Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 63 Bermalam di rumah sakit


__ADS_3

Tapi saat Yuda hendak menemui dokter di ruangannya, dokter itu sedang tak ada di sana. Yuda pun mencarinya hingga mengelilingi rumah sakit yang besar itu. Ternyata, dokter itu sedang asik sarapan di kantin.


“Hai Yud, ke sinilah. Mari kita sarapan dulu!” ajak dr.Tedy pada Yuda.


“Terimakasih Ted,” jawab Yuda seraya duduk disisi Tedy.


“Semalam kau kemana saja, kulihat orang lain yang membawa istrimu kesini.”


“Aku ada seminar diluar,” jawab Yuda dengan tenang.


“Ooo, gitu ya?”


“Lagian dia itu saudara kembar ku, bukan orang lain.”


“Pantasan kalian mirip sekali.”


“O iya, gimana keadaan istri ku, Ted?”


“Nampaknya istrimu kritis lagi, Yud.”


“Kritis gimana maksud mu?”


“jahitan di bagian dalam bekas operasi istrimu mengalami infeksi, itulah yang menyebabkan peradangan, hingga dia mengalami demam tinggi.


“Jadi apa yang harus kita lakukan Ted?”


“Jalan terakhir kita harus melakukan operasi lagi, tapi ini yang terakhir kalinya.”


“Operasi lagi! apa maksudnya, operasi lagi Ted?”


“Yang kali ini, kemungkinan untuk berhasil sangat tipis Yud, berdo’alah, semoga Allah ada di pihak kita.”


“Bukankah Nayla udah dua kali menjalani operasi, kenapa masih ada operasi ketiga, Ted?”


“Kalau kau nggak percaya, gimana kalau hal ini kita bicarakan dulu dengan dr. Rangga, bukankah selama ini dia yang menangani penyakit Nayla!”


“Iya, baiklah, akan kuhubungi dr. Rangga sekarang juga,” jawab Yuda.


Lalu dr. Yuda, mencoba untuk merogoh kantong celananya, diambilnya ponsel genggam miliknya, dan dihubunginya dr. Rangga.


“Hallo, Assalamu’alaikum!”


“Wa’alaikum salam. Ada apa Yud? pagi-pagi gini udah menelfon.”


“Nayla, Rangga. dia mengalami demam tinggi, dr.Tedy udah memeriksanya, ternyata jahitan Nayla mengalami infeksi, ini ada apa ya, kok bisa terjadi hal itu?”


“Infeksi, kok bisa?”


“Lho, lho! kok malah kamu nanya ke aku sih, Rangga.”


“Bukankah hari itu jahitannya udah mengering!”


“Itu sebabnya aku mau nanya hal sebenarnya pada mu, apa mungkin jahitan yang udah mengering, bisa basah lagi.”


“Ya kalau itu, sebenarnya bisa aja terjadi Yud, apa lagi kalau Nayla melakukan banyak kegiatan.”


“Tapi Nayla selama ini nggak melakukan kegiatan apa-apa kok, Rangga.”


“Benar dia nggak melakukan pekerjaan berat?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Rangga, Yuda jadi berfikir untuk menjawabnya. Karena selama ini, Nayla memang mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Tampa ada bantuan dari Yuda, karena Yuda begitu sibuk dengan pekerjaannya.


“Lalu sekarang gimana Rangga, apa kamu punya solusinya?”


“Kalau menurutku, Nayla kita beri obat dulu selama seminggu ini, nanti kalau nggak ada perubahan pada lukanya, baru kita lakukan operasi ulang.”


Mendengar kata dari Rangga, hati Yuda terasa sangat hancur, tak ada yang dapat dikatakannya saat itu. Semuanya telah dia pasrahkan kepada Allah, Tuhan yang maha menentukan. Mesti demikian air matanya terus saja mengalir.


“Gimana Yud, kau setuju? tanya dr. Tedy untuk memastikan keputusan dr. Yuda.


“Terserah mu saja Ted, aku udah pasrah deh!” jawab Yuda pelan.


“Jangan gitu dong Yud, ini semua kulakukan juga karena kita udah lama berteman.”


“Kalau ku izinkan apa istriku bisa tertolong?”


“Kan kita memberi obat dulu Yud, siapa tau dengan cara itu infeksi di jahitannya bisa mengering.


“Semoga saja begitu Ted, baiklah, akan ku izinkan untuk dilakukan operasi ulang.”


“Kalau begitu mulai besok akan kita lakukan perawatan untuk istrimu.”


“Silahkan,” jawab Yuda singkat.


Setelah mengambil keputusan yang begitu berat, akhirnya diapun pergi. Hatinya begitu hancur saat itu, sambil menyusuri Lorong rumah sakit. Yuda berjalan sangat pelan, langkah kakinya begitu gontai.


Karena orang yang sangat dia cintai, saat itu berjuang mati-matian melawan penyakit yang sedang dialaminya. Sementara itu, dia sendiri tak dapat berbuat banyak untuk menolongnya.


“Gimana Yud?” tanya Yoga yang tiba-tiba udah berada dihadapannya.


“Oh Yoga, kau ngagetin aku, Yog!”


“Kau sih, bonyok ajaaa!”


“Apa! operasi lagi? Astagfirullah. Gimana temanmu itu, masa melakukan operasi nggak cukup sekali. Apa benar dia dokter ahli?”


“Yog, jangan bicara keras-keras, sebenarnya jahitan Nayla mengalami infeksi. Itu sebabnya harus dioperasi lagi.”


" Kok bisa infeksi lagi, Yud?" tanya Yoga heran.


" Kata dr.Rangga, Nayla terlalu banyak melakukan kegiatan di rumah."


" Apa benar begitu?"


" Mungkin juga Yog.”


" Lho, lho! kok kau jawabnya gitu sih, Yud."


" Selama ini aku terlalu sibuk, Yog. Sehingga aku lalai menjaganya.


“Kenapa? orang baik harus mengalami ujian seberat itu Ya?” kata Yoga pelan.


“Aku yakin pasti Allah punya rencana lain dibalik semua ini.”


“Ya semoga saja begitu. Sekarang perbanyaklah bedo’a untuk kesembuhannya Yud.”


“Iya, Yog. Aku kan lakukan itu demi Nayla.”


“Benar Yud, do’a seorang suami cepat diijabah oleh Allah Swt.”

__ADS_1


Dr.Yuda benar-benar yakin akan kekuatan Do’a dari seorang suami. Karena disaat itu hanya keajaiban dari Allah lah yang bisa menolong kesembuhan istrinya.


Malam itu, Nayla sadar dari pingsannya, dia terlihat sedikit meringis menahan rasa sakit diperutnya. Yoga yang selalu memperhatikannya, sedikit pun tak luput dari kelalaian, disaat Yuda sedang tertidur pulas, Yoga bangun dan datang menghampiri Nayla.


Disentuhnya perut Nayla yang sakit dengan lembut, sementara itu Nayla yang merasa ada sentuhan diperutnya, dia pun terkejut.


“Jangan lakukan itu saat ini, Bang ! nanti Bang Yuda melihat kita!” ujar Nayla pelan.


“Yuda sedang tertidur pulas saat ini.”


“Gimana kalau dia terbangun nanti, dan melihat kita berduaan begini, pasti hatinya akan hancur.”


“Kenapa takut Nay, bukankah selama ini, Abang juga udah berusaha untuk menghindar! buktinya Nay selalu ingin bertemu dengan Abang.”


“Tapi nggak untuk malam ini, Bang,” jawab Nayla sedikit kesal.


“Bukankah ini kesempatan kita untuk berduaan.”


“Nggak! keluar Bang, keluar sekarang juga.”


“Baiklah, Abang akan keluar,” jawab Yoga seraya meninggalkan Nayla yang terus meringis menahan sakit.


Ketika Yoga baru hendak tidur, tiba-tiba saja, Yuda terbangun dari tidurnya, dan dia langsung melihat Yoga baru keluar dari ruang Nayla.


“Dari mana kamu Yog?”


Mendengar pertanyaan dari Yuda, sedikitpun Yoga tak merasa gugup sama sekali, dengan tenang dia mengatakan hal yang sebenarnya.


“Dari kamar Nayla, lihat tuh! istrimu kesakitan kayaknya.”


“Apa iya, Yog?”


“Kau lihat lah kesana, Yud. Barang kali dia butuh bantuan dari mu.”


Setelah mendengar perkataan dari Yoga, Yuda langsung masuk keruangan Nayla dan memeriksa kondisi istrinya itu.


“Apa perut mu terasa sakit Nay?” tanya Yuda ingin tau.


“Benar Bang, perih sekali.”


“Apa perlu Abang panggilkan dokter untuk memeriksanya?”


“Nggak usah, lebih baik Abang aja yang memeriksanya.”


“Baiklah,” jawab Yuda seraya mengambil peralatan medisnya.


Disaat Yuda sedang memeriksa kondisi Nayla, saat itu Yoga pun masuk kedalam. Dia begitu sedih sekali melihat kondisi Nayla yang semakin memburuk.


Apa lagi semakin hari tubuh Nayla terlihat kurus dan pucat, hati Yoga bagai teriris pilu. Walau hanya sekedar memandanginya saja, tapi sakitnya tak akan dapat terobati dengan cepat.


“Bang, apa benar Nay mau dioperasi lagi?”


“Benar sayang, kata dokter Rangga, Nay harus menjalani operasi sekali lagi, karena jahitan bekas operasinya infeksi.”


“Apakah itu yang menyebabkan, perut Nay sakit?”


“Iya, sayang,” jawab Yuda pelan.


Walau terlihat tabah dan kuat, sebenarnya Yuda benar-benar tak kuasa untuk berbuat apa-apa. Hatinya benar-benar hancur melihat istrinya menanggung beban seberat itu.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2