
Tak ingin berdebat dengan suaminya, Siska pun keluar mengikuti kehendak Yoga, Siska duduk di kursi tunggu, sampai Yoga mengajaknya pulang kerumah.
Namun setelah Siska melihat jam ditangannya menunjukkan angka tiga dini hari, Yoga masih belum memberikan aba-aba, untuk segera kembali pulang. Siska pun merasa resah, dia ingin sekali mengajak Yoga untuk kembali pulang kerumah.
Setelah beberapa saat di tunggu, Siska pun memberanikan diri untuk mengajak Yoga pulang kerumahnya. Dengan lembut Siska menghampiri Yoga yang sedang asik bercerita dengan Yuda.
“Kita pulang Yok, Bang!” ajak Siska pelan.
“Kamu udah mau pulang Sis?” tanya Yuda.
“Iya Bang, mata Siska kayaknya udah nggak bisa diajak kompromi lagi.”
“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu Yud, besok kami datang lagi kesini.”
“Iya, terimakasih Sis, udah datang.”
“Iya, sama-sama Bang,” jawab Siska seraya menggandeng tangan Yoga.
Malam itu Siska dan Yoga kembali pulang kerumahnya, karena lelah Siska langsung tertidur dengan pulas.
Siangnya, bersama dengan Mama dan Ningsih, Yoga kembali kerumah sakit untuk membesuk Nayla. Saat tiba Siska melihat Nayla udah sadar dan dia kelihatan sangat pucat sekali.
“Hai, Nay. Gimana keadaan mu?”
“Nay udah sedikit mendingan kok Sis,” jawab Nayla pelan.
“Kenapa semalam Nay tiba-tiba saja pingsan?”
“Entahlah Sis, mendadak perut Nay sakit dan akhirnya Nay nggak sadarkan diri.”
“Siska melihat kau seperti sedang tertekan Nay?”
“Tertekan? tertekan gimana maksud mu Sis?”
“Apa ada yang sedang kau sembunyikan Nay?”
“Nay, nggak mengerti apa maksud mu?”
“Kita sama-sama perempuan Nay, Siska tau betul seperti apa seseorang yang sedang mengalami tekanan batin itu. Apa lagi kalau dia sedang mengandung.”
“Nay nggak merasa tertekan kok Sis, dulu sebelum Nay hamil, Dokter udah berulang kali melarang agar Nay nggak hamil lagi. Tapi gimana, semuanya udah terjadi, Nay nggak mungkin menggugurkan bayi ini kan?” jawab Nayla mencoba untuk menyembunyikan sesuatu dari Siska.
Di saat Siska sedang lengah, Nayla menatap tajam kearah Yoga yang saat itu berada di depan ranjang Nayla.Yoga tak dapat berbuat apa-apa saat itu, karena bersamanya ada Yuda dan Mamanya.
Lalu tiba-tiba saja, Nayla mengalami rasa sakit pada kandungannya, sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“Oh, sakit,” rintih Nayla pelan.
“Perutmu sakit Nay?” tanya Yuda pelan.
“Iya Bang, sakit sekali.”
“Apakah Nayla mau melahirkan?” tanya Siska seraya memeriksa kandungan Nayla.
__ADS_1
Saat kejadian itu, semua yang berada dalam ruangan itu langsung keluar, Siska dengan bantuan para dokter lain mencoba menangani Nayla yang saat itu sedang kritis dan dilarikan keruang UGD.
Ketika Nayla mengalami kritis di rumah sakit, Sotia, perempuan yang menghadiri pernikahan Yoga kembali pulang ke Payakumbuh bersama yang lainnya.
Saidah yang melihat banyak orang berjalan kearah rumahnya, merasa sedikit heran, dia pun berjalan pelan menghampiri para ibu-ibu yang sudah mulai mendekat.
“Kalian dari mana? kenapa rame sekali?” tanya Saidah ingin tahu.
“Kami baru menghadiri pernikahan Yoga, apa kalian nggak di undang?” tanya Sotia heran.
“Nggak! kenapa Kartini nggak ngundang kami ya?”
“Barang kali dia takut, kalau kamu marah padanya.”
“Tapi aku udah memaafkan kesalahan mereka kok.”
“Tapi Kartini nya kan nggak tau, kalau kalian udah memaafkannya.”
“Iya juga sih,” jawab Saidah sembari bergegas menuju rumahnya.
“Kau mau kemana Dah?”
“Mau mengabari Dinda, dan mengajaknya menemui Yoga.”
“Tapi istri Yuda sedang masuk rumah sakit, dan saat ini mereka semua sedang berada disana.”
“Kalau begitu biar kami kerumah sakit aja, sekalian membesuk Nayla.”
Setelah informasi didapatkan Saidah, dia pun langsung bergegas masuk kedalam rumah dan mengabari keadaan itu pada Dinda. Gadis cantik yang berhati emas itu ternyata sudah memaafkan Yoga yang telah menolak cintanya.
Walau selama ini, dia bersikap diam pada Kartini sekeluarga, bukan berarti dia telah menaruh dendam pada Mama angkatnya itu. Namun saat itu Dinda sedang merenungkan diri.
Dengan menaiki mobil bus, Saidah dan Dinda tiba dirumah sakit Yos Sudarso, di sana ada Kartini, Yoga dan Ningsih yang sedang duduk di ruang tunggu.
Melihat kedatangan Dinda bersama Ibunya, Yoga dan Kartini begitu terkejut, mereka beranggapan kalau Saidah dan Dinda marah padanya.
Namun kenyataannya di luar dugaan mereka, Dinda yang berjalan terlebih dahulu langsung menghampiri Kartini dan bersimpuh di kakinya.
“Mama.”
“Dinda putri Mama yang cantik,” kata Kartini seraya memeluk putrinya itu.
“Kenapa Mama nggak mengabari Dinda kalau Yoga udah menikah?”
“Mama takut, nanti Dinda sedih.”
“Dinda udah ikhlas kok Ma, karena jodoh udah di atur oleh Allah Swt.”
“Hati mu begitu mulia sayang.”
Yoga yang mendengarkan Dinda sudah memaafkannya, langsung memeluk sahabat kecilnya itu dengan lembut, mereka berdua menangis tersedu-sedu.
Sementara itu, Yuda yang masih berada diruang UGD bersama Siska terus berusaha untuk menangani Nayla. Mereka bekerja semaksimal mungkin untuk mengembalikan kondisi Nayla yang sedang kritis.
__ADS_1
Di saat itu Nayla kembali sadar dari komanya, dan memanggil nama Yuda.
“Iya sayang, abang ada disini,” jawab Yuda seraya menggenggam jemari tangan Istrinya.
“Nay ingin semua orang keluar dulu Bang.”
Seraya memberi isyarat pada yang lain, yuda berusaha untuk mendekati Nayla.
“Ada sesuatu yang akan Nay katakan pada Abang!”
“Nanti aja Nay, kalau Nay udah sembuh.”
“Nggak Bang, hal ini harus Nay katakan.”
“Apa maksudmu Nay?” tanya Yuda tak mengerti.
“Bang ada sebuah rahasia yang sangat besar, yang selama ini Nay sembunyikan dari Abang.”
“Rahasia? Rahasia apa itu sayang?”
“Tapi berjanjilah, jika rahasia ini Nay bongkar, Abang nggak akan marah dan mau memaafkan Nay.”
“Rahasia apa itu Nay?”
“Nay hanya mau menceritakannya, jika Abang berjanji akan memaafkan Nay.”
“Baiklah Abang janji, Abang nggak akan marah dan mau memaafkan semua kesalahan Nay.”
“Benarkah itu?”
“Iya sayang, Abang janji.”
Di saat kata-kata itu di ucapkan Yuda, dia pun berfikir tentang rahasia yang akan di sampaikan Nayla. Jika saja rahasia itu biasa-biasa saja, pasti Nayla tak akan menceritakannya di saat dia sedang kritis.
“Bicaralah Nay, rahasia apa yang sedang Nay sembunyikan dari Abang?”
“Maafkan Nay Bang.”
“Bukankah selama ini, kita sama-sama berjanji untuk tidak menyimpan rahasia diantara kita, lalu kenapa saat ini masih ada rahasia?”
“Nay sengaja menutupinya dari Abang, karena dapat membuat rumah tangga kita hancur, jika rahasia itu Nay katakan.”
Sementara itu, semua yang ada di ruang tunggu merasa penasaran, dengan sebuah rahasia yang akan disampaikan Nayla saat itu.
Mendengar ucapan Nayla yang akan membongkar rahasia percintaannya, jantung Yog langsung berhenti berdetak. Nyalinya pun menjadi ciut seketika, dan Yoga pun berniat untuk segera meninggalkan ruangan itu secepatnya.
Apa lagi ketika Yuda begitu ngotot ingin mengetahui rahasia itu, hal itu membuat Yoga semakin ketakutan.
Akan tetapi setelah Yoga pergi meninggalkan ruang itu, disaat Nayla hendak bicara, tiba-tiba saja, beberapa orang dokter datang mengunjungi ruangan Nayla.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1