Dibalik Kesetiaan Nayla

Dibalik Kesetiaan Nayla
Part 87Mencari keberadaan Nayla


__ADS_3

Disaat rasa sakit menyelimuti tubuhnya, Nayla masih merasakan ada darah mengalir membasahi kedua betisnya.


“Oh, ya Allah. Tolonglah diri Nay Ini. Ibu! Nay nggak bisa melihat apa-apa saat ini Bu, tolong bantu Nay, Bu," rintih Nayla seraya memegang perutnya yang terasa begitu sakit.


Disaat Nayla menderita karena menahan rasa sakit, Bu Salamah pun tiba ditempat pengeroyokan itu.


“Nayla kabur, Bu!”


“Kabur kemana dia?”


“Ketengah hutan!”


“Apa udah kalian cari?”


“Udah Bu, tapi kami nggak menemukannya.”


“Bodoh sekali kalian, kerja begitu saja kalian nggak becus, gimana saya mau bayar kalian kalau Nayla nya nggak kalian temui!”


“Tapi, kami udah berusaha, Bu!”


“Dasar bodoh! bodoh, bodoh kalian semua, memang bodoh! sama perempuan lemah saja kalian nggak ada yang berani,” bentak Bu Salamah dengan kesal.


“Lalu gimana dengan bayaran kami, Bu?”


“Cari dulu Nayla, dapatkan dia hidup atau mati, baru saya bayar kalian sesuai dengan perjanjian.”


Kelima orang bayaran Bu Salamah, merasa kesal sekali. Karena sore itu, mereka tak mendapat bayaran dari Bu Salamah, karena disebabkan buruannya kabur.


“Huuh! denguh salah seorang dari mereka.”


Hati Bu Salamah begitu kesal sekali saat itu, Karena Nayla yang dia inginkan tak sempat merasakan siksaan dari kelima orang bayarannya.


“Kenapa Mama begitu kesal sekali, Ma?” tanya Santi heran.


“Buruan Mama kabur, mereka semua bekerja nggak becus.”


“Emangnya siapa buruan Mama itu?”


“Itu rahasia Mama, kalian masih kecil nggak tau apa-apa.”


“Mama selalu saja begitu, menganggap Santi masih anak kecil.”


“Kan, emang begitu, kalau kamu itu masih anak kecil,” timpal Widia yang terus saja makan tampa memperdulikan apa yang terjadi.


Karena dikomentari Widia, hati Santi semakin kesal, dibukanya kaca jendela mobil lalu direbutnya makanan yang ada ditangan Widia dan dibuangnya kejalan.


“kurang ajar! kenapa kau buang makananku, Santi!” bentak Widia dengan kesal.


“Itu makanya! kalau aku lagi sedang bicara dengan Mama, kamu nggak usah ikut nimbrung didalamnya.”


Karena makanannya dibuang Santi, Widia pun menangis dan mengadu ke Mamanya.


“Ada apa lagi Widia?”


“Kak Santi, tuh ! dia kesal sama Mama, tapi makanan ku yang dibuang.”


“Benar itu Santi?” tanya Bu Salamah seraya menghentikan mobilnya.


“Benar, Ma.”


“Kenapa kau lakukan itu sayang!”

__ADS_1


“Habis! dia kok yang salah, selalu saja ikut campur urusan orang lain.”


“Sekarang kau turun kebawah, dan belikan kembali makanan yang dimakan adikmu tadi.”


“Tapi, Ma!”


“Nggak ada tapi-tapian, cepat keluar dan cari dimana saja kau dapat.”


“Tapi Resti kan, nggak punya uang, Ma.”


“ini uang beli cepat!”


" Tapi Mama berhenti nya, di tengah jalan, Ma."


". Turun dan cepat kamu lari, ke warung itu."


“Baik, Ma.”


Disaat Resti sedang membuka pintu mobilnya, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah truk gandeng yang melaju dengan kecepatan tinggi. Resti yang berlalu tampa menoleh kekiri dan kekanan, langsung ditabrak oleh truk itu. Hingga tubuhnya terpental beberapa meter keluar dari jalan raya.


Melihat Santi ditabrak mobil dan terpental begitu jauh, Bu Salamah langsung berlarian mengejar putrinya.


Perasaannya begitu berkecamuk saat itu, dadanya terasa membengkak, hati Bu Salamah begitu hancur sekali.


Dengan lembut dipeluknya tubuh Santi yang bergelimang darah, dia meratap dengan histeris sekali. Sedangkan Santi yang berada dalam pelukannya sudah meninggal dunia.


“Mama! kak Santi kenapa?” tanya Widia dari atas mobil.


“Widia, kemarilah nak! lihatlah kakak mu!” kata Bu Salamah pada putri bungsunya.


Karena dipanggil Mamanya, Widia pun turun dari mobil, akan tetapi betapa terkejutnya Widia ketika melihat kakaknya telah bergelimang darah.


“Kakak!” jerit Widia, sembari memeluk tubuh Resti yang sudah tiada.


“Kak Santi kenapa , Ma?”


“Dia ditabrak mobil, Nak,” jawab Salamah sembari terus menangis.


“Oh kak Santi! huhuhu…huk..huk!”


Melihat Widia menangis tersedu-sedu, Salamah jadi teringat dengan perbuatan yang baru saja dia lakukan pada Nayla.


“Apakah ini karma, karena aku telah melakukan kejahatan pada, Nayla?” ucap Salamah pada dirinya sendiri.


"Di saat Salamah meratapi kepergian putrinya, sementara Pak Darman, dia masih terkapar tak sadarkan diri dipinggir jalan. Tak berapa lama kemudian barulah Yoga datang, padahal Yoga telah mempersingkat perjalanannya, yang biasanya butuh waktu dua jam, saat itu hanya satu jam saja.


“Pak Darman! Pak, bangun, pak Darman!” ujar Yoga seraya menepuk-nepuk pipi pak Darman.


Beberapa saat kemudian pak Darman membuka matanya dengan pelan, saat itu dia agak sedikit linglung, karena kepalanya dipukul dengan menggunakan kayu pentungan.


“Pak Yoga!”


“Iya, pak. Mana Bu Nayla?”


“Dia kabur.”


“Kabur? Kearah mana, Pak?”


“Kearah depan itu, Pak,” jawab Pak Darman dengan kepala yang masih pusing.


“Apakah Pak Darman tau, siapa pelakunya?”

__ADS_1


“Bapak nggak tau, tapi tadi mereka menyebut nama orang yang menyuruh melakukan penangkapan ini.”


“Siapa? apa Pak Darman masih ingat namanya?”


“Bapak lupa.”


“Baiklah, coba Pak Darman ingat lagi.”


“Baik, Pak Yoga.”


“Kalau begitu, mari kita cari Bu Nayla bersama-sama.”


“Baik Pak Yoga,” jawab Pak Darman sembari mengikuti Yoga dari belakang.


Lalu Yoga pun masuk kedalam kebun karet itu bersama Pak Darman. Seraya berteriak-teriak memanggil nama Nayla.


“Nayla! Nayla! dimana kamu Nay! Nayla!”


Bukan hanya Yoga yang berteriak-teriak memanggil Nayla, namun Pak Darman sopir pribadinya pun ikut berteriak-teriak memanggil majikannya.


“Bu! Bu Nayla! Bu!"


Mereka berdua terus merangsak masuk kedalam perkebunan karet itu. Bukan hanya sekedar masuk Yoga bersama Pak Darman juga telah mengelilingi kebun karet itu sampai tiga kali putaran.


Namun mereka belum juga melihat tanda-tanda keberadaan Nayla, yang saat itu mungkin saja dalam bahaya.


“Gimana, ini Pak? Bu Nayla belum juga ditemukan.


“Sabar Pak Darman, sabar. Kan kita terus mencarinya sampai ketemu.


“Tapi Pak hari kan sudah hampir sore?”


“Gimana kalau kita berpencar aja mencarinya, siapa tau dengan cara seperti itu, Bu Nayla bisa cepat kita temukan.”


“Tapi Bapak nggak berani Pak Yoga, ini hutan lho!”


“Kalau bilang ini pasar ya, salah mah.”


“Itu makanya kita berdua saja mencarinya, kan Pak Yoga jago silat.


“Ya udah kita lanjutkan mencarinya kesebelah sana aja.”


“Baik Pak Yoga,” jawab Pak Darman sembari mengikuti Yoga dari belakang.


Disaat itu, Yoga teringat dengan Yuda, dan dia langsung saja menghubunginya, disaat telfon genggam Yuda berdering, dia langsung mengangkatnya.


“Ya hallo, gimana kabarnya mobil Nayla, Yog?" tanya Yuda ingin tau.


“Kaca mobil mu hancur Yud, Pak Darman selamat tapi Nayla belum kami temukan, kata Pak Darman dia lari kearah kebun karet ini, tapi setelah sekian lama kami berkeliling, Nayla masih belum kami temukan.”


“Terus cari ya Yog! sebentar lagi aku nyampe disana.”


“Baik Yud, aku sama pak Darma akan mencari Nayla sampai ketemu.”


“Pak, kalau boleh saya ngasih saran, gimana kalau kita minta bantuan tim SAR untuk mencari keberadaan Bu Nayla, siapa tau dengan bantuan mereka Bu Nayla cepat ditemukan.


“Hmm! ide Bapak boleh juga, tuh.”


Setelah mendapat saran dari Pak Darman, Yoga langsung menghubungi Tim SAR, guna memohon bantuan.


Benar saja, tak perlu menunggu lama, satu unit mobil langsung dikirim ke TKP untuk membantu mencari keberadaan Bu Nayla yang hilang.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2