
“Apa kau ingin lari dari tanggung jawab mu, Yog?”
“Bukan begitu maksud ku!”
“Kalau bukan begitu, lalu apa?”
“Agar kau ketahui Sis, begitu berat beban yang ku pikul kali ini, dan aku minta bantuan Yuda untuk menyelesaikannya.”
“Lalu ! jawaban apa yang diberikan Yuda pada mu Yog?”
“Dia menyuruh ku untuk menikahi mu.”
“Benarkah itu?”
“Iya, untuk apa aku bohong padamu.”
Di saat Yoga bersedia mempertanggung jawabkan semua yang telah dia lakukan, disaat itu pula Siska merasa sedih, karena sebenarnya kesuciannya tidak pernah disentuh Yoga sama sekali.
“Hei, hei! kenapa menangis? bukankah aku bersedia menikahi mu?”
“Bukan itu masalahnya Yog,” jawab Siska yang terus menangis.
“Lalu, apa permasalahannya?”
Siska tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Yoga pada dirinya, selain dia terus menangis tiada henti, Yoga merasa bingung dengan tangisan itu.
“Bicaralah sayang, jangan diam saja! karena tangisan mu nggak akan menyelesaikan masalah kita," kata Yoga seraya memeluk tubuh Siska dengan lembut.
“Jika nanti Siska berkata jujur, apakah kau masih bersedia menikah dengan Siska?”
“Tentu sayang, bukankah aku udah berjanji akan bertanggung jawab pada mu?”
“Sebenarnya malam itu, kita nggak melakukannya Yog.”
“Apa maksud mu, Sis?”
“Setibanya dirumah, Siska membaca buku panduan sek, dan apa yang dijelaskan dibuku panduan itu nggak sesuai sama sekali dengan apa yang terjadi pada Siska saat itu. Disitulah Siska baru tau kalau kita nggak pernah melakukan hal keji itu, yog.”
“Alhamdulillah! terima kasih ya Allah,” ujar Yoga seraya mengucapkan kata syukur.
“Kenapa kau bersyukur Yog?”
“Tentu saja aku bersyukur sayang, karena aku nggak mau melakukan itu diluar pernikahan.”
“Saat ini kau udah tau kan? kalau Siska masih gadis?”
“Iya sayang!”
“Lalu bagai mana dengan tubuh Siska yang telah kau sentuh Yog?”
“Aku akan bertanggung jawab.”
“Lalu bagai mana dengan Rangga, yang selama ini menjadi kekasih Siska?”
“Itu bagian dari keputusan mu, kalau kau ingin melanjutkan hubungan kalian, aku bersedia mundur tapi jika kau ingin aku menikahi mu maka putuskan Rangga secepatnya!”
“Haruskah Siska mengambil keputusan itu sekarang Yog?”
__ADS_1
“Nggak usah sayang, kamu masih punya banyak waktu untuk berfikir, mana jalan yang terbaik menurut mu.”
“Baiklah, kalau begitu izinkan Siska berfikir dulu.”
“Ya silahkan,” jawab Yoga memberi Siska kesempatan untuk merenung.
“Kalau begitu Siska mohon pamit Yog.”
“Kenapa harus keburu-buru? kan hari masih sore ! gimana kalau kita ngobrol dulu sebentar.”
“Baiklah, Siska akan duduk sebentar, kasihan adik Siska dirumah dari pagi tadi mereka belum minum susu.”
“Kenapa terlambat membelinya?”
“kemaren itu, Siska lagi nggak enak badan Yog.”
“Ooo, tapi sekarang udah sembuh kan?”
“Udah,” jawab Siska pelan.
Bersama dengan Siska, Yoga pun menghabiskan waktu sorenya, dengan pelan Yoga meletakkan tangannya dipundak Siska. Siska merasa sedikit risih karena selama ini dia tidak pernah melakukan hal seperti itu dihadapan orang banyak, apa lagi di taman bermain yang dipenuhi oleh anak-anak kecil.
“Maaf Yog, bisa diangkat tangannya?”
“Kenapa?”
“Siska nggak biasa seperti ini ditempat keramaian.”
“Tapi kamu itukan mau jadi istri ku!”
“Iya, tapi belum sekarang kan?”
Meski demikian, Yoga tidak marah walau Siska melarangnya, karena bagi Yoga gadis seperti itu adalah tipe wanita baik.
Setelah beberapa lama mereka di taman Siska minta izin pada Yoga untuk pulang. Yoga pun mengizinkannya, seraya tersenyum manis Siska berlalu meninggalkan Yoga sendirian. Ketika Siska sudah semakin menjauh darinya, Yoga pun merasa kesepian lagi, dia berjalan hilir mudik tak menentu.
Seraya bermalas-malasan Yoga akhirnya kembali kerumah Yuda, setibanya didepan pintu terlihat olehnya Nayla sedang duduk sendirian di kursi tamu. Tanpa memperdulikan Nayla, Yoga langsung saja masuk kedalam kamarnya.
“Kau dari mana Bang?” tanya Nayla dengan suara serak.
“Dari taman.”
“Dari taman, ngapain di taman?”
“Cari angin!” jawab Yoga seraya menuju kamarnya.
Mendengar penjelasan dari Yoga, Nayla diam saja karena tidak ada lagi pertanyaan yang akan di ajukan pada Yoga saat itu. Sebenarnya Nayla tau kalau Yoga sedang marah pada dirinya, karena Nayla sengaja memancing amarahnya.
Di depan televisi, Yoga mengutak atik seluruh siarannya, Nayla yang melihat, langsung mengambil remote control itu dari tangannya.
“Kamu lagi mencari siaran apa Bang?”
“Nggak ada,” jawab Yoga ketus.
“Kau lagi marah sama Nay kan Bang?”
“Marah, nggak!”
__ADS_1
“Benar, Abang nggak sedang marah?”
“Nggak sayang, buat apa marah!”
“Lalu kenapa tadi Abang pergi ke taman?”
“Apa perlu Abang katakan.”
“Ya, Nay ingin tau apa yang Abang lakukan di taman sendirian.”
“Abang bertemu dengan Siska.”
“Siska, untuk apa ketemu dengan Siska?”
“Membahas masalah pernikahan kami.”
Mendengar jawaban dari Yoga jantung Nayla langsung mendidih, tidak disangka sama sekali kalau Yoga bisa bicara seperti itu dihadapannya.
“Nggak mungkin, kau pasti sedang berbohong kan Bang.”
“Abang serius Nay, buat apa berbohong pada mu.”
Mendengar kepolosan Yoga, hati Nayla terasa semakin sakit, karena menurut Nayla antara mereka berdua tidak punya hubungan apa pun. Itu sebabnya selama ini Nayla selalu mencurigai suaminya yang akan berselingkuh dengan perempuan itu.
“Kau menipu Nay selama ini Bang?”
“Abang nggak menipu siapa pun Nay.”
“Lalu kenapa kau ingin menikah dengan Siska?”
“Yuda yang menyarankan, karena menurut Yuda Siska itu perempuan baik-baik.”
“Benarkah itu yang dikatakan Bang Yuda pada Mu?”
“Benar Nay.”
“Kenapa Bang Yuda menyuruh mu menikahi Siska, pasti ada alasannya kan?”
“Abang nggak tau kenapa dia menyuruh Abang menikahi Siska.”
“Bohong! pasti ada yang kalian sembunyikan dari Nay.”
“Kami nggak menyembunyikan apa-apa Nay, semua itu terjadi begitu saja.”
“Dari awal kedatangan mu, kerumah ini, sebenarnya Nay udah merasa curiga, pasti ada sesuatu yang akan kalian bahas, ternyata Nay benar, kalian membahas pernikahan.”
“Maafkan Abang Nay.”
“Kau jahat Bang! kau jahat!” ujar Nayla seraya berlari menuju kamarnya.
Melihat kemarahan yang timbul pada Nayla, Yoga diam saja karena menurutnya, lebih cepat Nayla mengetahuinya itu lebih baik. Agar nanti Nayla tidak lagi berharap banyak pada dirinya.
Namun hal itu tidak berlaku pada diri Nayla, setelah dia mendengar kejujuran dari mulut Yoga, hatinya terasa begitu hancur. Diatas Kasur Nayla menangis histeris. Yoga hanya bisa memandangi dirinya kekasih gelapnya itu dari balik gorden yang tertutup rapi.
“Maafkan aku Nay, semua ini terpaksa harus kulakukan agar kau tak lagi berharap cinta dari pria tak bermoral ini.” Yoga berkata pada dirinya sendiri.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*