
“Cihuy!” Belum sejengkal Pak Yoga pergi, kekasihnya langsung berselingkuh dengan pria lain, kisah yang sangat menarik untuk dipromosikan.”
“Maksud ibu apa?” tanya Mutia ingin tau.
“Ibu bicara apa adanya.”
“Jadi Ibu ingin mengadu domba antara aku dengan Yoga?”
“Indehoi, murid yang umurnya baru setahun jagung, udah bisa menyebut nama Yoga tampa bilang kata Pak, hebat, hebat!” ucap Lesti yang sengaja menteror Mutia.
“Kenapa emangnya, Ibu nggak suka kalau aku menyebut nama Yoga pada Ibu!”
“Kurang ajar, beraninya mulut kotor mu itu, bersuara keras pada Ibu.”
“Kenapa, Ibu marah. Ibu mau melapor pada Kepala sekolah? silahkan aja!"
Lesti diam saja saat Mutia tampak bicara ketus pada dirinya, akan tetapi Mutia yang merasa diteror oleh Bu Lesti tak tahan dianggap lemah dan bodoh. Untuk itu, diapun memberanikan diri mengutarakan tentang hubungannya dengan Yoga.
“Kenapa Ibu diam, Ibu takut kalau tau yang sebenarnya tentang hubungan kami selama ini, agar Ibu ketahui aja, kami berdua udah menjalin hubungan ini begitu lama sekali. Ibu tau kenapa Pak Yoga nggak mau berterus terang pada Ibu? karena pak Yoga nggak ingin Ibu tersinggung oleh ucapannya!”
“Bohong! Kau nggak usah mengada-ngada Mutia!” bentak Bu Lesti seraya melayangkan pukulannya kewajah Mutia.
" Prak!"
" Aaaaaw!"
Saat pukulan itu mendarat diwajah Mutia, gadis itu langsung terkapar pingsan tak sadarkan diri. Melihat Mutia terjatuh karena pukulan Bu Lesti, Rehan langsung naik darah, tangannya yang sudah mulai gatal langsung di arahkan kewajah Bu Lesti.
" Bruk!"
“Rehan!” teriak Bu Lesti seraya sempoyongan.
“Ingat Bu, aku nggak suka ya, melihat orang lain menyakiti kekasih ku.”
Disaat mereka bertiga sedang bertengkar, puluhan murid langsung berdatangan melihat kejadian yang sangat luar biasa itu.
Mira yang datang melihat pertengkaran itu, begitu terkejut sekali melihat Mutia terkapar tak sadarkan diri diruangan kelas.
“Ya Allah, Mutia!” jerit Mira seraya merangkul tubuh Mutia yang pingsan di lantai.
“Jangan sentuh Dia!” kata Rehan saat Mira menyentuh Mutia.
Karena Rehan melarangnya, Mira langsung menatap tajam kearah Rehan. Diapun berdiri, sembari menarik baju Rehan dengan kedua tangannya yang kuat, sehingga Rehan sedikit sempoyongan dibuatnya.
“Kenapa Re? hmm, kenapa? kenapa kau melarang aku menyentuh Mutia?”
“Biar aku yang membawanya keruangan UKS.”
“Nggak perlu!” jawab Mira dengan tegas.
“Jangan sentuh dia!” ulang Rehan sekali lagi.
Walau Rehan udah melarang Mira menyentuh Mutia, namun gadis itu tetap saja menyuruh orang lain mengangkat tubuh Mutia.
“Udah berkali-kali aku melarang, kenapa Mutia tetap saja kalian angkat!” bentak Rehan seraya mendorong tubuh Mira hingga dia hampir terjatuh.
Karena merasa dikasari oleh Rehan, Mira langsung naik darah, tak tanggung-tanggung, Mira langsung melayangkan bogem mentahnya kewajah Rehan. Sehingga tampa disangka oleh Rehan sama sekali, dia langsung terjungkal kebelakang hingga menyerempet beberapa meja sekaligus.
__ADS_1
" Aaaaw! sakit nya," rintih Rehan seraya mengernyitkan dahinya.
" Itu untuk orang yang suka melarang orang lain, berbuat kebaikan!"
“Apa yang kau lakukan Mir?” tanya Rehan tak mengerti.
“Aku melakukan apa yang semestinya aku lakukan,” tegas Mira seraya mengikuti Ando dan Farel keruang UKS.
“Ada apa ini, apa yang terjadi dengan Mutia, Mir?” tanya Dion ketika Mira bersama teman-teman nya membawa Mutia ke ruang UKS.
“Bu Lesti memukul Mutia, Pak!” Jawab Mira seraya mengompres wajah Mutia yang tampak memar.
“Kenapa Bu Lesti memukulnya, Mir?”
“Semuanya karena ulah Pak Yoga, Pak.”
“Pak Yoga? bukankah Pak Yoga sudah pergi sedari tadi?”
“Benar, Pak! tapi efeknya masih berimbas pada mereka bertiga.”
“Maksud mu, apa Mir?”
“Bu Lesti bertengkar dengan Mutia karena merebutkan cinta pak Yoga. Sementara Rehan tak mau melihat Mutia dipukuli Bu Lesti, dia langsung memukuli Bu Lesti, tapi, saat tubuh Mutia hendak kubawa kesini, Rehan langsung melarangnya, dan pada akhirnya dia pun mendapat Bogem mentah dari ku,” jelas Mira Panjang lebar.
Melihat masaalahnya begitu rumit, Dion langsung melaporkan kejadian itu pada Kepala sekolah.
“Aduh, Kok bisa begitu?”
“Saya nggak tau, pak. Tapi kejadiannya sudah terjadi, dan saat ini Mutia sedang tak sadarkan diri diruang UKS.
Seraya menarik nafas Panjang, lalu Kepala Sekolah berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya.
“Baik, Pak,” jawab Dion, sembari bejalan terburu-buru menemui Bu Lesti.
Di saat Dion datang, hati Bu Lesti merasa kasusnya akan sampai kemeja kepala sekolah, ternyata benar dugaannya, Dion datang karena ada panggilan dari Kepala sekolah untuk dirinya.
“Ada apa, Pak?”
“Ibu dipanggil Kepala sekolah.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Dimana?”
“Di ruangannya.”
“Baik,” jawab Bu Lesti singkat.
Mereka berduapun langsung menuju ruangan kepala sekolah, menyusul Rehan dari belakang, setibanya mereka didepan ruangan kepala sekolah, pintu pun diketuk oleh Dion.
Lalu kepala sekolah mempersilahkan mereka masuk kedalam, dengan tenang Bu Lesti masuk, sementara Dion kembali kemejanya.
Di saat itu, didalam ruangan, Kepala sekolah menatap wajah Lesti yang tampak biru lebam, karena pukulan Rehan.
“Kenapa wajah Ibu itu?” tanya kepala sekolah ingin tau.
__ADS_1
“Di pukul Rehan, Pak.”
“Rehan, Rehan itu siapa?”
“Murid kelas tiga B.”
“Ooo, Ibu dipukuli oleh murid Ibu sendiri?”
“iya, pak.”
“Kenapa? pasti ada masalah yang sangat sensitive terjadi diantara kalian berdua.”
“Itu semua karena dia membela Mutia, Pak!”
“Kalau Rehan membela Mutia, kenapa kamu yang jadi marah? kan itu urusan mereka berdua.”
“Iya, Pak! tapi?”
“tapi apa?”
"Tapi semua ini bukan kesalahan saya Pak!" ucap Lesti membela diri.
“Bu Lesti ! Ingat ya, disini ibu sebagai tenaga pendidik, Ibu nggak boleh berbuat sesuka hati Ibu, Ibu cermin kan kepada anak-anak, kalau ibu adalah seorang panutan mereka, bukan sebagai provokasi.”
“Iya, Pak.”
“Kalau boleh saya tau, apa sih yang kalian pertengkaran, sehingga dapat memicu, kekerasan.”
“saya malu untuk membahasnya, pak.”
“Malu, Malu sama siapa?”
“Sama, Bapak.”
“Kalau Ibu merasa malu dengan hal semacam ini, jangan pernah Ibu ulangi lagi. Mendengar berita seperti ini, bukan Ibu sendiri yang malu tapi saya juga malu begitu juga dengan nama baik sekolah ini.
“Iya, pak.”
“Ibu tau nggak, kalau sekolah kita ini sedang dipromosikan, dan Pak Yoga, juga akan dijadikan guru teladan disekolah kita ini. Tapi kalau kelakuan gurunya saja tidak mencerminkan sikap baik mereka, gimana sekolah lain akan menilai keteladanan sekolah kita, Bu.”
“Iya Pak, saya mengaku salah, dan saya berjanji hal seperti ini tak akan terulang kembali.”
“Saya pegang janji yang Ibu ucapkan.”
“Insya Allah, saya akan amanah Pak.”
“Baik, kalau begitu, tolong Ibu panggil Rehan, suruh dia menghadap saya.”
“Baik, Pak,” jawab Bu Lesti sembari meninggalkan Kepala sekolah di mejanya.
Saat Lesti bergegas keluar, hatinya begitu sakit sekali, bukan hanya sekedar sakit akan tetapi rasa malu yang segunung harus ditanggungnya sendiri.
Sehingga setibanya dia di hadapan Rehan, Lesti jadi lupa untuk menyampaikan pesan dari kepala sekolah untuknya.
Lesti berlalu bagaikan kerbau dungu yang ditusuk hidungnya, hatinya terasa begitu sakit sekali, ingin sekali rasanya dimuntahkan semua kekesalan itu pada seluruh anak didiknya.
“Huuuuh! Awas kau Mutia, kau selalu saja membuat aku tersakiti,” gerutu Lesti sembari terus berjalan meninggalkan ruang guru.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*