
“Yud, kalau kau ingin operasi Nayla segera kita laksanakan, maka kita harus memulihkan kondisi fisiknya dulu.”
“Sepertinya Nayla nggak akan tenang, kalau dia masih berada di rumah sakit ini, Rangga.”
“Jadi gimana menurutmu yang lebih baiknya, Yud.”
“Aku bingung, Rangga,” jawab Yuda seraya menarik nafas Panjang.
“Emangnya apa yang ditakuti Nayla itu sebenarnya, Yud?” tanya Yoga ingin tau.
“Nayla mimpi, Asih datang menjemputnya, dan membawanya pergi bersamanya.”
“Kalau begitu, gimana kalau Nayla kita pindahkan aja kerumah sakit tempat kau bertugas, disana Nayla mungkin merasa aman,” saran Yoga saat itu.
“Iya, ide yang bagus Yog.”
“Yoga benar, nanti kalau kondisinya udah membaik baru Nayla kita bawa kerumah sakit ini, untuk menjalani operasi kedua,” timpal Rangga memberi usulan untuk solusi yang sedang mereka bahas.
“Baiklah atas solusi yang kalian berikan, berarti hari ini juga Nayla akan kita pindahkan dari rumah sakit ini.”
“Iya Yud, semoga dengan cara ini Nayla dapat tenang.
Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat, akhirnya Nayla di pindahkan kerumah sakit Yos Sudarso, tempat Yuda bertugas.
Nayla beruntung, dia dikelilingi oleh orang-orang yang sayang pada dirinya dan begitu peduli dengan keadaannya.
Benar saja dirumah sakit tempat Yuda bertugas, Nayla merasa tenang disana, dia nggak pernah lagi mengeluhkan rasa takut yang berlebihan. Hingga di minggu berikutnya, Nayla kembali menjalani operasi kedua.
Tiada henti Yuda berdo’a mohon keselamatan untuk istri tercintanya, dengan resah dan jantung yang terus berdebar, Yuda bersama Yoga menantikan operasi berjalan dengan lancar.
Beberapa jam menunggu, lalu Rangga keluar dari ruang operasi dengan senyuman. Melihat Rangga keluar Yuda dan Yoga langsung menyongsong kedatangannya.
“Alhamdulillah! operasinya berjalan dengan lancar Yud, semoga penyakit kangker yang bersarang ditubuh Nayla akan segera sembuh.”
“Amin! terimakasih Rangga,” kata Yuda sembari menyalami Rangga didepan Yoga.
Hingga akhirnya, Allah pun mengabulkan doanya. Dua bulan setelah menjalani operasi kedua, Nayla dinyatakan sembuh oleh dokter.
Memang suatu keajaiban yang dialami oleh setiap penderita kangker, Nayla dioperasi tampa harus diangkat rahimnya.
Diperjalanan tampak Nayla tersenyum manis, lesung pipinya tampak begitu mencengkam saat kedua gigi gingsulya terlihat.
Yuda yang selalu berdo’a untuk kesembuhan istrinya, merasa puas dengan yang diberikan Allah padanya. Sehingga mereka bertiga dapat berkumpul lagi seperti semula.
“Udah berbulan-bulan ya Bang, Nay meninggalkan rumah, pasti Nay sangat rindu sekali dengan Andika.”
__ADS_1
“Benarkah itu sayang?”
“Benar Bang, Nay sangat rindu sekali sama Andika.”
“Saat ini Andika udah berada dirumah bersama Yoga.”
“Benarkah itu Bang?”
“Iya benar, sayang,” jawab Yuda dengan suara lembut
Mobilpun melaju dengan kecepatan penuh, Nayla yang biasanya tak suka kalau Yuda menyetir mobil dengan kecepatan penuh, tapi untuk yang kali ini dia sepertinya begitu menikmatinya. Hingga tibalah mereka berdua didepan rumahnya.
Benar saja yang dikatakan Yuda, kalau saat itu Yoga dan Andika telah menanti kedatangan mereka berdua.
Melihat putra kesayangannya datang menghampirinya, Nayla pun tak sabar ingin memeluk dan mencium Andika, tapi saat Andika hendak diangkatnya, Nayla tampak meringis kesakitan.
“Ada apa Nay? perutmu sakit lagi?” tanya Yuda ingin tau.
“Nggak apa-apa kok Bang, hanya perih sedikit, mungkin karena bekas jahitannya.”
“Kamu jangan mengangkat yang berat dulu Nay? kan jahitannya belum kering, kalau Andika biar Abang aja yang gendong,” kata Yuda memberi perhatian lebih pada istrinya.
“Nggak apa Bang, udah kangen banget soalnya.”
“Baik Bang,” jawab Nayla sambil terus mengendong Andika.
Setibanya didalam, ketika Andika hendak diletakkan, rasa sakit diperut Nayla bukannya menjadi hilang, justru semakin mendenyut. Tapi Nayla berusaha untuk menyembunyikannya. Ditahannya sendiri rasa sakit itu, agar tak ada orang yang cemas dengan yang dirasakannya.
Tapi tidak dengan Yoga, yang selalu memperhatikan Nayla sedari tadi, Yoga merasa Nayla sedang menyembunyikan sesuatu.
Tepat saat Yuda sedang keluar mencari makanan, Yoga pun tak membuang kesempatan itu, diam-diam dipeluknya tubuh Nayla dengan erat, di cumbunya Nayla dengan mesra, walau Nayla tak menolaknya, namun Nayla tampak begitu dingin dan tak merespon sama sekali.
“Ada apa Nay? perutmu masih terasa sakit bukan?”
“Nggak, Nay nggak apa-apa kok Bang!” jawab Nayla berbohong.
“Nggak usah menyembunyikan apapun dari Abang, Nay. Abang tau kok, kalau perutmu masih terasa perih dan nyeri.”
“Kalau kau tau, kenapa harus menyakiti hati Nay.”
" Apa hubungannya, Nay?"
" Ada, tentu saja ada."
“Abang nggak menyakitimu Nay."
__ADS_1
“Lalu kenapa Abang selalu saja mengelak jika Nay bertanya sesuatu?"
“Aduuuh! Nay, Nay. Itu juga, itu juga yang dibahas, kapan bosannya sih!”
“Sedari awal, hanya satu itu pertanyaan yang selalu Nay tanyakan pada Abang. Tapi Abang selalu menahan diri, untuk menjawabnya, seakan-akan hanya Nay yang selalu bersimpatik pada Abang,” jawab Nayla ketus.
“Entahlah Nay, hingga saat inipun Abang masih tak punya jawaban dari pertanyaan itu, jadi berhentilah bertanya. Jika Nay masih tetap mempertanyakan hal itu pada Abang, mungkin Abang sendiri nggak bakalan datang lagi kesini.”
“Kenapa? Abang takut, kalau rahasia kita terbongkar?”
“Bukan hanya sekedar takut Nay, tapi yang kita lakukan selama ini suatu dosa yang sangat besar."
“Lalu kenapa Abang selalu melakukannya dengan Nay, seakan-akan Abang nggak takut dengan dosa?"
“Itulah yang Abang sesali hingga saat ini Nay, bagi Abang hubungan kita ini, bagaikan duri dalam daging."
“Ooo, jadi Abang menyesali semua yang telah Abang lakukan pada Nay selama ini?”
“Iya. Bahkan Abang sangat menyesal, kalau saja waktu bisa berputar, pasti akan Abang hapus semua kisah itu."
“Kalau begitu lupakan Nay untuk selamanya, dan jangan pernah hadir lagi ditengah-tengah kami bertiga.”
“Nggak Nay, kau jangan menghukum Abang seperti itu!”
“Menghukum, Menghukum apa? bukankah selama ini, Abang yang selalu menghukum perasaan Nay, hingga Nay seperti ini? Nay yakin, Abang melakukan semua ini pasti karena gadis yang bernama Mutia itu.”
“Nggak Nay, semua itu memang harus Abang lakukan demi keharmonisan rumah tangga kalian berdua.”
“Kau benar-benar laki-laki munafik Bang,” kata Nayla dengan penuh kekesalan.
Setelah pertengkaran itu terjadi, Nayla masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Melihat hal itu, Yoga tak bisa berbuat apa-apa, dia kemudian memutuskan diri bermain dengan Andika.
Sementara itu ditempat lain, Mutia yang disebut Nayla sebagai penghalang hubungan asmaranya dengan Yoga, kini sedang terpaku sedih. Pasalnya, Yoga yang selama ini selalu hadir disisinya kapan pun dia butuh, kini tak lagi ada.
Bahkan selama persiapan acara perpisahan kelas tiga, Yoga belum pernah menampakkan batang hidungnya. Hati Mutia semakin sedih, Mira dan Yola berusaha menenangkan dirinya.
“Udah ! nggak usah terlalu difikirkan kali, aku yakin kok Pak Yoga itu pasti datang,” kata Mira menenangkan hati Mutia
“Benar itu Tia, kamu nggak usah cemas, barang kali Pak Yoga itu ada urusan penting yang sedang diselesaikannya,” timpal Yola seraya mengernyitkan kedua alisnya.
“Iya. Kalian berdua itu benar, Pak Yoga saat ini memang sedang ada urusan penting yang sedang diselesaikannya dan tak bisa ditinggalkan, lagian aku tau kok, urusan apa itu,” jawab Mutia setengah jengkel.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1