
Perpisahan yang sangat mengharukan pun terjadi pada siang itu, semuanya menangis melepaskan dr. Rangga dan dr. Brema.
Mereka yang selama ini selalu bahu membahu dalam bekerja, kini tak lagi ada bersama mereka.
“Selamat berpisah Nak Rangga dan Nak Brema, semoga nama kalian tetap harum di sanubari kami.”
“Iya, Pak Tua, semoga kalian semua diberikan kesehatan dan ketenangan jiwa oleh Allah.”
Lalu mereka pun saling berpelukan, isak tangis dan air mata mewarnai perpisahan mereka siang itu. Terasa tak kuat untuk berpisah dengan orang yang telah satu hati dengannya, tapi hal itu harus dilakukan.
Karena bagi dr. Rangga, tugas penting telah menantinya di Indonesia. Begitu juga dengan orang tuanya, kedua adik dan terkhusus untuk pujaan hatinya dr. Siska.
Di Gedung kedutaan Indonesia, dr. Rangga dan dr. Brema disambut dengan baik, mereka dilayani dan diberi pakaian yang layak.
“Jadi sekarang gimana dr. Rangga dan dr. Brema, apa kalian ingin melanjutkan tugas yang sedang kalian emban atau kembali ke Indonesia?”
“Kami ingin kembali ke Indonesia saja, Pak.”
“Kenapa? apa kalian jera dengan kejadian ini?”
“Ooo, bukan itu masalahnya, kejadian yang baru kami alami, itu merupakan kisah hidup yang akan kami ceritakan pada anak keturunan kami nanti.
Dan satu kebanggaan pula bagi kami bisa jadi relawan di daerah yang tak bertuan ini.”
Mendengar penjelasan dr. Rangga, semuanya jadi tertawa lepas. Hari itu juga kepulangan dr. Rangga dan dr. Brema mereka urus.
Hati keduanya sangat senang dan bahagia, pengalaman mereka menjadi relawan untuk beberapa bulan telah menunjukan dedikasi yang tinggi untuk negara Indonesia.
Di atas pesawat dr. Rangga tampak menangis, hal itu diperhatikan oleh dr. Brema.
“Kenapa menangis, bro ! kan kita udah selamat dan kembali ke Indonesia?”
“Oh! sesaat terbayang oleh ku, penderitaan kita selama di Ukraina. Kita sembunyi disebuah Bunker, tapi kelaparan, kita berusaha untuk menggali terowongan hingga beberapa hari, sampai-sampai badan kita terasa lemah tak bertenaga, lalu kita semua keluar begitu saja dari tempat itu. Seakan-akan apa yang kita kerjakan itu suatu hal yang mustahil saja.”
“Nggak Rangga, menurut ku apa yang telah kita kerjakan selama ini, merupakan suatu keberhasilan yang tak dapat dinilai dengan materi.”
“Kau benar Brema, tapi!”
“Tapi apa, Rangga?”
“Menurut mu, apakah perintah dari pimpinan malam itu, sudah sesuai menurut prosedur?”
“Kalau kita berada di Negara, yang sedang konflik, hal semacam itu, wajar-wajar saja terjadi, karena ditempat itu, hal-hal yang tak mungkin menurut kita justru itulah yang kita saksikan.”
“Ya, kau benar Brema. Semoga saja perang segera berakhir, agar banyak nyawa yang terselamatkan.”
“Iya, semoga saja begitu.”
“Amin!” ujar keduanya serentak.
Tak terasa, karena kelelahan dr. Rangga dan dr. Brema pun tertidur diatas pesawat. Dan hingga beberapa kali transit barulah mereka tiba di Indonesia.
Kepulangan yang tak disangka-sangka itu, membuat pihak kelurga menjadi senang dan bahagia. Dan dr.Rangga langsung mengabarinya pada Siska, wanita yang selalu menjadi pujaan hatinya.
“Aaah! kamu serius? udah kembali ke Indonesia?”
__ADS_1
“Serius sayang!” jawab Rangga yang saat itu sudah berada didepan pintu ruangan Siska.
“Tapi Siska nggak percaya loh.”
“Ah masa nggak percaya?”
“Iya, kemaren sewaktu Siska telfon, katanya masih lama disana, tapi kok sekarang tiba-tiba saja udah berada di Indonesia.”
“Nih, buktinya!” kata Rangga seraya menampakkan dirinya dihadapan Siska.
“Oww! kamu nakal Rangga!” kata Siska sembari menutup wajahnya karena malu.
“Aku bawakan sesuatu untuk mu.”
“Apa itu?”
“Surprise! kata Rangga seraya mengeluarkan setangkai mawar dan sebuah bingkisan kecil dihadapan Siska.
“Apa ini, Rangga?” tanya Siska tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
“Terima dulu bunganya, baru buka bingkisannya."
Sesuai permintaan Rangga, Siska pun menerima setangkai bunga itu dan menciumnya dihadapan Rangga. Dan Rangga kemudian memberikan bingkisan kecil itu pada Siska.
“Boleh Siska buka?”
“tentu, dengan senang hati!” jawab Rangga dengan bergaya.
“Ah kamu, mulai deh,” kata Siska sedikit manja.
Atas izin Rangga, bingkisan kecil itupun dibuka, akan tetapi, betapa terkejutnya Siska, ternyata isinya kalung berlian yang sangat indah.
“Gimana, kamu suka?”
Siska tak menjawab tapi senyumannya yang manis telah mengungkapkan seluruh perasaannya, pada Rangga saat itu.
“Ini awal dari kepingan perasaan ku padamu, untuk selanjutnya, aku serahkan pada yang punya hati dan jiwa yang lembut.”
Mendengar kata-kata dari Rangga, hati Siska terasa terbuka begitu lebar untuk yang ingin masuk kedalam.
Tanpa bisa menyembunyikan perasaanya itu, Siska dokter cantik itu langsung jatuh ke pelukan pria yang selama ini ditolaknya.
Pertemuan yang sangat mengharukan itu, telah membuat jantung Siska berdetak tak menentu, mereka berduapun melepaskan kerinduan yang telah lama tak pernah menyatu.
Cumbuan mesra, mulai ditanamkan Rangga pada gadis impiannya itu, siang yang sangat romantis diruang tugas Siska.
“Katanya kau masih lama disana, tapi kenapa begitu cepat kembalinya ?”
“Ceritanya Panjang sayang, jika harus diuraikan satu persatu saat ini, lalu kapan lagi waktunya untuk mengecup bibir yang lembut ini.”
“Aaaah, kamu ! mulai deh.”
Dengan senyum manis, Rangga memeluk tubuh Siska yang selama ini tak pernah disentuhnya.
“kenapa tersenyum?”
__ADS_1
“Aku teringat dengan penolakan mu waktu itu,hatiku terasa begitu sedih, didalam hati aku berjanji untuk menjadi orang nomor satu dalam sejarah hidup mu, dan hari ini semua keinginanku terwujud.”
“O ya! lalu apa dengan cara seperti tadi itu, adalah salah satu trik untuk mendapatkan cinta Siska?”
“Nggak sayang, untuk mendapatkan cinta suci mu, Aku harus berjuang dan berdo’a, setiap waktu. Dan hari ini takdir itupun terwujud.”
“Berarti, Allah telah mengizinkan Siska untuk Mu?”
“Iya, sayang. Aku ingin, pertemuan kita ini akan dilanjutkan ke pelaminan.”
“Amin!”
Seperti kepulangan Rangga ke Indonesia yang tiada diduga, cinta Siska pun datang juga tak diduga sama sekali, perpaduan cinta dua sejoli itu sangatlah romantis.
Malam itu hati Siska sangat senang, berulang kali dipandanginya kalung berlian yang diberikan Rangga kepadanya. Bertepatan dengan itu, Siska langsung teringat dengan dr. Yuda.
“Ya Allah, aku hampir saja lupa dengan Yuda,” kata Siska seraya mengambil ponselnya.
“Hallo! Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam. Siska, ada apa malam-malam begini menelfon?"
“O iya, Yud. Sesuai dengan ucapan Siska hari itu, tentang operasi Nayla istrimu, saat ini dr. Rangga sudah berada di Indonesia.”
“Apa? benar Rangga udah berada di Indonesia?”
“Benar, Yud. Dia udah tiba dua hari yang lalu.”
“Oh syukurlah.”
“Ya, semoga istrimu dapat melakukan operasi secepatnya.”
“Iya terimakasih Sis,” jawab Yuda dengan senang hati.
Setelah telfon itu dimatikan, Yuda menoleh kearah istrinya yang masih tertidur lemah. Dalam hatinya, dia benar-benar merasa kasihan.
“Nay, Bangun sayang!”
“Hmm, ada apa Bang, kenapa tengah malam begini Nay dibangunkan?” tanya Nayla ingin tau.
“Ada kabar baik untuk mu Nay.”
“Kabar apa itu?”
“Dr. Rangga yang akan mengoperasi, penyakitmu, dia sudah tiba di Indonesia."
“Benarkah itu, Bang.”
“Iya sayang, berarti sebentar lagi Nay akan menjalani operasi pengangkatan kangker itu.”
“Iya, Bang? Nay sangat senang sekali mendengarnya. Semoga operasi Nay nanti berjalan lancar ya, Bang.”
“Iya sayang! iya, insya Allah.”
“Iya, insya Allah."
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*