Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 70 Efek dari penyakit kanker


__ADS_3

“Kalian ini gimana sih! masa kalian nggak ada yang melihat keberadaan istri dr. Yuda! kalian tau nggak dia itu tamu dirumah sakit ini, sekarang kalian semua cari keberadaan Bu Nayla sampai ketemu!”perintah dr. Rangga pada semua perawat saat itu.


“Baik dok.”


Lalu mereka semua bergerak mencari keberadaan Nayla, sementara itu Yoga terus berlarian kesana kemari mencari, begitu juga dengan Yuda, dia juga mencari Nayla seraya berdo’a.


Setelah mengelilingi seputaran rumah sakit, namun Nayla tidak ditemukan, semua nya pun merasa putus asa.


“Gimana, Yog, ada ketemu?” tanya Yuda ingin tau.


“Nggak Yud, aku udah mencarinya disekitar rumah sakit ini, namun nggak ada tanda-tanda, keberadaannya.


“Gawat! kemana sebenarnya dia Yog.”


“Jangan sedih dulu Yud, kita akan cari Nayla di manapun dia berada.”


“Tapi kemana Yog?”


“Yud, Nayla itu kan bukan anak-anak lagi, dia udah hafal daerah ini, dia juga punya Andika yang sangat disayanginya, jadi aku begitu yakin kalau Nayla tak akan pergi jauh dari kota ini.


“Iya, kau benar Yog, Nayla sangat sayang sekali pada Andika, dia pasti nggak akan pergi jauh meninggalkan anak satu-satunya.”


“Iya, kalau begitu, bangkitlah, mari kita cari dia bersama-sama.”


“Baik Yog.


Setelah menyetujui apa yang dikatakan Yoga padanya, maka Yuda pun ikut bersama-sama mencari keberadaan Nayla. Yuda mencari dengan mengendarai mobil sementara Yoga mencari dengan menggunakan sepeda motor, agar lebih leluasa untuk bergerak.


...Setelah berkeliling selama dua jam di kota yang sangat padat itu. Akhirnya Yoga menemui Nayla sedang duduk sendirian dipinggir trotoar jalan....


...Dia duduk seraya menangis, Yoga yang melihatnya langsung menghampirinya, dan duduk disisi kiri Nayla....


...“Ada apa Nay? kenapa lari dari rumah sakit?”...


...“Nay mau pulang Bang!”...


“Kalau mau pulang kenapa pergi diam-diam, kamu tau nggak, kami semua sibuk mencari keberadaan mu.


“Nay udah mencari kalian berdua tadi, tapi kalian entah dimana.”


“Kenapa ingin pulang sayang, bukankah rumah sakit sangat baik untuk mengurus dirimu yang sangat membutuhkan perawatan?”


“Nay, mau pulang! Nay nggak mau tidur dirumah sakit lagi, Nay takut Bang, Nay takut!” jawab Nayla seraya menangis di pelukan Yoga.


“Takut sama siapa sayang?”


“Bang, Nay takut sekali, hantu Asih selalu memandangi Nay dari jendela.”


“Hantu Asih itu nggak ada sayang, itu semua hanya mimpi buruk mu, dan orang yang sudah meninggal nggak akan datang lagi ke dunia ini.”


“Abang bohong ! dia selalu saja datang menemui Nay, setiap saat.”


“Baiklah, Abang percaya sama Nay, kalau hantu Asih itu ada. Tapi kenapa Nay harus pergi dari rumah sakit? bukankah hantu itu ada dimana-mana?”

__ADS_1


“Sssst! kalau bicara tolong dijaga, nanti dia mendengar pembicaraan kita ini.”


“Baiklah, Abang percaya pada mu, dan Abang nggak akan bicara keras lagi.”


Mendengar pengakuan Yoga yang percaya pada perkataannya, hati Nayla sedikit tenang, dan dia begitu yakin kalau dia tak sendiri lagi.


Merasa aman bersama Yoga, lalu Nayla pun berbagi rahasia dengan Yoga, rahasia yang nggak boleh diketahui oleh Yuda suaminya.


“Bang, ada sesuatu yang akan Nay katakan pada Abang saat ini, tapi ingat, ini hanya rahasia kita berdua saja, dan Bang Yuda nggak boleh mengetahuinya.”


“Nay punya rahasia sayang?”


“Iya, rahasia!”


“Rahasia apa itu?”tanya Yoga penasaran.


“Berjanjilah agar Abang menyimpan rahasia ini baik-baik dan nggak akan memberitahukan pada Bang Yuda.”


“Apakah rahasia mu itu, menyangkut hubungan kita?”


Saat Yoga bertanya, Nayla tak langsung menjawabnya, dia hanya menatap tajam kearah Yoga dan tersenyum manis.


“Apa kah kau takut, kalau rahasia kita terbongkar Bang?”


Yoga pun menganggukkan kepalanya, dia benar-benar takut kalau Yuda mengetahui tentang perselingkuhan mereka berdua. Karena jika Yuda mengetahuinya, pastilah hubungan persaudaraan nya terputus ditengah jalan.


“Mau kah kau mengajak Nay ke taman Bang?”


“Baiklah, kita akan ke taman, naiklah ke sepeda motor Abang, Abang akan bawa Nay ke taman.”


“Benarkah?”


Nayla tak menjawab, hanya kepalanya saja yang di anggukkan. Hal itu membuat Yoga sangat memahami apa yang dimaksud Nayla.


“Baiklah, kalau begitu kita jalan kaki saja.”


Lalu mereka berdua pun berjalan kaki menuju taman yang ada disekitar tempat itu. Dibawah sebatang pohon yang sudah berusia puluhan tahun, Yoga dan Nayla duduk dengan santai di pagi itu.


“Katakan sayang, rahasia apa yang akan kau beritahukan pada Abang?”


“Jika saja rahasia itu Nay katakan apakah Abang tetap masih mencintai Nay?”


“Apakah selama ini, Abang pernah mengungkapkan perasaan Abang pada Nay?”


Nayla diam saja, dia tak menjawab sama sekali, hatinya terasa sakit saat itu. Karena setelah sekian lama mereka menjalin hubungan, Yoga tetap saja tak pernah memberi jawaban atas satu pertanyaan yang selalu dipertanyakannya.


“Ada apa Nay? kenapa kau menangis?” tanya Yoga saat melihat Nayla menangis.


“Nay nggak jadi memberitahukan rahasia itu pada Abang.”


“Kenapa sayang?”


“Nggak penting,” jawab Nayla ketus.

__ADS_1


Jawaban dari Nayla sangat membuat Yoga heran, karena hanya beberapa menit saja, Nayla sudah merubah niatnya.


“Sebenarnya apa sih maksud mu, Nay?”


“Nay nggak jadi mengatakannya Bang.”


“Kenapa?"


“Untuk apa berbagi rahasia, sementara orang nggak pernah bersimpatik pada Nay.”


“Baiklah, kalau begitu kita kembali saja kerumah sakit, Yuda suami mu pasti sudah sibuk mencari keberadaan istri tercintanya.


“Nay nggak mau kerumah sakit, Nay mau pulang kerumah aja.”


“Nayla, kamu nggak boleh begitu sayang, jangan selalu menyusahkan orang lain, kamu tau nggak, betapa menderitanya suamimu saat ini. Selain untuk mengurus kesembuhan mu, dia juga harus mencari begitu banyak uang untuk biaya perawatan mu.”


“Kalau begitu, Nay nggak usah berobat lagi, biarkan Nay meninggal.”


“Nay mau seperti Asih, meninggal dan menjadi hantu yang bergentayangan.”


“Diam! cukup Bang, cukup, jangan dilanjutkan lagi!" jerit Nayla seraya menutupi kedua telinganya dengan kuat.


“Kenapa? kamu takut?”


Nayla tak menjawab, dia hanya menangis histeris dipelukan Yoga. Yoga begitu sedih sekali melihat wanita yang sangat dicintainya itu. Berulang kali dikecupnya kening Nayla agar kekasihnya itu dapat sedikit tenang.


“Nay nggak mau seperti Asih! Nay nggak mau, Nay ingin sembuh, Nay nggak mau botak seperti Asih!” huuuu…huhuk…huk..huk.”


“Kalau Nay ingin sembuh, berusahalah untuk itu, jangan mudah berputus asa, niatkan kesembuhan Nay itu demi Andika, putra kesayangan kalian selama ini.”


“Tapi Nay nggak mau kembali kerumah sakit itu.”


“Kenapa?”


“Buat apa kembali!”


“Kalau dirawat, peluang untuk sembuh itu sangat banyak, kalau hanya menunggu di rumah, bukannya kesembuhan yang akan Nay dapatkan nantinya.”


“Apa! hanya kematian yang Nay dapatkan, begitu maksud Abang kan?” potong Nayla disaat perkataan Yoga belum selesai diucapkannya.


“Bukan begitu, sayang. Tapi kalau menunggu dirumah, peluang untuk sembuh itu sangat sedikit sekali.”


Nayla tak menjawab, akan tetapi dia terus berjalan mondar mandir dihadapan Yoga seraya memegangi perutnya yang sudah mulai terasa sakit.


“Bang! lihatlah rambut ku,” kata Nayla seraya memperagakan segumpal rambut ditangannya pada Yoga.


“Rambut siapa itu, Nay?” tanya Yoga heran.


“Asih benar, malam itu dia datang dan berkata, kalau sebentar lagi rambut Nay yang Panjang ini akan rontok. Pagi tadi saat Nay menyisirnya, ternyata benar, rambut Nay sudah mulai rontok Bang.”


“Ya ampun! benarkah itu, Nay?” ujar Yoga tak percaya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2