Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 113 Kekecewaan Lesti


__ADS_3

“Udah, Bu Lesti nggak perlu nangis segala, semestinya Bu Lesti itu sadar, karena selama ini pria yang Bu Lesti kejar-kejar itu, dia udah punya gebetannya sendiri.”


“Tapi aku melihat ada sorotan cinta dimata Pak Yoga pada ku.”


“Itu mah sorotan palsu!” timpal Dion yang mendengar pengakuan Lesti.


“Ssst! kamu bisa diam nggak, ini urusan sesama perempuan, kamu laki atau perempuan?”


“Ya, kalau aku mah pria tulen dong,” jawab Dion seraya menyisir rambutnya dengan menggunakan jari tangannya sendiri.


“Dasar pecundang!” gerutu Lesti kesal.


“Eee, Bu Lesti nggak baik ngomong gituan?” bantah Bu Sinta.


“Habis dia selalu bikin aku kesal tau nggak.”


“Kesal, nanti kecantol beneran baru tau!”


“Aih, siapa juga yang mau sama pria kere macam dia itu! nggak level tau!”


“Idih, perempuan mulutnya kok kasar, lagian siapa juga yang mau pacaran kayak tong sampah macam lu, ogah!”


“Aduh, kok kalian jadi bertengkar sih!”


“Habis dia selalu bikin aku geregetan tau nggak, kepingin ditonjok aja.”


“Coba kalau kamu berani!” tantang Lesti, tampa memperdulikan rasa sakit yang dideritanya.


“Udah sakit kayak gitu aja, masih saja sombong!”


“Hei, yang sombong itu siapa?”


“Ya kamu lah, siapa lagi kalau bukan kamu?”


“Udah, udah, kalian ini ya selalu saja bikin kepala orang pusing, asal bertemu persis kayak anjing sama kucing, berantem melulu kerjaannya.


Mendengar ucapan Bu Sinta keduanya langsung terdiam, tapi mereka bukan berarti diam karena takut, akan tetapi mereka berdua sama-sama berfikir sesuatu.


“Ooo, kalau gitu!” jawab keduanya serentak.


“Apa? kenapa kau juga ngomong?”


“Eee, siapa juga yang ngomong duluan, aku kan mau bela diri ku sendiri.”


“Aku juga mau bela diri ku sendiri Sinta,” jawab Lesti tak mau kalah.


“Begini ya Bu Lesti? tadi kan Bu Sinta bilang kalau kita berdua ini persis seperti Anjing dan kucing. Kalau dilihat pada kenyataannya, kucing itu kan baik dan itulah aku, sedangkan Bu Lesti jahat ya berarti Bu Lesti anjingnya dong.”


“Oh, kurang ajar kamu Dion!”


Karena marahnya, Bu Lesti sampai tak menyadari kalau ada luka sobek di kepalanya, dia langsung berdiri dan memukuli Dion dengan tangannya.


“Udah, udah!” teriak Bu Sinta dengan suara lantang.


Mendengar suara Bu Sinta yang kuat, sopir menghentikan mobilnya, dan ketiganya pun langsung berhenti bicara, mereka jadi heran kenapa mobilnya berhenti seketika.


“Ada apa pak, kenapa mobilnya berhenti?” tanya Bu Sinta heran.


“Kenapa sih, kalian selalu ribut dibelakang?”


“Ooo, kami bukannya bertengkar Pak, tapi kami sedang berakting untuk acara pementasan disekolah,” jawab Dion.


“Benar pak, acara pementasan yang akan dilaksanakan besok,” timpal Bu Lesti, seraya nyengir.


“Benar begitu?”


“Iya pak, mereka itu bukannya bertengkar, mereka berdua sedang melaksanakan latihan untuk besok.”


“Baiklah, kalau begitu saya akan melanjutkan mobilnya.”


“Iya pak,” jawab Bu Sinta.


Melihat Bu Sinta diam, Dion dan Lesti juga ikut diam, mereka tak mau bicara lagi, karena takut nanti Bu Sinta turun dijalan.

__ADS_1


Di saat mereka bertiga menuju rumah sakit, Yoga di panggil Kepsek ke kantor, untuk menjelaskan kejadian yang baru menimpa Lesti, guru seni budaya itu.


“Kenapa Nak, apa kamu nggak lihat ada Bu Lesti yang begitu besar berdiri didepan mu?”


“Aku nggak lihat, Pak!”


“Kamu nggak lihat?”


“Iya Pak, awalnya aku nggak lihat siapa-siapa berdiri di depanku.”


“Mustahil kamu nggak lihat?”


“Di saat sepeda motor ku melaju kencang menuju gerbang, tiba-tiba saja Bu Lesti nongol dan menghadang sepeda motor yang aku kendarai, Pak.”


“Tapi apa maksudnya, dia menghadang sepeda motor mu?”


“Bu Lesti menyukai ku, Pak.”


“Apa? benar Bu Lesti menyukai mu?”


“Benar, Pak,” jawab Yoga datar.


Mendengar pengakuan Yoga, kepsek langsung tertawa geli, pasalnya, hanya karena cinta, Bu Lesti bisa nekad melakukan itu semua.


“Ya udah, kamu boleh pergi,” kata Kepsek.


Yoga yang merasa dirinya bersalah dan tak diberi hukuman, dia merasa bingung dengan hal itu, tapi karena kepala sekolah menyuruhnya keluar, Yoga pun langsung keluar dan meninggalkan ruang itu.


Walau dia masih kesal dengan kejadian yang baru dialaminya, namun Yoga memiliki hati yang begitu lembut, tanpa disadari oleh Lesti sama sekali, ternyata Yoga datang kerumah sakit untuk membesuk Lesti yang sedang terbaring diruang UGD.


Melihat Yoga datang menghampiri dirinya, Lesti langsung duduk dan memeluk Yoga yang baru datang.


Bu Sinta dan Dion hanya bisa terpana menyaksikan hal itu, mereka begitu bingung sekali melihat sikap Yoga, yang terkadang lembut pada Bu Lesti dan terkadang marah.


“Maafkan saya Bu!” kata Yoga seraya melepaskan pelukan Lesti yang membuat dadanya terasa sesak.


“Aku udah maafin Bapak kok, tapi lain kali kalau bawa sepeda motor itu yang hati-hati, jangan ada lagi korban yang terluka seperti Aku ini.”


Mendengar kata dari Yoga Bu Lesti menutup mulutnya dengan kuat, dia sadar ucapan Yoga itu sebenarnya di tujukan pada dirinya sendiri.


“Kena batunya sendiri kan!” ujar Dion meledek Lesti.


“Maksud mu apa sih Yon?"


“Itu makanya kalau jadi perempuan jangan kegenitan."


“Dion, udah! nanti ujung-ujungnya pasti berantem lagi,” kata Bu Sinta memotong pembicaraan mereka berdua.


“Tadi kepala sekolah mencari mu, Yog?”


“Iya, aku udah datang ke ruangannya.”


“Lalu apa kata beliau pada mu?"


“Dia hanya ketawa saat mendengar penjelasan dari ku.”


“Apa? kepsek nggak marah pada mu?”


“Nggak, dia hanya menyuruh ku keluar, hanya itu saja.”


“Hebat ya? kalau kita jadi kesayangan Kepsek, hal besar pun bisa diperkecil, padahal udah ada korban lho.”


“Maksud mu apa Yon?”


“Kau lihat sendiri kan Yog, ulah kelakuan mu, Lesti jadi korbannya.”


“Kau jangan menuduh ku seperti itu!” apa kau melihat kejadian yang sebenarnya?”


“Nggak sih!”


“Itu makanya, jangan berprasangka buruk dulu sebelum mengetahui hal yang sebenarnya."


“Pak Yoga benar Yon, semua itu kan udah diakui oleh Lesti sendiri, kalau sebenarnya dia sendiri yang menghadang sepeda motor Yoga, yang sedang melaju kencang menuju gerbang sekolah.”

__ADS_1


“Ha, benar kan, berarti Bu Lesti sengaja mau bunuh diri,” jawab Yoga pelan.


“Hoi, siapa juga yang mau bunuh diri?”


“Tuh buktinya, Ibu mencoba menghadang sepeda motor saya yang sedang melaju kencang, untung cuma gigi Ibu yang patah, kalau Ibu langsung koit gimana?”


“O, gitu ya! kalian semua bisanya Cuma nyakitin hati Lesti tau nggak.”


Yoga yang tak ingin memperpanjang masalahnya dengan Lesti, dia langsung keluar secara diam-diam. Sementara itu Lesti yang sudah merasa baikan, diapun mendapat izin untuk pulang kerumahnya.


Dalam kesendiriannya, Lesti merenungkan diri, Bu Sinta benar, untuk apa berharap orang yang telah punya kekasih, walau Yoga adalah sosok baik dan memiliki wajah yang tampan, namun kalau dia tak cinta tentu tak ada yang bisa mereka perbuat.


Sedangkan Yoga saat itu, dia telah berada dirumah Yuda. Dia duduk sendirian di depan rumah sembari menelfon Yuda yang masih berada dirumah sakit.


“Kenapa kau nggak kerumah sakit aja Yog?”


“Nggak Yud, aku menunggumu di sini aja.”


“Kenapa? kau nggak ingin ketemu sama Nayla?”


“Lain kali aja Yud, saat ini aku sedang ada masalah.”


“Ada masalah apa lagi Yog?”


“Aku mau ceritanya dirumah aja Yud.”


“Baiklah, sebentar lagi aku akan pulang kerumah.”


“Makasih ya Yud.”


“Iya, sama-sama.”


Setelah selesai bicara, Yoga langsung mematikan ponselnya, dan Dia pun masuk kedalam rumah, dibaringkannya tubuh yang begitu sarat dengan beban hidup yang melelahkan.


Beberapa saat kemudian, Yoga mendengar suara deru mobil di garasi rumah Yuda, pertanda Yuda udah kembali pulang kerumah.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Yoga sembari bangkit dari tidurnya.


“Baru nyampe Yud?”


“Iya, baru saja.”


“Ooo,” jawab Yoga.


Setelah pintu dibukakan Yuda langsung masuk kedalam, setelah selesai sholat, dia langsung menuju ruang tengah, yang saat itu Yoga telah menantinya disana.


“Ada masalah apa kau Yog?


“Kemaren, ketika aku kerumah Siska untuk berkunjung, aku melihat Siska bersama dengan Rangga. Waktu itu aku merasa Rangga adalah tamu sepesial untuk Siska, makanya kuputuskan untuk pergi.”


“Terus?”


“Karena merasa tak ada yang perlu dipertanggung jawab kan, aku langsung menemui Papa Mutia, untuk mengungkapkan keinginan ku, melamar Mutia.”


“Terus.”


“Dan dia setuju, kalau aku menikahi Mutia, asalkan Mutia juga setuju untuk ku nikahi.”


“Tapi Yog, aku nggak yakin kalau orang tua Mutia langsung menyetujui pernikahan kalian.”


“Kenapa?”


“Kamu tau sendirikan, di zaman sekarang ini, mana ada pejabat yang mau menikahi putrinya yang hanya berijazah kan SMA, mereka pasti inginkan yang terbaik untuk putri mereka, Yog.”


“Lalu kenapa, orang tua Mutia menyetujui permintaan ku saat itu?”


“Mungkin juga saat itu, dia tak ingin kalau kau merasa malu, jika lamaran mu mereka tolak.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2