Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 59 Bertemu hantu Asih


__ADS_3

Tapi nafsunya begitu gila, sehingga tak sanggup menghindar dari hal keji itu,” ya Allah! ampunilah aku!” kata Yoga dalam kesendiriannya.


Dan untuk kesembuhan istri tercintanya, Yuda tak henti-hentinya berdo’a, siang dan malam dia selalu berharap agar Nayla dapat menghirup udara bebas.


Akan tetapi Nayla yang akan menjalani operasi kedua, jantungnya selalu berdetak begitu kuat, rasa takut selalu menghantui jalan pikirannya.


Siang malam Nayla selalu saja menangis karena takut untuk menjalani operasi yang kedua, yang waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi.


Malam itu hujan turun begitu deras, di pembaringannya Nayla melihat ada Yuda yang tertidur pulas di atas sofa, tiba-tiba saja pintu rumah sakit terbuka sendiri, Nayla mencoba untuk membangunkan suaminya.


“Bang, Bang Yuda!” panggil Nayla berulang kali.


Namun Yuda tetap tertidur dengan pulas nya, tanpa menghiraukan panggilan Nayla saat itu.


Dinginnya malam itu, terasa menusuk ke seluruh pori-pori tubuh, membuat bulu roma merinding, terpaan angin malam yang datang dari balik pintu yang terbuka lebar membuat tubuh Nayla menggigil kedinginan.


Lalu Nayla mencoba untuk bangkit dari tidurnya, perlahan dia melangkahkan kakinya menuju pintu yang terbuka lebar.


Setelah tiba di depan pintu, Nayla mencium aroma kembang melati yang sangat harum.


Dengan memberanikan diri, Nayla terus saja melangkah untuk mencari dari mana asal bau harum itu.


Hingga akhirnya tibalah dia disebuah Lorong rumah sakit yang sangat gelap dan Panjang, diujung Lorong itu, Nayla melihat sesosok perempuan memakai gaun berwarna putih terang.


Samar-samar Nayla mendengar suara perempuan itu memanggil-manggil namanya. Karena merasa heran Nayla menghampiri perempuan itu lebih dekat lagi.


“Kamu siapa?” tanya Nayla ingin tau.


“Aku teman baik mu, Nay!” jawab perempuan itu dengan suara pelan.


“Teman baik? apa menurut mu, Nay punya teman baik?”


“Aku teman baik mu, Nay!” jawab perempuan itu kemudian.


“sebenarnya apa mau mu?”


“Aku dingin Nay! Aku dingin! aku butuh teman!”


“Siapa kamu sebenarnya!”


Saat pertanyaan itu diucapkan Nayla, perempuan itu tidak menjawab, akan tetapi Nayla ingat satu hal, sewaktu Asih masih hidup, dia suka menyelipkan bunga melati ditelinganya.


“Apa itu, Asih?” tanya Nayla ingin tau.


“Ini bunga melati Nay,” jawab Asih saat itu.


“Kenapa kau menyelipkannya ditelinga mu?”


“Agar aku terlihat cantik dan wangi, sewangi bunga melati ini.”


“O ya! jadi kalau aku menyelipkan melati ditelinga ku, apa aku tercium wangi.”

__ADS_1


“Iya Nay!”


“Lalu, apa aku harus menyelipkan melati, ditelinga aku?”


“Boleh juga! nih, untuk mu satu, tanda persahabatan kita, Nay!”


“Ya Asih, ini tanda dari persahabatan kita berdua.”


“Berarti mulai hari ini, kamu itu teman baik aku, Nay.”


“Ya, aku jadi teman baik mu untuk selamanya.”


Setelah mereka berdua menjalin persahabatan, mereka pun saling tersenyum dan tertawa berdua.


“Oh, astagfirullah! kamu Asih, ya?” tanya Nayla, seraya menutup mulutnya.


“Iya, Nay. Aku Asih teman baik mu.”


“Lalu kenapa kau berdiri disini?”


“Aku mau pulang Nay, aku datang hanya untuk menjemput mu,” jawab Asih seraya menggenggam pergelangan tangan Nayla.


“Kenapa kau terasa begitu dingin Asih?”


“Aku benar-benar kedinginan Nay, aku butuh teman baik untuk teman ku dirumah baru,” jawab Asih sembari menggandeng tangan Nayla.


Di kegelapan malam, Asih bersama Nayla berjalan menuju ke suatu tempat. Yang sangat jauh. Selama diperjalanan mereka berdua sama-sama tersenyum.


Lalu secara tiba-tiba, tangan Asih berbau busuk, Nayla memperhatikannya lebih dekat, sontak Nayla terkejut saat itu, karena ditangan Asih banyak belatung yang menggerogoti dagingnya.


“Bukan hanya ditangan ku saja Nayla, tapi di seluruh wajah ku juga dipenuhi belatung,” jawab Asih seraya menoleh kearah Nayla.


Melihat hal itu, tentu saja Nayla menjerit ketakutan, akan tetapi melihat Nayla ketakutan Asih terus saja menarik tangan Nayla dengan kuat. Nayla pun menjerit-jerit minta tolong, hingga lehernya terasa begitu panas.


Disaat itu, Nayla mencoba meronta-ronta karena ketakutan, hingga akhirnya Yuda terbangun karena kaget.


“Nay, Nayla! bangun sayang, ada apa?”


“Oh, Bang Yuda!” jawab Nayla saat dia terbangun dari tidurnya.


“Iya, Nay! kamu mimpi ya, sayang?”


“Nay takut Bang, Asih datang mau mengajak Nay pergi bersamanya, dia menarik tangan Nay dengan kuat sekali. Ayo kita pulang aja Bang! Nay takut!” jawab Nayla menangis histeris.


Yuda yang melihat istrinya menangis histeris, langsung memeluknya dengan lembut.


“Jangan takut sayang, jangan takut, ada Abang bersama Nay disini.”


“Nggak, Nggak Bang. Nay mau pulang, Nay rawat jalan aja!”


Malam itu, Yuda benar-benar bingung, tak tau mesti berbuat apa. Sementara Nayla terus saja menangis karena ketakutan.

__ADS_1


“Begini saja sayang, hanya untuk malam ini, Nay tidur saja dalam pelukan Abang, dan Abang sampai pagi akan tetap bersama Nay.”


“Nanti kalau hantunya Asih datang lagi gimana?”


“Itu hanya mimpi sayang, itu nggak benar. Nggak ada hantu Asih disini.”


“Ssst! jangan keras-keras ngomongnya, nanti dia dengar!” kata Nayla sembari terus merapatkan tubuhnya dalam pelukan Yuda.


Hingga dini hari Nayla tetap saja terjaga, bola matanya yang indah terus saja melotot tajam kearah pintu yang sedang tertutup rapat.


“Kenapa nggak tidur sayang,” bisik Yuda ditelinga Nayla.


“Ssst! jangan bersuara, nanti Asih datang,” jawab Nayla seraya memuntal kain selimutnya dengan kuat.


Yuda yang melihat hal tak wajar pada istrinya, mencoba bersenandung senandung kecil, agar hati istrinya tak lagi merasa ketakutan.


Akan tetapi hal itu tak berpengaruh sedikitpun pada Nayla, hingga pagi hari perempuan itu tetap saja takut untuk memejamkan matanya.


“Sekarang hari udah pagi sayang!” kata Yuda seraya melepaskan lingkaran tangan Nayla dipinggangnya.


“Jangan! jangan buka apa-apa yang ada dikamar ini!” teriak Nayla seraya melarang Yuda membuka gorden penutup jendela kamarnya.


“Kenapa?”


“Nanti Asih datang, Bang!”


“Nay! Asih itu udah meninggal, dia nggak bakalan datang lagi kerumah sakit ini.”


“Nggak! Abang bohong, nanti kalau Asih datang lagi gimana? huhuhuk.”


“Ya Allah apa yang mesti aku lakukan untuk istri ku ini?” gumam Yuda dalam kesendiriannya.


Mungkin karena begadang semalaman, dan terlalu banyak berfikir, kepala Yuda merasa sedikit pusing, wajahnya tampak pucat sekali.


Yuda pun mencoba menenangkan dirinya di atas sofa, namun tubuhnya terasa seperti hendak demam.


Pagi itu disaat Rangga masuk, Yuda mencoba memeriksa tensi darahnya, ternyata tensi darah Yuda menurun, Yuda terlihat begitu lelah, tubuhnya mengalami demam tinggi.


“Kau mengalami demam Yud, beristirahatlah nanti setelah kondisi fisikmu membaik kau baru bisa begadang kembali.”


“Aku nggak bisa Rangga, Nayla nggak bisa ditinggal sendiri, semalaman, istriku nggak bisa tidur, dia terus saja mimpi tentang Asih, dia menangis minta pulang.


“Tapi tubuhmu nggak fit, Yud!”


“Biarlah aku disini saja, Rangga.”


“Baiklah, kalau begitu.”


“Kau periksa lah, Nayla! mungkin hal yang sama juga sedang dia alami saat ini.”


“Baik Yud,” jawab Rangga seraya melangkah menuju kamar rawat Nayla.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2