak semua orang yang berfikiran sama dengan mu.”


“Ya, tentu,” jawab Yuda singkat.


“Apa kau seorang Dokter juga?”


“Iya, saya hanya Dokter umum.”


“Suami ku juga seorang dokter, bahkan dia seorang Dokter ahli di bidang penyakit kangker, tapi sayang, meski dia seorang Dokter ahli, namun dia nggak mampu menyembuhkan istrinya sendiri.”


“Berarti Allah sedang menguji keimanan mu, saat ini.”


“Keimanan apa? aku bukan seorang yang ‘alim.”


“Allah itu maha adil, ujiannya bukan hanya kepada orang ‘alim saja, mungkin juga, ujian itu diberikan kepada orang yang sabar, atau kepada seorang yang berilmu.”


“Aku juga bukan bagian dari itu, lalu aku termasuk yang mana?” tanya Asih semakin penasaran.


“Kalau kamu, bukan termasuk dalam bagian itu, dan bahkan kamu sendiri nggak merasa bagian dari yang ku sebutkan tadi, mungkin saja Allah sedang memberikan cobaan untuk mu.”


“Kenapa kau harus berbelit-belit dalam menerangkannya?” tanya Asih sembari mengernyitkan dahinya.


“Maksudmu apa?” tanya Yuda heran.


“Kenapa kau nggak bilang saja kalau aku ini sedang menerima azab dari perbuatan masa lalu.”


“Apa kau merasa punya masa lalu yang kotor dan menjijikkan? sehingga kau merasa ini merupakan azab dari perbuatan mu?”

__ADS_1


“Aku nggak merasa seperti itu, tapi sebagian orang mengatakan padaku, kalau penyakit kangker itu, merupakan penyakit kutukan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang telah melampaui batas perbuatannya.”


“Apa kau pernah berbuat hal-hal seperti itu?”


“Nggak sih, tapi kenapa penyakit ini, nggak mau pergi dari tubuhku.”


“Karena Allah belum menghendaki kesembuhan untuk mu.”


“Kata dokter umurku hanya tinggal menghitung hari.”


“Maut, jodoh dan pertemuan, itu semua merupakan rahasia Allah. Tak seorangpun yang dapat mengetahuinya, jadi kamu jangan pesimis dulu. Perbanyaklah berdo’a, mohon pengampunan dari Allah Swt.”


“Terimakasih atas pencerahan yang kau berikan, karena pencerahan itu hati ku sedikit dingin."


“Iya, sama-sama. Sekarang beristirahatlah, saya mau pergi dulu.”


Lalu Asih terlihat tersenyum, saat Yuda hendak meninggalkan dirinya, hati Asih sedikit dingin mendengar pencerahan yang diberikan Yuda padanya.


“Saya permisi dulu.”


“Ya silahkan,” jawab Asih seraya tersenyum.


Setelah kepergian Yuda, Asih menangis tersedu-sedu, suara rintihannya, terdengar ke seluruh penjuru rumah sakit, lalu seorang pria datang menghampirinya. Dari kaca jendela, Yoga dan Yuda hanya memandanginya saja.


“Ada apa lagi Asih?” kamu ini, berlagak seperti anak-anak saja, apa kamu nggak malu dilihat orang lain.”


“Untuk apa harus malu, semestinya kaulah yang harus malu, kau tinggalkan aku disaat aku sedang sakit.”


“Siapa yang meninggalkan mu Asih, aku nggak pernah meninggalkan dirimu, karena kau telah memberiku keturunan yang cerdas dan sehat untuk ku.”


“Kau bohong, kau sengaja menghibur ku, karena kau tau bahwa umurku hanya tinggal menghitung hari,” kata Asih dengan deraian air mata.


“Ingat sayang, jangan pernah kau mengatakan hal itu lagi, saat ini kau harus fokus dengan kesembuhan mu. Ingat, kita punya tiga orang anak yang sangat membutuhkan belaian kasih sayang mu.”


Sementara dr. Fauzi sedang bicara dengan istrinya, Yuda juga sedang bicara dengan Yoga diruang tunggu.


“Sebenarnya kau sedang bicara apa, Yog?”


“Carilah kamar khusus untuk Nayla, jangan biarkan dia bicara lagi dengan perempuan itu.”


“Kenapa?”


“Karena perempuan itu, menusukan racun pada istrimu.”


“Maksud mu apa sih Yog?” tanya Yuda tak mengerti.


“Aku yakin, sebelum Nayla menjerit tadi, dia pasti sudah bicara banyak dengan perempuan itu.”


“Ooo! baiklah Yog, nanti siang Nayla akan kita pindahkan keruangan VIP."


“Ya itu lebih baik demi keselamatan mentalnya.”


“ya, kau benar, terimakasih atas dukungan darimu kepada ku.”


“Santai saudaraku, santai! aku akan selalu berada di sisimu kapan dan dimana saja kamu berada.”

__ADS_1


“Terimakasih, kau sangat baik pada ku.”


“Nggak usah berterimakasih segala, kau masih ingat dengan pesan orang tua kita kan ? sebelum dia meninggal, dia menyatukan kedua tangan kita, dia hanya minta satu dari kita, yaitu untuk saling mendukung satu sama lainnya.”


“Iya, Yog. Aku masih ingat itu, dan nggak akan pernah ku lupakan.”


“Iya, kita harus selalu mengingatnya, agar kita selalu bersama terus, sampai ajal memisahkan kita.”


Disaat mereka sedang asik berbincang-bincang, tiba-tiba saja Nayla menjerit diruang kamarnya. Yuda dan Yoga langsung berlari menuju ruang kamar Nayla.


“Ada apa sayang?” tanya Yuda seraya memeluk istrinya.


Nayla tak menjawab, tapi dia terus saja menjerit dan menangis histeris. Melihat Nayla seperti itu, pandangan Yoga langsung tertuju pada perempuan yang berada disamping Nayla. Yoga memperhatikan perempuan itu secara dekat.


“Astagfirullah!" kata Yoga seraya memalingkan wajahnya.


“Kenapa Yog?”


“Perempuan yang berada di belakangmu sudah meninggal dunia.”


“Benarkah?”


“Kau bisa lihat sendiri kok, Yud.”


Merasa penasaran Yuda langsung melihat perempuan yang berada dibelakangnya, lebih dekat lagi.


“Astagfirullah! apa dia yang membuat Nay ketakutan?”


“Nay mau pulang aja, Nay nggak mau lagi tinggal dirumah sakit ini, Bang!” jerit Nayla terus-terusan.


“Nay, Nayla! nggak bisa gitu dong sayang. Semuanya butuh pendapat dari dokter yang melakukan operasi pada mu.”


Mendengar Nayla menangis terus karena ketakutan, Yoga langsung bertindak dengan cepat. Yoga langsung menemui perawat rumah sakit, dan malam itu juga Nayla dipindahkan keruangan VIP.


“Disini kau pasti betah Nay,” kata Yuda pada istrinya.


Nayla tak menjawab, walau dipindahkan keruangan manapun, baginya tetap sama saja, karena sebelum Asih meninggal dia sudah membuat Nayla ketakutan.


“Kalau Abang melarang Nay pulang, baiklah, tapi Nay nggak mau ditinggal sendirian selama dirumah sakit ini.”


“Nggak bisa gitu dong sayang, Abang kan masih kerja, sedangkan Bang Yoga juga bekerja.”


“Kalau kalian bekerja, Nay mau pulang saja, Nay nggak mau ditinggal sendirian !” jawab Nayla bersikeras.


“Nay, tolong dong, please! beri Abang pilihan kedua.”


“Nggak ada pilihan kedua Bang, Nay benar-benar takut Bang.”


“Gimana ini, Yog?” ujar Yuda seraya meminta pendapat dari Yoga.


“Kau menginginkan pendapat ku, Yud?”


“Iya, Yog.”


“Kalau menurut pendapat aku, kita gantian aja untuk menjaganya, karena mesti gimanapun, Nayla butuh perawatan yang intensif.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2