
“Mutia! Mana Mutia?”
“kak Mutia ada di kamarnya Ma?” jawab Rika.
“Cepat panggil dia, bilang ada tamu!”
“Baik Ma,” katanya seraya berlari menuju lantai atas, belum separoh tangga yang dinaikinya, tiba-tiba saja Yoga sudah masuk, dengan memberi salam hormat pada pak Ramon beserta istrinya.
Rika yang melihat hal itu, terpaku sejenak dipertengahan tangga. "Waah, gantengnya ternyata!” katanya terkesima.
Sementara itu Yoga yang baru saja duduk, ditanya oleh pak Ramon tentang tujuannya datang bertamu kerumah itu.
“Maaf, ngomong-ngomong, anda ini siapa ya? dan ada keperluan apa datang kesini?”
“Nama saya Yoga, Pak. Saya guru Mutia dikelasnya, adapun tujuan kedatangan saya kesini, yaitu untuk minta izin pada Bapak dan Ibu mengajak Mutia keluar sebentar.”
“Tapi hari kan sudah malam, kami nggak pernah mengizinkan putri kami keluar rumah pada jam malam begini. Kalau Bapak mengajaknya pergi, berarti kami telah melanggar cara disiplin yang kami buat sendiri.”
“Saya berjanji akan menjaga Mutia dengan nyawa saya sendiri, dan mengembalikannya nanti kerumah ini dalam keadaan selamat.”
Kata-kata Yoga membuat pak Ramon beserta Bu Sukesih serba salah, tapi keputusan sudah disepakati bersama.
“Aduh! Gimana ini Ma?”
Melihat pak Ramon dan istrinya berembuk, Yoga menanti dengan begitu tenangnya, tak sedikitpun ada rasa takut dihatinya. Seraya meneguk teh hangat yang disuguhkan kepadanya, Yoga juga menikmati roti kering yang ada diatas meja.
“Maaf, sebenarnya rumah ini nggak pernah dikunjungi oleh lelaki manapun, jadi kami serba salah dibuatnya. Karena anak-anak dirumah ini perempuan semua, jadi harus berhati-hati sekali.”
“Nggak masaalah, jika Bapak dan Ibu keberatan, kalau begitu saya permisi dulu,” jawab Yoga sembari berdiri.
“Oh bukan, bukan itu maksud saya,kami memberi izin kok, untuk Mutia keluar malam ini bersama nak Yoga.”
“Baiklah terimakasih.”
“Rika! mana kakakmu? panggil dia cepat, tamunya udah nungguin.”
“Baik Pa!” jawab Rika sambil berlari menuju kamar Mutia.
Ketika Rika hendak sampai ke pintu kamar kakaknya, Rika melihat Mutia duduk disudut lemari seraya menutup kedua telinganya. Rika pun bergegas masuk.
“Hei, semuanya aman-aman aja kok, nggak ada yang perlu ditakuti, ayo bangun!” kata Rika seraya membantu Mutia untuk berdiri.
“Apa Papa marah, dek?”
“Nggak, Papa nggak marah kok, dia ngasih izin kakak malam ini keluar!”
__ADS_1
“Benar dek?”
“Benar! ayo sini biar ku dandani, agar kakak terlihat cantik malam ini.”
“Tapi jangan berlebihan Ya dek, kakak takut?”
“Kalau takut, ngapa diterima permintaan guru kakak itu untuk dinner.”
“Dia maksa dek, kakak takut.”
“Dah, nggak apa-apa kok, semuanya pasti berjalan dengan lancar. Sana gih, guru kakak udah nungguin tuh.”
“Makasih ya dek!”
“Iya sama-sama,” jawab Rika seraya mengiringi kakaknya dari belakang.
Dengan perasaan takut Mutia pun turun dari tangga, semua mata tertuju pada penampilannya, Yoga yang memandanginya berdecak kagum, akan kecantikan gadis idamannya itu. Walau saat itu Mutia berdandan seadanya.
“Ini ada gurumu yang ingin mengajakmu keluar. Kenapa nggak bilang pada Papa dan Mama sebelumnya!”
Mutia diam saja, gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan kedua orang tuanya.
Tak sepatah katapun yang bisa dia ucapkan saat itu. Tapi pak Ramon sangat pengertian orangnya, sehingga dia bisa mengembalikan kebuntuan suasana saat itu menjadi gelak tawa.
“Udah-udah, Papa Cuma bercanda kok! lain kali kalau masih ada juga orang yang undang makan malam, ajak juga kami-kami ini!” kata pak Ramon seraya mendelikkan matanya kearah Mutia.
“Ya udah, berangkatlah sekarang dari pada nanti keburu malam.”
“Baik Pak, permisi,” kata Yoga seraya menggandeng tangan Mutia didepan Orang tuanya.
Pak Ramon dan yang lainnya, hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Anak gadismu udah besar ternyata Ma!”
“Iya Pa, tak terasa ternyata dia udah gadis.”
“Kita harus lebih berhati-hati lagi menjaganya, Ma! agar kelak nggak ada penyesalan dihati kita tentang pergaulannya.”
“Iya Pa,” jawab bu Sukesih singkat.
Sepeda motor yang dikendarai Yoga pun melaju kencang dijalan raya, derunya membuat bising telinga yang mendengar, banyak kendaraan yang menghindar saat berpapasan dengannya.
Namun walau demikian Mutia nggak merasa terganggu dibuatnya, Yoga menarik kedua tangan gadis itu dan melilitkan di pinggang.
“Pegang erat-erat sayang, kalau nggak ingin mati konyol.”
__ADS_1
Mutia diam saja, dia hanya menikmati perjalanan malam itu dengan senangnya, tampa memikirkan yang lain.
Tampa disadari Mutia menaruh kepalanya dipundak Yoga, merasakan kelembutan itu, Yoga pun merasa nyaman sekali dibuatnya.
Deru sepeda motor itu meraung-raung, membuat banyak orang melontarkan sumpah serapah kepada pengemudinya.
Sesaat kemudian tibalah mereka ditempat yang dituju, sebuah restoran sederhana tetapi memiliki nuansa yang eksotik, sangat digandrungi oleh para kaula muda. Di sanalah Yoga mengajak Mutia dinner
“Ayo kita turun sayang!” ajak Yoga dengan suara yang lembut.
“Baik Pak,” jawab Mutia datar.
“Jangan panggil bapak dong, apa ada tampangnya kayak bapak bapak?”
Mutia hanya tersenyum mendengar celotehan Yoga itu, tapi dia tak begitu perhatian dengan keberadaan Yoga disisinya.
Yoga kemudian menggandeng tangan Mutia dan Mutia pun tampak malu-malu. Disudut ruangan yang penuh dengan hiasan bunga-bunga, disitulah Yoga mengajak Mutia duduk, serta diiringi oleh merdunya suara biduan yang bernyanyi, menambah suasana malam itu semakin romantis.
“Mutia, apa kamu senang?” bisik Yoga ditelinga Mutia.
Sontak bisikan itu, membuat jantung Mutia terasa bergetar dengan kuat, apalagi wanginya aroma tubuh Yoga yang sedari tadi tercium, membuat Mutia tak bisa berbuat apa-apa.
“Apa kamu suka sayang?” kata Yoga seraya meremas genggaman tangan Mutia yang terasa begitu dingin."
“Oh suka!” jawab Mutia pelan.”
Dalam suasana remang-remang Yoga menatap wajah Mutia tampa berkedip sedikitpun, hatinya benar-benar mengagumi kecantikan bidadari yang ada dihadapannya itu.
Sementara Mutia hanya bisa menundukkan malu, Yoga pun mengangkat dagu Mutia dan mengecup lembut bibir yang mungil itu, Yoga merasakan kalau Mutia menolaknya, tapi Yoga tak merasa marah, dia terus menerus merayu dan mencumbu Mutia, hingga gadis itu benar-benar tak berdaya dibuatnya.
Setelah Mutia merasakan kenikmatan indahnya bercumbu, lalu Yoga mengajaknya untuk pulang, Mutia pun menolaknya, dia masih ingin bersama Yoga sampai pagi.
“Ayo kita pulang sayang! Papa dan Mamamu udah menunggu dirumah.”
“Ntar lagi lah Bang!”
“Ayolah, nanti keburu malam, sini Abang benahi pakaianmu.”
“Baiklah!” jawab Mutia dengan suara lesu.
Walau Mutia tak mau diajak pulang, namun Yoga tetap memaksanya. Akhirnya dengan terpaksa gadis itupun mengikuti permintaan Yoga.
Malam itu, tepat waktu Yoga sampai dirumah Mutia, didepan Papa dan Mamanya, Mutia diserahkan kembali.
Dan sejak saat itu Yoga mulai beralih hati pada gadis pujaannya Mutia. Tapi sebagai seorang guru, Yoga tak sedikitpun memperlihatkan jarak antara dirinya Mutia dan siswa lain.
__ADS_1
Bersambung...
\*Selamat membaca\*