
Lalu obat luka itu dioleskan Yoga, ke kepalanya, seraya mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.
“Perlu ku bantu, Yog?” tanya dudung dengan suara pelan, takut kalau-kalau dibentak oleh Yoga.
“Nggak usah, Cuma luka gores kok, bentar lagi juga sembuh.”
Mendengar penjelasan dari Yoga, keduanya langsung duduk di depan kamar Yoga. Mereka seperti menyesal karena salah dalam menangkap orang.
Disaat mereka berdua termenung, lalu Yoga pergi kedalam. Ketika Yoga masuk keduanya saling bertatap pandang. Tidak begitu lama, Yoga pun muncul kembali dengan membawa dua gelas kopi hangat.
“Nah ini untuk kalian berdua.”
“Waah ! kau benar-benar hebat Yog, kau bisa baik disaat kau sedang marah,” ujar Dudung dengan senangnya.
“Kata siapa aku sedang marah?”
“Tadi, aku melihat wajahmu merah, yang berarti kau itu sedang marah.”
“Woooi, salah tuh! bukan marah, tapi sedang berdarah!”
“Heee, salah ya?”
“Dudung, Dudung. Kalau seandainya didunia ini banyak sekuriti seperti mu, maka maling pun akan banyak yang sadar.”
“Lhoh, kenapa pula begitu?” tanya Dudung heran.
“Ya, karena malingnya kau ajak ngobrol bareng.”
“Hah, hahahaha!” mendengar perkataan Yoga, Dudung langsung tertawa terpingkal-pingkal.
“Kok ketawa, apa ada yang lucu?” tanya Dion heran.
“Makalahnya udah kelaut, Bro!” jawab Yoga pada Dion.
Lalu ketiganya tertawa terpingkal-pingkal hingga Yoga sakit perut menahan kekocakan mereka berdua itu. Disaat suasana hati Yoga sedang penuh kebahagiaan, tiba-tiba ponsel miliknya berdering. Yoga pun bergegas mengangkatnya. Ada nama Yuda yang tertera didaftar panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Apa kabar Yog.”
“Alhamdulillah, sehat wal’afiat.”
“Kemana saja, udah beberapa kali dihubungi, kok nggak ada di angkat.”
“Ooo, kemaren itu, ponselku dipegang Mutia.”
“Kenapa dia nggak angkat, sewaktu ku hubungi.”
“Mungkin dimatikan keluarganya, karena saat itu Mutia masuk rumah sakit.”
“Masuk rumah sakit? emangnya dia sakit apa, Yog?”
“Dia jatuh dari tangga.”
“Ya Allah. Terus, gimana keadaannya Yog?”
“Waktu itu dia langsung koma, tapi setelah melewati masa kritisnya, saat ini dia udah sadar kembali.”
“O syukurlah, dia baik-baik aja.”
“Iya Yud, dia baik-baik aja saat ini.”
“Yog, saat ini kami sedang dirumah sakit.”
“Dirumah sakit? siapa yang sakit Yud?”
__ADS_1
“Nayla.”
“Nayla sakit apa?”
“Ternyata Nayla menderita penyakit kangker.”
“Apa! sakit kangker?”
“Iya Yog, ternyata penyakit itu udah lama dirasakannya, tapi dia nggak tau kalau yang selama ini menyakiti tubuhnya adalah penyakit kangker.”
“Ya Allah, betapa menderitanya istrimu itu, Yud.”
“Udah takdirnya, Yog! kami hanya menerimanya saja, semoga kami sabar menerimanya.”
“Kalian sekeluarga pasti sabar Yud, karena kalian orang yang taat.”
“Insya Allah Yog, Insya Allah,” jawab Yuda dengan suara sedikit lirih.
Mendengar perubahan dari suara Yuda, Yoga langsung menghentikan pembicaraannya.
“Begini aja Yud, dirumah sakit mana kalian saat ini?”
“Rumah sakit Yos Sudarso.”
“Baiklah, besok aku akan kesana.”
“Ya terima kasih Yog.”
“Iya sama-sama,” jawab Yoga seraya menutup telfonnya.
“Siapa yang sakit, Yog?” tanya Dudung ingin tau.”
“Istri saudara kembar ku,” jawab Yoga datar.
“Iya, Yon! tapi besok pagi, saat ini udah malam, lagian tubuh ku terasa begitu capek sekali.”
“Benar kamu lagi kecapean?” tanya Dudung ingin tau.
“Benar Dung.”
“Mau kalau Dudung pijitin.”
“Ah serius kamu Dung.”
“Iya, walau beginian, Dudung paling jagonya pijitin orang, Bro!”
“Aduuh! kebetulan banget nih, kalau Dudung mau, aku pun nggak bakalan nolak kayaknya.”
“Ah! gitu dong, kalau sama Dudung jangan ada malu diantara kita.”
“Makasih, ya Dung, kamu sekuriti paling tebaik yang pernah aku kenal selama ini.”
“Nah ! mulai deh, kayak gini ini, yang Dudung paling nggak suka sama sekali.”
“Udah, udah! jangan banyak komentar kamu Dung, kalau mau memijat, ya pijat aja!” timpal Dion saat itu.
“Aku ya, kalau udah ngomong kamu Yon, kepala ku kok malah tambah pusing ya.”
“Itu Namanya kamu lagi sakit, Dung.”
“Sakit apanya? orang kamu yang bikin kepala ku sakit kok,” gerutu Dudung dengan mulutnya yang super bawel.
“Udah, Udah! kalian ini mau memijat atau mau ribut sih,” bentak Yoga pada mereka berdua.
“Ya, mau memijat lah!” jawab Dudung pelan.
__ADS_1
‘kalau mau memijat, ya ayo! dikerjakan, jangan ribut melulu!”
“Iya, Yog! ini aku baru mulai.”
“Bagus, kalau mau memijat, yang serius, jangan asalan."
“Lho, loh. Aku yang mau memijat, kok malah aku yang kena marah!”
“Lalu, nggak terima! situ mau nuntut.”
“Nggak sih.”
“Ya udah, ayo di pijat yang bagus.”
“Baik, tuan bos,” jawab Dudung dengan suara yang sangat pelan.
Lalu dengan keahlian yang dia miliki, Dudung mulai memijat, Yoga yang saat itu sedang letih.
Benar saja, karena keahlian yang dimiliki Dudung itu, tubuh Yoga menjadi bugar kembali, lalu Yoga menyelipkan uang dua ratus ribu ke kantong Dudung.
“Uang apa,Yog?” tanya Dudung sedikit heran.
“Uang tips, karena kamu telah membuat
tubuh ku menjadi rileks kembali.”
“Tapi, Yog, uangnya kebanyakan!”
“Udah, udah! itu rezki untuk mu pada malam ini, kalau kebanyakan, nanti kau belikan pakaian baru untuk anak-anakmu dirumah.”
“Terima kasih, Yog! terima kasih.”
“Sama-sama, tapi kalau kau masih mau lagi, nanti kalau aku kecapean, kamu masih mau pijat aku kan?”
“Tentu Yog, tentu, dengan senang hati,”
jawab Dudung bersemangat.
“Nah, kalau udah selesai memijatnya, gimana kalau kami pulang dulu,” kata Dion.
“Ooo, Silahkan. Kalau kalian mau pulang, terima kasih.”
“Sama-sama, Yog.”
Setelah kepergian Dudung dan Dion, Yoga kembali melanjutkan istirahatnya, disaat suasana sunyi itu, Yoga langsung teringat dengan Nayla, perempuan cantik yang pernah mengisi lembaran hatinya.
“Kasihan kamu Nay, apakah ini akibat dari perselingkuhan kita selama ini? dan Allah langsung memberi balasannya. Oh! semoga saja bukan seperti yang ku bayangkan,” desah Yoga dimalam itu.
Namun, mesti demikian hingga tengah malam pun Yoga masih saja tak bisa memejamkan matanya, karena bayangan Nayla, perempuan yang cantik itu, selalu membuat nafsunya terus membara dan bergairah.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Yoga pada Yuda, setelah bangun dia langsung mandi dan bersiap-siap untuk menuju rumah sakit tempat Nayla dirawat, dengan mengendarai sepeda motornya yang super bising itu, Yoga pun meluncur meninggalkan perumahan dinasnya.
Di perjalanan, banyak mata yang tertuju pada sosok yang dianggap sangat arogan itu, tapi Yoga sedikitpun tak memperdulikannya, jalanan yang dilaluinya, penuh dengan kabut asap yang berwarna putih.
Mengepul disepanjang jalan, mirip dengan sekelompok awan yang sedang mengikutinya dari belakang. Jejeran kabut asap itu sangat mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya.
Saking terlalu santainya mengendarai sepeda motor yang super ribut itu, tampa sengaja, Yoga hampir saja menyerempet seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan.
“Hoiii ! kalau jalan pakai mata Doong, kau kira ini jalan nenek moyangmu!” seru pria itu, ditengah keramaian kota.
Mendengar seseorang meneriakinya dari belakang, Yoga pun langsung berhenti, dan memarkir sepeda motornya.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1