
“ Hanya semester satu, tapi karena ayah meninggal, dan Ibu sakit, aku terpaksa berhenti kuliah.”
“Kamu punya adik?”
“Ada satu orang, tapi dia udah meninggal setahun setelah Ayah pergi.”
“Kenapa, apa karena dia sakit?”
“Nggak kak, saat itu Ayah ngantar adik kesekolah, lalu mereka diserempet mobil, hingga Ayah meninggal dunia, dan adik ku mengalami retak tulang punggung. Tapi karena kami nggak punya uang untuk merawat mereka di rumah sakit, akhirnya adik dirawat di rumah saja.
“Lalu selama di rumah, siapa yang merawat adik mu?”
Semenjak kejadian itu, Ibu terlihat stress, karena menanggung beban yang sangat berat, dan adik ku pun meninggal dunia. Untuk menghidupi mereka aku bekerja sebagai buruh cuci di rumah tetangga.
“Malangnya nasib mu, sayang!”
“Hanya Ibu yang ku punya saat ini kak, jika dia sudah nggak ada, aku mesti tinggal bersama siapa.”
“Nggak usah cemas, kalau nanti Ibumu udah nggak ada, kakak bersedia merawat mu.”
“Benarkah.”
“Iya, sayang! dan kau nggak usah lagi bekerja sebagai buruh cuci, kau hanya menjaga Mama kakak dirumah sebagai pengganti Ibu mu yang pergi.”
Mendengar penuturan Yoga yang sangat masuk akal, hati Ningsih sangat senang sekali, tampa segan-segan lagi gadis itu langsung tidur dipangkuan Yoga.
Baru saja memejamkan matanya, tiba-tiba! Ibu Ningsih mengalami kejang. Ranjang tempat tidurnya bergetar kuat, Ningsih langsung bangkit dan berlari memanggil dokter yang bertugas saat itu.
Melihat Ningsih panik dan ketakutan, Yoga berusaha untuk menenangkan gadis cantik itu.
“Tenanglah, tenang sayang, semoga nggak terjadi apa-apa pada Ibumu.”
“Tapi lihatlah kak, aku sangat kasihan sekali pada Ibu.”
Melihat gadis itu gemetar karena ketakutan, Yoga langsung saja memeluknya dengan lembut. Namun air mata gadis itu tetap saja bercucuran saat menyaksikan Ibunya meregang nyawa di atas ranjang rumah sakit.
Oh Ibu!” jerit gadis itu disaat perawat menutup wajah Ibunya dengan kain selimut.
" Kenapa kalian menutupi wajah ibu ku?" tanya Ningsih ingin tau.
" Ibu mu telah meninggal dunia, dek!"
Lalu gadis itu langsung berlari menghampiri jasad Ibunya yang terbujur diruang rawat. Gadis itu menangis histeris, dia memeluk tubuh Ibunya yang telah tiada.
“Jangan tinggalkan Ningsih Ibu, Ningsih takut sendirian!”
“Tenang sayang, tenang. Ibumu telah meninggal dunia, do’a kan saja semoga arwahnya tenang di alam sana.”
“Lalu gimana dengan hidup ku ini, kak. Aku nggak punya siapa-siapa lagi.”
“Kau masih punya kakak yang sangat menyayangi mu.”
“Tapi aku seorang Non muslim, kak.”
“Nggak masalah, kakak masih pada pendirian kakak semula, untuk menjagamu.”
“Lalu bagai mana dengan jasad Ibu Ku.”
“Kita kremasi dia dengan layak, lalu kau akan kakak bawa kerumah Kakak dikampung.”
__ADS_1
“Baiklah, kak,” jawab Gadis itu.
Lalu Ningsih mengkremasi Ibunya secara agama yang dianutnya, sedangkan Yoga, menunggu Ningsih disebuah masjid yang tak jauh dari tempat itu.
Setelah selesai mengkremasi Ibunya, Ningsih langsung pulang kerumahnya dan mengambil pakaian yang ada untuk dibawa pergi.
“Kau mau kemana, Nak?” Tanya Bu Atun pada Ningsih.
“Aku mau pergi, Bu.”
“Pergi! pergi kemana, nak?"
“Mencari jalan hidup ku sendiri.”
“Apakah kau pergi bersama pria yang telah mencelakai Ibu mu?”
“Ya, dia mau bertanggung jawab untuk hidup ku, Bu.”
“Tapi kita berbeda keyakinan dengannya Nak.”
“Dia tak memaksa aku untuk menganut agamanya, Bu.”
“Itu sekarang, Nak! nggak untuk waktu yang lama.”
“Kita lihat saja nanti, Bu!” jawab Ningsih sembari meninggalkan Ibunya itu.
“Kenapa kau nggak tinggal saja bersama kami, Nak?”
“Untuk apa, untuk Ibu jadikan budak, Ibu.”
“Kenapa kau bicara seperti itu, Ningsih.”
“Terserah mu, kalau kau ingin pergi silahkan pergi, tapi sebelum pergi kau tinggalkan surat tanah milik kakak ku.”
“Rumah itu dibuat atas jerih payah Orang tua ku, jangan pernah kau berniat untuk merampasnya dari ku,” jawab Ningsih seraya meninggalkan Bu Atun.
“Kau jangan bersikeras Ningsih!” serunya dari kejauhan.
Namun, walau panggilan Ibunya itu terdengar ditelinganya, Ningsih tetap saja berjalan menjauhi nya.
Didepan sebuah Masjid, Ningsih berdiri, menantikan Yoga untuk keluar, sedangkan Yoga saat itu menunggu kedatangan Ningsih dengan tenang dan sabar.
“Kau udah datang sayang?”
“Benarkah kakak akan membawa ku?"
“Benar, tapi kau tinggal dikampung bersama Ibu kakak, karena kakak harus bekerja sebagai guru di kota.”
“terserah kakak aja, aku pasti menuruti kehendak kakak, karena selain kakak aku nggak punya siapa-siapa lagi.”
“Baiklah, ayo kita berangkat.”
“Baik,” jawab gadis itu.
“O iya, kau belum mengenalkan nama mu pada kakak.”
“Nama ku Ningsih, kak.”
“Nama yang indah untuk seorang wanita cantik seperti mu.”
__ADS_1
Ningsih diam saja saat Yoga memuji dirinya, karena selama hidupnya, Ningsih tak pernah tau dengan laki-laki manapun, jadi dia tak butuh pujian dari siapa pun juga.
Lalu mereka langsung pergi dengan mengendarai sepeda motor milik Yoga, diperjalanan, Ningsih tampak diam saja, walau sepeda motor yang dikendarainya melaju sangat kencang, namun Ningsih tampak begitu tenang.
“Kau nggak takut Ningsih?” tanya Yoga dengan suara lembut.
“Untuk apa takut, hidup untuk mati, dan mati hanya sekali,” jawab Ningsih dengan tegas.
“Kau benar, hidup itu untuk mati, namun walau demikian, kan lebih baik kau berpegangan sedikit, agar nanti kau tak jatuh dari sepeda motor ini.”
“Baiklah,” jawab Ningsih seraya memeluk tubuh Yoga dari belakang.
Yoga yang merasa tubuhnya dipeluk oleh wanita cantik, semangatnya langsung muncul, dia mengendarai kendaraannya dengan begitu tenang.
“Kita mau kemana kak?” tanya Ningsih pada Yoga.
“Ke sekolah tempat kakak bertugas.”
“Kalau nanti kakak mau kesekolah dulu, aku nggak usah masuk kedalam.”
“Kenapa?”
“Nggak enak aja.”
“Baiklah,” jawab Yoga menyetujui permintaan Ningsih.
Beberapa jam diperjalanan, tibalah Yoga disekolah tempat dia mengajar, lalu Yoga membelokkan arah sepeda motornya kearah rumah dinasnya.
“Nah, kamu istirahatlah disini, kakak mau kesekolah dulu, ada sedikit urusan yang harus diselesaikan.”
“Baiklah,” jawab Ningsih seraya membuka kunci pintu rumah dinas, milik Yoga.
Setelah memastikan Ningsih berada dirumahnya, Yoga langsung menuju sekolah, dia pun menemui Kepsek terlebih dahulu.
Sebelum tiba diruangan kepsek, Yoga berpapasan dengan Bu Lesti, saat melihat wajah perempuan itu, darah Yoga langsung saja mendidih.
“Oh pak Yoga!” sapa Lesti bermanja-manja.
Yoga tak menjawab sama sekali, selain dia mengangkat kedua tangannya, menandakan dia tak ingin disentuh oleh Lesti.
“Kenapa? Bapak nggak ingin Lesti sentuh.”
Walau pertanyaan itu diulangi Lesti lagi, namun Yoga tetap saja diam, bahkan kali ini, Yoga terus saja melangkah tampa memperdulikan Lesti sama sekali.
Sementara itu, Lesti yang merasa dicuekin Yoga, hatinya begitu sedih sekali, dia mencoba mengikuti Yoga dari belakang untuk mengetahui kenapa Yoga kembali lagi kesekolah.
Setelah tiba didepan kantor Yoga langsung masuk untuk menemui Kepsek.
“Eh Yoga kamu kembali lagi ya?” tanya Dion.
“Iya, ada masalah yang terjadi rupanya, sepeninggal ku kemaren.”
“Iya, Yog! masalahnya beruntun dan bertubi-tubi.”
“Susah ternyata kalau kita memiliki wajah ganteng ya, Yog?” tanya Pak Andi.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1