
“Gimana keadaan kak Mutia, Ma?” tanya Rika ingin tau.
“Kakak mu aman disana, ada Yoga dan Papa bersamanya.”
“Enak kali kak Mutia, ditemani kekasih yang ganteng, guru lagi,” gumam Rika pelan.
Sukesih yang mendengar gumaman Rika langsung menoleh dengan kening yang berkerut.
“Ada apa sayang? kamu bilang apa barusan?”
“Rika nggak ngomong apa-apa kok, Ma.”
“Bohong! Mama dengar sendiri kok, Rika bicara apa tadi!”
“Rika bicara apa, Coba?”
“Rika masih kecil Nak, jangan bicara cinta dirumah ini.”
“Kak Mutia juga kecil, kenapa dia boleh pacaran, sementara aku nggak?”
“Kak Mutia itu udah dewasa Nak, sebentar lagi dia juga mau kuliah.”
“Jadi, Rika boleh pacaran kalau udah kuliah.”
“Boleh, asal bisa jaga diri, apa lagi Rika itu kan cantik, pasti banyak pria yang suka.”
“Benar, Ma!”
“Iya, sayang.”
“Sekarang kamu tidur sana, udah malam.”
“Baik, Ma,” jawab Rika seraya berlari menuju kamarnya.
Seraya memandang putrinya dari belakang, Sukesih hanya bisa gelang kepala. Sukesih tau kalau Rika sangat menyukai Yoga, itu sebabnya dia tidak mengizinkan Yoga sesering mungkin berkunjung kerumahnya.
Malam itu Rika yang telah mendapat sanjungan dari Sukesih, mulai berkhayal tentang pertemuannya dengan Yoga.
Rika yang masih ABG itu, ternyata sangat menyukai Yoga.
Di sekolah dihadapan semua teman-teman sebayanya, Rika mempamerkan foto Yoga, dan mengatakan kalau Yoga adalah kekasihnya.
Keesokan harinya, ketika mereka bertiga pulang kerumah, tiba-tiba saja Rika yang melihat kehadiran Yoga, tanpa sadar berlari memeluk tubuh Yoga yang sudah lama dirindukannya.
“Kenapa lama sekali nggak kesini Bang?” tanya Rika dengan suara lirih.
“Abang banyak pekerjaan Rika, jadi waktu Abang habis tersita untuk itu.”
“Jadi Abang melupakan kami semua?”
“Nggak juga sih, buktinya Abang juga ikut menjaga kak Mutia dirumah sakit.”
“Tapi itu kan Kak Mutia, Bang ! bukan Rika!”
Mendengar kepolosan Rika semua mata jadi beradu pandang satu sama yang lain, sejuta pertanyaan muncul di benak Yoga, tentang ucapan Rika itu.”
“Sebenarnya ada apa ya?” tanya Yoga heran.
Mutia yang tak ingin adiknya dipermalukan, dia pun langsung memotong pembicaraan Rika.
“Maksud Rika itu, kenapa Abang lama sekali mengunjungi kami, kan kami semua jadi rindu, termasuk Rika.”
__ADS_1
“Kakak salah, bukan itu maksud ku!”
“Lalu apa dek?”
“Mama udah ngasih izin padaku, untuk dapat!”
belum selesai Rika bicara, Mutia telah mendahuluinya.
“Ooo, gitu ya, ayo kesini sebentar sayang,” kata Mutia seraya menarik tangan Rika, untuk menjauh dari Yoga dan Papanya.
“Idih, sakit tau!” bentak Rika kesal.
“Ada apa sih dek, kenapa kau mau merendahkan diri pada pria?”
“Maksud kakak apa?”
“Tadi Rika mau bilang ke Bang Yoga, kalau Mama udah ngasih izin untuk mencintai Bang Yoga, gitu kan?”
“Iya, kenapa?”
“Rika, Mama itu memang ngasih izin kamu untuk pacaran, tapi bukan sekarang!”
“Lalu kapan?”
“Nanti! kalau kamu udah dewasa,” jawab Mutia sembari meninggalkan Rika sendirian.
“Kakak takut kan, kalau Bang Yoga itu mencintai ku?”
“Iya, kenapa?”
“Hmm!” Rika pun mendengus karena kesal.
Setelah menceramahi Rika, Mutia langsung menemui Yoga dan yang lainnya, untuk minta izin pergi kekamar.
Setibanya di dalam kamar, Mutia langsung membaringkan dirinya di atas Kasur, terbayang olehnya ucapan Rika yang menyatakan perasaannya pada Yoga.
“Oh, kenapa Rika bisa senekat itu, bukankah masih banyak pria tampan di Dunia ini, tapi kenapa harus Bang Yoga yang di incar?”
gumamnya dengan suara pelan.
Sementara itu, Yoga yang masih duduk di ruang tamu, minta izin pada Pak Ramon untuk kembali kesekolah.
“Ooo, baiklah nak,” jawab Pak Ramon seraya menyalami Yoga.
“ Aku permisi dulu, Pa.”
“Ya, hati-hati dijalan.”
Yoga pun langsung pergi menuju sekolah tempat dia mengajar, hatinya terasa sedikit mengganjal saat itu. Walau Mutia mencoba untuk menutupinya, namun Yoga tau kalau saat itu Rika hendak memberitahukan sesuatu padanya.
“Apa ya, yang ingin Rika kabari pada ku?”
tanya Yoga pada dirinya sendiri.
Di saat hatinya masih menyimpan seribu pertanyaan, tak terasa yoga ternyata udah tiba didepan gerbang sekolah.
“Hai pak Yoga!” sapa Lesti seraya tersenyum manis.
Yoga tak menjawab, dia hanya diam saja. Namun Lesti tak terima diperlakukan seperti itu, di kejar nya Yoga yang berjalan telah menjauh darinya.
“Pak Yoga, pak, tunggu!” teriak Lesti sembari terus berlari.
__ADS_1
Sementara itu, murid yang melihatnya berlari hanya bisa melongo heran.
“Ada apa itu?” tanya Tazkia heran.
“Nggak tau, kayaknya lagi ngejar gebetannya yang lepas tuh,” jawab Mira kesal.
“Sssst! jangan keras-keras kalau ngomong.”
“Emang iya, kok! guru kok jahat banget.”
“Iya juga sih, masa gara-gara pria aja dia sampai menyakiti Mutia berulang kali.”
“Kenapa ya, sekolah masih aja menerima guru macam itu?”
“Aku yakin pasti ada alasannya, Mir!” timpal Siti dengan santai.
“Ya jelas lah, ada alasannya? tapi kalau udah sampai menyakiti murid, semestinya kepala sekolah harus bertindak cepat.”
“Ah udah lah, nggak perlu juga kali, kita membahas ini semua?”
“Iya juga sih.”
“kalau begitu gimana kalau kita ke kantin aja,” Ajak Mira pada temannya.
“Aku nggak punya uang Mir?”
“Aku yang traktir!” jawab Mira tersenyum manis.
Sementara itu, Lesti yang terus mengejar Yoga, dadanya terasa sesak, dia pun berusaha berdiri sejenak untuk mengatur pernafasannya.
“Kenapa? sesak nafas ya?” tanya Rehan seraya meledek Lesti.
“Hus! diam kamu, ini urusan Ibu dengan pak yoga.”
“Udah jelas Pak Yoga itu mencintai Mutia, masih saja mengejar, dasar guru genit.” gumam Rehan kesal.
Walau Lesti tau, kalau Yoga mencintai Mutia, tapi dia begitu yakin, di hati Yoga masih ada tersisa sedikit cinta untuk dirinya.
Belum selesai dia mengatur pernafasannya, tiba-tiba saja Yoga sudah kembali berjalan kearah dirinya.
“Oh, pucuk dicinta ulam pun tiba.” Ucap Lesti seraya membenahi rambut dan pakaiannya.
Namun setelah Yoga mendekati dirinya, kepsek langsung memanggil Lesti, hal itu membuat pikirannya terpecah dan konsentrasinya pun langsung buyar.
Di saat Lesti sadar, ternyata Yoga sudah menjauh darinya, hati Lesti benar-benar sakit sekali, seraya melangkah dengan kesal, Lesti pun langsung menemui Kepala sekolah.
Sedangkan Yoga yang mereka kejar sudah masuk ke dalam kelas.
“Anak-anak, pagi ini kita akan latihan berenang, kalian semua harus mempersiapkan pakaian renang yang udah Bapak perintahkan.”
“Baik, Pak!”
“Ada kalian membawa pakaian renang?”
“Ada!” jawab murid serentak.
“Bagus, kalau begitu mari kita menuju kolam renang!” ajak Yoga pada seluruh siswa.
Atas perintah guru mereka, semua murid langsung bergegas menuju kolam renang, tampak keceriaan mewarnai olah raga yang akan mereka laksanakan pagi itu.
Dari kejauhan tampak Lesti menelan air ludahnya berulang-ulang ketika Yoga mencoba mengajarkan semua murid berenang.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*