Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 124 Rencana Kartini


__ADS_3

Setelah beberapa hari tak masuk sekolah, akhirnya Mutia mulai menampakkan batang hidungnya, kali ini dia hadir dalam gaya yang berbeda. Yoga tak lagi melihat Mutia seperti gadis lembut lagi.


“Hai Pak Yoga!” sapa Mutia yang tiba-tiba saja telah berdiri dihadapan Yoga.


Yoga yang begitu mengenal suara Mutia langsung menoleh kearah suara yang telah menyapanya.


“Hai juga sayang!”


“Mulai hari ini, sebaiknya Bapak simpan aja kata-kata sayang itu, nggak usah Bapak tujukan pada ku lagi," jawab Mutia dengan suara lantang.


“Kenapa?”


“Karena aku saat ini bukan Mutia yang dulu lagi.”


“Emangnya Mutia yang dulu kemana?”


“Dia udah mati, semenjak kekasih yang dia sayangi mengkhianati cintanya."


“Begitu kah!”


“Dah!” jawab Mutia sembari meninggalkan Yoga sendirian.


“Mutia! kamu oh,” kata Yoga disaat Mutia berlalu meninggalkan dirinya, hati Yoga terasa begitu sakit sekali melihat kelakuan Mutia yang jauh berubah dari yang biasanya.


Rambutnya yang panjang terurai, telah dipotong pendek, cara berpakaiannya yang dulu begitu sopan, hari itu telah berubah total. Walau demikian, Mutia tetaplah Mutia dimata Yoga, gadis lembut yang tak pendendam.


Bersama dengan Yoga, Mutia selalu ceria, mesti Siska datang berkunjung kerumah dinas Yoga, Mutia bahkan tak segan-segan mengajak Siska bicara, Mutia kali ini tampak berbeda sekali dari yang sebelumnya.


“Kak Siska ya?”


“Iya, kamu siapa?” tanya Siska heran.


“Kenalkan namaku Mutia,” ucap Mutia seraya mengulurkan tangannya.


“Hm, nama yang sangat indah."


“Terimakasih Kak.”


“Kak Siska sedang mengandung ya?” tanya Mutia saat dia melihat perut Siska yang tampak membesar.


“Iya sayang, kalau kita punya suami, kita pasti mengharapkan keturunan, yaitu seorang bayi mungil yang lucu.”


Sebenarnya hati Mutia sangat sakit sekali, akan tetapi dia berusaha untuk menyembunyikannya dan berlagak tenang dihadapan Siska, semua itu sengaja dia lakukan agar Yoga menilainya sebagai gadis yang kuat.


Tak berapa lama kemudian Yoga pun datang menghampiri mereka berdua yang saat itu sedang asik bicara.


“Sedang ngomongin siapa sih, kok asik banget?”


“Kami nggak membahas siapa-siapa Bang,” ucap Siska pada Yoga.

__ADS_1


Di saat Siska tersenyum kepada Yoga, sebenarnya hati Mutia sangat sakit sekali, namun dia mencoba untuk tetap tegar dan kuat.


“O iya Pak! aku pergi dulu, nanti kalau ada waktu aku akan bercerita banyak dengan kak Siska.”


“Baiklah,” jawab Yoga sembari memandangi Mutia dari belakang.


“Dia gadis yang ceria,” kata Siska seraya tersenyum manis.


Yoga yang mendengar Siska memuji Mutia, hatinya terasa begitu sakit sekali, karena hingga saat itu, Yoga masih mencintai Mutia, meskipun, Mutia tampak sudah berubah.


Sementara Yuda yang kesehariannya di sibukkan dengan mengurus Nayfa, tampak sedikit kewalahan. Bayi mungil itu sering kali menangis di sepanjang malam, Kartini yang selalu mendengarkan keluhan putranya itu, mencoba mendatangi rumah Saidah.


“Tok, tok, tok!”


“Siapa diluar?” tanya Saidah dengan suara keras.


“Aku Dah, Tini.”


“Ooo, Tini!” jawab Saidah seraya bergegas membukakan pintu untuk Kartini.


Sementara itu Dinda mengiringi Ibunya dari belakang.


“Silahkan duduk Tini,” ujar Saidah seraya menyodorkan kursi pada Kartini.


“Anak gadis mu mana? kok nggak ikut?” tanya Saidah heran.


“Dia sedang mengerjakan soal ujiannya, lagian Aku hanya sebentar kok, karena ada hal penting yang ingin ku tanyakan pada mu?”


“Yuda saat ini dia sudah dua bulan melajang, mengurus bayinya sendirian, dia sering menelfon aku kerumah, karena bayinya tak pernah berhenti menangis. Aku bingung Dah, waktu itu hanya tangan Dinda yang membuatnya tenang dan berhenti menangis.”


“Lalu maksud mu apa Tini?”


Kartini tak melanjutkan ucapannya, karena dia tau, Saidah pasti merasa tersinggung dengan ucapannya.


“Lanjutkan Tini, kenapa diam?”


“Aku takut kalian akan tersinggung kalau nanti aku melanjutkannya.”


“Sebenarnya, aku udah tau maksud kedatangan mu kesini Tini, aku udah tau! pasti kau menginginkan Dinda menikah dengan Yuda bukan?”


Kartini tidak menjawab, hanya matanya yang terlihat sedang berharap sesuatu pada Saidah.


“Aku setuju Tini, Dinda akan kita jodohkan dengan Yuda, sesuai dengan keinginan Mu.”


Mendengar keputusan Bu Saidah, bukan hanya Kartini yang senang, Dinda juga tersenyum manis menerima keputusan itu.


"Alhamdulillah, makasih ya Dah, kalian berdua memang berhati bersih."


Keesokan harinya, Kartini Ningsih dan yang lainnya berangkat menuju rumah Yuda, saat tiba didepan pintu, Kartini langsung mengetuk pintu rumah Yuda. Saat itu Yuda sedang mandi, sementara Nayfa terus saja menangis.

__ADS_1


Lalu dengan sedikit emosi, Yuda memarahi Andika karena di anggap tak becus menjaga adiknya.


“Kamu ini gimana sih Nak! lihat itu adikmu terus saja menangis sedari tadi, kamu ajak tertawa kek, yang penting dia berhenti menangis!”


“Tapi udah Andika lakukan Pa! Naifa sih, dia nggak mau berhenti menangis!” jawab Andika seraya terus mengajak adiknya tertawa.


Lalu di saat itu Andika mendengar pintu rumahnya di ketuk, dia pun langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengabari Papanya kalau di luar ada tamu yang datang.


“Kamu buka kenapa sih Dika! kan Papa lagi mandi!”


“Tapi Aku nggak bisa, Pa! karena kuncinya terlalu tinggi!” seru Andika dari ruang tamu.


“Emangnya siapa yang datang sih, nak?”


“Nggak tau Pa, tamunya nggak ngomong kok!”


“Aduh! siapa yang bertamu sih, masih pagi lagi,” jawab Yuda sedikit kesal.


Setelah selesai Yuda mandi, dia pun bergegas menuju pintu, dan segera membukanya. Saat pintu itu terbuka, alangkah terkejutnya Yuda karena yang datang saat itu adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.


“Mama?” ucap Yuda heran.


“Kenapa, kamu kaget?”


“Nggak nyangka aja, kalau Mama dan yang lain akan datang.”


“Gimana keadaan cucu Mama, dia sehat kan Yud?”


“Alhamdulillah, sehat Ma, hanya saja dia begitu rewel dan menangis terus.”


“Namanya juga bayi, Nak,” jawab Kartini santai.


Karena Kartini sudah masuk kedalam, Ningsih, Saidah dan Dinda juga ikut masuk kedalam. Mereka pun saling bersalaman satu dengan yang lainnya. Sedangkan Naifa saat itu langsung di gendongan Dinda.


Tampak bayi mungil itu terdiam, dan sesekali dia tertawa melihat wajah Dinda. Setelah semuanya berkumpul, Ningsih langsung pergi ke dapur, untuk membuatkan teh hangat. Suasana tampak sangat menyenangkan sekali.


Yuda yang saat itu sedang duduk diantara Mamanya dan Saidah, merasa sedikit heran, dan ingin sekali dia bertanya, tentang tujuan mereka semua yang saat itu berkunjung kerumahnya.


Tapi sebelum Yuda angkat bicara, Kartini telah mendahuluinya.


“Gimana keadaan mu Yud?” tanya Kartini seraya menepuk pundak putranya.


“Beginilah Ma! semuanya berubah secara drastis semenjak Nayla pergi. Aku bingung Ma? aku nggak tau mesti berbuat apa, semuanya terasa kacau sekali,” jelas Yuda pada Mamanya.


“Itu sebabnya kami semua datang kesini, untuk memberimu teman hidup yang layak, yang bisa mengurus rumah tangga mu dan merawat kedua anak mu.”


“Maksud Mama?”


“Mama sengaja membawa Dinda kesini, untuk Mama nikahkan dengan mu,” jelas Kartini.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2