
Di saat ketiga orang dokter itu pergi, Yuda memandangi Nayla dengan penuh tanda tanya. Yuda heran kenapa tiba-tiba saja ketiga dokter itu langsung masuk tampa seizin Yuda terlebih dahulu.
“Abang kenapa?” tanya Nayla heran.
“Aneh ya, kenapa ketiga dokter itu langsung masuk kedalam? sebenarnya siapa mereka?”
“Mana Nay tau?”
Sejenak Yuda pun berfikir, dan mengingat-ingat ketiga dokter itu, sepertinya Yuda sama sekali tidak mengenal mereka bertiga.
“Jadi Abang nggak kenal mereka?”
“Selama Abang bertugas dirumah sakit ini, sepertinya Abang belum pernah melihat sosok mereka bertiga.”
“Atau, jangan-jangan mereka bertiga adalah suruhan Mama dr. Rangga?”
“ya, Abang kira begitu,” jawab Yuda seraya berlari kearah pintu, untuk melihat ketiga orang dokter yang baru keluar dari ruangan Nayla.
“Ya Allah, Abang begitu yakin kalau mereka dokter gadungan.”
“Oh, apa maksudnya, mereka kesini Bang?”
“Pasti untuk mencelakai mu Nay.”
“Tunggu di sini sebentar, Abang mau memeriksa keluar, siapa tau mereka masih di sekitar rumah sakit ini.”
Karena begitu yakin, kalau ketiga orang Dokter itu adalah dokter palsu, maka Yuda langsung berlari keluar dan mencari mereka bertiga di sekitar rumah sakit.
Setelah beberapa kali melakukan putaran disekitar rumah sakit, Yuda malah tak menemukan siapa-siapa disana.
Lalu Yuda menelfon Yoga yang saat itu masih berada dirumah sakit tempat Siska bertugas.
“ Assalamu’alaikum, Yud! ada apa?"
“Wa'alaikum salam Yog, tadi ada tiga orang pria datang untuk mencelakai Nayla Yog.”
“Lho, kok bisa?”
“Di saat aku pergi keruangan ku, dokter itu memaksa Nayla untuk melakukan operasi, untung saja aku cepat datang, kalau tidak mereka pasti udah menculik Nayla.”
“Benar kau nggak kenal mereka Yud?”
“Benar Yog.”
“Saat ini dimana mereka Yud?”
“Saat aku cek keluar mereka kayaknya udah pergi.”
“Atau jangan-jangan mereka itu orang suruhan Mama Rangga lagi?”
“Aku juga berfikiran seperti itu Yog.”
“Lalu gimana sekarang Yud, apa perlu aku kesana?”
“Emangnya kau lagi dimana sekarang Yog?”
“Aku ada bersama Siska.”
“Dimana?”
“di taman.”
“Baiklah, lain kali saja kalau kau punya kesempatan datang kesini.”
“O gitu.”
__ADS_1
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
" Ada apa Yog?"
"Ada tiga orang Dokter palsu yang datang kerumah sakit Yuda, katanya ingin mengoperasi Nayla.”
“Benar begitu?”
“Iya sayang, tapi mereka semua udah pergi kok.”
“Walau pun mereka udah pergi, pasti mereka masih punya niat untuk datang lagi kerumah sakit itu.”
“Ya, kau benar Sis, berarti Yuda harus berhati-hati, sepertinya mereka itu orang suruhan Mama Rangga.”
“Kenapa ya, Mama Rangga begitu berambisi ingin melenyapkan Nayla?”
“Katanya dulu semasa masih sekolah, Rangga pernah menjalin hubungan dengan Rangga.”
“Apa? kau serius Yog?”
“Iya sayang, tapi keluarga Rangga tak ada yang menyetujui hubungan mereka.”
“Terus?”
“Terus, secara diam-diam orang tua Rangga mengusir dan menghina Nayla.”
“Itu sebabnya mereka menyuruh orang untuk membunuh Nayla?”
“Bisa jadi.”
“Kan Nayla udah berkeluarga, kenapa masih diburu juga sih?”
“Mungkin mereka masih takut, Nayla akan mengganggu Rangga.”
“Iya, bisa jadi begitu Sis.”
“O iya, gimana kalau kita menemui Yuda sekarang?”
“Buat apa?”
“Ya sekedar bersilaturahmi.”
“Tapi jangan sekarang ya sayang.”
“Kapan?”
“Kalau waktunya udah tepat.”
“Kalau waktunya udah tepat?”
“Iya.”
“Kapan itu?”
“Kalau pekerjaan ku udah selesai.”
Sebenarnya semua itu hanya alasan Yoga saja, karena dia tak mau menampakkan pada Nayla tentang hubungannya dengan Siska, karena jika Nayla tau, dia pasti lebih sakit lagi.
Setelah pertemuannya dengan Siska, Yoga kembali kesekolah guna melanjutkan karirnya sebagai seorang guru olah raga.
Di saat Yoga tiba didepan gerbang sekolah, Yoga melihat Mutia menatap sendu pada dirinya, Yoga heran kenapa tatapan Mutia seperti menyimpan beban yang sangat berat.
Setelah diparkirkan sepeda motor miliknya, Yoga langsung menghampiri, Mutia dan membawanya keluar pekarangan sekolah.
__ADS_1
Mutia tidak menolak ajakan Yoga, Dia justru diam saja saat Yoga menggandeng tangannya.
“Ada apa sayang? kenapa kelihatan begitu sedih?” tanya Yoga penasaran.
“Papa, Bang.”
“Kenapa dengan Papa mu?”
Mutia diam saja, dia tak lagi sanggup bicara, karen lidahnya terasa kelu saat itu, saat Yoga memandanginya, Mutia tampak tertunduk seraya mengeluarkan air mata.
Yoga yang melihat Mutia menangis, dia langsung memeluk tubuh gadis itu. Kesedihan hati Mutia telah dirasakan oleh Yoga, karena Yoga begitu yakin hal itu pasti berhubungan dengan dirinya.
“Ada apa sayang?”
Mutia masih tidak menjawab, wajahnya yang cantik masih disembunyikan di dalam pelukan Yoga.
“Kalau Tia diam, gimana Abang tau masalah yang sedang Tia hadapi?”
Lalu dengan pelan Yoga melepaskan pelukannya dan Mutia pun duduk disamping Yoga.
“Setelah aku tamat nanti, Papa dan Mama, akan mengirim aku ke Jerman Bang?”
“Ke Jerman?”
“Iya, kata Papa dan Mama, aku akan melanjutkan kuliah disana.”
Walau terasa sakit hati Yoga mendengar keputusan Orang tua Mutia, tapi dia sudah tau, kalau Orang tua Mutia akan memberikan alasan yang bermacam-macam kepada putrinya itu.
“Lalu, Tia nggak nanya ke Papa tentang hubungan kita berdua?”
“Udah Bang, Aku udah bilang kepada mereka, tapi sepertinya Papa dan Mama diam aja.”
“Berarti mereka tak merestui hubungan kita sayang?”
“Tapi aku nggak mau kita putus Bang?”
“Siapa bilang kita akan putus.”
“Lalu gimana dengan hubungan kita ini Bang?”
“Sepertinya keluargamu sudah merendahkan harga diri Abang Tia.”
“Tapi Abang jangan balas dendam ke mereka ya?”
“Nggak sayang, Abang nggak bakalan dendam pada mereka, karena selama ini mereka telah memberi Abang kesempatan untuk bisa mencintai gadis secantik kamu.”
“Lalu gimana ini?”
“Tenang saja, sekarang Tia kembali ke kelas, belajar yang rajin, agar cita-cita kedua orang tua mu bisa terwujudkan, menjadikan kamu anak yang hebat dan berbakat.”
“Tapi Abang janji akan menikahi aku bukan?”
“Iya, itu memang janji yang telah Abang buat, tapi sepertinya mereka nggak menyetujuinya.”
“Lalu kenapa di hari itu mereka menyetujuinya Bang?”
“Itu hanya alasan Papa dan Mama mu Tia, agar Abang nggak merasa kecewa saat itu.”
“Mereka jahat, mereka telah menipu ku.”
“Mereka nggak jahat sayang, semua itu sengaja mereka lakukan, agar kau jadi orang sukses nantinya, menjadi anak kebanggaan keluarga.”
“Oh, huhuhu!”
“Udah, nggak usah nangis, mereka melakukan semua ini pasti ada alasannya sayang.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca "