Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 76 Kecewa Karena di tolak Yoga


__ADS_3

“O iya, Yog. Tadi Ibu Dinda datang kerumah Mama, dia mengabari perihal Dinda pada Mama, sepertinya Ibunya mengeluhkan Dinda, karena dia selalu menolak untuk dinikahi dengan pria lain, alasannya karena dia masih menunggu keputusan dari mu.”


“Apa! kenapa Dinda melakukan itu, Ma?”


“Mama nggak tau, Yog. Mungkin selama ini Dinda merasa sangat dekat dengan mu, makanya dia ingin menikah dengan mu, sayang.”


“Tapi cinta itu nggak harus berakhir di pelaminan kan, Ma?"


“Itu benar nak, tapi kalau menurut Mama, Dinda itu sangat cocok sekali dengan mu, dia baik dan sayang pada Mama, selama kalian nggak ada, Dinda yang selalu merawat Mama dirumah.”


“Maaf Ma, tapi aku udah punya pilihan ku sendiri.”


“Siapa? kenapa kau nggak beri tahu Mama, Yog.”


“Belum waktunya, Ma! nanti kalau saatnya udah tepat, maka aku pasti memperkenalkannya pada Mama.”


“Jadi gimana dengan Dinda, Mama kan jadi nggak enak, sama ibunya.”


“Bilang aja Ma. Kalau aku udah punya calon sendiri.”


“Baiklah, nanti biar Mama yang bicara dengan Ibunya Dinda.”


“Iya, Ma ! bicaralah baik-baik dengannya, agar Dinda nggak tersinggung dengan keputusan kita ini.”


“Iya, nak. Kalau begitu, kamu istirahatlah, Mama mau kerumah Dinda dulu.”


“Baik, Ma.”


Setelah selesai bicara dengan Mamanya lewat telfon, Yoga langsung terhenyak, nafasnya terasa begitu sesak saat itu, hatinya bergetar saat dia tau kalau Dinda ternyata mencintai dirinya dan berharap untuk dinikahi.


“Betapa bodohnya aku, yang tak bisa menangkap sinyal cinta dari Dinda selama ini. Aku merasa dia hanya sekedar teman dan tak lebih dari itu, tapi ternyata, dia mencintai ku selama ini,” kata Yoga pada dirinya sendiri.


Disaat Yoga benar-benar merasa sesak dengan keputusan Dinda, Dinda juga sedang menangisi nasibnya, karena Yoga tak mau menikah dengannya. Hatinya benar-benar hancur sekali, didalam kamarnya, Dinda melepaskan rasa sakit karena goresan luka dari Yoga.


“Dinda keluarlah, nak! makanlah sedikit nanti kau sakit sayang,” kata Bu Saidah gusar.


Namun Dinda tak menjawab sama sekali, panggilan dari Ibunya, hatinya telah hancur saat itu, kepingan yang telah hilang itu tak dapat untuk dicari gantinya.


“Dinda! keluarlah nak, Ibu nggak suka dengan cara mu ini.”


Apapun yang dikatakan Ibunya, namun Dinda tetap pada pendiriannya, dia tetap bersikeras menahan dirinya didalam kamar.


Hingga dua hari telah berlalu, Dinda tetap tak mau membuka pintu, jangankan untuk makan, untuk minum saja Dinda udah enggan melakukannya.


Merasa tak ada jawaban dari Dinda, selama dua hari, Saidah mencoba meminta bantuan pada tetangga untuk mendobrak pintu kamarnya. Ternyata benar firasat Saidah, kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja.


Saidah mendapatkan Dinda terkulai lemah karena kekurangan cairan, putrinya itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan menahan makan dan minum.


“Dinda!” teriak Saidah seraya memeluk putrinya sambil menangis histeris.


“tenang Bu, saat ini Dinda udah nggak sadarkan diri, gimana kalau dia kita larikan aja kerumah sakit terdekat, biar mendapat pertolongan."


“Baik nak, tolong bantu Ibu untuk mengangkat tubuh Dinda.”


“Baiklah, tapi biar saya carikan dulu mobil untuk membawanya kerumah sakit.”


“Silahkan nak,” kata Saidah seraya terus menangis.


Sementara itu, Kartini yang melihat banyak orang didepan rumah Dinda, langsung berjalan keluar rumah.

__ADS_1


“Hei, hei! ada apa, kok rame-rame dirumah Dinda?” tanya Kartini pada salah seorang pria yang lewat didepan rumahnya.”


“Dinda, Bu.Dinda!”


“Ada apa dengan Dinda?”


“Dia mau bunuh diri.”


“Ya Allah, putriku!” jerit Kartini sembari berjalan tergopoh-gopoh, menuju rumah Dinda.


Melihat Kartini datang, Saidah langsung berlari menghampirinya, dia memeluk tubuh Kartini dengan erat sekali.


“Putri ku, Tini! putri ku!” rintih Saidah dipelukan Kartini.


“Kenapa dengan putri ku, Saidah, kenapa dengannya?”


“Dia nggak mau makan dan minum selama dua hari ini, Tini.


“Kenapa, Saidah?”


“sepertinya dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan nggak makan dan minum Tini!”


“Ya Allah! Dinda putri Mama!” teriak Kartini seraya berjalan menghampiri Dinda yang terkulai tak sadarkan diri.


“Gimana, Bu, apa Dinda kita bawa kerumah sakit?”


“Iya, silahkan nak!” perintah Saidah seraya membantu warga untuk mengangkat tubuh Dinda keatas mobil.


Setelah mobil pergi meninggalkan Kartini, hatinya begitu terhenyuh sekali saat itu, dengan cepat diapun kembali pulang kerumahnya, guna untuk menelfon Yoga, dan memberi tahukan kabar Dinda padanya.


Ketika gagang telfon itu diangkatnya, Kartini pun menekan nomor yang akan ditujunya, dari jauh perlahan Kartini mulai mendengar suara seseorang mengucapkan sesuatu.


“Hallo! Assalamu’alaikum, Ma,” sapa Yoga nun jauh disana.


“Ada apa, Ma! Mama kangen lagi ya?”


“Yog, ada kabar buruk untuk mu, sayang.”


“Kabar buruk, kabar buruk apa itu, Ma?”


“Dinda, Yog! Dinda.”


“Ya, ada apa dengan Dinda, Ma?”


“Dia melakukan percobaan bunuh diri, setelah Mama memberikan kabar padanya tentang penolakan mu, untuk menikahinya.”


“Astagfirullah! Benarkah itu, Ma?”


“Iya, Nak, saat ini Ibu nya sedang membawa Dinda ke puskesmas terdekat.


“Ooo! Kalau begitu baiklah Ma, nanti aku akan kesana.”


“Ya, cepat datang ya Nak, Mama jadi nggak enak dengan keluarga Bu Saidah.”


“Baik, Ma.”


“Udah ya Nak, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”

__ADS_1


Mendengar berita yang sangat mengejutkan itu, hati Yoga terasa begitu sakit sekali, karena ulah keputusan yang dia buat, ternyata ada orang yang tersakiti.


Setelah mematikan ponselnya, Yoga langsung berkemas-kemas, lalu dia menulis surat cuti untuk sekolah atas ketidak hadiran dirinya dalam mengajar.


Saat itu juga surat cuti itu langsung diantarkan kesekolah, diperjalanan saat menuju sekolah, tiba-tiba dia berpapasan dengan Mutia.


“Bang Yoga, Abang mau kemana?” tanya Mutia heran.


“Mau pulang sebentar, sayang.”


“Pulang? pulang kemana?”


“Pulang kerumah Mama.”


“Kenapa mendadak,” tanya Mutia penasaran.


“Nggak ada apa-apa kok sayang, Abang hanya ada keperluan sedikit dengan Mama.”


“Boleh aku ikut?”


“Jangan!”


“Jangan, kenapa?”


“Mutia, sayang, rumah Mama itu sangat jauh dari sini, butuh waktu lima jam dari sini, jadi Abang belum berani membawa mu sejauh itu.”


“O ya.”


“Iya, sayang, Nanti kalau sudah waktunya, pasti Abang akan bawa Mutia kesana, untuk menemui Mama sekaligus memperkenalkan mu pada Mama.


“Baiklah,” jawab Mutia pasrah dengan apa yang diputuskan Yoga padanya.


“Kalau begitu Abang kekantor dulu, mau menemui Kepsek.”


“Iya, silahkan.”


Setelah mendapat izin dari Mutia, lalu Yoga pun berlalu meninggalkan Mutia yang tak berkedip melepas Yoga meninggalkan dirinya.


“Abang cutinya, berapa hari?” tanya Mutia dari kejauhan.


“Satu minggu!”


“Satu minggu, oh ! hari yang sangat menjenuhkan tampa Bang Yoga disekolah ini,” kata Mutia pada dirinya sendiri.


Sementara Mutia kebingungan, Yoga terus saja berlalu meninggalkan dirinya, didepan kantor Yoga langsung masuk kedalam, di saat itu, semua guru tampak duduk di mejanya masing-masing.


Lesti yang memandangi Yoga sedikit heran, karena Yoga tampak begitu tergesa-gesa sekali, ingin rasanya dia bertanya, tapi malu karena begitu banyak guru yang ada diruangan itu.


Lalu tiba-tiba saja Bu Sinta bertanya pada Yoga yang terlihat berdiri didepan ruangan Kepala Sekolah.


“Bapak mau kemana?”


“Mau menemui Kepala sekolah.”


“Ooo!” jawab Sinta.


“Tanya lagi dong, kok segitu doang!” ujar Lesti yang saat itu benar-benar kepo sekali.


“Huuuu !” seru seluruh guru yang ada diruangan itu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2