Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 23 Kecemburuan Nayla


__ADS_3

Dinda pun jadi kelabakan, merasa dirinya diserang secara bersamaan, lalu Dinda bangkit, dan menggigiti keduanya secara bergantian, dan diapun mengaum seperti macan yang sedang kelaparan. Dan mengejar keduanya secara bergantian.


Disudut ruangan kamar, tampak Nayla sudah berada diluar, hatinya semakin sakit ketika dilihatnya Dinda. Gadis yang pernah membuatnya cemburu, sedang mengingat masa kecil mereka bertiga.


“Kenapa mereka melakukan semua itu di belakangku, kenapa? kenapa bukan aku yang menjadi Dinda saat ini, kenapa harus gadis itu yang mereka peluk dan cium secara bersamaan? oh mereka telah membuat jantungku menjadi mendidih menahan rasa sakit ini,” kata Nayla, seraya melangkah pelan menghampiri mereka semua.


Bagi Kartini, hal itu sudah biasa dilihatnya setiap hari. Karena semenjak Dinda kecil, dia selalu tidur, main dan makan bersama dengan Yoga dan Yuda.


Mereka bertengkar, berpelukan dan menangis bersama, juga seringkali dilihat oleh Kartini, akan tetapi semenjak mereka berubah menjadi dewasa, Kartini melarang mereka bertiga, bergelut dan bermain bersama-sama seperti waktu itu.


Apa lagi setelah Yuda menikah dengan Nayla, Kartini melarang Yuda menyentuh Dinda, karena, bisa berakibat buruk pada pernikahannya dengan Nayla.


Tapi malam itu, tampa disengaja oleh Yuda, Nayla telah melihat sendiri dengan mata kepalanya, apa yang sudah dilarang Kartini selama ini.


“Ada apa ini, Bang?” tanya Nayla yang tiba-tiba saja sudah berada ditempat itu.


Sontak hal itu membuat mereka bertiga kaget, dan segera berhenti bermain, sembari sedikit menjauh, Dinda mencoba membenahi pakaiannya yang sembrautan.


Tampak Dinda kesulitan dalam memperbaiki pakaiannya, tampa sengaja Yoga datang membantu, untuk membenahi pakaian Dinda itu. Hal itulah, membuat Nayla semakin sakit hati dan dihadapan Mamanya diapun berlari menuju kamar.


“Hei Nay, ada apa?” tanya Kartini heran.


Merasa malu, karena takut dikatakan cemburu, lalu Nayla mencoba berbohong pada Ibu mertuanya.


“Nggak ada apa-apa Ma, Nay kira mereka bertiga bertengkar, nggak Taunya mereka sedang bergelut.”


“Dinda ini teman kami sedari kecil Nay, kami udah lama nggak bergelut dengannya, jadi sedikit kangen,” jawab Yuda dengan suara lantang.


“Ooo, gitu ya?” seru Nayla sembari terus melangkah meninggalkan mereka bertiga.


Sementara itu, Andika yang menikmati kebahagiaan, melihat Papa dan paman Yoga bermain bersama Dinda, terhenti seketika, karena melihat Mamanya pergi meninggalkan mereka semua, begitu saja.


“Papa, Mama kenapa pergi?” tanya Andika heran.


“Mama mungkin mau istirahat, kalau Dika mau ketempat Mama, pergilah!” kata Yuda pada putranya.


Mendengar perintah dari Yuda, Andika langsung berlari mengejar Nayla dari belakang, dan memegang jemari tangan Mamanya dengan lembut.


“Eee ! anak Mama, kenapa kesini?” tanya Nayla seraya tersenyum manis.


“Mama kenapa pergi lagi?” tanya Andika ingin tau jawaban dari Mamanya.

__ADS_1


“Kan tadi udah dibilangin Papa, kalau Mama, mau istirahat.”


“Mama istirahatnya kan udah sedari tadi, kok istirahat lagi?” lanjut Andika kemudian.


“Andika, kenapa sih! Mama kan udah bilang, Mama capek. Mama butuh istirahat!” bentak Nayla sembari melototkan matanya kearah Andika.


Melihat Mamanya marah, Andika langsung berlari kearah Yuda, sementara itu, Yoga dan Yuda menatap tajam kearah Nayla.


“Astagfirullah, Nay! Ada apa? kenapa membentak Andika?” tanya Yuda heran.


Nayla diam saja, hanya matanya yang menatap tajam kearah Yuda yang saat itu penuh amarah yang meluap-luap.


“Sepertinya istrimu sedang marah Yud!” kata Yoga menanggapinya.


“Marah, marah sama siapa?”


“Siapa lagi Yud, kalau bukan sama Dinda.”


“Tapi tadi, aku nggak melihat amarah dimatanya.”


“Yuda, Yuda! kau itu begitu polos, kau harus banyak belajar, dari sorot mata seseorang kepadamu.”


“Maksud mu apa sih, Yog?”


“Ada apa Yog, ada apa dengan Nayla, apa dia marah padaku?” tanya Dinda ketakutan.


“Entahlah Din, dia marah atau tidak, hanya dia sendiri yang tau, lagian kita nggak melihat kehadirannya yang begitu tiba-tiba.”


“Aduh! pasti Yuda marah juga padaku.”


“Kenapa dia mesti marah? kan kamu nggak salah apa-apa.”


“Tapi aku jadi takut Yog, kalau gitu, aku mau pulang aja deh !” jawab Dinda, seraya berlari menjauh dari Yoga.


“Din, Dinda!” seru Yoga seraya mengejar Dinda yang lari ketakutan.


“Biar aja Nak! biarkan Dia menenangkan dirinya, besok dia pasti udah baikan lagi,” kata Kartini dengan suara datar.


“Baik Ma,” jawab Yoga mematuhi perkataan Mamanya.


Sedangkan Yuda, yang saat itu masih berada disamping Nayla, langsung saja masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


“Ada apa Nay? kenapa kelihatan begitu ketus, apa Nay sedang cemburu pada Dinda?"


“Apa menurut Abang Nay sedang cemburu?”


“Entahlah Nay, tapi kalau Abang lihat dari caramu tadi, Nay menunjukan kekesalan pada Abang dan Andika, karena Nay malu untuk menunjukannya pada kami, lalu Andika yang Nay jadikan sasarannya.”


“Kalau Abang udah tau, untuk apa Abang bertanya lagi pada Nay? Toh jawabannya Abang udah tau sendiri kan?”


“Nay tau nggak, Dinda itu teman Abang sedari kecil, dia begitu mengasikan sebagai seorang teman, orangnya baik dan nggak banyak komentar.”


“Maksudnya apa ya? Abang mau bandingkan Nay dengan Dinda?”


“Bukan begitu sayang, maksud Abang, Nay nggak perlu cemburu pada Dinda, karena dia itu teman Abang dari kecil.”


“Baiklah, kalau dia benar-benar teman Abang, Nay nggak marah kok, pergilah kesana, mungkin Dinda masih berada diluar.”


“Maksud Nay, apa?” tanya Yuda ingin tau apa yang ada didalam pikiran Nayla saat itu.


“Nay capek, Nay mau istirahat dulu,” jawab Nayla dengan suara sedikit serak.


Melihat tingkah laku istrinya yang tiba-tiba saja berubah, Yuda hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.


Sedangkan Nayla yang saat itu sedang berpura-pura tidur, mencoba melirik Yuda dengan sudut matanya. Rasa sakit itu sebenarnya ditujukan hanya pada Yoga, bukan pada suaminya.


Akan tetapi setelah Yuda pergi, Nayla bangkit dan menoleh keluar dari celah dinding yang sempit, hatinya terasa begitu sakit, ketika Nayla melihat Yoga membenahi pakaian Dinda.


“Kenapa kau melakukan itu semua pada Nay, Bang? hati ini benar-benar sakit sekali,” gerutu Nayla pelan.


“Gimana dengan Istrimu Yud?” tanya Mamanya dengan suara lembut, ketika Yuda mulai bergabung bersama mereka.


“Dia sedang istirahat Ma," jawab Yuda malu.


Mesti demikian, Kartini sangat tau sekali dengan apa yang dirasakan Yuda saat itu, tangan yang sudah keriput itu, menyentuh pundak Yuda dengan lembutnya.


“Kau nggak usah merasa malu, sayang! dulu saat kau hendak menikahi Nayla, Mama pernah berpesan padamu, agar kau jangan menyentuh Dinda.”


“Iya Ma, aku masih ingat pesan Mama itu.”


“Jadi kenapa dilanggar sayang?"


“Aku khilaf, Ma. Ya udah, jadikan kesalahan hari ini untuk pelajaran dihari berikutnya.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca "


__ADS_2