
Setelah benar-benar yakin dengan keamanan posisinya, Siska pun berlari sejauh-jauhnya,tapi karena situasi sangat gelap Siska pun mencoba berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh, tibalah Siska disebuah desa, di sanalah dia menemui para penduduk.
“Pak, Pak !” sapa Siska seraya meraih tangan seorang pria yang saat itu masih berada diluar rumah.
“Kamu siapa ?” Tanya pria itu seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Siska.
“Siska diculik seseorang, pak ! Siska butuh pertolongan warga sini.”
“Pertolongan ! pertolongan apa ?”
“Tapi apa boleh Siska duduk dulu, pak !”
“Ya silahkan,” kata pria itu seraya mengambilkan kursi untuk Siska.
Setelah Siska duduk, pria itu langsung masuk kedalam, dan tak begitu lama dia pun keluar bersama seorang perempuan.
“Dia ini istri Bapak.”
“Ooo !” kata Siska sembari berdiri dan memberi salam pada perempuan paro baya itu.
“Silahkan duduk.”
“Baik, Bu.”
Sebelum mereka bercerita Panjang lebar, perempuan paro baya itu menyuguhi makanan ringan pada Siska.
“Silahkan dicicipi dulu makanannya, nak.”
“Baik, Bu.” Jawab Siska seraya mencicipi makanan yang ada dihadapannya.
“sebenarnya, kamu itu diculik oleh siapa nak ?”
tanya perempuan itu ingin tau.
“Siska nggak tau Bu, tapi ada empat orang pria yang datang malam itu kerumah dan mereka langsung membekap mulut Siska, dan membawa Siska ketempat ini.
“Emangnya kamu tinggal dimana ?”
“Siska dari kota, Bu.”
“Dari kota ? berarti mereka telah membawa mu jauh dari kota.
“Ini desa apa ya, Bu ?”
“Nama desa ini, Desa sekar. Letak desa ini sangat jauh sekali dari tempat tinggal mu.”
“Oh, ya Allah ! berarti kedua adik Siska tinggal dirumah semalaman.” Kata Siska pada dirinya sendiri.
“Kedua orang tua mu mana ?”
“Mereka berdua udah lama meninggal, Bu.”
“Sebentar lagi hari akan pagi, kamu tunggulah sebentar. Nanti kalau udah sedikit terang, kamu baru pulang.”
“Baik Bu.”
“Sebenarnya siapa sih yang menculik mu ?” tanya perempuan itu heran.
“Entahlah, tapi saat mata Siska masih mereka tutup, Siska kayak mendengar suara seorang perempuan yang bicara, dia sepertinya begitu marah sekali pada Siska saat itu, yang dikiranya Siska adalah wanita yang dia maksud.”
__ADS_1
“Berarti, mereka itu salah menculik orang.”
“Bisa jadi, karena saat Siska menyebut nama Siska, perempuan itu langsung berhenti menyiksa Siska, dan memarahi keempat orang bayarannya.”
“Syukurlah, kalau memang mereka salah orang, berarti mereka masih mencari wanita yang mereka maksud saat ini.”kata Pak Bakri
“Iya, Siska takut sekali dengan kejadian ini.”
“Benar sekali, walau mereka salah orang, tapi mereka telah mencelakai orang lain, untuk menutupi kesalahannya itu.”
Mendengar penjelasan dari pria tua itu, Siska hanya diam saja, pikirannya saat itu hanya tertuju pada kedua adik-adiknya dirumah, sambil menunggu keadaan sedikit terang, Siska hanya berjalan saja mondar mandir dirumah pria tua itu.
Lalu dengan menggunakan ojek, pagi itu Siska kembali ke kota, tempat tinggalnya, benar saja apa yang ada dipikirannya saat itu, saat Siska tiba dirumah, kedua adiknya sedang menangis tiada henti.
“Hei, hei ! kenapa menangis sayang ?”
“kakak !” teriak Rara seraya berlari mengejar Siska.
“Tunggu sebentar ya sayang, kakak harus membayar ongkos ojeknya dulu.”
“Baik kak.” Jawab Rara seraya melepaskan pelukannya dari tubuh kakaknya.
“Ini uangnya Bang ! apa cukup !” kata Siska sembari memberikan tiga lembaran uang ratusan.”
“Waaah ! banyak sekali ini mah, Neng ?”
“Ambil aja sisanya. Terimakasih karena Abang telah mengantarkan Siska dengan selamat.”
“Sama-sama Neng.” Jawab tukang ojek itu seraya kembali pulang.
Setelah tukang ojek itu pergi, Siska langsung masuk kedalam rumah dan menutup semua pinta serta menguncinya.
“Kakak diculik seseorang dek.”
“Apa ! kakak diculik ?”
“Iya, tapi kamu jangan bilang siapa-siapa dulu, kakak pingin laporkan masalah ini pada polisi, biar mereka mengusut tuntas masalah ini, dan mencari dalang siapa yang ada dibelakang semua ini.”
“Baik kak, kami berdua akan diam aja.”
“Dan mulai sekarang, kalian berdua harus berhati-hati, jangan membuka pintu kalau mereka tidak menyebutkan nomor pin nya.”
“Jadi kakak, mau buat kata sandi pada pintu kita ?"
“Nggak di pintunya sayang, tapi dipikiran mu. Kalau yang bertamu menyebutkan tanggal lahir kakak, berarti mereka adalah orang yang kakak kenal, dan kalian boleh membukakan pintu untuknya.
“Kalau mereka nggak mau menyebutkan nomor pin nya, gimana ?”
“Jangan bukakan pintu untuk mereka, apapun alasannya.”
“Baik kak." jawab Rena memahami apa yang dikatakan kakaknya.
Setelah Siska mengajari adiknya cara membuka pintu bagi tamu yang dikenal, maka Siska langsung pergi melaporkan kejadian yang menimpa dirinya kekantor polisi.
Ketika Siska masuk kedalam, salah seorang dari petugas yang saat itu sedang berjaga, langsung menyambut Siska dengan ramah.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Bu !”
“Saya ingin melaporkan masaalah penculikan yang baru saya alami.”
“Kapan terjadinya penculikan itu, Bu ?”
__ADS_1
“Tadi malam sekitar pukul sebelas malam.”
“Dimana kejadiannya ?”
“Mereka sendiri yang datang kerumah saya.”
“Apa Ibu tau, berapa orang yang telah menculik Ibu ?”
“Sekitar empat orang pria, akan tetapi setelah mereka membawa saya kesebuah rumah yang ada dipinggiran kota, lalu disana saya mendengar ada seorang wanita yang bicara.”
“Apakah saat itu Ibu melihat wajah wanita itu ?”
“Nggak, karena saat itu mata saya ditutup dengan menggunakan lakban.”
“Berarti mereka ada berlima, saat itu.”
“Iya, mereka ada berlima saat itu.”
“Apa Ibu ada mencurigai seseorang, yang berhubungan dengan penculikan yang terjadi pada diri ibu ?”
“Malam itu, disaat perempuan itu datang, dia mencoba untuk menyiksa saya dengan menarik rambut saya dari belakang, dan dia mengatakan sesuatu saat itu.”
“Apa yang dikatakannya ?”
“Saya lupa, apa yang dikatakannya saat itu.”
“Coba Ibu ingat-ingat dulu, karena hal ini merupakan penculikan yang terjadi dalam kurun dua tahun ini.”
“Perempuan itu mengatakan sesuatu, tapi apa ya ? aduh ! apa ya ? yang dikatakannya malam itu, saya jadi lupa.”
“Ibu cobalah untuk tenang, siapa tau dengan tenang Ibu akan mengingat sesuatu.”
“Ya, saya udah ingat, katanya ! bukankah udah saya katakan padamu, jangan pernah mendekati Rangga lagi, tapi kenapa kamu tak mengerti !”
“Jadi, dalam perkataannya dia menyebut nama Rangga ?”
“Iya.”
“Apa Ibu mengenal Rangga yang dimaksud kan ?”
Setelah petugas itu mempertanyakan orang yang bernama Rangga padanya, barulah Siska tersentak.
“Hah ! Rangga ! apakah dia itu Mamanya Rangga ?” tanya Siska pada dirinya sendiri.
“Bu, apa ibu baik-baik saja ?”
“Ya, saya baik-baik saja.”
“Apakah Ibu mengenal orang yang bernama Rangga ?” tanya petugas itu sekali lagi.
“Saya nggak kenal dengan nama itu.” Jawab Siska berbohong.
“Kalau Ibu mengenal Rangga, besar kemungkinan yang melakukan penculikan itu adalah Ibunya Rangga, atau kekasihnya Rangga.
“Saya nggak kenal dengan nama itu.”
“Baiklah untuk sementara waktu kasus Ibu ini dalam penanganan kami, jadi apakah Ibu bersedia untuk kami panggil, bila sewaktu-waktu kami membutuhkan keterangan dari Ibu ?”
“Baik, saya akan selalu datang, kalau nantinya saya dibutuhkan dalam masalah ini.”
Bersambung.....
__ADS_1