Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 27 Kenangan masa lalu


__ADS_3

Kamu yang sabar ya sayang,” kata dr. Siska. ”Sebenarnya.”


Saat kata itu hendak dilanjutkan dr. Siska, Yuda langsung mengangkat tangannya, sehingga dr. Siska tak jadi melanjutkan perkataannya.


“Kenapa, Bang?” tanya Nayla heran.


“Kamu nggak akan sanggup menerima kenyataan ini sayang! pasti terasa begitu berat bagimu.”


“Kata siapa, Nay nggak sanggup menerima kenyataan ini, Nay sanggup kok.”


“Benarkah?”


“Iya, Nay lebih baik dengar langsung dari kalian, dari pada nanti, Nay dengar dari orang lain. Pasti terasa begitu menyakitkan sekali.”


“Baiklah! lanjutkan aja, Sis!” perintah Yuda pada sahabatnya itu.


Maka atas perintah Yuda, dr.Siska langsung melanjutkan perkataannya, yang akan membahas masalah penyakit yang diderita Nayla.


“Sebenarnya Nay itu menderita penyakit, kangker Rahim stadium dua.”


“Apa, Kangker rahim?” tanya Nayla tak percaya.


Namun bersamaan dengan itu, karena merasa shock, Nayla langsung tak sadarkan diri. Dia terjatuh kepangkuan dr.Siska.


karena merasa tak kuat menahan beban yang terlalu berat, dr. Siska pun jatuh kedalam pelukan Yuda.


Merasakan aroma yang begitu tak asing baginya, dr. Yuda pun seperti terhanyut pada memori masa lalunya.


Dr. Siska yang dimasa kuliah, merupakan siswi yang menjadi incaran banyak orang, saat itu telah berada didalam pelukannya.


“Aduuuh! kenapa mesti diam Yud? tolongin dong !” kata dr. Siska, seraya berusaha untuk berdiri kembali.


“Oh, eh !” jawab Yuda sedikit gelagapan.


Tubuh dr. Siska, didorong dari bawah, dan Nayla disambut, agar tubuhnya tak menyentuh lantai.


“Dia pingsan Yud, ayo kita bawa kedalam,” kata dr. Siska pada Yuda.


“Baik Sis,” jawab Yuda seraya mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di atas sofa.


Lalu dengan pelan, Yuda memijat kening Nayla dan meletakan minyak angin di hidungnya, agar Nayla segera siuman.


“Apa penyakit istriku bisa disembuhkan, Sis?”


“Siska akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian berdua.”


“Maksudnya apa ya?” tanya Yuda tak mengerti.


“Siska punya teman ahli pembedahan yang profesional, dan saat ini dia sedang bertugas diluar negeri. Kalau kau mau akan Siska hubungi dia,karena Nayla harus segera dioperasi," kata Siska menjelaskan.


“Benar begitu?”


“Iya, Yud, untuk apa Siska berbohong pada kalian.”


“Baiklah kalau begitu, berikan perawatan yang terbaik untuk istriku, berapapun biayanya akan ku tanggung nantinya.”


“Baiklah, nanti Siska akan menghubunginya.”

__ADS_1


Setelah selesai bicara, tampa disengaja, mereka berduapun saling beradu pandang, kemudian keduanya pun sama-sama tertunduk malu.


“O iya, Sis! apa kau masih ingat, kenangan semasa kita sama-sama di kampus dulu?” tanya Yuda dengan suara pelan.


“Tentulah, Yud. Waktu itu, kau sempat bertengkar dengan Yandri, karena ingin melindungi Siska kan? dari kejahatan mereka semua!”


“Sebenarnya, Yandri itu sangat mencintaimu, Sis! tapi dia malu untuk mengungkapkan perasaannya padamu.”


“Kalau dia merasa suka pada Siska, kenapa dia selalu saja menjahili Siska?” tanya Siska tak percaya.”


“Mungkin dengan cara itu dia bisa mengungkapkan perasaannya padamu.”


“Tapi Siska nggak percaya Yud.”


“Kenapa nggak percaya?”


“Karena Siska tau, kalau Yandri itu, pria hidung belang,” jawab Siska dengan polos.


“Kok kamu tau, kalau Yandri itu pria hidung belang?”


“Iya Yud, begini ceritanya!” kata Siska menjelaskan kronologis kejadiannya pada Yuda.


"Waktu itu, Siska bersama teman pergi ke cafe untuk mencari hiburan, namun sesampainya kami disana, Siska bertemu dengan Bang Hadi, dan kami saling bercerita Panjang lebar saat itu.


Tiba-tiba tampa Siska sengaja, Siska melihat Yandri bersama banyak perempuan disekelilingnya, hii! Siska jadi geli melihatnya,” kata Siska seraya mengangkat kedua bahunya dan mengatupkan kedua giginya dengan rapat.


“benar kamu melihatnya bersama banyak wanita?” tanya Yuda tak percaya begitu saja.


“Iya Yud, masa Siska bohong!” jawab Siska sembari tertawa senang.


Melihat Gigi Siska yang putih dan bersih itu, Yuda langsung terpana padanya. Sementara itu, Siska yang menatapnya dengan pandangan yang aneh, langsung saja berkomentar.


“Habis kamu cantiknya masih sama seperti dulu!” jawab Yuda dengan polos.


“Ah! jangan gombal kamu.”


“Untuk apa menggombal, aku udah punya istri kok,” jawab Yuda datar


“Iya juga sih!” kata Siska malu.


“O iya, Sis! kalau boleh aku tau, kamu jadi nikahnya sama siapa sih?”


“Kok kamu nanyanya gitu!”


“Nggak boleh ya.”


“Boleh juga, tapi Siska kan jadi malu untuk mengatakannya.”


“Kenapa mesti malu, siapapun jodoh yang telah ditakdirkan Allah untuk kita, maka kita harus menerimanya dengan senang hati dan ikhlas.”


“Sebenarnya memang begitu Yud, cuma masalahnya, Siska kan belum ada jodoh!”


“Maksudnya? kamu masih jomblo?”


“Iya Yud, hingga saat sekarang ini, Siska masih berstatus singel.”


“Ooo, sorry!” Kayaknya telah menyinggung kamu nih."

__ADS_1


“Nggak kok Yud, Itu udah biasa Siska dengar dari banyak orang.”


“Emangnya orang bilang apa padamu?”


“Sayang sekali ya? wanita secantik kamu nggak dapat-dapat jodoh!"


“Lalu kamu jawab apa?”


“Siska nggak jawab apa-apa kok Yud, yeah! paling-paling nangis, hanya itukan tabiat perempuan.”


“Kenapa nggak cari jodoh yang cocok dan yang baik, Sis!" tanya Yuda dengan suara lirih, takut kalau-kalau Siska tersinggung.


“Sulit Yud! sangat sulit sekali,” jawab Siska jujur.


“Kenapa mesti sulit sih, kamu lihat sendiri kan begitu banyaknya pria dimuka bumi ini.”


“Pria memang banyak Yud, tapi yang bersifat seperti itu hanya satu orang, dan hal itu tak mungkin untuk Siska dapatin.”


“Kenapa? apa begitu sulit untuk mendapatkan pria seperti keinginan mu.”


“Bukan sulitnya, Yud!”


“Lalu?”


“Udah nggak bisa untuk didapati, karena dia sudah menikah dengan perempuan lain.”


“Oh, gitu ya! tapi kamu nggak usah sedih Sis, masih banyak kok, pria yang baik selain yang kau maksud itu.”


“Semoga aja gitu, Yud,” jawab Siska pelan.


Disaat mereka sedang asik berbincang, Nayla pun siuman dari pingsannya.


“Bang!” panggil Nayla dengan suara serak.


“Eh, Nay udah bangun sayang!” kata Yuda seraya mencoba mengangkat tubuh Nayla dari pembaringan.


“Nay sakit Bang.”


“Udah sayang, jangan bicara lagi, nanti kamu semakin nggak kuat menerimanya.”


“Tapi Bang! maafkan Nay, selama ini Nay selalu nyusahin Abang.”


“Ssssst, Nay nggak salah apa-apa, jadi Nay nggak perlu minta maaf sama Abang.”


Melihat Nayla dan Yuda saling bermanjaan, dr. Siska hanya bisa menatapnya dengan rasa kecewa.


“Semestinya yang berada didalam dekapanmu itu, hanya Siska, Yud. Bukan perempuan lain,” kata Siska didalam hatinya.


Terasa begitu sakit sekali hati Siska saat itu, karena selama ini cinta suci Siska hanya terbelenggu didalam hati yang begitu sempit.


Ingin sekali rasanya dia memberontak, untuk melepaskan semua rasa sesak dihatinya. Namun dia tak kuasa untuk itu.


Karena percuma saja harus memberontak, kalau orang yang dia sukai itu, tak mengetahui sama sekali isi hatinya.


Dengan perasaan yang tak menentu, Siska mencoba sedikit tenang, agar dr. Yuda, tidak merasa curiga pada dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2