Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 112 Kejadian tak terduga


__ADS_3

Di saat semua murid mencoba berenang sendiri, Yoga pun duduk di bangku pelatih. Di saat itu, Yoga teringat dengan Nayla, yang sedang terbaring dirumah sakit.


Yoga membayangkan betapa indahnya percintaan yang dia lakukan bersama Nayla selama ini, Nayla yang selalu agresif membuat hasratnya menggebu.


Teringat olehnya ketika tangannya yang nakal menyentuh tubuh Nayla yang sangat halus dan lembut. begitu sulit sekali baginya untuk melupakan wanita cantik itu, yang padahal dia dilarang untuk menyentuh tubuhnya.


“Maafkan Abang Nay, jika saja kau bukan istri Yuda, kau pasti udah Abang nikahi, dan kita nggak perlu lagi main kucing-kucingan di belakang Yuda,” gumamnya pelan.


Ketika fikiran Yoga sedang melalang buana, Lesti tanpa merasa malu sedikit pun, langsung duduk disamping Yoga dan menyentuh tubuh Yoga yang sudah basah.


Sontak hal itu membuat Yoga terkejut, dan langsung melompat ke kolam.


Dan kejadian itu pula membuat semua murid yang berada di kolam renang terkejut dan berhamburan keluar.


“Ada apa ini Lesti?” tanya Yoga dengan suara keras.


“Aku nggak ngapa-ngapain kok.”


“Bapak aja yang sensitif.”


“kau udah keterlaluan Lesti?”


“Baru disentuh gitu doang, udah merangsang,” Jawab Lesti tampa merasa bersalah sedikit pun.


“Apa perlu saya laporkan hal ini pada kepala sekolah?”


“Alah, Cuma gitu doang langsung lapor, huh.”


Yoga yang melihat Lesti pergi meninggalkan dirinya, membuatnya merasa kesal. Seumur hidup baru kali itu dia dipermainkan oleh wanita yang membuatnya selalu ketimpa masalah.


Sementara itu, semua murid yang melihat kejadian itu, langsung menghampiri yoga.


“Gimana pak, apa latihan renangnya kita lanjutkan ?”


“Iya, latihannya kita lanjutkan saja,” jawab Yoga.


“Baik, Pak.” Jawab murid sembari kembali melompat kedalam kolam.


Di saat Yoga sedang duduk memantau para murid yang berlatih renang, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


“Hm, Siska. Ada apa dia menelfon?”


Lalu Yoga pun menerima panggilan dari Siska, Yoga mencoba bersikap tenang dan seperti biasa saja.


“Hai, Sis. Ada apa?”


“Nggak boleh kalau Siska menelfon ya?"


“Kata siapa nggak boleh.”


“Mana tau kan, maklum orang sibuk.”


“Aku nggak sibuk kok Sis, di sini aku lagi ngajar anak-anak berenang.”


“Ooo, jadi kamu seorang guru ya?”


“Iya, Sis.”

__ADS_1


“Bagus dong, kamu bisa berjasa untuk seluruh anak yang telah kau didik.”


“Pekerjaan mu juga bagus kok, Sis.”


“Jadi seorang dokter itu sangat melelahkan Yog. Tapi karena ini udah menjadi tanggung jawab Siska, ya Siska harus menikmatinya, agar pekerjaan itu terasa menyenangkan.”


“Memang seperti itulah yang semestinya Sis, kita harus menikmati semua pekerjaan yang sudah bersandar dipundak kita.”


“O iya, Yog ! kamu kapan datangnya kesini, Siska kangen lho?”


“Kangen ? kangen apa ya maksud nya?”


“Ya kangen.”


Di saat Siska mengulangi kata kangennya, Yoga jadi memutar otak dan bertanya di dalam hatinya.


“Kenapa mesti kangen Sis ? kan ada Rangga yang mengisi kerinduan mu disana?”


“Kayaknya Siska udah memutuskan Yog, kalau sebenarnya Siska mau menerima mu menjadi imam dalam hidup Siska.”


Bagai kan petir yang menyambar, tubuh Yoga tampak lemah karena mendengar kabar berita itu.


“Kenapa sekarang baru Siska bilang?”


“Kenapa emangnya Yud?”


“Ketika Siska menerima Rangga sebagai tamu dimalam itu, aku udah menyangka kalau Rangga lah yang akan mengisi hidup mu. Itulah sebabnya, malam itu aku segera kembali dan melamar Mutia untuk menjadi pendamping hidup ku.”


“Maksud mu apa, Yog?”


“Aku telah melamar wanita lain Sis.”


“Maafkan aku Sis.”


“Lalu gimana dengan hubungan kita Yog, gimana ini ? padahal Siska udah menolak Rangga, lho?”


“Gimana kalau aku aja yang bilang pada rangga, biar hubungan kalian kembali membaik.”


“Siska nggak mau Yog, Siska pingin nikahnya sama kamu.”


Mendengar permintaan Siska, Yoga jadi semakin tak bisa berkata apa-apa lagi, segera di tutupnya henfon yang sedang aktif itu.


“Gimana Pak, apakah kami udah boleh kembali ke kelas?” tanya seorang murid.


Hal itu membuat lamunan Yoga sirna seketika, dan Yoga langsung bangkit dari tempat duduknya dan dia pun kembali kekantor.


“Ada apa Yog?” tanya Bu Sinta ingin tau.


“Ooo, nggak ada apa-apa kok, Buk.”


“Tapi kelihatannya sedang banyak masalah?”


“Apa saat ini, aku udah kelihatan seperti orang yang sedang banyak masalah?”


Sinta tidak menjawab, namun kepalanya di anggukkan, yang bertanda pertanyaan Yoga itu benar.


“Oh, aku selalu saja di landa masalah, yang satu baru saja kelar, yang satu lagi udah datang menyusul.”

__ADS_1


“Bagus dong !”


“Maksud Ibu apa, bilang bagus segala?”


“Maksud saya, kalau memang seperti yang Bapak maksudkan itu, Bapak semestinya bersyukur, karena satu masalah telah selesai di urus dan masalah kedua datang menyusul.”


“Iya, aku tau itu Bu.”


“Lalu apa lagi yang membuat Bapak bingung?”


“Entahlah Bu, susah kalau membahas masalah dengan orang kayak ibu.”


“Kenapa?”


“Nggak nyambung !” jawab Yoga seraya pergi meninggalkan Bu Sinta.”


“Huh, dasar nggak jelas, jadi masalahnya pun ikut nggak jelas,” gerutu Bu Sinta heran.


Sementara itu, karena jadwal pelajarannya hari itu sudah selesai, Yoga pun kembali menemui Yuda, karena hanya kepada Yuda Yoga mau membahas masalah apa pun yang sedang dihadapinya.


Di gerbang sekolah Lesti datang menghadang sepeda motor milik Yoga dan Yoga langsung menginjak rem secara mendadak. Sehingga sepeda motor yang melaju kencang itu pun berputar balik dan roda belakangnya menyentuk Bu Lesti, hingga membuatnya terpental ke tembok pagar.


Semua orang yang melihat kejadian itu, langsung menjerit histeris, dan berlari menghampiri Lesti yang mengalami pendarahan di mulutnya.


Setelah diperiksa, ternyata Lesti mengalami patah gigi, dan kepalanya pun pecah serta tangannya terkilir.


Hati Yoga yang saat itu, sedang kesal mendadak menjadi kasihan melihat darah bercucuran dari kepala Bu Lesti. Dengan bantuan para guru lainnya, Bu Lesti mereka larikan kerumah sakit.


Walau kesakitan tapi hati Lesti merasa senang, karena dia begitu yakin kalau Yoga akan ikut bersamanya kerumah sakit.


Namun bayangan Lesti melesat dari pikirannya, Yoga tak ada sama sekali, dalam rombongan para guru yang ikut mengantarnya kerumah sakit.


“Pak Yoga mana Bu sinta ? kenapa dia nggak ikut mengantar Lesti kerumah sakit ?” tanya Bu Lesti benar-benar berharap.


“Aduh, Bu Lesti ! udah kayak gini pun masih berharap Pak Yoga terus !”


“Kenapa emangnya?”


“Apa Bu Lesti nggak ingat, siapa yang telah menabrak Ibu tadi?”


“Aku ingat Bu. Aku tau kok, kalau yang menabrak tadi itu, Pak Yoga.”


“Lalu kenapa Ibu harus ngotot juga bertemu dengan Pak Yoga?”


“Tadi aku sengaja, menghadang lajunya sepeda motor pak Yoga, Bu?”


“Kenapa Ibu lakukan itu semua?”


“Agar Pak Yoga mau mengantar aku kerumah sakit Bu, dan menemani aku selama disana, seperti yang di dilakukannya pada Mutia selama ini.”


“Ibu tau nggak, Pak Yoga melakukan semua itu, karena Mutia itu kekasihnya, kalau Ibu siapa?


Kekasihnya pun bukan?”


Mendengar ucapan Bu Sinta, Lesti pun menangis tersedu-sedu, hatinya begitu sedih sekali, karena selama ini cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2